Artikel DJKN

Ekspedisi Tuntaskan Revaluasi BMN di Kepulauan Terluar Madura

Selasa, 26 Juni 2018 pukul 16:44:08   |   284 kali


KPKNL Pamekasan telah menyelesaikan Revaluasi Barang Milik Negara (BMN) Tahun 2018 berupa tanah dan bangunan sebanyak 1079 NUP (Nomor Urut Pendaftaran) atau sebesar 111,82 % dari target yang ditetapkan sebesar 965 NUP, kesemua NUP berasal dari 39 satker (Satuan Kerja). NUP yang tersisa dan belum dilakukan revaluasi sebanyak 80 NUP yang tersebar diwilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep.


Kegiatan Revaluasi di kepulauan membutuhkan persiapan yang cukup, baik dari sisi ketersediaan transportasi, kesiapan satuan kerja yang akan dikunjungi, informasi kondisi cuaca dan perlengkapan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan survei. Hal ini mengingat keterbatasan yang akan dihadapi oleh Tim Pelaksana saat di lapangan.


Transportasi menggunakan jalur laut sangat tergantung kondisi cuaca baik angin maupun ketinggian ombak, sehingga pada saat-saat tertentu pihak otoritas pelabuhan melarang kapal untuk berlayar demi keselamatan penumpang.


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak otoritas pelabuhan bahwa kondisi cuaca di sekitar Kepulauan Madura akan relatif aman dikunjungi selama bulan April s.d. Mei 2018, sehingga Tim Pelaksana segera dibentuk dan dikumpulkan untuk melanjutkan revaluasi NUP yang tersisa.


Akhir Bulan April sampai Bulan Mei 2018, Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan melanjutkan penilaian kembali Barang Milik Negara (BMN) diwilayah Kepulauan. Jumlah NUP yang tersisa sebanyak 80 NUP yang tersebar di seluruh kepualaun Sumenep dari mulai Pulau Sapudi, Kangean, Sapeken, Gili Genting, Kemudi, Mamburit, Soibus, Sepanjang dan pulau paling jauh Sekala serta Masalembu. Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan juga mendapat tugas tambahan penilaian BMN perbantuan dari KPKNL Surabaya yang berada di kepulauan milik Distrik Navigasi, Lantamal, dan Koramil.


Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan terbagi menjadi tiga Tim, Tim Pertama terdiri dari Widhi Prasetyo sebagai Ketua Tim I, dengan anggota Handex Kuswoyo dan Dian Novianto Prihantono, melakukan revaluasi disekitar kepulauan Sapudi, Giligenting, Gililaba, Raas, dan TIM Kedua terdiri dari I Ketut Sujana (Kepala Seksi Pelayanan Penilaian) sebagai Ketua Tim II , dengan anggota Djoko Setianto dan Heryan Wibowo, melakukan revaluasi disekitar Pulau Kangean dan Tim Ketiga terdiri dari Yulianto (Kepala Seksi Hukum dan Informasi) sebagai Ketua Tim III, dengan anggota Hanif Azhar dan Tridasa Novany Wijaya melakukan revaluasi di sekitar Pulau Sapeken, Soibus, Sepanjang, Kemudi dan Sekala serta Masalembu.


Tim Revaluasi Pertama melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal perintis. Tim Revaluasi Kedua dan Ketiga menggunakan Kapal Negara (KN) Bima Sakti Utama milik Distrik Navigasi Kelas I Surabaya, dikarenakan bertepatan dengan tugas Distrik Navigasi Kelas I Surabaya yang melakukan pemeliharaan terhadap mercusuar-mercusuar di kepulauan.


KN Bima Sakti Utama merupakan salah satu armada kapal yang dimiliki oleh Distrik Navigasi Surabaya untuk melaksanakan tugas-tugas di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. Kapal dengan panjang 60m dan lebar 12m, bobot kurang lebih 1250 ton memiliki kecepatan antara 7knot s.d. 11knot diperoleh pada tahun 2008. Kapal ini telah dilengkapi dengan kamar untuk penumpang, ruang makan, tempat penyimpanan logistik dan peralatan, 2(dua) buah kapal sekoci dan ruang serta peralatan lainnya sesuai dengan standar internasional.



Perjalanan Tim Revaluasi Kedua dan Ketiga dimulai pada hari minggu jam 15.00 WIB menuju ke Surabaya dan menginap di Hotel Pasifik di daerah Tanjung Perak.Senin paginya menuju ke Distrik Navigasi Kelas I Surabaya – Jl. Perak Barat No.435A Surabaya dandilanjutkan menuju ke Pelabuhan Kantor Distrik Navigasi Kelas I Surabaya – Jl. Intan No. 1A Surabaya ke lokasi KN Bima Sakti Utama, yang direncanakan akan berlayar pukul 08.00 WIB. Keberangkatan KN Bima Sakti Utama tertunda dikarenakan di dermaga Tanjung Perak, tertutup oleh Kapal Latih milik Kementerian Perhubungan sehingga menunggu agar Kapal Latih Kementerian Perhubungan berpindah/bergeser tempat terlebih dahulu. KN Bima Sakti Utama baru berlayar sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelum berlayar Kapten Nahkoda KN Bima Sakti Utama Kosyim Musfiyono, memberikan arahan kepada Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan.


“Kita akan berlayar menuju ke Pulau Kangean dan sekitarnya dengan kecepatan 7,5 knot dengan kemungkinan jangka waktu sekitar 24 jam, untuk itu nikmati perjalanan agar tidak mabuk atau pusing karena baru pertama kali berlayar, aturan yang ada di kapal biasa saja ikuti petunjuk awak kapal.” ujarnya


Perjalanan yang melelahkan dimulai, KN Bima Sakti Utama berlayar melewati Pulau Madura bagian Utara dengan kecepatan 7,5 knot atau setara dengan kecepatan kendaran didarat 14 km/per jam. Perjalanan menuju ke kepulauan terasa nyaman menggunakan KN Bima Sakti Utama, didalam kapal telah disediakan tempat tidur untuk Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan dan Tim Pendamping dari Distrik Navigasi. Tempat tidur tersedia lima tempat, masing-masing terdiri dari dua susun, sehingga berjumlah 10 tempat tidur. Tempat tidur Tim Revaluasi dua dan tiga terpisah, dengan hanya dibatasi dinding penutup dari triplek.


Makan pagi, siang dan malam telah disediakan kru KN Bima Sakti Utama. Sarapan pagi jam 06.00 WIB telah tersedia, makan siang jam 11.00 WIB dan makan malam telah tersedia jam 17.00 WIB dengan menu makan yang didominasi oleh olahan ikan laut yang dimasak dengan variasi masakan ( ada yang dibumbu kuning/kare bahkan disajikan dengan digoreng plus sambal) .


Perkiraan perjalanan menuju Pulau Kangean ditempuh selama kurang lebih 24 jam dan di awal perjalanan kondisi cuaca cukup cerah namun angin cukup kencang dan ombak yang lumayan tinggi. Beberapa anggota tim (Hanif Azhar dan Tridasa Novany Wijaya)mulai merasakan pusing dan mual sehingga memilih untuk beristirahat di kamar sedangkan yang lainnya mencoba untuk menikmati perjalanan tidak biasa ini dengan menyusuri setiap tempat di kapal dan menikmati pemandangan yang tersaji selama di perjalanan. Untuk mengurangi rasa jenuh, beberapa orang menuju ke ruang kemudi sambil menambah wawasan tentang kapal dan kelautan dengan berbincang-bincang bersama kapten kapal berikut krunya. Perjalanan terasa lama mengingat kecepatan kapal yang lambat dan pemandangan yang monoton.


Perjalanan malam terasa gelap gulita ditengah lautan hanya disinari bulan dan bintang yang betebaran dilangit, deburan ombak dan angin malam memecah kesunyian serta menambah dinginnya malam.Setelah bermalam di kapal, maka keesokan harinya tim dapat menikmati keindahan terbitnya mentari dari ufuk timur dan suasana langit yang kemerahan.


Perjalana menuju Pulau Kangean ditempuh dalam waktu 23 jam dan baru sampai pukul 10.00 WIB hari berikutnya. KN Bima Sakti Utama melepas jangkar ditengah laut, diantaraPulau Mamburit dan Pulau Kangean. Dua Kapal sekoci diturunkan, Tim Revaluasi dan Tim Pemeliharaan Mercusuar berangkat, Tim Revaluasi II berangkat ke Pulau Mamburit untuk menilai aset BMN milik Distrik Navigasi berupa mercusuar berikut tanah dan bangunan pelengkapnya. Tim Pemeliharaan menuju mercusuar yang berada ditengah laut untuk dilakukan pergantian Accu agar lampu dapat terus menyala dimalam hari. Setelah dari mercusuar Tim pemeliharan melanjutkan perjalanan ke Pulau Mamburit untuk melakukan pengecekan mercusuarnya.


Tim Revaluasi III tetap di KN Bima Sakti Utama menunggu teman-teman Tim II bekerja. Jarak dari KN Bima Sakti Utama menuju Pulau Mamburit sekitar 2 km. Setelah selesai melakukan revaluasi dan pemeliharaan di Pulau Mamburit Tim kembali ke KN Bima Sakti Utama. Tim Revaluasi II setelah makan siang, mengambil barang bawaan dan diantar ke Pulau Kangean menggunakan Kapal Sekoci, guna melakukan revaluasi BMN di Pulau Kangean. Pulau Kangean merupakan pulau yang padat penduduknya yang terbagi menjadi dua Kecamatan yaitu Kecamatan Arjasa dan Kecamatan Kangayan.


Pulau Mamburit


Pulau Mamburit merupakan pulau kecil dengan luas + 8 hektar, penduduk sebanyak 600 KK, sebagian besar sebagai nelayan. Laut di sekitar pulau bersih dan bening sehingga kita dapat melihat secara langsung dengan mata telanjang karang dan ikan-ikan yang berseliweran serta pasir yang putih menambah eksotisnya pulau ini. Namun lokasi yang cukup jauh dan faktor transportasi yang sulit mengakibatkan keindahan pulau mamburit belum dapat dikelola dengan maksimal.


Tim penilai langsung melakukan pendataan BMN yang ada di pulau ini berupa tanah dan bangunan mercusuar serta bangunan rumah dinas. Berdasarkan informasi dari petugas penjaga menara suar bahwa keberadaan rambu suar di Pulau Mamburit sangat vital bagi kapal – kapal yang berlayar di sekitar Kepulauan Kangean.


Setelah selesai melaksanakan pendataan objek penilaian, Tim Penilai bersama petugas dari Distrik Navigasi Surabaya berkesempatan untuk menikmati keindahan panorama laut sambil menikmati segarnya buah kelapa yang banyak terdapat di pulau ini.


Setelah kurang lebih 1,5 jam berada di Pulau Mamburit, Tim bersama rombongan kembali menuju Kapal Bima Sakti Utama untuk mengambil perlengkapan dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Kangean dengan sekoci yang sama.


Pulau Kangean


Kepulauan Kangean adalah deretan pulau-pulau yang terletak di sebelah timur pulau madura dan termasuk dalam wilayah administratif kabupaten sumenep. Untuk menuju ke Pulau Kangean hanya dapat ditempuh melalui jalur laut karena di Pulau Kangean belum terdapat fasilitas bandara. Jalur laut dapat ditempuh mulai dari Pelabuhan Perak di Surabaya maupun melalui Pelabuhan Kalianget di Sumenep. Namun untuk menuju ke beberapa pulau di sekitar Pulau Kangean tidak terdapat kapal penumpang secara reguler dan biasanya dijangkau dengan menyewa kapal milik nelayan sekitar dan tentunya tarifnya lumayan mahal.


Setibanya di Pelabuhan Batuguluk (Pulau Kangean), petugas Distrik Navigasi Surabaya kembali ke Kapal Bima Sakti Utama untuk melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lainnya bersama Tim Penilai yang lain.


Tim Penilai di Pulau Kangean dijemput oleh petugas dari Pengadilan Agama Kangean mengingat tidak adanya angkutan umum di wilayah daratan kangean. Pulau Kangean merupakan pulau terbesar dengan panjang dari barat ke timur kurang lebih 50km sedangkan luasnya 430km2.


Pulau Kangean dibagi dalam 2(dua) kecamatan yaitu Kecamatan Arjasa di bagian barat dan Kecamatan Kangayan di bagian timur. Terdapat beberapa satuan kerja di Pulau Kangean antara lain Pengadilan Agama Kangean, Cabang Rutan Sumenep di Arjasa, Polsek Arjasa, Polsek Kangayan, KUA Kangean, Kantor Koramil Kangean dan UPP Sapeken Wilayah Kerja Kangean.


Pelaksanaan revaluasi dimulai pada Satuan Kerja yang berada di Kecamatan Arjasa antara lain Pengadilan Agama Kangean, Cabang Rutan Sumenep di Arjasa, Polsek Arjasa dan Koramil Kangean. Selama pelaksanaan revaluasi dimaksud, Tim Penilai berkoordinasi dengan masing – masing satuan kerja mengingat keterbatasan transportasi dan fasilitas listrik yang hanya menyala selama 12 jam di malam hari saja. Namun demikian keterbatasan tersebut bukanlah penghalang namun menjadi tantangan untuk dapat menyelesaikan pelaksanaan revaluasi sesuai target yang telah ditetapkan. Setelah selesai melaksanakan survei BMN di wilayah Kecamatan Arjasa, tim penilai mempersiapkan diri untuk melaksanakan survei BMN di wilayah Kecamatan Kangayan.


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa satker bahwa untuk menuju ke Kecamatan Kangayan akan terkendala sarana transportasi dan kondisi jalanan yang rusak. Untuk itu tim penilai berkoordinasi dengan Polsek Arjasa meminta bantuan sarana transportasi yang dapat digunakan menuju kecamatan kangayan. Kapolsek Arjasa membantu menyediakan sarana kendaraan dan pendamping menuju kecamatan kangayan walaupun di saat yang bersamaan terdapat tugas-tugas yang harus diselesaikan. Hal ini dilakukan demi suksesnya pelaksanaan revaluasi BMN.


Perjalanan ke Kecamatan Kangayan di ujung timur Pulau Kangean yang berjarak 40km ditempuh selama 2jam dengan kondisi jalanan yang rusak/berlubang dan memasuki wilayah hutan jati sepanjang kurang lebih 30km. Sangat jarang kendaraan yang melintas selama perjalanan maupun rumah penduduk.


Memasuki kota Kecamatan Kangayan baru terasa adanya aktifitas warga yang berdasarkan informasi dari aparat setempat bahwa sebagian besar warganya bekerja di luar negeri sebagai TKI sebagaimana juga penduduk di wilayah Kecamatan Arjasa.


Tim Penilai disambut ramah oleh Kapolsek Kangayan dan mendampingi tim selama proses penilaian kembali BMN termasuk pelaksanaan revaluasi di satker lain yang berada di wilayah Kecamatan Kangayan.


Setelah seharian berada di Kecamatan Kangayan, Tim bersama pendamping dari Polsek Arjasa pamit untuk kembali ke Arjasa mengingat satu-satunya tempat menginap berada di Kecamatan Arjasa.


Kembali tim penilai menyusuri jalan yang sama pada saat keberangkatan, di beberapa bagian jalan kami masih dapat melihat hamparan pemandangan laut yang cukup indah dengan nyiur yang melambai-lambai.


Setelah selesai melakukan revaluasi BMN dan menikmati perjalanan menyusuri kepulauan kangean, akhirnya tim penilai kembali ke Pamekasan dengan menggunakan Kapal Bahari Express dengan rute Pelabuhan Batuguluk menuju Pelabuhan Kalianget di Sumenep.


Pulau Sapeken dan Soibus


Setelah mengantar Tim Revaluasi II ke Pulau Kangean, KN Bima Sakti Utama melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sapeken dan Pulau Soibus. Perjalanan dimulai pukul 13.00 WIB dan sampai ditengah-tengah antara Pulau Sapeken dan Pulau Soibus pukul 18.00 WIB perjalanan ditempuh sekitar 6 jam. Dikarenakan tiba di sekitar pulau Sapeken dan Pulau Soibus sudah larut malam maka Tim Revaluasi dan Tim Pemeliharaan memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di KN Bima Sakti Utama dengan posisi ditengah laut, baru keesokan harinya melakukan pekerjaannya.


Setelah Tim Revaluasi III dan Tim Pemeliharaan sarapan, maka dilanjutkan dengan menurunkan dua kapal sekoci, satu untuk menuju ke Pulau Soibus dan satunya pemeliharaan mercusuar. Kapal sekocil menuju ke Pulau Soibus berisi 7 orang, awal perjalanan ombak cukup besar karena berada/posisi di laut dalam, setelah mendekati daratan ombak terasa kecil dan seluruh penumpang turun ke air dipinggir pantai (yang dilengkapi dengan sepatu boot) dikarenakan masih banyaknya batu karang dan kapal sekoci tidak dapat berlabuh didermaga.


Perjalanan menuju mercusuar Pulau Soibus dari tempat mendarat sekitar 150 m dengan jalan kaki. Pulau soibus merupakan pulau yang berpenduduk dan masuk dalam wilayah administratif Desa Saur Soibus, Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Dipulau Soibus terdapat aset BMN berupa bangunan menara mercusuar, bangunan rumah dinas dan dermaga (jetty). Di Menara Pulau Soibus juga ada dermaga untuk berlabuh serta untuk pengamanan bangunan menara Mercusuar Pulau Soibus ditunjuk seorang penjaga. Disamping bangunan menara suar yang masih baik, ada juga menara suar yang lama dengan kondisi memprihatinkan dan sudah tidak dipakai serta sudah ditumbuhi rerumputan. Bangunan menara yang terbuat dari besi terlihat sudah termakan usia karena korosi oleh angin laut dan kropos-kropos. Bangunan sebaiknya segera dihapuskan dan dibongkar agar nantinya tidak roboh dan menimpa warga.


Pengambilan data BMN di Pulau Soibus setelah di rasa cukup Tim Revaluasi bersiap untuk kembali ke KN Bima Sakti Utama, untuk melanjutkan perjalanan kembali. Setelah melalui ombak yang cukup besar kapal sekoci akhirnya sampai juga di KN Bima Sakti Utama.


Pulau Sapeken


Kapal sekoci milik KN Bima Sakti Utama ternyata tidak berani mengantar Tim Revaluasi ke Pulau Sapeken, dikarenakan jarak tempuh dari KN Bima Sakti Utama cukup jauh sekitar 4 km dan juga tingginya gelombang yang harus dilewati. Tim Distrik Navigasi terus berkomunikasi dengan UPP Sapeken, untuk minta bantuan agar dapat menjemput Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan di KN Bima Sakti Utama. Petugas UPP Sapeken berhasil dihubungi dan akan menjemput Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan. Selanjutnya Tim Penjemput dari UPP Sapeken datang dengan menggunakan kapal sekoci (berbahan karet dengan mesin motor) dengan ukuran yang lebih kecil dari kapal sekoci milik KN Bima Sakti Utama.Perjalanan ke Pulau Sapeken ditempuh dengan posisi ombak besar dan penuh kengerian berlayar menggunakan kapal sekoci yang kecil harus berlayar melawan ombak yang cukup besar untuk menuju pulau sapeken, setelah terombang-ambing sekitar 30 menit, akhirnya sampai juga di dermaga Pulau Sapeken.


Pulau Sapeken merupakan satu pulau yang besarnya hanya satu desa, dan masuk wilayah administratif desa Sapeken, Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Pulau Sapeken merupakan pulau yang terpadat dibandingkan dengan pulau-pulau lain disekitarnya. Pulau Sapeken merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan wilayah kecamatan Sapeken, dimana penduduk sekitar pulau berjualan dan bertransaksi mencari kebutuhan hidup sehari-hari dipulaui ini. Sejak pukul 09.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB ramai pedagang dan pembeli yang bertransaksi.Dengan tingkat keramaian dan kepadatan yang cukup tinggi serta jalan yang sempit membuat transportasi dipulau ini tidak dilalui/tidak ada kendaraan roda empat. Angkutan umum yang ada di pulau hanya roda 3 dan sepeda motor.


Di Pulau Sapeken Tim Revaluasi III mengambil data untuk penilaian BMN, berupa tanah dan bangunan UPP Sapeken yang berada di Dusun Bukut Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, tanah dan bangunan Terminal UPP Sapeken yang berada di Dusun Ra’as Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Tanah dan Bangunan Polsek Sapeken yang terletak di Dusun Bukut Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, tanah dan bangunan Polsek Sapeken yang berada di Dusun Karangkongo, Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, tanah dan Bangunan Koramil yang berada di Dusun Bukut Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep dan tanah serta bangunan Kantor Urusan Agama (KUA) Sapeken yang berada di Dusun Kota Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep.


Tim Revaluasi setelah memperoleh/mendapatkan data yang diperlukan dan sambil menunggu jemputan KN Bima Sakti Utama, beristirahat di Kantor UPP Sapeken. Dipulau Sapeken tidak ada Hotel atau penginapansehingga Tim Revaluasi harus menginap di UPP Sapeken kebetulan ada satu kamar yg kososng dan penghuninya sedang pulang kampung.


Kedatangan KN Bima Sakti Utama baru keesokan malam datang menjemput, sekitar pukul 19.00 WIB, berlabuh ditengah laut dekat dengan Pulau Sapeken. Tim UUP Sapeken bersiap-siap untuk mengantar Tim Revaluasi III menuju ke KN Bima Sakti Utama ditengah laut. Dalam kegelapan kapal sekoci milik UPP Sapeken melaju melawan ombak menembus kegelapan, hanya diterangi senter kecil yang cahayanya tidak begitu terang. Akhirnya kapal sekoci UPP Sapeken dapat merapat di KN Bima Sakti Utama.


Pulau Sepanjang dan Pulau Sekala


Tim Revaluasi III dibagi menjadi dua Tim. Hal ini untuk mempercepat proses revaluasi di wilayah kepulauan. Tim pertama dengan dua personel Yulianto dan Tridasa Novany Wijaya serta Tim Kedua dengan personil Hanif Azhar). Setelah melakukan kegiatan di pulau Soibus Tim Kesatu langsung melanjutkan perjalanan menuju pulau Sapeken.


Hanif Ashar dan Tim Pendamping dari Disnav Kelas I Surabaya melanjutkan perjalanan menuju pulau Sepanjang. Perjalanan ke Pulau Sepanjang ditempuh dalam waktu 4 jam.Tepat pukul 16.25 kapal KN Bima Sakti Utama berlabuh di tengah laut Kepulauan Sepanjang dan dilanjutkan dengan menurunkan dua sekoci untuk kegiatan Tim Disnav dengan pemeliharaan mercusuar dan sekoci dua melakukan kegiatan revaluasi BMN di kepulauan Sepanjang.


Awal perjalanan menuju pulau Sepanjang, muncul perasaan kawatir dan takut melihat kencangnya angin serta tingginya gelombang. Pertama turun ke sekoci langsung disambut / dihantam gelombang yang tinggi sampai basah kuyup.


Perjalanan dari KN Bima Sakti Utama menuju Pulau Sepanjang berjarak 3 km,dengan sekoci biasanya dapat ditempuh dalam waktu 20 menit, namun saat itu perjalanan ditempuh dalam waktu 35 menit. Hal ini dikarenakan angin kencang dan gelombang yang besar sehingga harus berhati-hati dalam memilih arah yang tepat untuk menuju Pulau Sepanjang.


Setelah mendekati Pulau Sepanjang, sebelum mendarat seluruh petugas Distrik Navigasi Surabaya turun ke laut dangkal guna memegang sekoci untuk mendapatkan posisi yang tepat dalam memasang jangkar. Perjalanan dari sekoci menuju Pulau Sepanjang berjarak 150 meter ditempuh dengan berjalan kaki didalam air laut dengan memakai sepatu boot untuk menghindari batu karang.


Pulau Sepanjang merupakan pulau yang berpenduduk dan masuk dalam wilayah administratif Desa Tanjung Kiok Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Dipulau ini terdapat aset BMN berupa bangunan menara suar, bangunan gedung kantor permanen, bangunan rumah dinas, bangunan tempat kerja lainnya dan bangunan penampungan air baku.


Selesai pengambilan data revaluasi BMN di Pulau Sepanjang (termasuk data pembanding tanah), Tim Revaluasi bersiap kembali ke KN Bima Sakti Utama. Setelah melalui terjangan gelombang yang cukup besar dan menembus gelapnya malam, akhirnya sekitar pukul 18.15 WIB sampai juga di KN Bima Sakti Utama.


KN Bima Sakti Utama melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Sekala, diperkirakan perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 8 jam. Sepanjang perjalanan ditengah keheningan malam terdengar suara ombak/gelombang dan hempasan angin kencang membuat perjalanan semakin menakutkan dan menantang, ditambah sinyal handphone dan internet sama sekali tidak ada.


Sepanjang perjalanan sebagian Anak Buah Kapal (ABK) melakukan kegiatan memancing dan karaoke bersama untuk mengusir kesunyian dan keheningan malam. Dua jam menjelang sampai di Pulau Sekala, sekitar pukul 02.00 WIB malam terjadi hal yang tidak diinginkan yaitu mesin kapal mati. Hal ini berdampak semua peralatan listrik dan AC (air Conditioner) dikapal mati. Semua awak KN Bima Sakti Utama bersyukur kepada Tuhan YME karena posisi gelombang berangsung-angsur kecil sementara posisi kapal berada di tengah laut dalam.


Dibutuhkan waktu sekitar 4 jam lebih untuk maintenance mesin kapal yang mati dan seluruh awak masih tetap bersyukur dikarenakan ombak / gelombang bersahabat/tidak terlalu besar.


Nahkoda kapal Kosyim Musfiyonomengatakan: “ Seandainya terjadi ombak besar pada saat mesin mati bisa berakibat kapal terbalik dikarenakan posisi kapal berada di perairan laut dalam seperti yang terjadi di Tanjung Priok beberapa bulan kemarin”.


Mesin KN Bima Sakti Utama setelah selesai diperbaiki, perjalanan ke Pulau Sekala dilanjutkan. Esok harinya sekitar pukul 09.00 WIB KN Bima Sakti Utama sampai disekitar Pulau Sekala. Sekoci segera diturunkan untuk melaksanakan kegiatan di pulau Sekala. Jarak pulau Sekala dengan KN Bima Sakti Utama sekitar 1,5 km dan ditempuh dalam waktu 20 menit.


Setelah sekoci berlabuh seperti kegiatan sebelumnya seluruh petugas dan tim Disnav turun berjalan kaki di perairan sejauh 100 meter untuk menuju pinggir pantai. Sesampainya di daratan masih harus melakukan perjalanan darat sekitar 12 km untuk menuju ke Menara Suar Listrik Diesel. Perjalanan darat kali ini menggunakan roda tiga (Viar) milik Disnav yang ditumpangi sekitar 7 orang dengan melalui jalan desa (makadam).


Di Pulau Sekala terdapat aset BMN milik Disnav berupa bangunan menara suar listrik diesel, bangunan rumah dinas dan bangunan tempat kerja lainnya.Pulau ini banyak dihuni masyarakat suku Bugis dan suku Bajo dengan budaya dan bahasa masing-masing suku serta rumah panggungnya.Meskipun pulau ini masuk wilayah kepulauan Sumenep (Madura) namun sepanjang perjalanan tidak ditemukan suku madura yang bermukim disana hal ini dikarenakan letak geografis pulau yang lebih dekat ke Sulawesi dari pada ke Sumenep.


Setelah pengambilan data BMN di Pulau Sekala (termasuk data pembanding tanah) selesai.Tim Disnav melanjutkan perjalanan ke KN Bima Sakti Utama, untuk melanjutkan perjalanan kembali. Setelah melalui ombak yang cukup besar kapal sekoci akhirnya sampai juga di KN Bima Sakti Utama sekitar pukul 12.15.


Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sapeken untuk menjemput Tim Pertama ( Yulianto dan Tridasa Novany Wijaya)diperkirakan memakan waktu sekitar 6 jam.


Pukul 18.40 KN Bima Sakti Utama tiba di Perairan Kepulauan Sapeken dan dilakukan komunikasi dengan Petugas UPP Sapeken, Tim Pertama diantar Petugas UPP Sapeken menggunakan sekoci merapat di KN Bima Sakti Utama.


Perjalanan dilanjutkan untuk menuju Pulau Kemudi guna melakukan revaluasi BMN berupa mercusuar dan bangunan rumah dinas.Perjalanan dari pulau Sapeken ke Pulau Kemudi Desa Goa-goa Kec. Raás Kabupaten Sapeken memerlukan waktu sekitar 11 jam. KN Bima Sakti Utama sampai disekitar Pulau Kemudi Jam 09.00 WIB keesokan harinya. Pulau Kemudi merupakan pulau yang tidak berpenduduk hanya ditempati petugas jaga Mercusuar. Selesai dari Pulau Kemudi KN Bima Sakti Utama melanjutkan perjalanan menuju ke daratan Sumenep ( di Pelabuhan Tanjung Sumenep).


Tim revaluasi BMN mengalami kesulitan dalam melakukan revaluasi BMN di Pulau Kemudi, dikarenakan pulau kemudi tidak berpenghuni sehingga sulit untuk mencari data pembanding untuk tanah. Di Pulau Kemudi tidak ada transaksi jual beli atau tanah yang ditawarkan. Tim revaluasi terpaksa harus pergi ke pulau sebelah yaitu Pulau Goa-Goa, untuk mencari obyek tanah yang ditawarkan atau yang telah transaksi jual beli.


Tepat pukul 18.00 WIB KN Bima Sakti Utama sampai disekitar Pelabuhan Tanjung Sumenep,Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan dan Tim Disnav Surabaya diantar ke pelabuhan Tanjung menggunakan sekoci. Selanjutnya Tim Disnav Kelas I Surabaya dan Tim Revaluasi BMN KPKNL Pamekasan melanjutkan perjalanan melalu darat menuju ke tempat asalnya masing-masing.



Pulau Raas


Pulau Raas merupakan nama sebuah pulau terpencil yang harus didatangi Tim Revaluasi Barang Milik Negara.Letaknya ada di di antara gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Madura. Secara administratif pulau ini bersama 13 pulau kecil lainnya merupakan bagian dari Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur.



Tim Pertama Revaluasi BMN yang terdiri dari Widhi Prasetyo, Handex Kuswoyo dan Dian Novianto Prihantono menuju Pulau Raas. Untuk mencapai pulau ini, dibutuhkan kesabaran ekstra sebelum tiba ke tujuan. Tim Revaluasi harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 2 jam dari Pamekasan menuju Pelabuhan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Selanjutnyadari pelabuhan yang berada di ujung tenggara Pulau Madura ini, Tim menempuh perjalanan laut dengan kapal perintis selama kurang lebih 5 jam perjalanan laut.



Menuju Pulau Raas sebetulnya ada pilihan lain setelah sampai di Sumenep, yaitu dengan berlayar menggunakan perahu kayu nelayan dari Pelabuhan Dungkek di ujung timur laut Pulau Madura dengan waktu tempuh lebih pendek sekitar 4 jam dengan jadwal keberangkatan setiap hari. Namun dengan pertimbangan keselamatan, Tim tidak mengambil pilihan ini.



Sesampainya di Pulau Raas Tim Revaluasi dijemput oleh petugas Polsek Raas menggunakan kendaraan dinas Mitsubishi Triton Doble Cabin tahun 2014 dikarenakan jalan jalan disana yang rusak dan masih banyak jalan macadam belum diaspal.


Di Pulau Raas segalanya serba terbatas.Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan terpaksa harus menginap di Kantor Urusan Agama Raas karena memang tidak ada/tersedia penginapan ataupun hotel. Ditambah lagi listrik menjadi suatu barang yang langka di pulau ini. Listrik dari Perusahaan Listrik Negara belum ada. Masyarakat di Raas mengandalkan alat tenaga surya dan mesin diesel milik pribadi. PDAM juga masih belum ada jadi kita mandi dan melakukan aktifitas MCK dengan air payau karena semua air tanah disana rasanya payau. Alangkah bersukurnya kita tinggal di Pulau Jawa yang makmur.


Setelah beristirahat di Kantor KUA Raas keesokan harinya, Tim Revaluasi melanjutkan perjalanan kembali kepelabuhan rakyat ketupat selanjutnya menuju pulau Sapudi. Dari pelabuhan ketupat tim revaluasi naik kapal kayu yang hanya dapat dinaiki maksimal 20 orang.Goyangan ombak yang besar membuat kami semua pusing dan mabuk laut dibuatnya. Setelah terombang ambing selama satu jam, akhirnya sampai juga di Pelabuhan Gayam. Perahu tidak bisa langsung sandar ke Dermaga karena air surut, untuk bisa ke pinggir pantai harus naik perahu kecil. Sampai di pinggir pantai, Tim Revaluasi dijemput oleh petugas Polsek Gayam menggunakan mobil Daihatsu Luxio tahun 2015.


Pulau Sapudi adalah Pulau terluas kedua setelah kangean, terdiri dari dua kecamatan yaitu kecamatan Gayam dan Kecamatan Nonggunong. Dari pulau Sapudi inilah asal mula munculnya kebudayaan Karapan Sapi. Hal ini menjadi salah satu factor daya tarik untuk dijadikan pulau wisata berbasis sejarah dengan menonjolkan pelestarian kebudayaan kerapan sapi sekaligus pembudidayaan sapi karapan yang asli.


Revaluasi BMN di Polsek Gayam dan KUA Gayam selesai malam hari, dan matahari sudah terbenam. Tim Revaluasi kebingungan harus bermalam dimana ? Sama seperti Pulau Raas di Pulau Sapudi juga tidak ada penginapan dan hotel. Akhirnya Tim Revaluasi memutuskan untuk bermalam di Kantor Urusan Agama Gayam. Berbeda dengan Pulau Raas, disini Listrik dan PDAM sudah melayani masyarakat selama 24 jam, jadi kita bisa mengisi baterai laptop dan ponsel sesuka kita, dan mandi memakai air tawar sesering yang kita inginkan.


Kepala KUA Gayam sangat ramah dan menghormati tamu. Tim Revaluasi dijamu dengan makan makanan khas kepulauan yaitu ikan bakar dan dipersilahkan tidur di kamar khusus untuk tamu. Kami berbincang bincang dengan Kepala KUA sampai larut malam mengenai pengembangan desa dan kondisi Kecamatan Gayam.


Keesokan harinya Tim melanjutkan perjalanan ke Polsek Nonggunong dan diantar petugas Polsek Gayam. Kecamatan Nonggunong ternyata tidak semaju Kecamatan Gayam, kotanya masih terasa sepi dan jalanjalan banyak yang belum diaspal. Selesai dari Polsek Nonggunong dan KUA Nonggunong Tim Revaluasi melanjutkan revaluasi di Disnav Nonggunong. BMN yang direvaluasi berupa mercusuar dan bangunan warisan belanda, kondisinya masih berdiri kokoh. Jadwal penyebrangan dengan kapal menuju Pelabuhan Kalianget pukul 22.00 WIB, disela-sela menunggu waktu keberangkatan dimanfaatkan Tim Revaluasi untuk melihat-lihat keindahan alam di Nonggunong.


Pulau Giligenting


Pulau terakhir yang harus dikunjungi Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan adalah Pulau Giligenting.


Berangkat dari Sumenep Tim melalui jalan darat menuju Pelabuhan Saronggi sekitar 45 menit, Terlebih dahulu menitipkan kendaraan roda empat di Pelabuhan Saronggi karena tidak bisa diangkut dengan kapal kayu.


Perjalanan menyeberang ke pulau Giligenting kuranglebih 30 menit, perjalanan kali ini berjalan dengan lancar, ombak yang kecil, cuaca yang tidak panas menambah keindahan perjalanan. Sesampainya di Pelabuhan Giligenting kami dijemput anggota Polsek Giligenting menggunakan Mitsubishi Triton Tahun 2014 menujuke Polsek Giligenting dan KUA Giligenting. Pulau Giligenting sudah mendapatkan layanan listrik dan PDAM selama 24 jam, jadi kami tidak khawatir dengan mandi dan ponsel yang low batt. Di pulau ini banyak terdapat objek wisata yang indah salah satunya Pantai Sembilan yang tempatnya berdekatan dengan pelabuhan tempat pertama kita dating tadi.


Selesai melaksanakan revaluasi Tim masih menyempatkan untuk mengunjungi objek wisata Pantai Sembilan. Pantai yang indah dengan pasir putihnya serta fasilitas gazebo yang terbuat dari ilalang menambah kenyamanan hati. Setelah puas menikmati keindahan pantai dan ber selfie ria, Tim Revaluasi harus kembali ke pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Pamekasan.


Perjalanan yang cukup melelahkan merupakan pengalaman paling berharga Tim Revaluasi KPKNL Pamekasan. Disamping tantangan alam yang harus dihadapi masih ada kendala teknis yang harus diselesaikan dalam revaluasi BMN. Kendala yang ada seperti Petugas pendamping dari satker kurang memahami pentingnya data yang disampaikan kepada Tim Revaluasi sehingga Tim Revaluasi harus berkoordnasi untuk melakukan pengukuran langsung terhadap objek BMN seperti bangunan dan dermaga. Kendala Kedua petugas pemegang SIMAK pada satker merupakan petugas baru dan tidak memahami secara baik terhadap aplikasi, sehingga tidak dapat memberikan penjelasan yang memadai saat dimintai informasi/data revaluasi.



+++++++++$$$$$$$$+++++++++


Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Foto Terkait Artikel