Sadar Risiko: Budaya Individu Sebagai Penguat Budaya Organisasi
Monika Yulando Putri
Senin, 30 September 2024 pukul 16:03:45 |
1670 kali
Sore itu, ketika saya menikmati suasana di pos kelurahan,
tiba-tiba telepon genggam bergetar. Sebuah pesan masuk dari teman, meminta
saran mengenai rute perjalanan. “Lewat tol lebih enak.”, jawab saya. “Mahal?”
balasnya. Tak saya jawab, biarlah dia pertimbangkan sendiri.
Saya nikmati kembali suasana dan obrolan para bapak di
pos itu. Suasana agak riuh dengan canda kami. Saya tawarkan untuk memesan kopi,
namun ditolak dengan alasan magrrib akan tiba. Salah seorang bapak yang sejak
tadi asyik bersenandung menikmati ‘aplikasi nyanyi bersama’ mengedipkan mata
agar kami tetap tenang. Magrib tiba dan kami pun berpamitan.
Selepas isya, saya buka kembali telepon. Beberapa pesan
masuk, termasuk dari teman yang meminta saran tadi sore. “Lewat tol, Broo,”
begitu tulis pesannya. “Bismillah”, saya jawab singkat.
Kesadaran
Risiko Alamiah
Pada dasarnya setiap individu dibekali dengan kemampuan
intuitif untuk menyadari bahaya tanpa perlu analisis formal atau teknis. Respon
spontan seringkali muncul dari naluri atau pengalaman. Respon-respon ini adalah
bentuk sederhana kesadaran risiko yang sudah tertanam dalam diri kita. Inilah
yang disebut kesadaran risiko alamiah.
Cerita di atas memberikan gambaran bagaimana kita
menghadapi dilema yang melibatkan berbagai risiko dalam pengambilan keputusan.
Terlihat sederhana tetapi setiap keputusan yang kita buat tak jarang melibatkan
dua jenis risiko utama yaitu risiko inheren dan risiko komposit.
Risiko inheren adalah risiko yang ada dalam proses atau
aktivitas sebelum adanya penerapan pengendalian atau tindakan mitigasi apapun
(Miller & Anderson, 2022). Seperti cerita di atas, memilih jalur tol
mengandung risiko inheren berupa biaya yang lebih tinggi daripada jalan biasa.
Di sisi lain, menggunakan jalan tol akan menghemat waktu tempuh dan keamanan
yang lebih baik.
Risiko komposit menggambarkan gabungan dari berbagai
jenis yang risiko yang saling terkait (Beasley et al., 2021). Teman saya
mungkin saja telah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membuat keputusan
mengenai biaya, waktu, kenyamanan, dan keselamatan. Setiap risiko saling
terkait dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Risiko komposit
menunjukkan kepada kita bahwa setiap keputusan dibuat telah mempertimbangkan
dan menyeimbangkan berbagai risiko yang saling berhubungan, tidak hanya berdasarkan
satu jenis risiko saja.
Meskipun sangat relevan, kesadaran risiko alamiah
memiliki keterbatasan ketika dibawa ke dalam konteks organisasi dengan situasi
yang kompleks dan selalu muncul tantangan baru. Terutama, ketidakakuratannya
dalam mengukur dan menimbang dampak bila risiko benar-benar terjadi. Hal ini
disebabkan adanya bias kognitif, di mana kita sering melebihkan atau juga
meremehkan risiko berdasarkan pengalaman dan persepsi subyektif kita.
Insiatif Kesadaran
Risiko Individu Penguat Organisasi
Budaya sadar risiko merupakan unsur penting dalam menjaga
keberlangsungan organisasi. Namun, budaya organisasi yang kuat tidak hanya
tergantung pada sistem dan prosedur, dan program-program yang ada. Kesadaran
risiko individu di setiap level adalah faktor kunci keberhasilan implementasi
budaya sadar organisasi. Ketika setiap individu memiliki kesadaran risiko,
mereka tidak hanya dapat melindungi diri sendiri, tetapi juga berkontribusi
pada penguatan budaya sadar risiko organisasi.
Di sinilah pentingnya mempertemukan kesadaran risiko alamiah individu dan
program-program organisasi yang terbungkus dalam tata kelola organisasi Titik temu itu adalah ketika tindakan dan perilaku
individu, telah berintegrasi dengan sistem kolektif organisasi yang berlaku. Organisasi
telah memberikan perangkat berupa nilai, budaya, aturan, sistem, program, dan
fasilitas pembelajaran untuk mencapai tujuan. Kini saatnya setiap individu
lebih proaktif mengembangkan kesadaran risiko alamiahnya menjadi kesadaran
risiko yang berkontribusi terhadap penguatan budaya sadar risiko organisasi.
Beberapa contoh mengenai hal ini dapat dilakukan dengan:
(i) inisiatif mengidentifikasi risiko terhadap rencana dan jadwal kegiatan
tertentu: misal para pihak internal primer yang harus dilibatkan agar kegiatan mendapat
dukungan dan terlaksana dengan lancar, mengidentifikasi keterkaitan output dan
outcome yang diharapkan dari suatu kegiatan;(ii) melakukan tindakan yang cepat
dan tepat atas terbaikannya prosedur tertentu: misal menyampaikan proses reviu
berjenjang yang tidak dilakukan oleh petugas pemilik otorisasi sehingga dapat
dilakukan tindakan segera; (iii) menciptakan sistem pengawasan tidak formal, misal dengan melakukan
pengecekan terhadap produk akhir dan melaporkan – walaupun bukan menjadi
tugasnya- kepada penanggung jawab; (iv) belajar dari kesalahan masa lalu agar
tidak terulang lagi di masa depan dengan mencatat, mencari penyebab, dan
mitigasi kejadian risiko.
Dengan modal awal kesadaran risiko alamiah dan
memanfaatkan perangkat tata kelola yang tersedia, setiap individu akan lebih
berhati-hati dalam menyelesaikan tugasnya; setiap individu akan memberikan
perhatian bahwa output kerjanya akan dapat menjadi input yang baik bagi rekan
kerja atau unit lainnya, rekomendasinya telah mempertimbangkan banyak aspek
sehingga dapat dijadikan bahan pengambilan keputusan, atau kegiatan yang
direncanakan dan pesan kuncinya telah memperhatikan target penerima manfaat.
Mumpung masih ada waktu 3 bulan sebelum berakhirnya
tahun, mari kita pertajam kemampuan alamiah kita dengan memanfaatkan semua
perangkat itu. Dengan ingatan yang masih segar, kita catat kejadian-kejadian
risiko dalam 6 bulan terakhir. Kita jadikan bahan untuk memperkaya pemahaman
dan tindakan kolektif dalam memperkuat dan mengembangkan bangunan organisasi
yang sudah ada menyongsong tahun awal Indonesia Emas. (DtO)
Penulis: Adi Wibowo
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |