Perubahan Mind Set dan Debirokratisasi Kunci Utama Efektivitas dan Efisiensi Pemerintah
Aminah Nurmillah
Senin, 05 April 2021 pukul 07:54:30 |
4598 kali
Semenjak menjabat
Presiden RI, Ir. Joko Widodo telah beberapa kali ‘’mengeluhkan’ pelayanan
publik yang prosedural dan administratif. Bahkan beliau pernah mengatakan seorang
penyuluh pertanian dan guru lebih banyak tersita waktunya untuk membuat laporan
dari pada menjalankan tugas untuk menyuluh dan mengajar. Dan terakhir, pada Sidang Paripurna MPR RI, pelantikan Presiden Jokowi
untuk masa jabatan kedua, (20/10/2019), mengatakan untuk menyederhanakan
eselonisasi di kementerian/lembaga.
Efisiensi dan Efektivitas Organisasi Pemerintah
Kondisi di atas,
merupakan representasi sebagian kondisi birokrasi pemerintahan di Indonesia. Kegiatan
yang sangat prosedural dan administrasi mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi
pemerintah. Efisiensi dimaksud terkait penggunaan SDM, dana, sarana-prasarana, dan waktu. Sementara itu, efektivitas terkait dengan tingkat keberhasilan
organisasi mencapai tujuannya termasuk dalam melayani masyarakat. Max Weber,
Bapak Teori Organisasi, mengatakan birokrasi yang ideal adalah organisasi yang dapat
mengatasi ketidakefisienan dan ketidakpraktisan dalam organisasi.
Banyak instansi pemerintah yang selalu merasakan kekurangan pegawai bahkan dengan merekrut pegawai ‘honorer’. Pegawai sering bekerja lembur, pulang malam atau kerja di hari libur. Salah satu penyebabnya adalah beban kerja yang dihasilkan dari workload analysis yang tidak seimbang dengan jumlah SDM. Kemungkinan workload analysis banyak ‘direcoki’ dengan kegiatan yang prosedural dan administrasi, yang tidak berkorelasi dengan tujuan utama organisasi.
Dengan jumlah SDM yang banyak dan sering melakukan lembur, akan menambah
pengeluaran negara. Lembur juga meningkatkan kelelahan fisik dan psikologis SDM,
yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan dan kinerja pegawai.
Hal di atas juga mempengaruhi kebutuhan luasan gedung,
inventaris/peralatan kantor, alat tulis kantor dan sarana prasana lainnya.
Penambahan sarana prasarana tersebut juga akan menambah beban anggaran
pemerintah.
Kegiatan yang sangat
prosedural dan admintrasi akan menyita
waktu sehingga mengurangi waktu untuk melaksanakan kegiatan utama organisasi.
Pelayanan pemerintah akan terkesan lambat dan lama.
Disamping mempengaruhi efisiensi, birokrasi
yang prosedural dan administrasi sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian
tujuan organisasi pemerintah termasuk dalam melayani masyarakat. Resources
akan banyak tertuju untuk kegiatan yang tidak substantif, pada akhirnya mempengaruhi
kinerja organisasi pemerintah dan tingkat kepuasan masyarakat sebagai stakeholders utama pemerintah. Untuk
lingkup yang lebih luas, hal ini juga mempengaruhi ease of doing business
di Indonesia.
Kondisi birokrasi Indonesia
berbeda dengan di negara maju. Organisasi sangat ramping dengan jumlah SDM yang
efisien, dan hampir tidak ada overtime (lembur) karena reward
lembur yang mahal dibandingkan dengan waktu kerja rutin. Prosedural sedapat
mungkin dipangkas Demikian juga kegiatan administratif, yang tidak perlu, akan ditiadakan.
Perubahan Mind Set
dan Debirokratisasi
Salah satu unsur terpenting
dari organisasi menurut "General
System Theory” adalah SDM, yang menjalankan organisasi berfungsi secara
efektif dan efisien. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan perubahan mind
set (pola pikir) para pejabat/pegawai pemerintahan (birokrat). Birokrat harus
menerapkan prinsip
efektivitas dan efisiensi dengan melaksanakan tugas dengan cepat, tepat, proaktif
dan tulus, serta menghindari pemborosan sumber daya.
Perubahan mind set dimulai dari seleksi birokrat yang bebas dari KKN;
pelatihan hard dan soft skill untuk menciptakan birokrat yang
profesional dan berintegritas; serta pengembangan SDM menggunakan merit
system. Birokrat harus mengubah mind set menjadi pelayan masyarakat
yang melayani dengan tulus, bukan dilayani. Birokrat perlu menginternalisasi
kata bijak dari Mahatma Ghandi “cara terbaik untuk menemukan diri anda sendiri
adalah kehilangan diri anda sendiri dalam melayani orang lain”.
Hal yang tidak kalah pentingnya yang harus dilakukan untuk mencapai
efektivitas dan efisiensi organisasi pemerintah adalah debirokratisasi dan
deregulasi. Debirokratisasi dilakukan dengan menghilangkan tatakerja yang
lamban dan berbelit-belit. Sedangkan deregulasi dilakukan dengan memangkas
aturan-aturan yang tidak penting. Organisasi pemerintah harus melakukan penyederhanaan
business process termasuk
persyaratan layanan, mempersingkat waktu layanan, dan menggunakan
teknologi informasi dalam pelayanan.
Utuk menunjang debirokratisasi dan deregulasi tersebut, organisasi harus
di desain menjadi organisasi model organik, yang agile, cepat beradaptasi terhadap
perkembangan zaman. Organisasi model organik kurang mengandalkan peraturan dan prosedur;
wewenang yang disentralisasikan; dan lebih luwes.
Penulis : Edward UP Nainggolan
(Kepala Kanwil DJKN Kalimantan Barat)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |