Kinerja Positif APBN Tahun 2022 Menjadi Modal Kuat Indonesia Dalam Merespon Tantangan Global di Tahun 2023
Agus Rodani
Senin, 16 Januari 2023 pukul 08:52:16 |
13021 kali
Kinerja
perekonomian Indonesia tahun 2022 sesuai data dari Kementerian Keuangan
menunjukkan performa yang luar biasa. Pendapatan Negara yang berasal dari
beberapa sektor mengalami peningkatan yang signifikan. Dapat kami gambarkan
sebagai berikut: Pendapatan negara APBN Tahun 2022 terealisasi Rp2.626,4 triliun
atau 115,9 persen dari target berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun
2022 sebesar Rp2.266,2 triliun. Realisasi ini tumbuh 30,6 persen sejalan dengan
pemulihan ekonomi yang semakin kuat dan terjaga serta dorongan harga komoditas
yang relatif masih tinggi.
Dari
total realisasi pendapatan negara tersebut, realisasi penerimaan perpajakan
mencapai Rp2.034,5 triliun atau 114 persen dari target Perpres 98/2022 sebesar
Rp1.784 triliun, tumbuh 31,4 persen dari realisasi tahun 2021 sebesar Rp1.547,8
triliun. Realisasi penerimaan negara ini didukung oleh penerimaan pajak dan
kepabeanan cukai.[1]
Sementara
itu, penerimaan kepabeanan dan cukai juga memperlihatkan kinerja yang luar
biasa. Setelah targetnya direvisi ke atas melalui Perpres 98/2022, kinerja
penerimaan kepabeanan dan cukai masih tetap melampaui target dengan
mengumpulkan Rp317,8 triliunatau 106,3 persen target, tumbuh 18 persen.
Penerimaan
negara bukan pajak (PNBP) sebagai komponen pendapatan negara juga menghadirkan
cerita yang menggembirakan. Realisasi PNBP tahun 2022 sebesar Rp588,3 triliun
atau 122,2 persen dari target Perpres 98/2022, tumbuh 28,3 persen dari tahun
lalu yang juga sudah melonjak naik di level Rp458,5 triliun.
Dari
gambaran tersebut di atas, Indonesia selama
kurang lebih 3 tahun terakhir telah berhasil menjaga masyarakat dan
perekonomian. Perekonomian Indonesia terbukti tangguh menghadapi berbagai
guncangan dan ancaman ketidakpastian. Kinerja APBN 2022 mampu meredam gejolak
ekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat. Hal ini tercermin
dari kinerja positif perekonomian Indonesia yang melaju kuat di tengah
turbulensi ekonomi global. PDB nasional tumbuh kuat sebesar 5,72 persen pada
triwulan III-2022 (yoy) dan sudah melampaui level PDB prapandemi dan
indikator-indikator ekonomi makro juga menunjukkan penguatan.
Apabila
kita telaah berita dari beberapa media, baik elektronik dan cetak, di tengah ketidakpastian perekonomian dunia
yang dihadapkan pada beberapa kondisi yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
Beberapa hambatan yang masih mendera untuk bangkitnya perekonomian dunia diantaranya:
satu, hampir semua bank sentral
dunia menaikkan suku bunga yang berakibat pada bunga pinjaman bank dan KPR
naik. Dampak langsungnya pertumbuhan sektor riil terhambat, penyeluran kredit
anjlok, dan lapangan kerja baru berkurang; dua,
inflasi yang masih tinggi menyebabkan pendapatan riil masyarakat terus
tergerus, karena harga kebutuhan yang semakin tinggi, sehingga standar hidup
masyarakat menjadi turun; tiga,
Panasnya suhu geo politik dunia dimana peperangan antara Rusia dan Ukraina belum
menunjukkan akan berakhir. Hal ini tentunya menimbulkan dampak beberapa harga
komoditi dunia meningkat seperti gandum, pupuk, migas dan lainnya.
Beberapa
negara di tahun 2022 menunjukkan angka inflasi yang lebih tinggi dari Indonesia
(5,95 persen) seperti Amerika Serikat sebesar 8,2 persen, Meksiko 8,7 persen,
Italia 8,9 persen, Uni Eropa 9,1 persen, Inggris Raya 9,9 persen, Jerman 10
persen, Rusia 15,1 persen, Thailand 6,4 persen.[2] Dengan tingkat inflasi
tersebut, Pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah dengan mendorong peran
kerjasama pengendalian inflasi di pusat dan daerah salah satunya dengan
melaksanakan identifikasi wilayah surplus dan defisit, serta menjadi
fasilitator yang baik, untuk mendorong kerjasama antar daerah dalam upaya
pengendalian inflasi.
Berhasilnya
kinerja APBN sebagai shock absorber
dalam meredam dan melindungi perekonomian masyarakat Indonesia dari berbagai ancaman
seperti inflasi, harga komoditi pokok yang volatile,
kenaikan suku bunga, dan yang dapat mengakibatkan menurunnya daya beli
masyarakat. Keberhasilan ini tercermin dari kinerja APBN selama tahun 2022 yang
dapat digambarkan sebagai berikut : defisit
APBN Tahun 2022 berhasil mencapai angka di bawah 3% yakni 2,38%,lebih rendah
daripada tahun sebelumnya yang mencapai 4,57%. Defisit dan keseimbangan primer
turun signifikan mendekati level sebelum pandemi disertai pembiayaan
anggaranyang lebih efisien.
Defisit
APBN 2022 ditutup dengan Rp464,3 triliun atau jika dipresentasikan dengan PDB
hanya 2,38%. Angka ini jika dibandingkan APBN awal dan Perpres 98/2022 jauh
lebih rendah yaitu Rp868 triliun di APBN awal dan Rp840,2 triliun di Perpres
98/2022.
Menteri
Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa sisi pembiayaan juga menghasilkan cerita
sukses. Awal tahun APBN 2022 di desain pembiayaan anggaran mencapai Rp868
triliun dan berhasil diturunkan hingga Rp583 triliun, jauh lebih rendah dari
realisasi tahun 2021 Rp871,7 triliun. Hal
tersebut berarti adanya penurunan konsisten selama dua tahun berturut-turut.
APBN 2022 yang selama tiga tahun ini adalah menjadi instrumen yang sungguh
sangat diandalkan masyarakat, pemerintah, dan perekonomian untuk bisa terus
bekerja di dalam mengawal pemulihan.[3]
Berdasarkan
uraian dan data yang disajikan di atas, penulis sangat optimis dengan kinerja
APBN Tahun 2023 dapat kembali mengulang sukses kinerja APBN Tahun 2022 dengan
pertimbangan sebagai berikut :
1.
Kerja keras APBN selama kurang lebih 3 tahun
terakhir telah berhasil menjaga masyarakat dan perekonomian dan terbukti
tangguh menghadapi berbagai guncangan dan ancaman ketidakpastian. Kinerja APBN
2022 mampu meredam gejolak ekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat.
Hal ini tercermin dari
kinerja positif perekonomian Indonesia yang melaju kuat di tengah turbulensi
ekonomi global;
2.
Tahun
2023 adalah tahun penuh optimisme dan harapan namun tetap waspada. Pemerintah
optimis bahwa kondisi perekonomian akan semakin membaik melalui APBN sebagai
instrumen penjaga masyarakat dan perekonomian, namun tetap waspada menghadapi
dinamika ke depan karena risiko ketidakpastian yang masih tinggi;
3.
Sebagai
bentuk kewaspadaan dan antisipasi akan adanya dinamika global di tahun 2023,
maka perlu adanya SInergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam
mengawal perekonomian harus terus diperkuat, termasuk meningkatkan kolaborasi
dengan beberapa pihak, seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas
Jasa Keuangan, serta pemerintah daerah demi menjaga APBN sehat, ekonomi kuat;
4.
Dukungan
masyarakat, pemda, K/L, media, dan seluruh pemangku kepentingan terkait yang
telah mendukung kesuksesan pelaksanaan APBN 2022. Mari bersama kita kawal APBN
2023, kawal Uang Kita agar masyarakat makin sejahtera;
5.
Kinerja
positif APBN tahun 2022 menjadi modal yang kuat untuk menghadapi tahun 2023 dan
konsolidasi fiskal. APBN 2023 didesain tetap optimis namun dengan kewaspadaan
yang tinggi untuk mengantisipasi ketidakpastian dengan kebijakan fiskal yang
diarahkan pada “Peningkatan Produktivitas untuk Transformasi Ekonomi yang
Inklusif dan Berkelanjutan”;
6.
Peran
APBN sebagai shock absorber terus
dioptimalkan di tengah risiko ketidakpastian perekonomian global dan memperkuat
peran APBN sesuai fungsi dasarnya: alokasi, distribusi, dan stabilisasi;
7.
Kebijakan
pendapatan diarahkan pada optimalisasi pendapatan negara untuk mendukung
konsolidasi fiskal yang berkualitas dan kesinambungan fiskal dengan tetap
menjaga iklim investasi dan daya saing usaha tetap kondusif. Pemerintah akan
melihat secara hati-hati komponen-komponen yang menyumbangkan Penerimaan
Negara, baik perpajakan, kepabeanan dan cukai, maupun PNBP untuk
mengidentifikasi kemungkinan dinamika global yang akan mempengaruhi target
penerimaan negara tahun 2023, serta akan memperkuat langkah-langkah pengamanan
penerimaan;
8.
APBN
2023 siap mendukung berbagai target pembangunan dengan fokus pada human
capital, physical capital, dan antisipasi ketidakpastian. Kebijakan belanja
berfokus untuk meningkatkan kualitas SDM, melanjutkan pembangunan infrastruktur
dasar, reformasi birokrasi, revitalisasi industri, pembangunan dan pengembangan
ekonomi hijau, serta tetap diarahkan untuk melindungi masyarakat dari risiko
ketidakpastian;
9.
Kebijakan
subsidi pada APBN 2023 terus didorong agar lebih sasaran dan berkeadilan, namun
tetap diselaraskan dengan pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat serta
dlakukan pada waktu yang tepat. Kebijakan subsidi terus didukung dengan
akselerasi reformasi menuju sistem perlinsos sepanjang hayat dan adaptif untuk
mempercepat penurunan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan pembangunan
SDM jangka panjang;
10. Kebijakan transfer ke daerah semakin
diperkuat dengan implementasi UU HKPD dan diarahkan pada peningkatan kualitas
layanan public dan pemerataan ekonomi daerah yang berkeadilan agar mampu
mendorong pemulihan ekonomi di daerah, dengan meningkatkan sinergi kebijakan
fiskal pusat-daerah serta harmonisasi belanja pusat-daerah;
11. Demi menjaga keberlanjutan fiskal
jangka menengah dan jangka panjang, APBN 2023 disusun ekspansif, terarah, dan
terukur. Defisit APBN kembali di bawah 3 persen PDB dan pertama kalinya target
pajak di atas Rp2 ribu triliun;
12. Kebijakan pembiayaan diarahkan pada
pengelolaan utang yang aman dan kredibel, serta mendorong pembiayaan inovatif
untuk mempercepat pembangunan proyek strategis pusat dan daerah.
Atas
pertimbangan tersebut di atas, penulis sangat optimis di tahun 2023 pertumbuhan
ekonomi Indonesia tetap tinggi perkiraan sekitar 5,1 persen – 5,3 persen
sebagaimana pernyataan Menteri Keuangan. Inflasi masih dapat dikendalikan dan
daya beli masyarakat tetap bagus. Tetap kuatnya kinerja ekspor nonmigas
terutama bersumber dari ekspor produk manufaktur, seperti logam mulia dan
perhiasan, serta pakaian dan aksesorinya, yang tercatat meningkat. Selain itu,
ekspor komoditas berbasis sumber daya alam, seperti CPO, bahan bakar mineral
termasuk batubara tetap terjaga, didukung oleh penguatan kebijakan Pemerintah
dan harga komoditas global yang masih tinggi. Kondisi perekonomian
akan semakin membaik melalui APBN sebagai instrumen penjaga masyarakat dan
perekonomian, namun tetap waspada menghadapi dinamika ke depan karena risiko
ketidakpastian yang masih tinggi.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai pada Kanwil DJKN Kalbar
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |