Artikel DJKN

Jangan Mudah Termakan Hoax, Saring Sebelum Sharing

Senin, 22 Juni 2020 pukul 11:22:34   |   359 kali

Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat selain membawa dampak positif, ternyata juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang cukup meresahkan adalah munculnya informasi palsu atau lebih popular dikenal dengan istilah “hoax”.

Fenomena hoax semakin merajalela di dunia maya dan dengan mudahnya penyebaran informasi melalui media sosial sehingga dapat menimbulkan beragam opini masyarakat. Penyebaran berita hoax juga mampu membawa pada kerancuan informasi dan kehebohan publik akan suatu informasi, bahkan dapat juga berakibat pada perpecahan suatu bangsa.

Apa yang dimaksud hoax?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoax ditulis menjadi hoaks yang diartikan sebagai informasi bohong. Ejaan “hoaks” dengan “ks” dibelakang merupakan bentuk kata serapan dari bahasa asing. Kata hoaks dalam KBBI dikategorikan sebagai akjetiva dan nomina. Dalam penulisannya, hoaks menggunakan kata yang diterangkan terlebih dahulu misalnya menjadi “berita hoaks”. Namun, hoaks juga bisa berdiri sebagai nomina dengan arti berita bohong.

Dengan demikian, hoax merupakan informasi bohong dibuat sedemikian rupa hingga seolah-olah benar adanya. Hoax biasanya dikemas dalam beberapa konten seperti: (1) narasi informasi atau berita yang berlebihan atau membesar-besarkan keadaan; (2) foto atau gambar rekayasa yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan berita atau informasi yang dikabarkan; dan (3) video untuk menggambarkan secara lebih nyata tentang informasi atau berita yang disebar.

Lantas, dari mana asal usul hoax?

Asal usul hoax diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya yakni ‘hocus’ dari mantra ‘hocus pocus’, frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa istilah ‘sim salabim’. Salah satu hoax yang pernah menggemparkan adalah ancaman asteroid menghantam bumi dan menyebabkan kiamat. Pada tahun 2015, NASA membantah rumor tersebut.

Kenapa hoax diciptakan dan apa tujuannya?

Hoax biasanya sengaja dibuat untuk mencapai tujuan tertentu dan mendapatkan keuntungan dari dampaknya. Informasi palsu akan lebih cepat viral jika dibagikan dan semakin banyak visitors pada situs tersebut maka pemiliknya akan mengantongi penghasilan berupa uang. Trafik visitors yang besar juga akan meningkatkan kepopuleran situs tersebut. Dalam beberapa kasus, hoax juga digunakan sebagai media untuk adu domba, menyebar fitnah, mencemarkan nama baik, membuat kepanikan serta menjatuhkan orang atau golongan tertentu.


Apa bahaya dan dampak hoax?

Hoax bisa menjadi pemicu munculnya keributan, keresahan, perselisihan bahkan ujaran kebencian. Akhir-akhir ini, bertebarnya hoax di tengah masyarakat kian populer dengan memanfaatkan kondisi pandemi global Covid-19 (corona virus disease 2019- red). Misalnya, hoax yang santer beredar adalah minum alkohol bisa menyembuhkan orang yang terkena Covid-19.


Mengingat akan dampak buruknya, setiap orang harus paham untuk menghindarinya. Selain itu, hoax juga bisa menganggu kesehatan mental. Berikut dampak hoax jika terus dibiarkan, diantaranya: (1) hoax dapat menimbulkan kecemasan dan memicu kepanikan publik. Pikiran menjadi imajiner membayangkan keadaan secara berlebihan. Selain itu, hoax juga mengganggu situasi emosional dan suasana hati yang berkepanjangan sampai menghantui pikiran dalam waktu yang lama; (2) manipulasi dan kecurangan dapat menjatuhkan manusia. Jika terus dibiarkan, penyebaran informasi palsu dapat membentuk mental masyarakat ke arah pemahaman hoax. Mudah percaya dengan informasi palsu tanpa melakukan perbandingan atau klarifikasi terhadap sumbernya.


Bagaimana cara menghindari hoax?


Hati-hati dengan judul provokatif dan baca keseluruhan isi informasi atau berita

Hoax seringkali memakai judul sensasional dan provokatif, misalnya dengan langsung mengarah ke pihak tertentu. Judul yang provokatif sering kali sengaja dibuat untuk menarik minat dan rasa penasaran dari pembaca. Isinya pun bisa diambil dari informasi atau berita media resmi, hanya saja direkayasa agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki oleh pembuat hoax.

Oleh karenanya, apabila menjumpai informasi atau berita dengan judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda sehingga setidaknya Anda sebagai pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.


Jangan mudah percaya dengan foto atau video yang beredar

Di era teknologi digital sekarang ini, manipulasi terjadi tidak hanya pada narasi teks. Konten lain seperti foto dan video juga sangat mudah dimanipulasi. Pembuat hoax bisa saja mengedit foto dan video untuk memprovokasi pembaca. Orang yang ahli dalam melakukan editing akan mampu membuat hasil editan yang sulit lagi dibedakan keasliannya oleh orang awam. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dengan foto atau video yang beredar, terlebih di dunia maya.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yaitu melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

Hati-hati membagikan informasi atau berita yang Anda baca

Di zaman sekarang ini, diperlukan kecerdasan dan kedewasaan berpikir dalam membagikan suatu informasi atau berita. Jangan mudah terprovokasi dengan info-info yang tidak jelas asal usulnya yang disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Jangan asal share, terlebih bila ditambah-tambahkan dengan hate speech atau ujaran kebencian hingga menimbulkan kembali informasi yang tidak benar. Kita harus cerdas dalam menyaring informasi mana yang berguna dan mana informasi yang tidak membawa manfaat. Saring sebelum sharing.


Apabila menjumpai informasi hoax, bagaimana cara untuk mencegah agar tidak tersebar?

Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media. Pada media sosial Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hate speech/harrasment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari pengguna, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut.

Sedangkan untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, sama halnya dengan Instagram. Bagi pengguna internet, Anda juga dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.


Cara melaporkan hoax terkait kebijakan Kementerian Keuangan

Selain itu, kita juga bisa melaporkan informasi hoax yang provokatif terkait kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui saluran WhatsApp Kemenkeu Tangkal Hoax 0857 7216 6774. Pastikan selalu mendapat informasi terpercaya tentang kebijakan Kemenkeu dari laman dan akun resmi @KemenkeuRI.


Penulis : B. Adita, Kanwil DJKN Suluttenggomalut


Referensi:

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. KBBI Daring: Pencarian kata ”hoaks”. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hoaks [diakses 18 Juni 2020]

Kompas.com. “Kata "Hoaks" dan "Meme" Sudah Tercatat di Kamus Bahasa Indonesia”, 28 Februari 2020. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2017/02/28/13203281/kata.hoaks.dan.meme.sudah.tercatat.di.kamus.bahasa.indonesia [diakses pada 18 Juni 2020]

Kominfo.go.id. “Asal usul Hoax”. Diakses dari https://aptika.kominfo.go.id/0203_asal-usul-hoax/ [diakses pada 17 Juni 2020]

Cnnindonesia.com. “Nasa Bantah Rumor Asteroid Hantam Bumi”, 21 Agustus 2015. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150821095141-199-73517/nasa-bantah-rumor-asteroid-bakal-hantam-bumi [diakses pada 18 Juni 2020]

Kominfo.go.id. “Ini Cara Mengatasi Berita Hoax di Dunia Maya”. Diakses dari https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media [diakses pada 18 Juni 2020]

Dream.co.id. “Fakta dan Hoax Seputar Wabah Covid-19”. 31 Maret 2020. Diakses dari https://www.dream.co.id/news/fakta-dan-hoax-seputar-wabah-covid-19-200331s.html

Twitter.com. @KemenkeuRI “Ayo Bersama Lawan Hoaks”. Diakses dari https://twitter.com/KemenkeuRI/status/1250755854749495298

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.