Pustakawan: Antara Stereotip, Tantangan, dan Peluang
Mahmud Ashari
Rabu, 07 Juli 2021 pukul 13:56:18 |
2197 kali
Tahun 1994, pertama kali penulis menginjakkan kaki di sebuah
perpustakaan dengan koleksi buku yang lumayan lengkap. Perpustakaan itu adalah perpustakaan di salah
satu SMA Negeri favorit di Salatiga. Disana jugalah penulis mengenal Pak
Wiryawan, seorang penjaga perpustakan (yang dikemudian hari barulah penulis mengenal
profesinya itu adalah pustakawan). Jika anda berpikir sosok Pak Wiryawan itu udah
sepuh, rambut udah memutih (bahkan putih semua), dan berkacamata tebal, maka
dugaan anda seratus persen benar. Yaaa, stereotip itu memang melekat pada pustakawan
di planet biru ini. Bahkan ada beberapa
kawan yang menambahkan label “tukang ssssst” pada
pustakawan, karena frekuensi para pustakawan dalam mengingatkan para pengunjung
yang bercakap-cakap di ruang perpustakaan dengan desisan panjang “sssst” dan
mata mendelik.
Stereotip tersebut melekat sekian lama, sehingga
menimbulkan stigma “kalo mau ke perpustakaan, siap-siap ketemu pustakawan yang
jutek”. Jutek? Ahhh, itu relative. Tergantung orangnya juga, karena pustakawan
juga manusia. Yang namanya manusia, tentu ada naik turun mood dan perasaannya.
Jika berbicara mengenai sisi manusiawi profesi pustakawan, penulis jadi
teringat sebuah film yang dirilis tahun 1995 berjudul Party Girl. Film tersebut
menggambarkan sisi manusiawi dan alakadarnya dari
seorang
pustakawan.
Dalam
film tersebut, dikisahkan seorang gadis bernama Mary (diperankan oleh Parker Posey), dengan
circle pergaulan bebas dan sangat hobi berpesta. Pada suatu hari dia ditangkap
karena mengadakan pesta secara illegal dan dikenakan denda akibat perbuatannya
itu. Karena kesulitan melunasi uang denda, Mary menerima tawaran pekerjaan
sebagai pegawai perpustakaan. Awalnya dia merasa bahwa bekerja di perpustakaan
itu membosankan dan ribet. Namun setelah mengalami beberapa insiden, Mary memutuskan
untuk berjuang menjadi pustakawan yang kompeten, mulai
dari belajar teknik
menata buku agar rapi sampai mempelajari Dewey Decimal System (DDC), yaitu
sebuah sistem standar pengelompokan buku dengan
metode desimal untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan (Zen, 2009: 24).
Mary mempelajari dengan tekun seluk beluk DDC yang membagi ilmu pengetahuan
manusia menjadi 10 kelas utama, dimana masing-masing
kelas utama di bagi menjadi 10 divisi, dan masing-masing divisi dibagi menjadi
10 seksi (Rahayuningsih, 2007:52). Persona itulah yang jarang diekspos
ke publik. Film itu mengangkat secara gamblang setiap celah dari rumitnya
profesi pustakawan dan sisi
manusiawi dari seorang pustakawan.
Stereotip lain dari pustakawan adalah bahwa profesi
tersebut tidak sepopuler profesi-profesi lainnya. Coba kita flashback masa
kecil kita. Sewaktu kecil, pada saat ditanya mengenai cita-cita, secara spontan
kita akan menjawab profesi-profesi yang “populer” semisal dokter,
tentara, polisi, atau guru. Dan sepertinya jika pertanyaan itu diajukan ke kids zaman now, kita akan mendapatkan
jawaban yang kurang lebih sama. Hal tersebut selain dikarenakan pandangan
bahwa profesi pustakawan tidak semenarik profesi lain, juga karena anggapan bahwa orang yang bekerja di
perpustakaan kerjanya hanya menjaga atau menunggu
perpustakaan. Orang yang beranggapan seperti itu mungkin tidak pernah berkunjung ke
perpustakaan atau mungkin kurangnya informasi tentang perpustakaan yang sudah
berkembang pesat sampai saat ini. Perpustakaan zaman now sudah keren-keren.
Perpustakaan umum di daerah sudah banyak yang berbenah diri menjadi lebih
bagus. Mulai dari gedung hingga fasilitas dan pengelolaannya semakin baik dan
menarik. Tapi mindset masyarakat masih menganggap pustakawan adalah orang yang menjaga atau menunggu perpustakaan.
Padahal pustakawan juga mempunyai sumbangsih dan
pengabdian kepada masyarakat, sama seperti kontribusi yang dilakukan oleh
profesi lain seperti dokter, tentara, polisi, atau guru. Pustakawan bertugas
memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai sumber informasi yang dibutuhkan
masyarakat melalui koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Bahkan seiring
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, seorang pustakawan tidak hanya
menyediakan informasi. Pustakawan juga harus dapat menyajikan informasi secara
baik dan benar, menguasai teknologi yang ada, serta harus berpengetahuan luas.
Seorang pustakawan bertugas untuk mengelola dan memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan. Semua koleksi perpustakaan menjadi
tanggung jawab pustakawan dalam hal pengelolaannya. Mulai dari seleksi dan pengadaan bahan pustaka,
inventarisasi, proses katalogisasi, serta kelengkapan bahan pustaka juga menjadi tanggung jawab pustakawan.
Seorang pustakawan juga dituntut menjadi manusia yang up to date, karena seorang pustakawan harus mengetahui informasi dan teknologi. Apalagi di era digital, dimana
perpustakaan bisa diakses darimana saja dan kapan saja sepanjang ada koneksi
internet. Dan seperti profesi lain, pustakawan pun harus bertransformasi untuk
menyesuaikan diri dengan teknologi saat ini. Sehingga pengunjung dapat mengakses
e-book, jurnal, makalah dan informasi yang dibutuhkan dengan mudah, nyaman
dan menyenangkan. Dengan begitu diharapkan semakin banyak warga yang
berminat mengakses perpustakaan dan mau meluangkan waktu untuk membaca buku (e-book),
tidak sekadar rajin membaca status-status yang diposting di media sosial.
Tantangan pada profesi
pustakawan memang tidak mudah, banyak aral rintangan yang harus dihadapi. Faktor
tantangan dan stereotip yang melekat pada profesi pustakawan ternyata berdampak
pada kurangnya tenaga profesi khususnya di Indonesia. Di tahun 2020, Kepala
Perpustakaan Nasional, dalam jumpa pers Rakornas Perpustakaan Nasional (21
Februari 2020) mengungkapkan bahwa pada saat ini Indonesia hanya memiliki 5.000
orang pustakawan, sedangkan yang dibutuhkan sebanyak 600.000 orang. Di satu
sisi, data tersebut membuat miris. Namun disisi lain, data tersebut secara
tidak langsung mengatakan bahwa masih terdapat lapangan pekerjaan yang terbuka
untuk digeluti.
Namun sekali lagi perlu
diingat bahwa semua profesi memiliki kelebihan dan kekurangan, memiliki
kemudahan maupun kesulitan tersendiri. Demikian juga halnya profesi pustakawan.
Pasti akan ada aral rintangan yang harus dihadapi. Tetapi hal tersebut harus
menjadi suatu motivasi dan cambuk agar pustakawan dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola sebuah perpustakaan sebagai upaya
meningkatkan semangat berliterasi masyarakat. Selamat hari pustakawan nasional, 7 Juli 2021. Salam
literasi!
Penulis: Mahmud Ashari,
Kepala Seksi Hukum dan Informasi
Referensi:
Rahayuningsih (ed). 2007. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Zen, Zulfikar. 2009. Klasifikasi DDC 22 : buku Kerja. Depok: Program Studi Ilmu Perp. FIB UI
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |