Artikel DJKN

Hukum dan Informasi: antara Otak Kiri dan Otak Kanan

Senin, 30 Desember 2019 pukul 18:51:16   |   562 kali

Hukum dan Informasi: antara Otak Kiri dan Otak Kanan

Oleh: Hakim SB Mulyono

Sebagaimana sudah diketahui, di dalam struktur organisasi Kementerian Keuangan, tepatnya di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), hukum dan informasi disatukan dalam Seksi Hukum dan Informasi (HI). Seksi ini menjalankan tugas dan fungsi (tusi) yang beragam, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yakni yang membutuhkan otak kiri dan otak kanan.

Namun sebelumnya mari kita bahas secara singkat terlebih dahulu perbedaan fungsi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri sering dideskripsikan memiliki kemampuan dominan dalam hal hitungan atau matematika dan juga sangat dominan dalam fungsi bahasa: memproses apa yang kita dengar dan berperan dalam fungsi bicara. Bagian ini mengerjakan fungsi logika dan komputasi matematika. Sedangkan otak kanan identik dengan kreativitas, kemampuan spasial. Bagian ini juga melakukan tugas matematika, tetapi hanya tentang perbandingan dan estimasi.

Kembali kepada Seksi HI. Secara kasat mata, hukum dan informasi adalah dua hal yang saling berseberangan namun juga saling melengkapi. Hukum dan informasi bagaikan malam dan siang. Hukum lebih mengandalkan otak kiri, sementara informasi lebih mengandalkan otak kanan.

Lebih rinci, di antara tugas-tugas di seksi HI yang membutuhkan peran otak kiri antara lain penanganan perkara, bantuan hukum dan pemberian pendapat hukum, pengelolaan dan pemeliharaan perangkat, jaringan, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, penyajian dan pelayanan informasi, pengelolaan informasi dan dokumentasi, dan hubungan kemasyarakatan, implementasi sistem aplikasi, penyiapan bahan penyusunan rencana strategik, laporan akuntabilitas, dan laporan tahunan, penatausahaan berkas kasus piutang Negara (BKPN), sampai dengan verifikasi penerimaan pembayaran piutang negara dan hasil lelang.


Di sisi lain, ada tugas-tugas di seksi HI yang membutuhkan peran otak kanan yakni yang terkait fungsi kehumasan, publikasi kegiatan kantor di portal resmi maupun di media sosial. Pendek kata, di saat yang sama seorang kepala seksi HI harus mengandalkan otak kiri dan otak kanan sekaligus.
Namun pada dasarnya, tidak ada satu tugas yang hanya didominasi otak kiri atau hanya otak kanan. Sebagai contoh, dalam penanganan perkara dibutuhkan kepastian, cara berpikir linier, alur yang logis, berpikir dalam kata-kata, dan mengutamakan fakta; yang semua itu memang ciri dominan pemanfaatan otak kiri. Tapi dalam penanganan perkara dibutuhkan berpikir menyeluruh, membutuhkan intuisi untuk mengetahui prioritas urgensi perkara yang ditangani; yang semua itu memang ciri dominan pemanfaatan otak kanan.

Dalam menjalankan tugas memastikan tersedianya infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga dibutuhkan otak kiri dan otak kanan. Pemanfaatan otak kiri misalnya ketika PIC TIK perlu menganalisa permasalahan jaringan, mengutak-utik program yang membutuhkan kecerdasan logika. Di saat yang sama juga memanfaatkan otak kanan misalnya merencanakan jalur VPN yang tepat sesuai denah ruangan yang hal ini membutuhkan kreativitas.

Berdasarkan standar kompetensi minimal, kompetensi inti yang harus dipenuhi seseorang sebelum menjabat sebagai kasi HI adalah in-depth problem solving and analysis (otak kiri), managing others (otak kanan), dan relationship management (otak kanan). Sebagaimana ditunjukkan dalam kata di dalam kurung, hal tersebut membutuhkan peran otak kiri sekaligus otak kanan. Sementara kompetensi khususnya adalah planning dan organizing (otak kiri dan kanan), quality focus (otak kiri), dan influencing and persuading (otak kanan).

Namun secara umum, hukum dan informasi memang dua fungsi yang berbeda. Hukum lebih mengandalkan otak kiri, sementara informasi lebih mengandalkan otak kanan. Itulah alasan kenapa seseorang menjadi kepala seksi HI atau ia di tempatkan di seksi HI; tak lain karena secara kualitas memang ia dibutuhkan di tempat yang memerlukan keseimbangan otak kiri dan otak kanan.

CMIIW

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Foto Terkait Artikel