Implementasi Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan Sehari-hari
Agus Rodani
Jum'at, 17 Februari 2023 pukul 15:51:07 |
66165 kali
Memasuki
akhir bulan Rajab, umat Islam akan merayakan hari Isra’ Mi’raj. Tepatnya pada
tanggal 27 Rajab 1444 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 18 Februari 2023.
Isra’ Mi’raj mengandung sejumlah hikmah yang sangat dalam yang dapat kita
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, mengajarkan kita untuk selalu
tawadhu atau rendah hati. Sebagaimana tersebut dalam surat Al-Isra’ ayat satu
yang mengisahkan peristiwa Isra' Mi’raj, kata yang digunakan untuk menyebut
Nabi Muhammad saw adalah ‘abdun’ yang berarti hamba. Ini menunjukkan hamba yang
benar-benar bertakwa kepada Allah mendapat derajat begitu luhur di sisi-Nya.
Kedua, mengajarkan kita untuk bersikap
tangguh. Sebelum peristiwa Isra' Mi’raj, orang-orang yang Nabi cintai dan
mendukung misi dakwahnya sepenuh hati silih berganti meninggal dunia. Di sisi
lain penindasan kaum Quraisy semakin hebat. Ujian bertubi-tubi yang Allah berikan
ini agar Nabi benar-benar tangguh dalam berdakwah.
Ketiga, kita diajarkan untuk berpendirian
teguh dan senantiasa menyampaikan
kebenaran meskipun pahit. Begitu pagi setelah malam Isra' Mi’raj, Nabi
mengabarkan apa yang baru dialaminya ke penduduk Makkah. Praktis, banyak orang
yang tidak percaya dengan kabar ‘tidak masuk akal’ ini. Hal ini menunjukkan
bahwa kebenaran harus tetap disampaikan, meskipun banyak mendapat
penolakan.
Keempat, mengajarkan bahwa kita wajib menerima
pendapat, ajaran dan masukan dari seseorang dengan tidak melihat dari tua-mudanya
usia, tinggi rendah pangkat/jabatannya, atau tinggi rendahnya pendidikan formal. Dalam
hal apa yang disampaikan adalah benar
dan mengandung ketauladanan. Saat peristiwa Isra' Mi’raj, Rasulullah SAW
menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu. Ini bukti bahwa mereka tunduk dan
mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW.
Kelima, keistimewaan Masjidil Aqsha bagi
umat Muslim. Dalam perjalanan Isra’, masjid yang berada di Palestina itu
menjadi tempat tujuan Nabi, sebelum akhirnya bertolak ke Sidratul Muntaha. Ini
merupakan indikasi betapa mulianya masjid tersebut. Bahkan masjid ini
pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Ka’bah. Pahala shalat
Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) juga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.
Keenam, mengajarkan untuk mengkonsumsi
makanan yang baik lagi halal. Ketika Nabi Muhammad SAW diberi pilihan
antara air susu dan khamr saat Mi’raj, Nabi lebih memilih susu. Kemudian
Malaikat Jibril as berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai
isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah). [1]
Ketujuh, mengajarkan seorang muslim untuk
menjaga sholatnya. Malam Isra' Mi’raj merupakan waktu disyariatkannya shalat
lima waktu secara langsung, tanpa melalui perantara Malaikat Jibril sebagaimana
syariat-syariat lainnya. Ini menunjukkan betapa sholat memiliki kedudukan
sangat penting bagi umat Islam.
Kedelapan, memantapkan dan menguatkan keyakinan
Nabi Muhammad SAW. Sebelum Mi’raj, Rasulullah hanya mendengar info terkait
surga, neraka, dan hal-hal gaib lainnya melalui wahyu. Ini namanya ‘ilmul
yaqin, Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung. Ketika Mi’raj,
Rasulullah saw melihat langsung dengan mata kepala beliau sendiri. Ini namanya
‘ainul yaqin. Ketika seseorang sudah sampai pada ‘ainul yaqin, maka
kemantapan atas apa yang diyakininya semakin kuat[2].
Demikian
sejumlah hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Semoga dapat
memacu kita untuk senantiasa menjadi insan yang bertaqwa dan lebih baik untuk
kemaslahatan masyarakat.
Resume : Memasuki akhir
bulan Rajab, umat Islam akan merayakan hari Isra’ Mi’raj. Tepatnya pada tanggal
27 Rajab 1444 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 18 Februari 2023. Isra’
Mi’raj mengandung sejumlah hikmah yang sangat dalam yang dapat kita
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini penulis menyajikan
delapan hikmah yang dapat kita petik dari Peristiwa Isra' Mi'raj.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai
pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |