Artikel DJKN

Good Team Player: Belajar Dari Etos Kerja MLM

Jum'at, 20 Desember 2019 pukul 11:27:24   |   974 kali

Good Team Player: Belajar Dari Etos Kerja MLM

Oleh: Hakim Setyo Budi Mulyono

Network marketing adalah suatu cara memasarkan produk dengan sistem keanggotaan berjenjang. Network marketing disebut juga sebagai sistem pemasaran jaringan atau juga Multi Level Marketing (MLM). Disebut Multi Level Marketing karena keuntungan dari margin harga produk didistribusikan sedemikian rupa sehingga bukan hanya penjual langsung yang mendapatkan komisi atas penjualan melainkan siapa yang berada di jenjang atas dari sang penjual tersebut juga mendapatkan komisi. Dalam satu jaringan pemasar ada posisi upline dan downline. Upline berada di jenjang atas, sementara downline berada di jenjang bawahnya. Namun artikel ini tidak akan membahas lebih jauh tentang sistem MLM berikut produknya.Artikel ini akan membahas tentang sisi positif dari MLM.

Tak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang memiliki kesan positif terhadap MLM, namun betapapun banyaknya asumsi masyarakat umum tentang MLM, yang sebagian besar menganggapnya sebagai bisnis mencurigakan, faktanya ada sisi positif dari MLM yang dapat kita tiru dan mungkin dapat kita terapkan dalam menjalankan organisasi non-profit, misalnya sektor publik.

Satu hal yang sama antara organisasi sektor publik dengan MLM adalah sama-sama memasarkan sesuatu. Bedanya MLM memasarkan produk, organisasi sektor publik memasarkan jasa. Dan keduanya punya misi sama: pelayanan.

Inspirasi dari Etos Kerja "Orang-orang" MLM

Hal pertama yang dapat diambil pelajaran dari MLM adalah etos kerja orang-orangnya. "Orang-orang" MLM, demikian masyarakat sering menyebutnya, seringkali didapati sebagai pribadi yang sangat militan, memiliki motivasi kuat untuk mengejar target, prima dalam pelayanan, dan mengutamakan sinergi. Empat kualitas tersebut penting dalam sukses tidaknya seseorang di dalam MLM. Dan empat kualitas tersebut juga penting dalam organisasi manapun, termasuk sektor publik.

Kenapa empat kualitas positif tersebut menjadi warna dominan di dunia MLM namun terasa sulit mewarnai organisasi sektor publik? Sebagai seorang mantan pelaku MLM, saya mengamati bahwa kualitas tersebut muncul karena atmosfir kerja di MLM memungkinkan untuk itu, dan melalui artikel ini saya berharap keempat kualitas tersebut dapat kita terapkan di sektor publik.

Izinkan saya menganalogikan. Upline di dunia MLM mirip dengan seorang atasan di organisasi sektor publik, misalnya kantor pelayanan. Sementara downline mirip dengan bawahan. Namun dalam prakteknya, mereka tak menempatkan diri sebagai atasan dan bawahan. Upline sangat berkepentingan untuk membuat downline-nya sukses karena hanya dengan cara membuat downline-nya sukses maka sang aupline akan sukses. Sederhananya, jika downline mendapatkan keuntungan secara langsung (mereka menyebutnya active income), maka barulah upline mendapatkan pula keuntungan (mereka menyebutnya passive income).

Tentu saja dalam organisasi sektor publik, kantor pelayanan misalnya, yang bukan organisasi profit, keuntungan dimaksud bukanlah berarti material. Seorang atasan misalnya mendapatkan beban target, demikian pula bawahan. Maka konsepnya, dengan membantu bawahan mencapai target maka sang atasan pun akan memenuhi apa yang ditarget oleh organisasi untuknya. Miltansi akan terbangun jika hubungan atasan dan bawahan, sebagaimana telah lama dipraktekkan antara upline dan downline di MLM, demikian sinergis demi mencapai target bersama-sama.

Di MLM, tak ada satu jenjang pun yang tidak memahami visi dan misi grop. Satu group, yang dipimpin seorang leader, akan menetapkan visi dan misi yang seluruh pemasar di dalam group tersebut sangat memahami dan termotivasi untuk mencapainya. Di dalam organisasi sektor publik, jika hal ini diterapkan maka motivasi akan merata di semua lini. Semua pegawai akan memiliki motivasi tinggi jika visi dan misi organisasi telah tertanam di benak setiap orang. Istilahnya, visi dan misi organisasi bukanlah hanya diketahui oleh tingkatan struktural, namun juga oleh seluruh pegawai. Hanya jika setiap pegawai di organisasi sektor publik memahami visi dan misi organisasi, maka sinergi dapat dengan mudah diterapkan.

Sekolah Bisnis: Pertemuan, Seminar, dan Membaca Buku

Rahasia lain dari MLM, yang mungkin dapat diterapkan di organisasi sektor publik, adalah tiga kegiatan utama berikut: pertemuan, seminar, dan membaca buku. Belakangan, membaca buku dapat diganti menjadi mendengarkan rekaman motivasi para leader. Tiga kegiatan ini, di MLM, sangat ditekankan untuk memeratakan pengetahuan para anggotanya. Ketiganya seringkali dirangkum dalam apa yang namanya Business School, alias sekolah bisnis.

Sekolah bisnis dalam MLM ini juga disebut sebagai Support System, yakni wadah bagi para anggota MLM untuk menjalankan bisnis secara seragam. Keseragaman itu dibangun dari pertemuan, seminar, dan membaca buku yang sama. Dalam organisasi sektor publik, balai diklat merupakan analogi dari sekolah bisnis dimaksud. Melalui balai diklat, para pegawai di-upgrade agar memiliki tingkat skill yang merata di semua lini. Namun sekali lagi, yang membuat tiga kegiatan di MLM tersebut demikian antusias diikuti oleh para anggotanya adalah karena setiap anggota MLM demikian termotivasi untuk mencapai goal atau apa yang ditargetkan.

Mereka sangat antusias mengikuti pertemuan (yang analoginya di organisasi sektor publik mirip knowledge sharing), mereka sangat semangat mengikuti seminar (yang analogi di organisasi sektor publik mirip pendidikan dan pelatihan), dan mereka sangat termotivasi untuk membaca buku tertentu yang direkomendasikan (yang analogi di organisasi sektor publik mirip membaca peraturan dan perundang-undangan). Mereka sangat termotivasi karena mereka meresapi apa visi dan misi bisnis yang mereka jalani. Artinya, jika setiap pegawai di organisasi sektor publik juga meresapi visi dan misi organisasinya maka mereka juga akan sangat termotivasi untuk mengikuti knowledge sharing, mengikuti diklat, dan atau membaca berbagai peraturan menyangkut pekerjaannya.

Good Team Player

Rahasia lain dari MLM yang mungkin dapat kita terapkan dalam organisasi sektor publik adalah apa yang mereka namakan Good Team Player. Tanpa kerja sama tim yang kuat dan bagus, cepat atau lambat jaringan bisnis MLM yang dibangun akan rontok pada akhirnya; yang dalam organisasi sektor publik “rontok” di sini dapat bermakna penurunan kinerja. Dalam membangun Good Team Player, para pelaku MLM menerapkan 3 prinsip utama ini: Konsultasi, Edifikasi, No Crosslining. Dengan kata lain, tiga prinsip tersebut menjadi pilar penyangga terbangunnya Good Team Player. Dan mari kita bahas satu persatu.

Konsultasi adalah prinsip mengutarakan kendala dari downline kepada upline. Dalam hal ini berlaku jalur dari bawah ke atas. Setiap kendala di lapangan yang ditemukan oleh downline wajib dikonsultasikan kepada upline. Sebanyak apapun jumlah downline dari seorang upline, sang upline akan menerima konsultasi tersebut. Dan di dalam MLM, downline hanya boleh berkonsultasi kepada upline. Di dalam MLM pula, upline diasumsikan sebagai pihak yang paling memahami kondisi kesehatan jaringan bisnisnya, yang di dalam jaringan tersebut sang downline berada.

Dalam prinsip konsultasi tersebut, upline dilarang mengkonsultasikan kendala kepada downline. Jalur konsultasi adalah dari bawah ke atas, sementara jalur dari atas ke bawah adalah motivasi. Jika prinsip ini dibalik, maka yang terjadi adalah demotivasi. Ketika upline tampak sering mengkonsultasi kendala kepada downline, maka jaringan para downline cepat atau lambat akan mengalami demotivasi. Itu yang berlaku di dunia MLM, dan mungkin juga berlaku di organisasi sektor publik.

Upline sangat memperhatikan kinerja downline, karena hasil kinerja downline berefek langsung dengan omset group yang ujungnya berpengaruh pada pendapatan sang upline. Itulah kenapa upline akan mati-matian membela downline-nya, mendukungnya penuh, bahkan jika perlu datang ke rumah downline ketika downline meminta bantuan. Itu berarti, downline juga sangat berkepentingan kepada upline karena sewaktu-waktu ketika ia butuh bantuan, ia dapat berekspektasi kepada upline. Itulah kenapa, upline selalu membuka pintunya untuk memberikan konsultasi kepada downline. Cascading IKU misalnya adalah semacam bentuk hubungan upline dan downline.

Downline dapat mengkonsultasikan apapun menyangkut permasalahan groupnya kepada upline, dan upline akan sangat peduli untuk mengatasi permasalahan group sang downline karena group tersebut juga merupakan group jaringannya sendiri.

Edifikasi adalah prinsip di mana downline memberikan rasa hormat yang layak kepada upline. Prinsip ini demikian dijaga sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun downline yang membicarakan hal-hal negatif terhadap upline. Hal ini penting karena jika seorang downline sekali saja tidak memberikan rasa hormat kepada upline-nya, apalagi sampai menceritakan hal-hal negative tentang sang upline kepada para downline di bawahnya, maka seluruh jaringan downline di bawahnya akan juga tak menaruh rasa hormat kepada sang upline. Hasilnya, sang upline akan kehilangan otoritasnya di hadapan seluruh jaringan downline.

Sebagai contoh, si A memiliki upline bernama B. Sementara si A memiliki downline X, Y, Z. Jika sekali saja si A tidak meng-edifikasi si B selaku upline-nya, maka si B akan kehilangan otoritas moral di hadapan X, Y, Z yang merupakan downline si B maupun si A. Ketika si A merasa perlu mendapatkan dukungan dari si B untuk memotivasi X, Y, Z, maka mereka sudah tidak lagi mau mendengar apa kata si B. Maka ujung-ujungnya, yang rugi adalah si A sendiri.

Edifikasi bukan hanya penting di dunia MLM, di organisasi sektor publik juga penting. Seorang pimpinan harus mendapat edifikasi yang layak dari bawahannya yang bawahan tersebut notabene juga punya bawahan lagi di bawahnya. Sekali saja ada satu bawahan tidak menunjukkan rasa hormat kepada pimpinan, maka sang bawahan tersebut akan rugi sendiri ketika suatu saat kelak membutuhkan peran pimpinan dalam membantunya menangani permasalahan bawahan dari sang bawahan tersebut. Seseorang baru dapat dikatakan sebagai Good Team Player jika ia senantiasa berkonsultasi kepada atasannya sekaligus meng-edifikasi-nya di hadapan bawahannya sendiri.

Edifikasi terhadap upline juga dapat bermakna mengabarkan hal-hal baik tentang upline kepada siapapun di groupnya dengan tujuan semua anggota group akan menaruh rasa hormat kepada upline. Hal ini penting karena apabila ada satu orang dari anggota group tidak menaruh hormat kepada upline, maka group tersebut tidak akan efektif ketika sang upline datang memberikan motivasi. Edifikasi mendukung konsultasi. Efek tidak ada edifikasi adalah potensi terjadinya crosslining.

Prinsip ketiga untuk menciptakan Good Team Player adalah No Crosslining. Sebagaimana diketahui, dalam suatu jaruingan MLM akan tercipta banyak group dari jalur upline yang berbeda. Dalam organisasi sektor publik, hal ini mirip bagian atau seksi yang berbeda. Crosslining adalah peristiwa ketika seseorang melewati batas bagian atau seksinya untuk saling membicarakan celah kepemimpinan. Crosslining terjadi adalah akibat dari tidak dijalankannya konsultasi. Alih-alih mengkonsultasikan permasalahan kepada pimpinan (upline), seseorang di dalam organisasi justru membicarakan hal tersebut di antara bagian atau seksi yang berbeda (crossline) tanpa melibatkan pimpinan. Crosslining bukan hanya tidak produktif namun juga akan menghancurkan suatu jaringan bisnis MLM. Jika sinergi dapat menghasilkan dampak positif, crosslining dapat menhasilkan dampak negatif. Itulah kenapa prinsip yang ditekankan adalah No Crosslining.

Konsultasi, edifikasi, dan No Crosslining adalah tiga pilar penjaga utuhnya suatu group jaringan. Tiga prinsip pembangun Good Team Player.

Sebagai penutup. Sekali lagi, tak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang memiliki kesan positif terhadap MLM, namun betapapun banyaknya asumsi masyarakat umum tentang MLM, yang sebagian besarnya menganggapnya sebagai bisnis negatif, faktanya ada sisi positif dari MLM yang dapat kita tiru dan mungkin dapat kita terapkan dalam menjalankan organisasi sektor publik. Semoga bermanfaat.




Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.