Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Artikel DJKN
Memperingati Hari Perdamaian Internasional, 21 September 2022 Ramalan Nostradamus Vs Perdamaian Dunia
Mahdi
Kamis, 22 September 2022 pukul 14:06:07   |   1009 kali

Berawal Dari Keheningan

Sesekali kontemplasi, hening, meditasi, dan tidak sengaja rupanya, ide tema di atas ini keluar dari benak begitu saja. Mengalir dan apa adanya, seakan-akan menerpa penasaran. Memang lumayan melelahkan, setelah seharian bekerja, penulis iseng-iseng sering membuka berita di internet, bahkan di medsos seperti IG, FB bahkan Whatsapp Group atau Telegroup.

Kali ini yang menjadi perhatian penulis adalah, tepat seminggu yang lalu, dunia medsos dihebohkan oleh sebuah berita tentang isu-isu ramalan Nostradamus yang kerap membuat daya pikir ini penasaran. Siapa sih Nostradamus? Kok langsung viral dimana-mana.

Ternyata, setelah buka-buka internet, Nostradamus dikenal sebagai salah satu peramal masa depan yang paling penting dalam sejarah manusia di dunia ini. Bahkan diantara banyak ramalannya, namanya aja ramalan, jangan dipercaya dan diyakini 100%. Lihat saja isu ramalan serangan 9/11 atu 11 September di World Trade Center (WTC) Amerika Serikat (AS) pada 2001, lalu tentang Adolf Hitler dan Nazi pada pertengahan abad XX.

Ramalan atau Sebuah “Grand Design”.

Nostradamus lahir pada 14 atau 21 Desember 1503 2 Juli 1566. Nostradamus adalah nama Latin dari Michel de Nostredame, merupakan pengarang ramalan ternama dari Prancis. Nostradamus terkenal dengan hasil karyanya berjudul Les Propheties yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1555, tetapi buku tersebut menjadi langka sejak kematiannya.

Menarik dan semakin terus mencari kebenaran terkait ramalan-ramalannya. Namun cukup sudah jelajah tentang isu ramalan Nostradamus. Adalah pemikiran dia yang harus dicermati seksama, yaitu isu invasi Australia.

Sebuah ramalan bisa jadi hanya sebuah prediksi tanpa ilmiah. Bahkan sulit juga mengukur akurasi logis terkait kebenarannya di masa depan. Namun yang menjadi perhatian penulis dalam isu invasi ini adalah, apakah ini ramalan secara alamiah, atau memang sebuah “grand design” dunia di tahun 2037 nanti.

Tentu, penulis mencari “relasi kuasa” bagaimana hubungan ramalan dengan prediksi, lalu bagaimana parameter-parameter yang membangun kejadian di masa depan yang akan menyebabkan invasi tersebut.

“Uuh tak habis pikir, habis energy memikirkan kausalitas yang ke depan belum tentu bakal terjadi,” pikir penulis.

Kenapa memikirkan invasinya? Kenapa para netizen heboh dengan peperangannnya? Kenapa tidak berpikir positif, mencari solusi, menerapkan kedamaian? Dan atau Membangun rasa trusty antar sesama? atau bekerjasama, berkolaborasi? Ketimbang memikirkan atau mensugesti isu ramalan yang akan banyak faktor dan instrumen sebagai kausalitas universe.

“Ahaa, benar juga ide selintas pemikiran di atas, rakyat Indonesia harus berpikir positif, benar-benar jangan tersugesti isu ramalan Nostradamus,” pikir penulis dengan semangat.

Lalu, bagaimana ke depan agar sugesti itu terminimalisir?

Bila dalam sebuah kausalitas diketahui penyebab yang menggiring akan kejadian tersebut, alangkah baiknya sugesti itu pula ditekan dengan dicarikan solusi-solusinya.

Penerawangan itu makin dalam. Jelajah itu makin meluas. Bahkan hingga berpikir kepo, fakto-faktor apa saja yang memungkinkan dapat melakukan pencegahan. Walaupun isu itu tidak perlu dibenarkan dan disugestikan, hanya saja, tidak ada salahnya antispiasi sekecil dan sedini mungkin dapat dilakukan.

Penulis menilai, untuk mengantisipasi itu, bisa sedari dini perbanyak nilai-nilai Nusantara, bahkan penerapan nilai-nilai agama dengan Baik dan Benar. Sikap Rahmatan Lil alamin harus terus diaplikasikan dengan Netral. Selain itu juga, budaya Nusantara, seperti Istilah-istilah ancient tradition, Gemah ripah Loh Jinawi, Surga di Teras Khatulistiwa, Masyarakat Yang Santun, Budaya yang Siliwangi, Silih Asah, Asih dan Asuh.

Negara yang ber Bhinneka namun tetap Tunggal Ika, sejatinya terus diblow up, agar blue print intellegence (Cetak biru Intelegensia) masyarakat Indonesia tersadarkan kembali nilai-nilai religiusitas dan spiritualitasnya. Peran medsos memang sangat kuat, namun tema-tema ini lah yang semestinya dikedepankan untuk menetralisir isu ramalan tersebut. Dengan tujuan agar mengurangi sugesti terhadap ramalan Nostradamus itu.

Indonesia Adalah Pusat Kedamaian

Berawal dari keheningan tadi, penulis tidak saja melihat secara mendalam akan pentingnya peran masyarakat dan negara dalam menciptakan kedamaian. Namun sengaja atau tidak, ternyata 21 September 2022 itu adalah Hari Perdamaian Internasional. Tentu saja, bagi penulis ini sangat menarik, karena penulis mengharapkan sisi positif yang seimbang, dimana isu ramalan tidak harus selalu disebarkan, karena ada isu yang lebih pentingnya lagi, yaitu perdamaian.

Pepatah dan peribahasa Nusantara, yang sejak SD hingga sekarang dipelajari dan dihapal penulis adalah, “Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu”. Artinya yang berperang keduanya adalah sama, sama-sama bakal merasakan kerugian. Hal ini pula yang membuat penulis tergerak mengedepankan isu perdamaian.

Seperti diketahui bersama, bahwa Hari Perdamaian Internasional atau International Peace Day (Peace Day) 2022 diperingati di seluruh dunia pada tanggal 21 September. Hari ini dicetuskan pada tahun 1981 oleh resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun penulis berpikir dalam, bahwa sebenarnya untuk mencapai perdamaian sejati memerlukan lebih dari sekadar meletakkan senjata. Artinya, istilah Damai kalau perlu sebelum mengangkat senjata.

“Manusia harus merasakan kedamaian dalam dirinya ucap penulis dalam hati.

Selain perlunya menetralisir isu ramalan Nostradamus, juga skenario perang yang harus terus diwaspadai sebagai bentuk penyebab “butterfly effect”, yang sejatinya perang membawa bencana yang membuat manusia menderita lahir dan batin, bahkan kepada manusia yang lain, atau negara lain di planet ini.

“Butterfly Effect” dari perang salah satunya adalah kenaikan harga crude oil, dimana muncul ketidakseimbangan “supply and demand” yang masing-masing negara berebut bahan bakar. Efeknya crude oil naik, harga bbm juga naik.

“Perang bukan solusi, perdamaian lah solusinya, Rusia dan Ukraina yang perang, kita kena imbasnya” pikir penulis.

Tepat, akhirnya setelah melihat laman web PBB, Hari Perdamaian Internasional 2022 PBB mengangkat tema "End Racism. Build Peace" atau "Akhiri Rasialisme. Bangun Perdamaian."

Yang sangat menyentuh penulis adalah Sang Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengucapkan: "Rasialisme terus meracuni institusi, struktur sosial, dan kehidupan sehari-hari di setiap masyarakat dan menjadi pendorong ketidaksetaraan yang terus-menerus. Hal ini juga terus menyangkal hak asasi manusia yang mendasar bagi orang-orang. Rasialisme mengacaukan masyarakat, merusak demokrasi, mengikis legitimasi pemerintah, dan memperburuk ketidaksetaraan gender."

Konflik yang terus meletus di seluruh dunia, menyebabkan orang-orang melarikan diri dan mengungsi, dari sini tampak bagaimana diskriminasi berbasis ras terjadi di perbatasan. Karena COVID-19, kita bisa melihat bagaimana kelompok ras tertentu terdampak jauh lebih keras daripada yang lain. Tema untuk Hari Perdamaian Internasional 2022 adalah “Akhiri rasisme, Bangun perdamaian.”

Dalam laman itu juga, PBB mengundang semua orang untuk sadar akan menuju dunia yang bebas dari rasialisme dan diskriminasi ras. Dunia di mana belas kasih dan empati mengatasi kecurigaan dan kebencian.

Penulis melihat, isu perdamaian sudah sejak dulu kali hadir dalam “darah Indonesia. Soekarno menciptakan Non-Blok, dilanjutkan oleh Soeharto dan presiden-presiden berikutnya. Bahkan kemarin kita menyaksikan bagaimana Presiden Indonesia, Joko Widodo begitu berani datang di tengah kecamuk peperangan Rusia dengan Ukraina. Jokowi ingin menunjukan bahwa Indonesia itu adalah Negara Damai, bahkan penulis bisa mengatakan Indonesia adalah Pusat Kedamaian.

Oleh karena itu, tujuan mulia Presiden Joko Widodo untuk menyarankan Rusia dan Ukraina untuk menghentikan peperangan adalah sebuah konsep dan sikap “blue print intellegence” perwakilan bangsa Indonesia. Di lapangan, Presiden Joko Widodo merangkul keduanya dengan harapan agar peperangan segera berakhir.

Berdamai dengan diri sendiri, maka jiwa ini akan mampu mensyukuri setiap anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Selamat Hari Perdamaian Internasional, 21 September 2022. "End Racism. Build Peace." atau "Akhiri Rasialisme. Bangun Perdamaian."

Penulis : Rusmawati Damarsari - Kepala Bidang Lelang kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini