Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Artikel DJKN

Optimisme di Tengah Pandemi

Jum'at, 16 Juli 2021 pukul 08:28:16   |   210 kali

Dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19, Penulis teringat perkataan bijak dari Khalil Gibran "Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya." Kalimat ini mengajak kita untuk selalu berpikir optimis termasuk dalam kondisi yang kurang baik. Di tengah ranting yang penuh duri, terdapat bunga mawar yang sangat indah dan wangi.


Demikian juga, dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan, sosial, dan perekonomian. Namun dibalik pandemi tersebut, kita dapat meningkatkan sinergi, kebersamaan dan optimisme seluruh komponen bangsa dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Dampak pandemi Covid-19 bermuara pada perekonomian dan indikator pembangunan. Pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi nasional mengalami kontraksi sebesar 2,19 persen. Kontraksi tersebut menggambarkan penurunan aktivitas dunia usaha dan produktivitas barang/jasa, yang mempengaruhi pendapatan negara. Pertumbuhan ekonomi tersebut mempengaruhi indikator pembangunan nasional antara lain meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Memasuki tahun 2021, Pemerintah Indonesia melangkah optimis dengan tetap konsisten menanggulangi pendemi Covid-19. Oleh sebab itu, Pemerintah mengambil tema APBN 2021 “Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi." Melalui APBN 2021, Pemerintah berkomitmen untuk tetap mengatasi pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia Maju tahun 2045. Dalam penanganan Covid-19, Pemerintah antara lain meningkatkan fasilitas kesehatan, pengadaan obat/vaksin dan mendorong pelaksanaan protokol kesehatan (prokes).

Untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah memperkuat struktur ekonomi termasuk memperkuat pondasi perekonomian Indonesia dengan mendorong industrialisasi berbagai sektor, meningkatkan daya saing produk/jasa dan kapasitas teknologi informasi. Pemerintah juga tetap menjalankan program pemulihan sektor yang terdampak misalnya pariwisata dan UMKM. Kedua sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan bersentuhan dengan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pada Triwulan I, secara umum indikator makro ekonomi Indonesia cukup baik. Pertumbuhan ekonomi membaik walau masih kontraksi 0,74 persen, inflasi sebesar 1,37 persen, nilai tukar Rupiah yang relatif stabil, realisasi penanaman modal yang meningkat sebesar 4,3 persen, suku bunga acuan Bank Indonesia yang di bawah 4 persen dan defisit APBN relatif terkendali sebesar 0,8 persen dari PDB

Kondisi makro ekonomi di atas menggambarkan kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan oleh Pemerintah on the right track dan mampu meningkatkan kepercayaan publik termasuk investor. Namun menjelang akhir triwulan II 2021, Indonesia mengalami second wave pandemi Covid-19 sehingga masyarakat yang terjangkit Covid-19 meningkat. Hal ini menyebabkan Pemerintah mengambil kebijakan Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa, Bali dan 15 daerah di luar pulau Jawa-Bali.

Walaupun Indonesia mengalami second wave pandemi Covid-19, seluruh bangsa Indonesia harus tetap optimis, bahwa bangsa Indonesia dapat mengatasi Pandemi Covid-19 dan dampaknya, baik di bidang kesehatan dan ekonomi. Hal yang dibutuhkan adalah kerjasama/sinergi dan optimisme dari seluruh komponen bangsa. Satu-satunya hal yang akan menyelamatkan umat manusia adalah kerjasama (Bertrand Russell, Filsuf)

Di bidang kesehatan, pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan, obat/vaksin dan lain-lain. Namun, peran masyarakat sangat penting dalam menghadapi pandemi Covid-19. Peran dimaksud antara lain menjaga kesehatan diri, melaksanakan prokes secara ketat, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan berpikir positif. Masyarakat juga harus meningkatkan bela rasa dengan membantu sesama yang membutuhkan.

Di bidang ekonomi, optimisme untuk mencapai pertumbuhan positif tahun 2021 harus tetap dijaga. Di samping fokus menangani pandemi Covid-19, Pemerintah dan otoritas terkait harus menjaga indikator makro ekonomi misalnya nilai tukar Rupiah yang stabil, tingkat inflasi yang rendah dan suku bunga yang favorable. Di samping itu juga perlu dilakukan relaksasi kredit perbankan untuk mendorong perekonomian, memberikan stimulus terhadap sektor terdampak dan mendorong pertumbuhan UMKM. Yang tidak kalah pentingnya adalah mempercepat pembelanjaan APBN untuk kegiatan yang mempunyai multiplier effects jangka pendek dan perlindungan sosial (social safety net) untuk MBR yang terdampak.

"Optimisme penting untuk pencapaian tujuan dan itu juga merupakan dasar dari keberanian dan kemajuan sejati." - Nicholas Murray Butler

(Kakanwil DJKN, Kemenkeu Kalbar, Edward Nainggolan)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |