Artikel DJKN

Dua Perisai Menghadapi Covid-19, Hand Sanitizer dan Sabun. Mana yang Lebih Efektif?

Senin, 06 Juli 2020 pukul 10:08:51   |   335 kali

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mulai sekitar Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok. Virus ini kemudian telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara di dunia dan telah memakan korban jiwa. Penyebaran yang cepat ini dikarenakan virus dapat menular melalui kontak antar manusia. Cara penyebaran utama penyakit ini adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter).

Hingga saat ini, Covid-19 masih ada di berbagai belahan dunia. Meskipun di beberapa negara atau daerah tingkat penyebaran/korban terinfeksi sudah mulai menurun, namun kekhawatiran akan meningkatnya kembali penyebaran Covid-19 masih menghantui. Sehingga tak sedikit masyarakat melaksanakan pencegahan agar tidak terinfeksi Covid-19, terutama bagi mereka yang masih harus beraktivitas di luar rumah. Salah satu tindakan pencegahan yang dilakukan yaitu cuci tangan dengan sabun dan air minimal 20 detik atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol minimal 60 %. Sabun dan hand sanitizer menjadi dua alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan tangan. Apa saja kandungan dalam sabun dan hand sanitizer yang dapat membersihkan tangan kita dan seberapa efektif untuk mencegah terinfeksi Covid-19?

Sabun adalah garam natrium dan kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang digunakan sebagai pembersih dapat berwujud padat (keras), lunak, dan cair. Dewan Standardisasi Nasional menyatakan bahwa sabun adalah bahan yang digunakan untuk tujuan mencuci dan mengemulsi, terdiri dari asam lemak dengan rantai karbon C12-C18 dan sodium atau potassium (DSN, 1994). Sabun diproduksi dan diklasifikasikan menjadi beberapa grade mutu, mulai dari yang terbaik grade A hingga grade C.

Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Sabun memiliki sifat-sifat yaitu larutan sabun dalam air bersifat basa. Jika larutan sabun dalam air diaduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid. Molekul sabun yang bersifat hidrofobik akan mengelilingi kotoran dan mengikat molekul kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi. Sabun berkemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan sehingga kain yang dicuci menjadi bersih dan air meresap lebih cepat ke permukaan kain. Sedangkan bagian molekul sabun yang bersifat hidrofibik berada di dalam air pada saat pembilasan menarik molekul kotoran ke luar dari kain sehingga kain menjadi bersih.


Hand Sanitizer merupakan pembersih tangan yang memiliki kemampuan antibakteri dalam menghambat hingga membunuh bakteri (Retnosari dan Isdiartuti, 2006). Menurut Diana (2012), terdapat dua hand sanitizer yaitu hand sanitizer gel dan hand sanitizer spray. Hand sanitizer gel merupakan pembersih tangan berbentuk gel yang berguna untuk membersihkan atau menghilangkan kuman pada tangan, mengandung bahan aktif alkohol 60%. Hand sanitizer spray merupakan pembersih tangan berbentuk spray untuk membersihkan atau menghilangkan kuman pada tangan yang mengandung bahan aktif irgasan DP 300 : 0,1% dan alkohol 60%. Penelitian Diana (2012) menyatakan, hand sanitizer yang berbentuk cair atau spray lebih efektif dibandingkan hand sanitizer gel dalam menurunkan angka kuman pada tangan.


Seiring perkembangan zaman, dikembangkan juga pembersih tangan non alkohol, tetapi jika tangan dalam keadaan benar – benar kotor, baik oleh tanah, udara, darah, ataupun lainya, mencuci tangan dengan air dan sabun lebih disarankan karena hand sanitizer gel tidak efektif membunuh kuman dan membersihkan material organik lainnya. Alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik/desinfektan untuk desinfeksi permukaan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk kulit yang luka (Hapsari, 2015). Selain itu alkohol juga mempunyai sifat iritasi pada kulit dan mudah terbakar.


Tangan adalah bagian dari tubuh yang sering menyebabkan infeksi. Tangan terkena kuman/virus/mikroba sewaktu bersentuhan dengan bagian tubuh sendiri, tubuh orang lain, hewan, atau permukaan yang tercemar. Walaupun kulit yang utuh akan melindungi tubuh dari infeksi langsung, kuman/virus/mikroba tersebut dapat masuk ke tubuh kita ketika tangan menyentuh mata, hidung atau mulut. Salah satu upaya kesehatan masyarakat untuk mencegah hal ini yaitu mencuci tangan. Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan jari-jemari dengan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai ritual keagamaan ataupun tujuan-tujuan lainnya (Desiyanto dan Djannah 2013).


Cuci tangan yang baik adalah mencuci tangan dengan sabun plain (tidak mengandung anti mikroba) atau sabun antiseptik yang mengandung anti mikroba, menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan dan mencucinya dengan air mengalir sekali pakai. Secara lebih lengkap, enam langkah mencuci tangan yang benar menurut WHO (2005) sebagai berikut:

a. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut.

b. Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian, jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih.

c. Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan cara mengatupkan.

d. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.

e. Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan.

f. Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk atau tisu.


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mencuci tangan dengan sabun dan air akan membunuh virus yang mungkin ada di tangan Anda. Selain mencuci tangan, WHO juga menyarankan untuk membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Mana yang lebih efektif mencegah virus corona? Peneliti kimia Lembaga Ilmu Penelitian Indoensia (LIPI) Joddy Arya Laksmono menyatakan sabun dan hand sanitizer memiliki efektifitasnya masing-masing dalam membunuh virus corona yang menyebabkan Covid-19.


Sabun maupun hand sanitizer sama-sama memiliki komposisi kimia yang dapat melemahkan bahkan membunuh virus Covid-19. Joddy menuturkan efektifitas kedua bahan kimia itu sebenarnya dilihat pada saat penggunaannya. Jika masih banyak air di sekeliling, mencuci tangan dengan sabun akan lebih baik dilakukan. Namun, jika dalam kondisi tertentu dimana susah mendapatkan air bersih yang mengalir maka penggunaan hand sanitizer tetap dapat dilakukan.


Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of New South Wales, Australia, menyebutkan bahwa dinding virus Covid-19 salah satunya terdiri dari serangkaian jaringan lemak bilayer. Adapun prinsip kerja dari sabun untuk membunuh virus, lanjut Joddy adalah membentuk emulsi dengan suatu kotoran. Interaksi ini menjadi cukup menarik manakala sabun melakukan kontak dengan virus Covid-19. Sabun secara efektif dapat mengikat dan meleburkan lapisan lemak yang terdapat pada dinding virus. Tentunya dengan meleburnya dinding virus oleh sabun maka virus akan melemah dan akhirnya mati. "Namun tentunya ada cara dan waktu kontak efektif penggunaan sabun untuk membunuh virus Covid-19," ujarnya. Seperti yang dilaporkan oleh para peneliti dari University of New South Wales, Australia, bahwa mencuci tangan selama 30 detik dengan cara-cara yang benar seperti yang telah dianjurkan juga oleh Kemenkes maka akan sangat efektif untuk membunuh kuman.


Sedangkan hand sanitizer, dia menjelaskan sesuai dengan anjuran WHO terdiri dari beberapa komposisi kimia diantaranya adalah alkohol. Menurut WHO, kata dia, alkohol merupakan bahan yang efektif untuk membunuh mikroba. "Hasil uji antimikroba untuk senyawa alkohol adalah dapat membunuh bakteri-bakteri patogen hanya dalam waktu 10-20 detik. Oleh karena itu secara umum alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik pada dunia medis," ujar Joddy. "Sedangkan penggunaan hand sanitizer yang sesuai dengan anjuran WHO, minimal selama 10 detik sesuai dengan hasil uji antimikrobanya, maka akan sangat efektif untuk membunuh kuman," ujarnya.

Oleh karenanya, penggunaan sabun ataupun hand sanitizer harus sesuai dengan anjuran sehingga daya kerjanya akan lebih efektif lagi. Jika Anda lebih suka menggunakan hand sanitizer karena lebih praktis, itu tidak masalah. Akan tetapi, tetap pastikan untuk mencuci tangan sesering mungkin jika di sekeliling anda terdapat sumber air mengalir.


Penulis : I Made Murdwarsa Febriyanta - Kanwil DJKN DKI Jakarta


Sumber :

http://eprints.polsri.ac.id/4060/3/File 3 (BAB II).pdf. diakses pada 02 Juli 2020 Pukul 16.00.

http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/751/7/4 BAB II.pdf. diakses pada 02 Juli 2020 Pukul 16.00.

https://tirto.id/eKp4. , diakses pada 02 Juli 2020 Pukul 16.00.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200409155344-199-492164/ahli-jelaskan-beda-sabun-dan-hand-sanitizer-bunuh-corona. , diakses pada 02 Juli 2020 Pukul 16.00.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.