Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Artikel DJKN
Saring Sebelum Sharing Yuk!
Fia Malika Sabrina
Selasa, 21 Juni 2022 pukul 14:20:58   |   52 kali

Di Era saat ini, teknologi sudah semakin canggih dan mudah diikuti oleh semua kalangan. Tak heran jika banyak kita temui mulai dari anak kecil sampai orang tua kebanyakan sudah menggunakan gadget. Hal ini tentunya memudahkan kita dengan kerabat bahkan keluarga untuk menanyakan kabar kapanpun dimanapun dengan cepat. Namun disisi lain, kecepatan teknologi tersebut justru sering disalahgunakan oleh masyarakat. Masyarakat masih banyak yang bersikap ‘latah’ ketika menerima suatu informasi. Banyak yang masih menelan mentah informasi yang mereka dapatkan dan langsung menyebar luaskan berita tersebut tanpa diketahui kebenarannya sehingga menyebabkan berita hoax tersebut lebih cepat viral, terutama dalam penggunaan media sosial.

Dikutip dalam Survey Mastel (2017) dalam Juditha (2018) mengungkapkan bahwa sebanyak 1.146 responden yang diterima, 44.3 persen diantaranya menerima berita hoax setiap hari dan 17,2 persen menerima lebih dari satu kali dalam sehari. Media yang paling banyak digunakan dalam penyebaran berita hoax pada masyarakat ini melalui media online. Hasil penelitian menyebutkan dalam penyebaran berita hoax ini melalui situs web sebesar 34,90 persen, aplikasi chatting seperti Whatsapp, Line, Telegram sebesar 62,80 persen, dan melalui media sosial seperti facebook, instagram, twitter meraih presentase terbanyak sebesar 92,40 persen. Lalu bagaimana antisipasi yang harus dilakukan dalam mengatasi penyebaran berita hoax ini?

Penyebab Terjadinya Berita Hoax

Melani Budiantara yang merupakan seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia memaparkan beberapa poin pemicu terjadinya pemberitaan hoax diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Adanya revolusi media sosial yang membuat keterbukaan informasi dan tingginya konsumsi media sosial dimana Indonesia pengguna Facebook terbesar ke-4 di dunia.

2. Minimnya literasi media sehingga menyebabkan kurang kritis terhadap informasi.

3. Pengguna media sosial menjadi pengedar informasi tanpa mampu melacak kebenarannya.

4. Era “Post-Truth” yang diunggulkan bukan kebenaran melainkan kedekatan emosi dan keyakinan pribadi dengan informasi yang diedarkan.

5. Adanya konflik horizontal, penajaman perbedaan, peredaran pesan kebencian, dan kecenderungan pada bullying sosial.

David Harley dalam buku Common Hoaxes and Chain Letters (2008) menyebutkan beberapa karakteristik berita tersebut hoax atau bukan dengan cara sebagai berikut yaitu informasi hoax biasanya memiliki karakteristik surat berantai dimana isinya terdapat kalimat agar pesan tersebut disebarkan ke semua orang. Kemudian berita tersebut biasanya tidak mencantumkan tanggal kejadian yang jelas. Ketiga, berita hoax biasanya tidak memiliki tanggal kadaluarsa pada peringatan informasi dan dapat menimbulkan efek keresahan yang berkepanjangan. Terakhir, tidak ada organisasi atau sumber yang dicantumkan sebagai bentuk pertanggungjawaban berita tersebut (Mustika, 2018).

Cara Mencegah Berita Hoax

Inisiator Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan Ketua Masyarakat Indonesia Anti hoax Septiaji Eko Nugroho menyampaikan beberapa tips untuk menghentikan penyebaran berita hoax dengan sebagai berikut:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Judul dari berita hoax ini seringkali mengandung provokatif atau judul yang sensional, sehingga memicu keresahan masyarakat sehingga masyarakat sering ‘latah’ langsung meneruskan pesan tersebut ke orang lain.

2. Cermati alamat situs

Apabila link berita yang dicantumkan berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya.

3. Periksa Fakta

Perhatikan sumber dari berita tersebut. Jika berasal dari satu sumber saja, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi yang sudah semakin canggih ini, foto ataupun video dapat dicari keasliannya lho dengan melakukan drag and drop pada kolom pencarian Google Images.

5. Ikut serta pada grup diskusi anti hoax

Adanya grup ini dapat membantu anda menyaring berita-berita hoax yang beredar.

Selain itu perlunya masyarakat mengimplementasikan etika bicara baik di media sosial agar lebih hati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Adapun etika bicara pada media sosial adalah sebagai berikut :

1. Hati-hati membagi informasi seperti bicara seputar kehidupan pribadi, terlebih sangat pribadi dan sensitif.

2. Tidak bicara dan membagikan konten yang mengandung SARA dan pornografi.

3. Hindari Bicara yang merendahkan harga diri atau melecehkan orang lain, kelompok, rasa tau bangsa lain.

4. Hindari bicara yang bersifat adu domba, memaki, menyalahkan, atau bersengketa.

5. Hindari bicara yang mendiskreditkan, memburuk-burukkan, mencela, atau yang menyinggung,

6. Dan lain-lain yang dapat menimbulkan konflik sehingga dapat berakhir di meja hijau (Mustika, 2018).

Apabila masyarakat dapat lebih mencerna dan menyaring sebelum menyebarluaskan berita apapun dan dapat lebih bijak menggunakan media sosial, maka akan sangat minim ditemukan berita hoax. Sehingga dapat mengurangi keresahan pada masyarakat. Pencegahan arus informasi hoax juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam beretika berkomunikasi di media online.

Daftar Pustaka

1. Juditha, Christiany. (2018). Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya Hoax Communication Interactivyin Social Media and Anticipation. Diakses pada 20 Juni 2022, dari https://jurnal.kominfo.go.id

2. Akurat.co. (2017, 4 April). Ini Penyebab Terjadinya Berita Hoax di Media Menurut Pakar Budaya. Diakses pada 20 Juni 2022, dari https://akurat.co/ini-penyebab-terjadinya-berita-hoax-di-media-menurut-pakar-budaya.

3. Mustika, Rieka. (2018). Etika Berkomunikasi di Media Online dalam Menangkal Hoax. Diakses pada 21 Juni 2022, dari https://www.neliti.com/publications/278583/none

4. Kominfo.go.id. (2017, 7 November). Cara Cerdas Mencegah Penyebaran Hoaks di Medsos. Diakses pada 21 Juni 2022, dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/11347/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoaks-di-medsos/0/sorotan_media

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini