Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Artikel DJKN
Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas
Nurul Fatmawati
Selasa, 10 Agustus 2021 pukul 13:36:24   |   10124 kali

To live the lives we truly want and deserve, and not just the lives we settle for, we need a third measure of success that goes beyond money and power. - Arianna Huffington

Di zaman revolusi industri kerja diatur dengan mekanisme kontrol. Di zaman ini kerja harus dikembangkan dengan pemberdayaan, pembukaan wawasan, dan penemuan diri (self discovery). Itulah syarat kita mencapai tingkat mastery, untuk menciptakan master piece, dan bukan hasil karya model pabrikan.

Kerja yang terbaik adalah kerja yang melibatkan Sang Pencipta Alam Semesta yang telah memberikan kita kerja, dan untuk siapa kita sesungguhnya bekerja. Ikhlaskan batasan kemampuan tubuh, pikiran dan jiwa, jadilah tangan-Nya di dunia, dan serahkan semua hasil hanya pada-Nya.

Saat Sang Pencipta bekerja, tak ada lagi batasan dari yang bisa Ia hasilkan, antara lain melalui kerja kita. Orang bilang "the sky is the limit" - langitlah yang menjadi batas. Tapi dengan-Nya di sisi kita, bahkan langit pun bukan batasan.

Banyak orang melakukan sebuah aktivitas kerja hanya kerja. Berharap dengan kerja keras yang dilakukan bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Nyatanya tidak seperti itu, kerja hanya sekedar kerja bukan menjadi hal yang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa jikalau tidak didukung dengan cara yang cerdas dan hati yang ikhlas.

Sebelum mengenal beberapa cara kerja setiap orang. Sebaiknya kita bisa memperkirakan pada diri sendiri bahwa Anda dalam melakukan aktivitas hanya mengandalkan kerja keras atau hanya sudah naik tingkat di level berikutnya yaitu dengan pola yang cerdas dan hati yang ikhlas.

Berdasarkan pembelajaran STIFIn, dipaparkan 3 Kerja As yaitu kerja ker(as), kerja cerd(as), dan kerja ikhl(as) yang akan kita bahas sebagai berikut:

1. Kerja Ker(as)

Kerja keras adalah kerja yang lebih banyak menggunakan sebuah tenaga. Kenapa seseorang bisa dikatakan sebagai kerja keras? Yaitu saat pekerjaan yang dilakukan dengan tenaga atau otot dan butuh stamina yang keras dan kuat. Apapun yang dihasilkan akan sama dengan tenaga yang dikerahkan. Misalkan seorang kuli bangunan dengan kapasitas kerja 8 jam per hari akan memperoleh gaji sesuai dengan yang sudah dikerahkannya selama 8 jam tersebut. Jika ingin menambah penghasilan, maka ia juga harus kembali mengerahkan tenaga dan jam kerja untuk mendapatkan hasil yang lebih.

Selain itu juga kerja keras sangat menguras tenaga yang nantinya kondisi kesehatan Anda akan sangat terganggu ketika melakukan sebuah aktivitas yang panjang dan kurang istirahat. Hal utama yang wajib dimiliki pekerja keras untuk mendapatkan hasil yang besar, selain disiplin harusnya memiliki tekad yang pantang menyerah pada semua tantangan. Jatuh bangun lagi jatuh bangun lagi sampai anda berhasil.

2. Kerja Cerd(as)

Kerja cerdas merupakan satu tingkat lebih tinggi daripada kerja keras. Kerja cerdas tidak hanya mengandalkan fisik atau tenaga yang kuat melainkan adanya peran otak dalam berpikir untuk mengambil suatu tindakan atau aktivitas secara lebih efisien dan efektif.

Kerja cerdas menggeser titik tumpu agar hasil yang didapat menjadi lebih maksimal dengan tenaga yang dikeluarkan secara efisien. Bisa dilihat ketika kita melakukan kerja cerdas, kita akan menyimpan sebuah energi yang lebih. Sehingga kelebihan energi bisa dialokasikan kepada aktivitas lainnya dengan lebih optimal. Mereka yang melakukan kerja cerdas, akan lebih cepat mendapatkan keuntungan, penghasilan atau pun laba dengan mengotak-atik otaknya agar bisnis yang dijalankannya semakin maju dan berkembang.

3. Kerja Ikhl(as)

Arti kerja ikhlas meliputi kerja keras dan kerja cerdas dengan menyertakan sikap ikhlas dan niat yang ikhlas. Keikhlasan adalah perbuatan yang sifatnya kerelaan hati atau merelakan dengan tulus mengharapkan ridha ALLAH SWT semata. Orang-orang yang beradadi posisi kerja ikhlas sudah berada di puncak gelombang alfa.

Beberapa tipe seseorang yang kerja ikhlas, yaitu seseorang bekerja dengan tenang, membuang enegi negatif sehingga tidak akan mudah marah, selalu bahagia atas pekerjaan yang dilakukan serta ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain.

Dalam mencapai 3 jalur As, ada dua jalur yang harus seseorang lewati, yakni:

1) Jalur pencapaian atau achievement

2) Jalur achievement adalah jalur objektif.

Misalkan: seseorang mendapatkan penghasilan lebih karena kegigihan dalam bekerja, seseorang mendapatkan pangkat dan kedudukan yang tinggi karena pencapaian kerjanya dan sebagainya.

Jalur achievement bisa didapatkan melalui kerja keras dan kerja cerdas. Sifat jalur ini hanya berorientasi pada dunia dalam jangka waktu pendek, sehingga setelah kita tidak dapat mempraktikkan kerja keras atau kerja cerdas lagi. Maka seseorang tidak akan berada pada jalur achievement.

1) Jalur achievement = 80% kerja keras + 20% kerja ikhlas

2) Jalur hidayah atau atau barokah = Achievement + 20 % kerja ikhlas.

Berkaitan dengan kerja 3 As di atas dengan mantra kecerdasan, yakni terdiri dari:

a) Kerja keras personality dan mentality

Artinya, seseorang yang masih bekerja keras, ia masih berada pada level personality dan mentality. Dimana, ia masih memikirkan diri sendiri, tingkah laku dan kehidupan manusia.


b) Kerja cerdas personality, mentality dan morality

Artinya, seseorang yang telah mencapai puncak bekerja secara cerdas, ia masih berada di level personality, mentality dan morality. Ia sudah naik satu tingkat dari kerja keras dan telah memikirkan morality dalam kehidupan dan bekerjanya.

c) Kerja ikhlas mentality, morality dan spirituality

Dimana, orang-orang yang telah mencapai kedudukan bekerja ikhlas telah memikirkan morality dan spirituality. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana personality nya namun telah memikirkan pada spiritual dan bekerja secara teratur dan membuang hal-hal negatif dalam pikirannya.

(Penulis : Nurul Fatmawati)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Foto Terkait Artikel
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini