Strategi Menjadi Seorang Good Talent (Sebuah Refleksi Semangat Idul Adha)
Arista Putri
Rabu, 12 Juli 2023 pukul 13:43:34 |
4992 kali
Teladan Kehidupan
Bulan Haji, atau Bulan Zulhijjah masih menggaungkan semangat sebuah pengorbanan. Perjuangan Siti Hajar dalam mempertahankan hidup dirinya dan anaknya Ismail adalah perumpamaan “wonder woman” yang begitu gigih melawan kerasnya Medan geografi dan iklim padang pasir. Perjalanan hidupnya sebagai wanita tangguh diabadikan dalam prosesi ritual haji agar para jemaah yang pergi haji memahami arti spirit seorang Perempuan, Siti Hajar dalam berjuang dan bertahan menjalani kehidupan yang keras.
Keteladanan spiritual Siti Hajar berlanjut manakala sang anak, Nabi Ismail rela mengtaqorrubkan diri pada Allah SWT yg diujikan kepada ayahnya Ibrahim untuk menempuh sebuah pengorbanan kehidupan fana ini. Ini pula yang kemudian diabadikan dengan momen Idul Adha, dimana Idul adalah Hari Raya dan Adha adalah kurban menjadi perayaan Hari Raya Kurban.
Bagi penulis, perjalanan yang dialami keluarga Nabi Ibrahim adalah sebuah keteladanan kehidupan, dimana secara psikologis, masing-masing mereka adalah talenta, atau dalam bahasa Arab dikenal istilah Mawaahib, dimana dalam kehidupannya, mereka berjibaku dengan kondisi alam ekstrim serta kemampuan adaptasi dan kontrol psikologis diri hingga mampu memanage situasi keluarga menjadi stabil dalam menempuh kehidupan di jazirah arab yang begitu keras, kering nan tandus
Semangat terhadap analogi Idul Adha ini, selain sebagai masing-masing seorang telanta (Mawaahib) pada perannya, juga agar memahami bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar adalah sosok yang tidak berdiri sendiri menjalankan amanat dan tugasnya
Perlu refleksi lebih dalam, bahwa ketiga sosok ini merupakan contoh Mawaahib Kehidupan sebagai bentuk kolaborasi yang efektif, sehingga jati diri yang melekat pada masing-masing perannya mampu berTAQORRUB, mendekatkan diri dan atau Berkurban, pada Sang Maha Semesta dengan caranya masing-masing.
Talenta Muda, Semangat Jati diri
Semangat ini yang penulis coba catakan dengan judul tulisan di atas, bagaimana menjadi seorang talenta yang baik?
Memang, kondisi dulu dan sekarang akan sangat berbeda. Penulis dalam bahasan ini hanya menekankan sebuah analogi psikologis Jiwa Muda Nabi Ismail, dan tentu saja, semangatnya setidaknya mampu menjadi Postulat (dasar berpikir) agar dapat menjalani bagaimana menjadi seorang “good talent” atau “khairul Mawaahib”.
Hal yang paling utama dari pilihan dirinya menjadi talent (Mawaahib) adalah, sosok keberanian dirinya dalam berkorban, even nyawa dalam taruhannya.
Keyakinan dirinya menjadikan sosok Nabi Ismail memahami siapa jatidirinya yg sebenarnya.
Memang, ruang kehidupan sejarah masa lalu dalam segala aspek kehidupannya sangat jauh berbeda dengan saat ini. Namun kondisi alam yang keras, ekstrem, kering, setidaknya dapat dianalogikan presisi dengan kondisi modernitas saat ini, yang keras dalam kompetisi, ekstrem dalam survive kehidupan, serta keringnya makna jiwa kesemestaan yang terjadi saat ini.
Penulis melihat bahwa kemajuan perekonomian dunia yang fluktuatif saat ini setidaknya mencetak dunia yang keras dalam kompetisi, ekstrem dalam capaian dan target namun sangat kering dari sisi makna spirit kehidupan dalam membangun kebersamaan.
Karena itulah, penulis melihat sisi kehidupan lain, dimana setiap lembaga dan atau institusi berupaya mendorong penjaringan talent yang lebih strategis untuk menghadapi kondisi keras, ekstrem dan kering tersebut.
Eksistensi akan kebutuhan talenta (Mawaahib) kian tinggi sehingga mendorong proses rekrutmen yang lebih selektif.
Selain itu, eksistensi talent (Mawaahib) sebagai pegawai potensial dan kompeten, juga harus menjadi motivator, teladan yang dapat memberikan kinerja terbaik untuk institusi dalam jangka waktu lama.
Menurut survey McKinsey, ada korelasi erat antara seorang talent dengan performa institusi. Di mana, 99% responden dengan talent yang efektif di institusinya mengatakan mereka berhasil mengungguli dari segi performa kinerja organisasi.
Lalu, bagaimana menjadi seorang Talent?
Melansir Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), untuk menjadi seorang talent dibutuhkan sebuah jati diri yang terbentuk ;
Personal attraction (daya tarik),
Seorang yang mampu menunjukan bakat dan kelebihan yang berbeda dengan orang lain.
Personal identification (identifikasi),
Yaitu, jati diri yang mampu mengenal potensi dirinya, sehingga bisa bermanfaat buat orang lain, dan atau lembaga.
Personal development (pengembangan diri),
Seorang yang mampu meningkatkan capacity building dalam mempelajari situasi dan kondisi, sehingga mampu mengambil arah kebijakan yang efektif untuk dirinya dan lembaga.
Personal engagement (keterlibatan),
Seorang yang dapat secara pro aktif turut terlibat dalam keputusan atau ijtihad kehidupan agar sebuah kinerja kebijakan dapat berjalan dengan baik.
Personal retention (retensi),
Seorang yang mampu menganalisa keadaan dari nol hingga membentuk sebuah jalan keluar yang baik.
Personal deployment (penyebaran),
Seorang yang dapat menjadi penyebar keteladanan dengan baik.
“Institusi yang mengimplementasikan point menjadi talent memiliki employee turnover 40% lebih rendah dan employee engagement 38% lebih tinggi.”
Secara sederhana, menjadi seorang talenta (Mawaahib) artinya berinvestasi pada diri sendiri menjadi “modal utama” institusi–sumber daya manusia. Ketika diimplementasikan secara strategis, seorang talent (Mawaahib) dapat membantu meningkatkan kinerja Organisasi secara keseluruhan dan memastikannya tetap Efektif, efesien, progresif dan Konstruktif.
Karena hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa manfaat menjadi talent (Mawaahib) adalah:
Menciptakan peluang pertumbuhan karier yang berarti bagi pegawai
Membangun tempat kerja berkinerja tinggi.
Berkontribusi pada inklusi dan keragaman lingkungan kerja
Mendorong budaya belajar
Meningkatkan nilai Employee Value Proposition
Adanya data analitis setiap individu untuk pengambilan keputusan institusi yang lebih baik
Meningkatkan produktivitas
Melansir Business Jargons, proses menjadi seorang talent terdiri dari beberapa tahapan:
Merupakan langkah inisiasi awal menjadi seorang talenta (Mawaahib), dimana konsep perencanaan dibuat sistemik sedari hulu -hilir, dan atau dibuat sebuah kerangka berpikir agar alur konsep yang dibuat dapat dieksekusi dengan sistematis.
Menciptakan Daya Tarik Diri (Attracting).
Hal Ini bukan dalam konsep mempertontonkan diri, namun lebih ke kinerja diri yang secara sistem dapat diterima sesuai dengan SOP pada institusi tersebut. Karena itu, daya tarik ini bersifat kualifikasi dan kuantifikasi diri dan kinerja sehingga harmoni.
Bersifat ngalir dan ngalur namun tetap argumentatif dan bersifat referensial. Artinya mempertahankan diri bukan berarti tertutup dengan pemikiran orang lain, karena konsep mempertahankan ini bersifat menerima masukan dan kritikan.
Berakhir pada Kemampuan Adaptasi dan Perubahan
Seorang talent (Mawaahib), saat mampu menganalisa dirinya seperti yang disebutkan di atas, kemudian secara personal mampu berkarya dimanapun institusi kerja, baik pusat ataupun daerah, pada saat itu lah seorang GOOD TALENT menjadi agent of change dalam hal perubahan kebaikan, atau arah yang positif .
Ke enam point di atas, sejatinya membawa seorang talent (Mawaahib) mampu beradaptasi di kantor wilayah baik pusat ataupun daerah. Artinya, seorang talent (Mawaahib) saat menyadari masing-masing setiap point-point di atas tadi, akan membawa pada level kesadaran humble, kesederhanaan dan pro aktif dalam membantu institusi meng up grade kegiatan nya menjadi lebih baik.
Dari bahasan talenta (Mawaahib) ini, yang coba penulis hubungkan dengan semangat Idul adha atau Idul Kurban, adalah, seorang (Mawaahib) harus siap dengan pengorbanan yang di atas rata-rata, karena pemikiran, jiwa, waktu dsb harus tercurahkan untuk kepentingan lembaga.
Namun demikian, seorang talent atau mawaahib harus menjadi sumber inspirasi arti sebuah pengorbanan dalam kehidupan. Setidaknya dapat memberikan semangat bagi talenta-talenta DJKN untuk lebih berkarya dan berkreasi demi kemajuan Bangsa dan negara.
Semoga momen bulan Idul Adha dan juga perayaan bulan Haji ini, menginspirasi dimana makna pengorbanan para Nabi, juga menjadi teladan bagi para talenta (Mawaahib) muda untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi alam dan orang lain.
Khairunnaasi anfa’uhum linnaas.
Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat buat manusia dan alam semesta.
Penulis: Rusmawati Damarsari, Kepala Bidang Lelang
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |