Artikel DJKN

Belajar dari Penimbun Masker

Senin, 06 Juli 2020 pukul 09:48:00   |   57 kali

Denpasar- Sejak pandemi virus corona pertama kali teridentifikasi di Indonesia, masker medik dan hand sanitizier menjadi barang yang langka di pasaran. Kelangkaan ini menyebabkan harga barang-barang tersebut melambung tinggi, berkali kali lipat dari harga normalnya. Sebagian oknum mengambil kesempatan menimbun masker medik tersebut untuk kemudian dijual dengan harga fantastis. Bahkan, beberapa bulan lalu harga masker medik dijual berkisaran antara Rp340ribu hingga Rp1,5 Juta.

Menurut teori permintaan dan penawaran, jika permintaan akan suatu barang meningkat sementara penawaran tetap, maka harga akan naik. Jadi, kala itu ketika permintaan masyarakat akan masker medik meningkat, dan pada saat yang bersamaan barang menjadi langka, maka harga masker tersebut melonjak fantastis. Adanya faktor spekulasi yang dapat menjelaskan terjadinya kelangkaan barang. Motif spekulasi umumnya dilakukan oleh produsen atau pedagang yang didorong untuk menimbun barang pada harga rendah untuk kemudian dijual ketika harga naik.

Namun, sekarang masker medik sudah bukan barang langka, harga sudah kembali normal. Satu buah masker medik sekarang hanya dijual seharga Rp3 ribu, sehingga membuat para penimbun merugi. Banyak faktor yang menyebabkan kembali stabilnya harga masker medik tersebut,antara lain karena pemerintah mengimpor masker medik dan adanya anjuran penggunaan masker kain. Masker kain sebagai barang substitusi mampu menggeser kurva permintaan, dan pada waktu yang bersamaan pemerintah menambah supply masker medik dengan sistem impor.

Penimbun masker medik dan hand sanitizier merugi. Berita ini sudah banyak dibicarakan baik di sosial media maupun media online. Kabarnya, kerugian mencapai miliaran rupiah. Motif spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan yang tinggi malah berujung merugi.

Jika kita menilik agak jauh ke belakang, kisah harga masker yang meroket dan kembali normal dalam waktu yang tidak cukup lama mempunyai kemiripan dengan kisah tanaman fenomenal “gelombang cinta”. Beberapa tahun lalu tanaman yang dikenal juga dengan sebutan Anthurium ini sempat sangat popular. Semua orang jatuh cinta dan ingin menanamnya di rumah. Bahkan, harga satu pot tanaman ini bisa sampai miliaran rupiah. Bergulirnya waktu, harga Gelombang Cinta ternyata bukannya makin melejit, namun sebaliknya. Bukan cuma tidak sepopuler dulu, harga jual tanaman ini pun jatuh.

Fenomena Gelombang Cinta pada tahun 2007 memang di luar ekspektasi. Menurut Ir. Debora Herlina MS, seorang fisiologi tanaman hias, harga fantastis Gelombang Cinta bukan dibangun oleh kondisi natural pasar, melainkan skenario bisnis yang sudah disiapkan oleh sekelompok pedagang dengan tujuan mencari keuntungan yang besar dengan membangun pasar Anthurium yang fenomenal. Namun,mudahnya mengembangbiakkan tanaman ini justru membuatnya tidak lagi eksklusif, sehingga harga tanaman ini jatuh di pasaran.

Kisah masker dan Anthurium memang tidak persis sama mengingat motif yang mendasari adalah berbeda, namun ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran.

1. Pasar akan selalu dinamis, harga keseimbangan (equilibrium) akan terus berubah seiring perubahan pada kurva permintaan dan penawaran.

2. Bahwa barang-barang yang memang secara riil tidak membutuhkan biaya produksi yang cukup besar dan atau barang-barang musiman pada akhirnya akan kembali ke keseimbangan harga. Pembeli dapat membeli barang dengan wajar, dan penjual/produsen tetap mendapatkan untung dari apa yang dibuat.

3. Motif spekulasi tidak efektif dilakukan pada barang-barang yang secara riil tidak bisa dijadikan investasi (bernilai rendah seperti masker). Umumnya motif spekulasi dilakukan pada emas dan properti.

Belakangan ini, dalam masa transisi “new normal”, bersepeda menjadi trend baru di masyarakat. Mungkinkah sepeda akan menjadi fenomena baru seperti Anthurium dan atau masker?

(Oleh Corry Wulandari, Pelaksana Seksi Informasi Kanwil DJKN Bali Nusra)




Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.