Fenomena Konten “Mandi Lumpur”: Antara Kreativitas dan Malas
Agus Rodani
Selasa, 31 Januari 2023 pukul 14:37:37 |
18467 kali
Beberapa hari ini kita banyak disajikan berita yang membahas fenomena konten ”Mandi Lumpur” di aplikasi TikTok. Beragam tanggapan dari pembaca/netizen terkait tayangan konten tersebut, ada yang mendukung namun lebih banyak yang tidak. Kemajuan teknologi informasi saat ini mendekatkan manusia di seluruh dunia menembus batas negara.
Kemudahan komunikasi secara online yang disaksikan banyak orang,
menjadi peluang pembuat konten untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Namun tidak semua pembuat konten menyajikan tayangan yang mendidik, akan tetapi
menghadirkan kegiatan negatif seperti kegiatan mengemis dengan mengekploitasi
orang tua, anak-anak atau kelompok disabilitas.
Penyajian konten tersebut
menjadi ladang untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam waktu
singkat dan mengesampingkan masalah moralitas. Tidak sedikit netizen yang
memberikan gift (hadiah) dalam tayangan
konten orang mandi lumpur yang disiarkan secara live streaming. Hal tersebut mendorong kreator untuk meneruskan
pembuatan konten seperti itu.
Menelaah fenomema konten
tersebut, penulis berpandangan bahwa perlu adanya sosialisasi yang luas
terhadap penggunaan media sosial kepada para penggunanya oleh pemerintah. Peningkatan
kemampuan teknis dan moral untuk pembuatan konten yang positif dan kesadaran
dari para pembaca untuk dapat menilai isi konten secara bijak. Penghentian
konten seperti mandi lupur akan hilang dengan sendirinya ketika tidak ada
tanggapan dan pemberian hadiah dari pembaca/penonton.
Terkait penayangan konten “mandi
lumpur” yang massif tersebut, Menteri Sosial menerbitkan Surat Edaran (SE)
Nomor 2 Tahun 2003 tentang Penertiban Kegiatan Eksploitasi dan/atau Kegiatan
Mengemis yang Memanfaatkan Lanjut Usia, Anak, Penyandang Disabilitas, dan/atau
Kelompok Rentan Lainnya. Inti dari SE tersebut menghimbau Para gubernur dan
bupati/wali kota untuk melindungi dan mencegah adanya kegiatan mengemis baik
secara offline maupun online di media sosial yang mengeksploitasi para lanjut
usia, anak, penyandang disabilitas, maupun kelompok rentan lainnya.
Maksud dan tujuan diterbitkan SE tersebut yaitu[1] satu, Mencegah adanya
kegiatan mengemis baik secara offline dan/atau
online di media sosial yang
mengeksploitasi para lanjut usia, anak,penyandang disabilitas, dan/atau
kelompok rentan lainnya; dua, Melindungi para lanjut usia,
anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dari eksploitasi yang
dilakukan dengan kegiatan mengemis secara offline dan/atau online
di media sosial.
Menindaklanjuti SE tersebut, Kominfo meminta kepada Pengelola
TikTok untuk menurunkan (take down)
konten pengemis online. Kominfo juga berkomitmen apabila ada media sosial
lainnya yang menayangkan konten serupa, tidak segan-segan untuk langsung memblokirnya.
Menelaah uraian di atas, penulis mencoba untuk berpendapat bahwa
kemajuan teknologi informasi harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan
penggunanya untuk dapat menganalisa dan mencermati setiap konten yang tayang.
Maraknya tayangan konten secara live
streaming yang mengeksploitasi orang tua, anak-anak dan kelompok
disabilitas untuk mengemis merepresentasikan tanda kemunduran atau krisis
sosial dalam masyarakat yang terjadi akibat efek samping perkembangan cepat
teknologi informasi.
Selain itu, konten-konten seperti itu sangat membahayakan
kesehatan bagi pemerannya, mencetuskan budaya malas yang mengharapkan belas
kasihan orang lain layaknya pengemis. Tindakan yang diambil Kominfo sudah sangat
tepat, dengan segera meminta kepada TikTok untuk menurunkan konten dan
mengancam akan memblokir media sosial yang tetap menayangkan konten serupa.
Latar belakang minimnya
tingkat ekonomi kreator dan pemeran konten juga perlu diperhatikan dan dicari
solusinya. Maraknya konten mengemis via media sosial kemungkinan tidak lepas
dari masalah kemiskinan dan harus ada upaya penanggulangannya. Oleh karena itu,
penulis berharap agar pemerintah pusat, pemerintah daerah dan penggiat sosial terus
mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan media sosial. Pengentasan kemiskinan
rakyat juga sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menaikkan Indeks
Pembangunan Manusia di Indonesia.
Bertolak dari maraknya konten yang negative, penulis mengutip cara menciptakan konten sosial
yang berkualitas dan meraup banyak pembaca sebagai berikut[2]:
1. Credible
Ketika berbagi informasi
atau konten ke media sosial, informasi atau konten tersebut haruslah sesuai
dengan fakta dan berasal dari sumber yang benar-benar bisa dipercaya. Hal ini
diperlukan agar dapat membangun trust dan kepercayaan pelanggan. Berbagi
informasi yang asal copy dan paste (copas) dari sumber yang random hanya
akan bikin reputasi konten rusak dan pembaca yang membaca dan menikmati konten menjadi
sedikit.
Untuk dapat membangun
kredibilitas ketika membuat konten media sosial, kamu bisa melakukan survei
atau kuesioner mandiri untuk mengumpulkan data yang orisinal. Data yang diperoleh
bisa dikumpulkan dan dirangkum dalam berbagai bentuk, seperti infografis atau
video singkat. Namun, untuk membuat dan mengumpulkan data dengan menggunakan
survei, harus meluangkan waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk memperoleh
data yang cukup.
Cara lain untuk memperoleh
informasi yang kredibel adalah dengan mengambil data atau informasi dari
sumber-sumber terpercaya. Sumber-sumber terpercaya tersebut dapat berupa portal
berita yang berkualitas, badan statistik dan lembaga resmi pemerintah, hingga
berbagai lembaga survei dan statistik independen.
2. Compelling
Untuk menjadi kreator yang
produktif harus punya segudang konten dengan informasi yang akurat dan bisa
dipercaya. Namun, apabila delivery atau penyampaian setiap konten hanya
berisi tulisan-tulisan dan angka dapat membuat konten tidak menarik banyak pembaca dan tidak bekerja
dengan efektif.
Oleh karena itu, perlu untuk
merancang dan mengolah setiap informasi dan konten yang dimiliki ke dalam
bentuk yang menarik ,efektif dan tepat. Dalam menyampaikan tulisan, gunakan copywriting
yang singkat namun jelas. Tekankan keunggulan dan benefit yang bisa ditawarkan
dan informasi menarik kepada orang-orang secara singkat namun disampaikan
dengan cara yang menarik, jelas, dan mudah dipahami.
Di samping itu, bisa
menggunakan beberapa bentuk penyajian konten lain, seperti membuat infografis
atau visual yang menarik untuk benar-benar bisa mencuri perhatian dan menarik
orang untuk membaca. Faktanya, konten media sosial yang dibuat dalam bentuk visual akan
lebih cepat menarik perhatian orang-orang. Gunakan juga
topik yang agak antimainstream untuk membantu konten media sosial kamu
benar-benar beda dari kebanyakan konten kompetitor.
3. Consumable
Konten media sosial yang consumable
artinya konten yang benar-benar bisa dinikmati para pembaca di tiap media
sosial dengan nyaman dan optimal. Dalam menciptakan konten media sosial yang
benar-benar bisa dinikmati, readability atau kemudahan suatu konten
untuk dibaca mesti jadi prioritas yang mesti diutamakan. Untuk membuatnya,
mulailah dengan menyajikan setiap konten dalam kualitas grafis atau resolusi
yang tinggi sehingga terlihat jernih dan jelas di mata setiap pembaca atau
penonton.
Lebih lanjut lagi,
maksimalkan agar setiap tulisan dan gambar di dalam konten bisa dibaca dengan
mudah dan tidak terpotong-potong. Ketika ada suatu informasi yang sulit
disajikan langsung, bisa menggunakan gambar, analogi, chart, atau
statistik yang memudahkan pembaca untuk menerima dan memahami informasi yang
ada. Dengan konten yang dibuat secara kredibel, disampaikan dengan cara yang menarik
dan atraktif, dan disajikan dengan nyaman untuk dibaca, maka konten media
sosial kamu sudah siap untuk punya views tinggi dan dibagikan banyak
orang.
Demikian yang dapat penulis
sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi para kreator konten media sosial.
Haparapn penulis semoga muncul creator-kreator konten yang produktif dengan
kualitas yang tinggi baik penyajian maupun informasi yang disampaikan.
Penulis : Agus Rodani
Pegawai pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat
[1]
Surat Edaran Nomor 2 tahun 2023 tentang Penertiban Kegiatan Eksploitasi
dan/atau Kegiatan Mengemis yang Memanfaatkan Lanjut Usia, Anak, Penyandang Disabilitas,
dan/atau Kelompok Rentan lainnya
[2] https://onstock.id/blog/bikin-konten-media-sosial-yang-bisa-dapatkan-banyak-pembaca-cukup-pakai-3c-161
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |