Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Artikel DJKN

Guru, Pandemi, dan Tantangan di Era Digital

Kamis, 25 November 2021 pukul 12:10:15   |   100 kali

Yeeaayyy libur lagi, demikian celoteh beberapa keponakan penulis awal triwulan kedua tahun lalu. Walaupun sebenarnya bukan libur, melainkan metode belajar diubah dari tatap muka menjadi daring, namun yang namanya anak-anak, sebagian tetap menganggap belajar dari rumah adalah hari libur. Ahhh, dulu, duluuu sekali, kitapun demikian. Entah sekarang setelah memasuki dunia kerja, yang telah menghadapkan kita dengan work timelines dan target kinerja.

Dan itu juga yang pertama-tama dirasakan oleh sebagian para guru sebagai tenaga pendidik. Ada perasaan lega membayangkan setiap hari tidak perlu lagi untuk terburu-buru berangkat ke sekolah, menyiapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka, menagih pekerjaan rumah yang telah ditugaskan di hari-hari sebelumnya. Namun seiring berjalannya waktu, ditemukan fenomena dimana sebagian tenaga pendidik mengaku kewalahan menghadapi proses belajar mengajar dengan daring maupun kombinasi daring-luring. Mereka mengaku kehilangan feel of interaction yang biasanya didapatkan melalu kegiatan belajar mengajar tatap muka. Hal tersebut salah satunya dikarenakan minimnya interaksi secara langsung dengan anak didiknya. Selain itu, para guru dibuat kewalahan dengan “kondisi yang memaksa” mereka untuk menggunakan teknologi, salah satunya dalam penyusunan materi belajar mengajar berbasis komputer (video, presentasi, kuis). Padahal waktu terus berjalan, sedangkan mereka tetap diberikan target untuk mempersiapkan anak didik dalam menghadapi ulangan harian, ujian tengah semester, ujian semester, ujian kenaikan kelas, maupun ujian akhir.

Pun demikian dengan anak didik maupun orang tua didik. Anak didik lambat laun merasakan kebosanan karena “harus” setiap hari belajar melalui media daring. Mereka merindukan suasana interaksi dan intimasi dengan teman sebaya maupun guru-gurunya. Belum lagi dengan proses transfer ilmu dari guru yang hanya bisa disaksikan melalui video, tidak secara langsung. Ada momen-momen penting yang hilang di usia pendidikan mereka. Orang tua didik juga tidak kalah kewalahan. Selain harus menyiapkan dan mengawasi anak-anak untuk selalu mengikuti KBM melalui daring (agar tidak bolos), merekapun harus memastikan sarana prasarana untuk anak-anak, mulai dari gadget sampai ketersediaan kuota internet.

Tanpa disadari, pandemi telah membawa suatu “pemaksaan” kepada seluruh pihak dalam proses KBM, salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan teknologi digital (digitalisasi). Pandemi menyadarkan kepada kita bahwa digitalisasi merupakan era yang tidak akan terbendung. Sekarang atau nanti, penggunaan perangkat digital dengan segala turunannya merupakan kenisccayaan, tidak hanya dalam dunia pendidikan, namun dalam segala bidang. Guru “dipaksa” untuk belajar menyusun presentasi maupun konten video edukasi. Anak didik “dipaksa” untuk mempelajari presentasi, video edukasi dari guru-guru, maupun tugas-tugas sekolah berbasis extension file komputer. Orang tua pun “dipaksa” untuk mempelajari operasionalisasi dan pernak-pernik media daring, gadget maupun softwarenya. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya berhasil mengubah cara berfikir (the ways of thinking), cara belajar (the ways of learning) dan cara bersikap (the ways of behave) bagi seluruh pihak yang terkait dalam proses KBM.

Memang harus diakui, era digital adalah keniscayaan. Namun demikian, menurut hemat penulis, era digital tetap perlu diimbangi dengan sisi humanisme KBM. Interaksi antara guru dengan murid, maupun anak didik dengan teman sebayanya perlu untuk dipertahankan. Agar guru tidak kehilangan feel of interaction. Agar anak didik tidak kehilangan nilai-nilai sosial yang terbentuk dari interaksi di sekolah. Agar orang tua pun tetap mendapatkan jaminan bahwa anak-anaknya mendapatkan masa-masa dan momentum di usia pendidikannya serta nilai-nilai moral-etika dari para tenaga pendidik.

Dunia boleh berubah. Era digital telah datang dan harus dihadapi. Pandemi pun telah mengajarkan kepada kita bahwa digitalisasi merupakan suatu keniscayaan. Namun, pendidikan tatap muka tetap harus diberikan secara proporsional. Agar marwah belajar mengajar tidak kehilangan jati dirinya. Agar anak-anak kita, generasi penerus tetap bisa berinteraksi dengan guru maupun teman-teman sebaya. Agar mereka tidak kehilangan nilai-nilai sosial, baik itu interaksi, kolaborasi, maupun intimasi dengan teman maupun gurunya. Seperti petuah bijak yang dikatakan BIll Gates, salah satu pendiri Microsoft, bahwa teknologi hanyalah alat. Dalam hal membuat anak-anak bekerja sama dan memotivasi mereka, guru adalah yang paling penting.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru,

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku,

Sebagai prasasti terima kasihku, tuk pengabdianmu

(nukilan lagu Hyme Guru, karya Sartono)

Selamat Hari Guru, 25 November 2021

Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan


Penulis: Mahmud Ashari, Kepala Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Kisaran

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |