Meja Rapi dan Bersih, Ciptakan Lingkungan Kerja yang Aman dan Nyaman
Raden Roro Hanum Rizky Hapsari
Senin, 31 Agustus 2020 pukul 15:08:58 |
18334 kali
Tahukah kamu
pentingnya meninggalkan meja dalam keadaan bersih?
Dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya, pegawai tentunya tidak terlepas dari penggunaan kertas atau berkas
fisik. Apabila berkas tersebut tidak diorganisir dengan baik, maka berkas
tersebut akan menumpuk dan tidak teratur di meja kerja. Hal ini tentunya akan
mengganggu produktivitas dan kenyamanan kerja pegawai. Menjaga kebersihan dan
kerapian meja kerja secara berkelanjutan menjadi salah satu cara sederhana yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Selain untuk meningkatkan produktivitas kerja, meja yang bersih dan rapi akan mendukung langkah pengamanan data dan informasi instansi. Dalam hal ini, dikenal dengan istilah clean desk policy. Clean desk policy adalah langkah pengamanan data dan informasi dengan menyimpan seluruh informasi yang bersifat sensitif dan rahasia dengan baik. Tidak meninggalkan berkas penting di atas meja saat pegawai sudah pulang atau saat sedang istirahat. Seluruh berkas yang dianggap penting dapat disimpan dalam laci dan ditutup dengan rapat.
Untuk mendukung clean desk policy dapat dilakukan dengan menerapkan hal-hal sebagai berikut:
Berkas aktif yang masih digunakan
dan tidak tertata di atas meja sering kali menjadi penyebab meja kerja menjadi
tidak nyaman. Selain enam hal di atas, pegawai juga dapat melakukan beberapa
hal agar meja kerjanya lebih tertata. Dengan mengorganisir berkas aktif ke
dalam beberapa map yang diberi label berdasarkan sifatnya (biasa, segera,
sangat segera) dan berdasarkan keamanannya. Menyusun to do list juga perlu dilakukan agar tidak ada pekerjaan yang
tertinggal. Selain itu, berkas yang sudah selesai digunakan (inaktif) juga
sebaiknya segera disimpan di lemari atau rak berkas masing-masing pegawai, untuk
berkas yang tidak lagi digunakan, sebaiknya langsung dihancurkan.
Apabila sudah selesai bekerja,
pastikan semua barang yang terdapat di atas meja kerja dikembalikan pada
tempatnya. Sehingga keesokan harinya pegawai dapat segera melakukan pekerjaan
di pagi hari, agar tidak perlu merapikan meja kerja terlebih dahulu. Yang perlu
diingat, masing-masing pegawai bertanggung jawab atas keamanan dan
kerahasiaan atas berkas-berkas yang dikerjakan. Apabila kegiatan ini diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari tentunya akan sangat bermanfaat.
Untuk menerapkannya, anda perlu
mengetahui bahwa waktu yang diperlukan
untuk menciptakan sebuah kebiasaan ternyata bervariasi tergantung tingkat
kesulitan perilaku yang diinginkan. Menurut pengamatan Maxwell Maltz dalam karya yang berjudul Psycho-Cybernetics,
ia mengatakan bahwa butuh sekitar 21 hari bagi seseorang untuk menyesuaikan
diri dengan kebiasaan baru. Ada pula sebuah studi yang dilakukan pada tahun
2009 yang dipublikasikan dalam The
European Journal of Social Psychology.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa jumlah waktu yang diperlukan agar
sebuah tindakan dapat diubah menjadi kebiasaan sangat bervariasi. Jumlah
rata-rata yang dibutuhkan adalah sekitar 76 hari. Menurut kedua studi tersebut,
waktu yang dibutuhkan untuk mengubah kebiasaan kurang lebih antara 21 hari sampai 76
hari (sekitar dua bulan). Selamat mencoba!
Sumber: Diklat Information Security Awareness
Penulis : Harnytan Anasthasia Siburian (Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Jambi)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |