Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
Artikel DJKN
Generasi Millennial Sumber Ide
Budi Sulistyawan
Rabu, 22 Juli 2020 pukul 10:10:53   |   27081 kali

Seperti dikutip dari Mashable, generasi milenial tidak tertarik dengan iklan televisi dan media cetak yang hanya dianggap cocok untuk generasi tua. Ke depan iklan produk melalui content video di internet maupun digital marketing lainya akan menjadi sebuah keharusan.

Menurut Wikipedia, karakteristik Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Generasi millennial merupakan generasi “kepo”, sebelum memutuskan pembelian suatu produk, mereka terlebih dahulu mencari informasi melalui internet maupun sosial media. Review tentang produk di internet dan sosial media menjadi referral bagi mereka. Istilah word of mouth akan mengalami perubahan menjadi word of internet atau word of social media. Hasil riset Alvara Reseach Center tahun 2015 menemukan bahwa informasi produk yang paling banyak di cari oleh generasi millennials di internet adalah informasi tentang price, feature product, kemudian diikuti oleh promotion program dan customer review.

Meledaknya konsumsi gadget dan internet oleh generasi millennial secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada selling channel penjualan. Fenomena menjamurnya toko online seperti adalah salah satu indikasinya. Selain toko online, forum, media sosial sekarang juga banyak digunakan sebagai selling channel. Meroketnya jumlah penggunaan internet menjadikan di tahun 2020 tentu merupakan indikasi perkembangan online channel yang makin menggembirakan.

Generasi millennial adalah masyarakat sosial yang melek dan adaptable pada teknologi. Mereka cenderung suka memanfaatkan teknologi untuk mempermudah segala aktivitas, tak terkecuali aktivitas belanja. Dengan kemajuan teknologi cara pembayaran membuat generasi ini makin cashless (cenderung tak membawa uang tunai). Kemudahan pembayaran belanja melalui debit card, credit card e-money, internet banking maupun lainya mudah diadopsi oleh urban middle-class millennials. Sehingga keberadaan urban middle-class millennials tentu akan menjadi trigger bagi perkembangan pembayaran yang bersifat cashless. Kedepan alat pembayaran tradisional akan bergeser ke alat pembayaran yang modern.

Munculnya teknologi (gadget dan internet), perubahan geografis dan perubahan daya beli secara berlahan tapi pasti telah mengubah perilaku dan nilai nilai yang dianut oleh manusia. Urban middle-class millennials adalah masyarakat yang memiliki perilaku dan nilai-nilai yang unik yang disebabkan oleh melekatnya tiga entitas tersebut. Masyarakat urban middle-class millennials merupakan masyarakat muda terbuka (open minded), individualis, dan masyarakat multikultur sehingga memunculkan budaya-budaya baru.

Perubahan fenomena sosial generasi masa depan bisa tercermin dari fenomena Generasi millennial saat ini. Karakter individualis masyarakat kedepan akan terjadi. Meskipun mereka berkumpul gadget masih tidak bisa lepas dari tangan, tenggelam dalam dunia mereka sendiri adalah sebuah keniscayaan masyarakat masa depan. Gadget bukan menjadi lagi sebatas teknologi, tetapi sudah menjadi teman. Sepertinya sehari tanpa gadget adalah suatu kemustahilan.

Hasil pengamatan kami, ketika kami mengamati perilaku Generasi Millennial yang lagi nongkrong di café maupun di mall-mall, menunjukkan hasil yang sama. Dari pengamatan kami meskipun mereka berkumpul dengan teman maupun komunitas mereka, gadget tidak bisa lepas dari tangan dan penglihatan mereka. Mereka ngobrol sambil memegang dan melihat gadget.

Budaya lain yang muncul adalah budaya selfie dan narsis. Berkembangnya teknologi kamera smartphone salah satunya mendorong munculnya fenomena selfie dan narsis, apalagi saat ini muncul smartphone dengan keunggulan kamera depan sehingga menghasilkan hasil selfie yang fotogenik, perkembangan kamera smartphone perkembangan munculnya sosial media juga menjadi trigger.

Setelah bernarsis ria, mereka langsung mengunggah ke sosial media. Tempat-tempat menarik menjadi spot selfie dan narsis. Mereka tidak hanya selfie di tempat-tempat seperti mall, café, tempat wisata bahkan ditempat ibadah pun mereka berselfie ria. Selfie dan narsis secara tidak langsung memunculkan fenomena sosial lain, yaitu membludaknya pengunjung tempat wisata.

Bagi masyarakat saat ini, berlibur sudah menjadi kebutuhan seiring dengan padatnya pekerjaan Mereka membutuhkan waktu refresh sejenak. Kerkunjung ke tempat wisata bukan saja untuk liburan. Berfoto selfie dan narsis di tempat wisata khususnya tempat wisata luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman saat ini dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia. Arus globalisasi berhasil menciptakan interaksi langsung dan tidak langsung yang lebih luas antar umat manusia, yang tidak mengenal batas-batas antara negara satu dengan negara yang lain. Oleh sebab itu, globalisasi membuat generasi millennial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini.

Ada perbedaan paradigma yang mencolok antara Generasi X dan Generasi Millennial terkait dunia kerja. Generasi X memandang ukuran sukses di dunia kerja adalah ketika mereka sukses meniti karir dari bawah sampai ke puncak posisi di perusahaan yang sama, loyalitas pada perusahaan adalah salah satu ukuran kunci sukses. Sebaliknya bagi Generasi Millennial ukuran sukses di dunia kerja adalah ketika mereka bisa pindah-pindah kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, bagi mereka semakin sering pindah berarti mereka termasuk orang yang “laku” di perusahaan,

Di lingkungan DJKN, banyak generasi millennial sebagai ujung tombak dalam pekerjaan, baik di bidang teknis atau di bidang pendukung. Jika generasi millennial ini bertugas di bidang Pengelolaan Kekayaan Negara, Bidang Penilaian , Bidang Lelang, pastinya generasi millennial tersebut akan berupaya memberikan inovasi-inovasi atau ide-ide yang mampu mempermudah dan meningkatkan kinerja. Namun, jika generasi millennial tersebut bertugas di bidang pendukung, sangatlah cocok jika berada pada bidang informasi dan teknologi. Dengan kemampuan generasi millennial yang mampu mengupdate pengetahuan tehnologi tersebut dapat membantu unit kerja dalam hal teknologi, selain itu dengan hobinya bermedia sosial sehingga akan selalu aktif mempublikasikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan tugas dan fungsi unit kerja, membuat inovasi-inovasi serta sehingga memberi dampak positif pada reputasi dan citra suatu unit kerja.

Unit kerja melalui teamwork harus mampu menjembatani dua generasi ini. Generasi millennial juga harus mampu menularkan antusiasme kepada generasi X dan generasi X mampu memberikan arahan dan mereka bekerja sama dengan baik untuk dapat mencapai target dan kinerja yang lebih baik.

Penulis: Budi Kanwil DJKN Banten


Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini