Tiga Kata yang Sering Terlupakan
Mohamad Fadli Surur
Kamis, 30 September 2021 pukul 10:25:19 |
8552 kali
Belakangan ini
ada beberapa ungkapan di masyarakat yang mulai ditinggalkan oleh sebagian
orang, yaitu tiga kata dahsyat dan luar
biasa pengaruhnya bila dibiasakan untuk hidup di sekitar masyarakat. Tiga kata
tersebut adalah tolong, maaf dan terima kasih. Seiring berkembangnya peradaban
maka berubah pula kebiasaan yang ada di masyarakat, kata-kata seperti maaf,
tolong dan terima kasih seolah mulai dilupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang
tidak lagi menganggap ketiga kata tersebut begitu sakral dalam berhubungan
antar makhluk sosial. Orang cenderung untuk menghilangkan kata tolong ketika
meminta bantuan. Contohnya “Buat desain untuk kegiatan ini dong!”, atau ketika
kita sedikit menyinggung orang lain bukannya kita mememinta maaf malah
melontarkan, “Baperan amat deh”. Atau seringkali ketika ada orang yang
mendapatkan bantuan namun tidak mengucapkan terima kasih melainkan hanya
mengucapkan kata “oke”.
Dulu ketiga kata
tersebut memiliki kesakralannya tersendiri di masyarakat. Saking pentingnya
ketiga kata tersebut bisa memperlihatkan seberapa perhatian dan seberapa besar
respek kita terhadap orang lain, selain itu kombinasi ketiga kata tersebut juga
meskipun terlihat sepele namun dapat membuat orang lain merasa bahagia.
Dalam kehidupan
sehar-hari seharusnya kita tetap membiasakan diri untuk mengucapkan kata tolong ketika membutuhkan bantuan dari
orang lain meskipun remeh-temeh. Contohnya ketika kita minta tolong untuk diambilkan penghapus yang
ada di dalam tepak. Itu mungkin terlihat remeh, namun bisa saja andilnya besar
bagi diri kita, dengan menyisipkan kata tolong
itu bisa menjadi salah satu bentuk penghargaan kita kepada orang yang kita mintakan
pertolongan.
Lalu ada kata maaf, kata yang mungkin paling sulit
diungkapkan diantara ketiga kata sakral tersebut. Karena pada dasarnya manusia
memiliki ego dan gengsi yang tinggi dalam mengakui kesalahan yang telah dilakukan.
Pada kenyataannya sering kita temui orang yang bersalah namun malah justru
paling tinggi aura perdebatannya seolah-olah ingin menutupi kesalahannya atau
bahkan merasa tidak bersalah. Dengan mengucapkan kata maaf kita seolah mengerdilkan ego kita, kita serasa melepaskan rasa
“kekuasaan kita” untuk bisa setara dengan orang yang sedang kita ajak bicara. Maaf dalam perspektif yang luas
juga bisa menjadi bentuk penghargaan dan
pengharapan yang besar karena ego kita sudah tiada.
Dan yang ketiga
adalah kata terima kasih. Entah sadar
atau tidak kita sering mengabaikan bahwa segala hal baik yang orang lain
lakukan untuk kita adalah suatu bentuk bantuan dan kemudahan yang memberikan energi
positif pada diri kita. Kita masih saja merasa berat untuk mengakui bahwa
kebaikan-kebaikan atau bantuan yang diberikan perlu untuk diapresiasi. Karena
sejujurnya dengan ucapan terima kasih
yang kita sampaikan bisa menjadi sumber kebahagiaan seendiri bagi orang yang
memberikan pertolongan.
Pada akhirnya,
tanpa kita sadari kita telah melupakan budaya yang kita warisi secara
turun-temurun ini dengan hal baru yang katanya lebih millennial. Bahwa mungkin
pesan tersirat yang ada di dalam kombinasi ketiga ungkapan tolong, maaf, dan
terima kasih ini sudah tidak terlalu penting bagi kita. Bagi kita sebagai bagian
dari masyarakat saat ini mungkin yang terpenting adalah apa yang ingin kita
omongkan telah tersampaikan. Padahal kita tidak tahu pasti seberapa besar efek
dari ungkapan tolong, maaf, dan terima kasih yang kita sisipkan di dalamnya.
Penulis: Fadli Surur
Daftar Pustaka:
https://opini.id/sosial/read-12407/makna-3-kata-ajaib-maaf-tolong-dan-terima-kasih
https://mojok.co/terminal/ungkapan-maaf-tolong-terima-kasih-yang-mulai-ditinggalkan-dari-peradaban-kita/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |