Strategi Membangun Indonesia Maju
Dedy Sasongko
Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 14:59:29 |
156636 kali
Tahun 2019, ekonomi
Indonesia menduduki peringkat ke-16 dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB)
sebesar US$1.12 triliun dan tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan menurut data World Economic Forum (WEF), pada tahun
2024, diprediksi ekonomi Indonesia akan menduduki peringkat ke-5 dunia dengan PDB
sebesar US$5.3 triliun.
Prediksi tersebut
didasarkan pada peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah dan angkatan kerja produktif yang signifikan sehingga meningkatkan pendapatan dan konsumsi
masyarakat. Disamping itu, Indonesia juga mempunyai penduduk yang cukup besar
yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
PDB dan Kesejahteraan Rakyat
Sebagaimana
diketahui, PDB adalah nilai
seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu
tanpa melihat siapa yang memproduksinya. PDB hanya salah satu indikator untuk menunjukkan
pertumbuhan ekonomi suatu negara secara agregat dan tidak menggambarkan tingkat
kesejahteraan rakyatnya. Dalam penghitungan PDB, semua nilai barang/jasa yang
dihasilkan oleh suatu negara dimasukkan tanpa membedakan barang/jasa yang
dihasilkan oleh perusahaan atau warga asing. Padahal barang jasa yang
dihasilkan oleh warga asing tersebut tidak akan dinikmati oleh rakyat karena
sebagian atau seluruhnya akan dibawa ke negara warga asing yang bersangkutan.
Oleh sebab itu, dibutuhkan indikator lain untuk mengukur tingkat
kesejahteraan rakyat suatu negara. Salah satunya adalah pendapatan nasional
bruto per kapita. Berdasarkan pendapatan nasional bruto per kapita pada tahun
2018, Indonesia berada pada peringkat ke-120 di dunia dengan besaran US$3.840.
Di samping itu, menurut
Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2019, masih terjadi ketimpangan pengeluaran antara
rakyat kaya dan miskin yang ditunjukkan dengan angka Gini Ratio sebesar 0,382,
walau Gini Ratio terus menurun. Semakin kecil angka Gini Ratio semakin kecil
ketimpangan antara rakyat miskin dan kaya.
Pada tahun 2018, Gini
Ratio Indonesia menduduki peringkat ke-62 dari 139 negara (Wordl Bank, 2018). Namun ketimpangan di Indonesia tersebut lebih baik dari beberapa negara ASEAN
misalnya Malaysia dan Thailand.
Strategi Membangun Indonesia Maju
Untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi seperti yang diprediksi lembaga internasional di atas dan agar
pembangunan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan ketimpangan
antara rakyat miskin dan kaya, maka Pemerintah Indonesia dan seluruh komponen
bangsa harus bekerja keras dan bersinergi untuk melaksanakan pembangunan yang
berkelanjutan dan berkeadilan. Beberapa strategi/kebijakan yang harus diambil
oleh Pemerintah dalam pembangunan nasional adalah menigkatkan ketahanan
nasional, meningkatkan kualitas SDM, mengubah struktur ekonomi. Di samping itu,
Pemerintah juga melakukan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
Ketahanan nasional
merupakan kemampuan bangsa Indonesia untuk mengembangkan kekuatan nasional,
dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, maupun gangguan yang
berasal dari dalam maupun luar yang membahayakan integritas, dan kelangsungan
hidup bangsa. Ketahanan nasional harus ditingkatkan. Pembangunan tidak akan
berguna jika ketahanan nasional rapuh dan menjadi sia-sia.
Ketahanan nasional
dapat ditingkatkan dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan yaitu Pancasila,
Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945 dan konsep NKRI, kepada seluruh
komponen bangsa. Nilai-nilai kebangsaan tersebut harus dilaksanakan dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai
suku, agama, budaya yang tersebar di 17.491 pulau harus menjadi satu kesatuan
keluarga besar yaitu bangsa Indonesia. ‘Konsep nasionalisme yang didirikan
Indonesia, bukan orang Jawa, bukan orang Sumatera, bukan orang Kalimantan,
Sulawesi, Bali atau lainnya, tapi orang Indonesia, yang bersama-sama menjadi
fondasi satu kesatuan nasional" (Ir. Soekarno)
Kemajuan suatu
bangsa sangat ditentukan oleh kualitas SDM-nya. Indonesia diperkirakan akan
mengalami bonus demografi mulai tahun 2025 dimana usia produktif akan mencapai
65% dari total penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa. Terdapat dua tantangan
yang dihadapi yaitu jumlah penduduk yang sangat besar dan kemajuan teknologi
informasi. Jumlah penduduk yang besar menjadi pasar produk yang dapat
menggerakkan perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat dengan catatan
produk tersebut merupakan produk dalam negari. SDM harus dapat menguasai
teknologi informasi dan mengkapitalisasinya untuk peningkatan produk/jasa dalam
negeri termasuk untuk orientasi ekspor.
Untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
sustainable, maka Pemerintah dan dunia usaha harus memperkuat struktur
ekonomi nasional dengan membangun infrastruktur, mendorong investasi dan
memperkuat industri pengolahan yang berbasis ekspor. Dunia usaha harus
meninggalkan ‘kebiasaan’ menjual atau mengekspor bahan mentah atau bahan baku.
Industri dalam negeri harus mengolah bahan mentah/bahan baku menjadi barang
jadi yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Di samping itu, industri harus
bisa menghasilkan barang modal.
Pemerintah juga
harus mendorong UMKM agar bertumbuh dan naik kelas, mengingat jumlah UMKM yang
mencapai 99.99% dari total jumlah pelaku usaha dan menyerap 97% tenaga kerja dunia usaha. Di
samping itu, import bahan baku maupun barang modal harus dikurangi secara
siginifikan. Langkah ini sangat strategis, disamping untuk meningkatkan industri
dalam negari, mengurangi ketergantungan terhadap asing, juga untuk mengurangi
pengeluaran devisa negara sekaligus dapat menjaga stabilitas nilai rupiah dan
memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Menurut BPS, kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada
tahun 2019 masih didominasi pulau jawa dengan porsi 59% disusul Sumatera
21,32%, Kalimantan 8,05%, Sulawesi 6,33%, Bali Nusra 3,06%, serta Maluku dan Papua
sebesar 2,24%. Sementara itu, masih terdapat perbedaan angka kemiskinan antara
provinsi yang paling rendah angka kemiskinannya yaitu DKI Jakarta sebesar 3,47%
dengan provinsi yang paling tinggi angka kemiskinannya yaitu Papua sebesar
27,53%. Oleh sebab itu, Pemerintah telah membangun infrastruktur untuk
mempercepat dan pemerataan pembangunan terutama di luar pulau Jawa termasuk
Papua. Infrastruktur tersebut diharapkan juga akan membuka akses wilayah dan
memperlancar distribusi dan transportasi. Diharapkan Pemerintah memprioritaskan
pembangunan daerah tertinggal, perbatasan dan terpinggir sesuai dengan Nawacita
ketiga ‘Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan
desa dalam kerangka negara kesatuan’
(Edward UP Nainggolan, Kepala Kanwil DJKN Kalbar)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |