Membangun Tim Kerja Efektif Dalam Aksi Peningkatan Pelayanan Publik
Abd. Choliq
Senin, 21 September 2020 pukul 13:46:44 |
190503 kali
Pelayanan publik merupakan pelayanan dasar dalam pemerintahan dan menjadi indikator penting dalam penilaian kinerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Organisasi yang baik tidak lepas dari pelayanan publik yang baik. Oleh karena itu, peningkatan pelayanan dalam organisasi memerlukan tim yang efektif dalam aksi perubahannya. Bagi banyak organisasi, keberhasilan membangun tim kerja yang efektif merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan organisasi. Maka, tim kerja dalam aksi perubahan merupakan penentu keberhasilan. Oleh karenanya seorang pemimpin perubahan terlebih dahulu harus merancang pembentukan tim kerja yang efektif.
Apa itu tim kerja efektif? Apa yang menjadi ciri dari sebuah tim efektif? Dan bagaimana cara membentuk tim efektif? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi bahasan utama dari artikel ini.
Setiap individu pada organisasi harus mempunyai kesadaran bahwa “teamwork” dan “network” merupakan hal penting untuk dibangun dalam melakukan perubahan. Tim efektif sangat diperlukan karena akan berhadapan langsung dengan stakeholder atau mitra kerja.
Kemampuan
sebuah organisasi dalam membangun
tim kerja yang efektif tentunya
akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam menjalankan tugas dan mencapai tujuannya. Bagi organisasi sektor publik, memberikan pelayanan yang prima adalah tugas sekaligus tujuan
organisasi. Sangat diyakini bahwa tugas pelayanan publik merupakan pekerjaan
yang kompleks dengan beragam tantangan. Pekerjaan kompleks ini tentu tidak
mungkin dikerjakan tanpa menggunakan tim yang solid dan efektif.
A. Pengertian Tim Efektif
Konsep tim efektif dalam pelayanan, A team is a small number of people with complementary skills who are committed to a common purpose, performance goals, and approach for which they are mutually accountable. (Katzenbach and Smith, 1993). Secara singkat, dapat kita ambil pengertian dari tim adalah sekumpulan orang yang memiliki keterampilan yang saling melengkapi dan memiliki komitmen untuk mencapai suatu tujuan bersama dengan suatu proses kerja bersama dimana mereka saling bertanggung jawab satu sama lain.
Jika dikaitkan dengan kata efektif, maka tim efektif dapat diartikan sebagai tim yang berhasil mencapai tujuannya (teams that are able to achieve their purpose). Dalam sebuah tim efektif, seluruh komponen tim bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing yang ditujukan semata-mata untuk meraih tujuan tim, yang merupakan tujuan bersama. Rasa memiliki/taking ownership terhadap tujuan tim harus tertanam pada setiap anggota sehingga lahirlah apa yang disebut sebagai tanggung jawab dan kerelaan untuk berkorban dalam mencapai tujuan bersama tersebut. Pentingya keberadaan tim efektif adalah mempercepat tercapainya tujuan, menambah kreativitas dalam penyelesaian masalah dan meningkatnya kualitas penyelesaian masalah.
B. Tahapan Membangun Tim Efektif
Bagaimana landasan pengembangan
tahapannya? Bila kita melakukan aksi perubahan pelayanan atau di area kantor
yang diinginkan,maka tahapan membangun tim efektif menurut Bruce Tuckman,
antara lain:
1. Forming (Tahap Pembentukan Tim)
Tahap awal
adalah pembentukan tim, dalam tahap ini komposisi tim ditentukan siapa
pemimpin, anggota, dan penyelaras. Setelah komposisi tim terbentuk, selanjutnya
mempelajari peluang, tantangan, dan tujuan akhir (goals).
Fungsi
masing-masing anggota tim mulai memitigasi sesuai tugasnya, semakin lengkap
mitigasi semakin bagus kerja tim. Disini peran pemimpin sebagai coach
sangat penting, pemimpin harus bisa menyikapi perbedaan pandangan dari anggota tim dengan sedikit
perintah namun tepat dan efektif.
Tugas utama dari pemimpin tim adalah memfasilitasi
hubungan (facilitation contact) antar para pihak yang masuk menjadi
anggota tim. Kemampuan ini membutuhkan keterampilan berkomunikasi dan
memfasilitasi komunikasi antar pihak.
2. Storming (Tahap Penentuan Aspirasi)
Pemimpin harus bersikap independen terhadap perbedaan pendapat anggota tim. Perbedaan bisa menjadi sebuah kekuatan bagi sebuah tim apabila bisa
dikelola dengan baik.
Tugas utama dari pemimpin tim adalah mengelola konflik
yang mungkin terjadi. Diskusi dan negosiasi akan sangat membantu
pada tahapan ini. Oleh karena itu, kemampuan
dalam mengelola konflik serta mengelola kepercayaan dari pihak yang berkolaborasi
dalam sebuah tim sangat dibutuhkan.
3. Norming (Tahap Penentuan Aturan):
Adanya
perbedaan pendapat, karakter dan persaingan dari masing-masing anggota tim
diperlukan aturan atau tata tertib yang jelas, sehingga perbedaan dan
persaingan menjadikan anggota tim lebih solid karena memiliki satu tujuan yang
sama.
Semua tujuan bersama dan kesepakatan berbagi peran (coordinative
action) telah terjalin. Pada tahap ini hal
terpenting yang harus dilakukan oleh
pemimpin kolaborasi adalah mempertahankan saling kepercayaan antara pihak-pihak
terkait sehingga semua pihak dapat melakukan pekerjaan masing-masing dengan
baik dalam rangka mencapai tujuan bersama.
4. Performing (Tahap
Pelaksanaan)
Pada tahap ini
pada umumnya sudah didapatkan hasil dari pembentukan tim. Namun bisa terjadi
pula kembali pada tahap storming atau norming apabila ada
perubahan kepemimpinan karena masing-masing pimpinan bisa jadi mempunyai
perbedaan cara pandang. Hal terpenting yang dilakukan oleh pemimpin kolaborasi adalah memberikan
dukungan (facilitation of work) untuk semua anggota tim agar melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.
Selain itu,
pada tahapan ini juga pemimpin tim harus terus mempertahankan saling kepercayaan antar anggota tim dengan memfasilitasi
komunikasi yang baik diantara mereka (facilitation of contact).
5. Adjourning (Tahap Penghentian)
Ada beberapa
perbedaan pandangan pada tahap ini. Sebagian berpandangan perlu adanya penghentian (pembubaran) tim
apabila tujuan dari pembentukan sebuah tim sudah tercapai. Namun ada pula
pendapat bahwa tidak perlu adanya tahap adjourning karena begitu tujuan
tercapai otomatis tim berhenti dengan sendirinya.
Proses pembubaran tim ini menjadi perhatian juga, mengingat telah terbentuk ikatan yang kuat di antara anggota. Pemimpin tim harus dengan baik menjalankan tahapan ini, misal melakukan sesi pembubaran dengan memberikan apresiasi terhadap seluruh tim atas pencapaian dan segala usaha yang telah dilakukan bersama.
C. Komposisi Tim yang Efektif
Komposisi tim yang efektif idealnya terdiri dari: pemimpin, pembentuk, pemikir, pengevaluasi, penyelidik sumber daya, pekerja tim, dan penyelaras akhir.
D. Peran Kepemimpinan Dalam Membangun Tim
Pemimpin merupakan penggerak utama organisasi, otoritas organisasi berada di tangan pemimpin. Pemimpin juga menjadi kunci keberhasilan dari suatu organisasi. Proses pembentukan tim efektif sangat erat kaitannya dengan peran hubungan yang melekat pada pemimpin, yaitu peran pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja, pengelolaan tata kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi, pembukaan, pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi serta perwakilan bagi organisasinya. Keberhasilan tugas dalam tim akan tercapai jika setiap anggota tim bersedia untuk bekerja dan memberikan yang terbaik untuk kesuksesan tim sesuai tujuan pembentukan tim.
E. Kolaborasi Tim Sukses dan Efektif
Menjadikan tim kerja yang sukses dan efektif adalah impian bagi setiap pemimpin sukses. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam menggapai setiap visi dan tugas organisasi. Maka dalam tim efektif perlu diperhatikan beberapa hal,yaitu sasaran tim kerja Jelas, keterampilan anggota tim relevan, saling percaya (trust), komitmen yang disatukan, komunikasi yang baik, keterampilan negosiasi, dan dukungan internal dan eksternal.
Penulis:
Abd. Choliq (Seksi Hukum dan Informasi)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |