Simpan Cerita untuk Anak Cucu, Mari Rayakan Lebaran dengan Senyuman
N/A
Rabu, 27 Mei 2020 pukul 13:17:24 |
2107 kali
Serangan wabah Corona Virus Desease 2019 (COVID-19)
sejak bulan Maret 2020 hingga hari ini (27/5) masih belum reda. Waktu yang
panjang ini telah mengubah segala rencana dan tatanan kehidupan masyarakat
Indonesia. Penerapan Work From Home
(WFH) yang terus diperpanjang, sampai dengan bulan Ramadan tanpa salat Tarawih dan
Idul Fitri berjamaah di masjid atau tanah lapang, hanya berdiam diri di rumah, segala
gerakan terbatas hanya dalam rumah, dan tidak ada silaturahmi atau berpelukan
dengan keluarga, hening, sepi di rumah saja di hari raya.
Protokol kesehatan pemutus mata
rantai penyebaran virus ini membatasi gerak semua orang, hanya berada di rumah
saja, jika terpaksa harus keluar rumah
maka harus memakai masker, menjaga jarak,
mencuci tangan dengan sabun, sambil tetap selalu menjaga imun tubuh. Di rumah
saja sepanjang hari terbatas bersosialisasi, bahkan ada beberapa diantaranya
mungkin hanya berada di kamar kos seorang diri. Beruntung dalam genggaman masih
ada handphone atau gadget lainnya yang menjadi sarana untuk
tetap dapat menghubungkan komunikasi dengan sanak, saudara, teman dan keluarga,
bahkan juga untuk tetap dapat melaksanakan tugas-tugas dari kantor.
Hal yang semakin berat adalah
ketika bulan Ramadan tiba, suasana Ramadan yang selalu dirindukan untuk mengais
pahala, saatnya untuk bercengkerama, bersilaturahmi dengan para tetangga,
lingkungan dan teman kerja, ngabuburit
sekadar mencari angin pada sore hari, semua hal tersebut tidak terwujud tahun
ini.
Ketika pertengahan bulan Ramadan
pemerintah berkali-kali mengimbau untuk tidak mudik bukan tanpa alasan, angka
positif tertular Covid-19 masih bertambah. Berbagai upaya yang dilakukan
pemerintah belum mampu menekan penyebaran virus tersebut, ditambah ulah
sebagian masyarakat yang membandel tidak mengindahkan anjuran pemerintah untuk
menerapkan protokol kesehatan.
Sampai akhirnya sampai pada hari
puasa terakhir di bulan Ramadan, kembali pupus keinginan untuk mudik,
berkunjung ke kampung halaman, melepas rindu ke sanak keluarga, dan sungkem pada
orang tua. Perjalanan panjang mudik ke kampung halaman masing-masing yang telah
menjadi tradisi masyarakat bertahun-tahun sementara harus dilupakan.
Ketika takbir bergema dari langgar,
masjid atau musala, bagi mereka yang berada di kamar indekos atau asrama,
mungkin air mata yang akan berbicara, teringat ibu-bapak, istri, suami, anak
dan handai tolan. Sejenak terpikir kenapa kita hanya berdiam di rumah atau
tetap tinggal di kamar indekos? Kenapa tidak mudik? Apakah karena kita takut
kepada kepala kantor, toh hari libur, kepala kantor tidak akan menanyakan dimana
kita berada, apakah takut kepada pimpinan kita sebagai Aparatur Sipil Negara
(ASN)? Nyatanya masih banyak peluang, kita bisa mudik, bisa pulang ke rumah,
banyak yang lolos dari penjagaan polisi di titik-titik/poin pemeriksaan,
apalagi saat ini penjagaan telah mulai dilonggarkan.
Namun demikian kita memilih untuk
tetap di rumah bukan dikarenakan takut kepada pemerintah. Tidak mencoba untuk
mudik bukan karena takut kepada kepala kantor atau pejabat lainnya, tetapi
karena kita, jajaran Kementerian Keuangan adalah pribadi yang berintegritas,
cerdas, dan memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta bermartabat.
Sebagai manusia yang beriman tentunya
kita dapat berpikir kenapa Tuhan YME menurunkan wabah ini saat bulan Ramadan,
berbaik sangka kepada Tuhan YME pasti ada hikmahnya. Jika tahun ini kita tidak
bisa menikmati bulan Ramadan, tidak dapat melaksanakan salat Tarawih dan salat Idul
Fitri berjamaah di masjid tentunya ada juga hikmah di baliknya, dan jika kita
memang tidak bisa pulang kampung tahun ini, toh tahun-tahun yang lalu kita
telah melakukannya, dan insya Allah tahun yang akan datang rutinitas tersebut
dapat kita lakukan.
Sebagai salah satu bentuk bakti
dan sayang kepada sanak keluarga di rumah dan kampung halaman adalah berdiam
diri di rumah dan bersilaturahmi dengan memanfaatkan teknologi, karena
sesungguhnya kita tidak tahu apakah kita terbebas dari virus tersebut yang akan
menularkan kepada mereka yang mungkin kita dapatkan di perjalanan atau
dimanapun, kita tidak pernah tahu.
Apalah kita ini hanyalah seorang hamba
yang lemah, segala kuasa ada di tangan-Nya, hanya doa semoga kita dapat lolos
dari keadaan ini dengan baik, tetap sehat, panjang umur menuju keadaan yang
kembali normal, sebagai pemenang. Mari bersabar dan berlapang dada menerima
segala takdir dengan ikhlas.
Namun, jika dipikirkan lebih
jauh, bila kita bisa melewati masa sulit ini, maka semua itu akan menjadi
kenangan dan cerita yang indah untuk dibagikan kepada anak, cucu, dan generasi
penerus di masa datang.Oleh karenanya mari berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
memberi kita kekuatan iman dan kekuatan fisik agar kita dapat melewatinya
dengan baik dan merayakan hari raya Idul Fitri dengan senyuman, walau tentunya
di dalam kesederhanaan.
Taqabbalallahu minna wa minkum, selamat hari raya Idul Fitri 1441 H.
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Teks: Asnul KPKNL Bekasi
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |