Pendidikan Kunci Utama Kemajuan Bangsa
Thaus Sugihilmi Arya Putra
Senin, 09 Mei 2022 pukul 09:34:18 |
57402 kali
Pendidikan
Kunci Utama Kemajuan Bangsa
“Non
scholae sed vitae discimus”, manusia belajar bukan mengejar nilai tetapi
mempersiapkan hidup yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pemikiran Theodore
Meyer Greene “Pendidikan merupakan upaya menyiapkan SDM untuk meraih kehidupan
yang bermakna”. Dalam konteks kemajuan Indonesia dan menghadapi tantangan masa
depan, manusia harus dipandang sebagai
human capital yang dipersiapkan dengan sistem pendidikan yang baik untuk
membangun karakter dan transfer knowledge.
Membangun karakter manusia Indonesia
sangat penting. Manusia Indonesia harus mempunyai karakter yang berakar pada
nilai luhur bangsa, berjiwa nasionalis, berintegritas dan pribadi yang tangguh.
Konsep inilah yang ditanamkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan
Indonesia, "Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus
berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah
kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir."
Dukungan
APBN terhadap Pendidikan Nasional
Visi Indonesia tahun 2045 adalah
Indonesia Maju. Pada saat itu, Indonesia diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi
ke-4 terbesar di dunia. Untuk mencapai visi tersebut, salah satu pilar yang
harus dicapai adalah terciptanya SDM yang unggul. Menyadari hal itu, sejak 2019
salah satu fokus utama APBN adalah pembangunan SDM.
Dari sisi anggaran, sejak tahun 2009
Pemerintah telah melaksanakan mandatory
spending untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sesuai konstitusi.
Anggaran pendidikan tersebut digunakan antara lain untuk Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pendidikan, Program Bidikmisi,
Program Indonesia Pintar (PIP), beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
BOS yang membantu operasional sekolah
dasar dan menengah disalurkan kepada 53,99 juta siswa tahun 2022. DAK Fisik
Pendidikan yang merupakan bantuan kepada pemda untuk meningkatan kuantitas dan
kualitas sarana/prasarana pendidikan, berjumlah sebesar Rp18,34 triliun tahun
2022. Bidikmisi yang merupakan bantuan biaya pendidikan kepada calon mahasiswa
miskin untuk menempuh pendidikan tinggi menyasar 650.600 mahasiswa tahun 2022.
PIP yang merupakan bantuan berupa uang tunai dan perluasan akses belajar untuk peserta
didik miskin melalui Kartu Indonesia Pintar, menyasar 20,2 juta siswa tahun
2022. Sementara itu, LPDP yang
menyalurkan beasiswa untuk program S2 dan S3 menyasar 8.600 mahasiswa baru.
Jumlah dan kebijakan anggaran pendidikan
di atas, seharusnya dapat mendorong sistem pendidikan Indonesia lebih baik. Hal
ini membutuhkan sinergi antara lain Kemendikbudristek sebagai pemegang
kebijakan pendidikan dengan seluruh pemda, pengelola lembaga pendidikan dan
masyarakat.
Sistem
Pendidikan dan Kemajuan Bangsa
Sistem pendidikan yang baik akan
menciptakan SDM yang unggul dan membuat suatu negara menjadi maju. Semakin
tinggi kualitas pendidikan suatu negara maka negara tersebut semakin maju.
Sebaliknya semakin rendah kualitas sistem pendidikan suatu negara maka negara
tersebut akan terbelakang.
Menurut World Population Review, lima
negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia tahun 2021 adalah
Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada dan Perancis. Kelima negara mempunyai human
development index/HDI yang sangat tinggi di atas 0.9. HDI merupakan salah
satu ukuran untuk menggambarkan kualitas SDM suatu negara. Selanjutnya, kelima
negara tersebut juga masuk kategori negara maju. Menurut IMF, tiga syarat negara
maju yaitu produk domestik bruto per kapita yang tinggi, mempunyai industri
yang maju dan mempunyai basis ekspor yang beraneka ragam, serta sektor keuangan
yang terintegrasi dengan sistem keuangan global.
Sebaliknya, lima negara yang mempunyai
sistem pendidikan terburuk di dunia adalah Mali, Burkina Faso, Ethiopia, Chad
dan Angola. Kelima negara tersebut mempunyai HDI yang rendah di bawah 0,5
kecuali Angola 0,574. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, kelima negara
tersebut masuk kategori negara terbelakang. Kriteria yang digunakan adalah tingginya
angka kemiskinan, indeks kualitas manusia yang rendah dan ekonomi yang beresiko.
Sementara itu, sistem pendidikan Indonesia
berada di peringkat 54 dari total 78 negara. Dibandingkan dengan negara-negara
ASEAN, posisi Indonesia masih dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand.
Sementara itu HDI Indonesia berada di posisi 107 dari 189 negara dengan nilai 0,718
(kategori tinggi). Posisi HDI Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia,
Brunei dan Thailand. Indonesia dikategorikan sebagai negara berpendapatan
menengah bawah (lower middle income),
turun dari berpendapatan menengah atas (upper
middle income) akibat pandemi Covid-19.
Dari uraian di atas, bangsa Indonesia
masih mempunyai tugas bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikannya menuju
Indonesia Maju. Jika kita mau, Indonesia pasti maju.
(Kakanwil DJKN, Kemenkeu Kalbar, Edward
Nainggolan)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |