Self Healing: Bagaimana Diri Mengobati Luka
Justinus Benni Indrianto
Jum'at, 11 Juni 2021 pukul 15:28:43 |
64938 kali
Selama ini otak
hanya digunakan untuk problem solving,
mempelajari pengetahuan atau berhitung. Sementara, yang terkait dengan
perasaan, emosi, feeling semuanya ada
di hati. Ternyata itu salah besar.
Semua yang dirasakan
di dada dalam bentuk emosi yang campur aduk, perasaan marah, benci bahkan cinta
ternyata adalah produk dari otak. Semua itu adalah produk dari sebuah proses
berpikir. Ya. Semua itu adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu
kesatuan. Karena, pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka banyak pula
penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh pikiran. Maag, asam urat, diabetes,
kolesterol, stroke, jantung semua adalah akibat dari beban pikiran yang
terakumulasi sehingga mengganggu fungsi kerja organ tubuh. Meskipun ada juga
penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri dari luar tubuh, ternyata
lemahnya sistem imunitas dalam melawan segala parasit dari luar ternyata juga
diakibatkan oleh pikiran.
Ketika lelah dan
stres, sistem imunitas melemah. Ketika bahagia, sistem imunitas meningkat. Itu
adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan.
Fakta bahwa
pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka kita dapat menggunakan pikiran
kita untuk melakukan proses penyembuhan secara mandiri (self-healing). Tentu saja dengan memikirkan hal-hal yang positif,
sugestif dan bermanfaat untuk membuat tubuh lebih sehat dan lebih imun terhadap
segala jenis penyakit.
Keyakinan (belief) mengenai dirilah yang justru
membuat seseorang menjadi berhasil atau tidak. Darimana keyakinan mengenai diri
itu terbentuk? Dari semua pengalaman yang kita alami yang akhirnya diberi makna
dan disederhanakan menjadi sebuah definisi diri.
Belief terbentuk dari pengalaman masa
lalu, hal-hal yang kita alami baik atau buruk, keyakinan yang ditanamkan oleh
orang tua, orang yang lebih berpengaruh atau budaya masyarakat dan bahkan
agama. Belief merupakan sebuah
persepsi mengenai sesuatu yang dengan sengaja dipilih sebagai kebenaran.
Karena belief terbentuk dari persepsi atas
pengalaman, maka setiap orang bisa mempunyai belief yang berbeda meskipun mengalami hal yang sama. Lalu, apa
kaitan belief dengan penyembuhan diri
sendiri (self healing)?
Pertama, bisa
atau tidaknya melakukan self healing
tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya. Kedua, bisa atau
tidaknya Anda membantu orang lain untuk melakukan self healing tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya,
dan seberapa yakin orang itu terhadap kemampuan Anda. Ketiga, efektif atau
tidaknya self healing yang dilakukan,
tergantung dari seberapa yakin Anda terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
menciptakan seluruh dunia beserta isinya.
Tujuan dari self healing sendiri adalah untuk
memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran
positif dari apa yang telah terjadi. Ketika berhasil melakukan self healing, maka kita akan menjadi
pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma di
masa lalu.
Bagaimana melakukan self healing?
1. Self acceptance atau menerima diri sendiri
Permasalahan yang sering terjadi adalah kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya. Justru kita ingin menjadi orang lain. Luangkan waktu sejenak untuk menerima diri sendiri apa adanya, dengan sisi baik dan buruk kita, dengan kegagalan dan kesalahan masa lalu kita. Hal seperti itulah yang dibutuhkan untuk melakukan self healing.
2. Maafkan diri sendiri
Memaafkan orang lain atas apa pun yang telah mereka lakukan memang sulit, tetapi dengan cara ini, kita bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup tanpa beban masa lalu. Hal yang sama berlaku untuk diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Jangan membawa beban emosional itu di masa depan karena tidak ada gunanya. Itu hanya akan mencegah kita untuk hidup bahagia.
3. Melakukan kegiatan yang positif
Ketika mulai melakukan self healing, penting untuk menyaring hal-hal negatif yang dapat menyebabkan stres. Dibutuhkan upaya nyata untuk memerangi hal tersebut. Hindari menonton berita, membaca koran, atau mengakses sosial media untuk sesuatu yang tidak perlu. Cobalah untuk melakukan kegiatan positif, seperti baca buku atau mendengarkan musik yang ceria secara rutin karena secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing.
Eka Febri N. S - KPKNL Pangkalan Bun
Referensi :
- - Semua Orang Bisa Self Healing oleh Agung
Windriatmoko
- -Self Healing, Menyembukan Luka Batin dengan
Bantuan Diri Sendiri oleh Kompas
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |