Optimalisasi Lelang Barang Milik Negara melalui SOP Integratif (Studi Kasus KPKNL Jakarta II)*
Ali Ridho
Selasa, 24 April 2018 pukul 09:03:46 |
7311 kali
OPTIMALSISASI LELANG BMN MELALUI SOP
INTEGRATIF
(STUDI KASUS KPKNL JAKARTA II) *)
A. Latar Belakang
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN) mempunyai tugas dan fungsi (tusi) sangat beragam, diantaranya
pengelolaan kekayaan Negara, pelayanan penilaian, pengurusan piutang Negara dan
pelayanan lelang. Beragamnya tugas dan fungsi tersebut meniscayakan proses
bisnis yang berbeda-beda yang berimbas pada adanya segregasi (pemisahan)
pelayanan. Struktur organisasi di Kantor Pusat DJKN mencerminkan segregasi
tersebut.
Pelayanan tusi di Kantor Pusat DJKN,
walaupun rumit dari sudut pandang eksternal, sejauh ini tetap masih bisa
berlangsung relatif baik mengingat setiap Direktorat mempunyai kewenangan untuk
bertindak keluar. Hal ini tercermin dari ketentuan tata naskah dinas
Kementerian Keuangan cq DJKN yang memberi
kewenangan kepada masing-masing
Direktur (dan Sekretaris) untuk memproduksi surat keluar sesuai tusi
masing-masing. Tidak demikian halnya dengan di unit operasional.
Jenis pelayanan di KPKNL juga beragam, yaitu pelayanan penilaian,
pelayanan pengelolaan kekayaan Negara, pelayanan pengurusan piutang Negara dan
pelayanan lelang, disamping pelayanan melalui unit pendukung seperti subbagian
umum, hukum dan informasi, serta kepatuhan internal. Dalam kasus KPKNL, tusi
yang berkaitan langsung dengan pihak eksternal ada 4 (empat), yaitu:
- Pelayanan
Penilaian;
- Pelayanan
Pengelolaan Kekayaan Negara;
- Pelayanan
Lelang, dan
- Pelayanan
Pengurusan Piutang Negara.
Dari
keempat pelayanan tersebut semuanya mempunyai rezim hukum yang berbeda sehingga
seolah ada “partisi organisasi” yang pada akhirnya mengakibatkan segregasi
pelayanan. Dari empat pelayanan, ada tiga pelayanan, yaitu pelayanan penilaian,
pengelolaan kekayaan Negara dan lelang yang dalam praktek mempunyai singgungan
yang sangat kuat, bahkan terkadang proses pelayanannya berkesinambungan.
Dalam kasus KPKNL, permasalahan menjadi lebih rumit karena hanya Kepala KPKNL
yang berwenang membuat surat keluar sebagai representasi tusi dan kebijakan
dari Kantor Pusat DJKN. Pihak eksternal tentu tidak mau tahu jika dalam tubuh
KPKNL ada segregasi pelayanan akibat adanya partisi organisasi.
Partisi organisasi ini terlihat
jelas saat ada Kementerian/Lembaga, selanjutnya disingkat K/L, yang mengajukan
permohonan persetujuan Penjualan BMN yang akan ditindaklanjuti dengan penjualan lelang kepada KPKNL. K/L dalam hal ini harus melalui tiga
partisi organisasi, yaitu:
- Permohonan
penilaian BMN yang akan dipindahtangankan;
- Permohonan
persetujuan penjualan BMN; dan
- Permohonan
penetapan jadwal lelang.
Walaupun
regulasi telah memberi kemudahan, misalnya penilaian BMN bisa dimohonkan oleh
Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara kepada Seksi Pelayanan Penilaian KPKNL, namun
dalam berbagai kasus partisi organisasi tersebut sangat terasa. Muncul kesan
dari K/L bahwa pelayanan di KPKNL tidak terpadu, kalah dengan mekanisme di
SAMSAT yang mengenal pelayanan satu pintu untuk berbagai tusi. Dengan kata lain
pelayanan penjualan lelang BMN di KPKNL sebagai salah satu bentuk pelayanan
publik belum sepenuhnya berorientasi kepada pelanggan. Apalagi dalam praktek
sering dijumpai BMN yang diajukan penjualan lelang nilainya relatif kecil
sehingga tidak sebanding dengan biaya pengurusan yang harus dikeluarkan K/L. Data
lelang nasional tahun 2017 menunjukkan performa lelang BMN yang kurang optimal,
baik dilihat dari pokok lelang maupun frekuensi lelang. Pokok lelang BMN tahun
2017 sebesar Rp245.6 Miliar yang hanya merupakan 1,5%
dari pokok lelang keseluruhan sebesar Rp.16.4 Triliun.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana mengoptimalisasi pelayanan lelang
BMN oleh KPKNL.
C. Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk
mengoptimalisasi lelang BMN melalui upaya penyusunan standart operating prosedur (SOP) yang lebih berorientasi kepada
pelanggan dengan cara memadukan beberapa SOP yang selama ini masih terpisah-pisah,
yang selanjutnya kami sebut sebagai SOP Integratif. Manfaat dari penelitian ini bagi organisasi adalah
pertama memberikan kerangka berpikir yang komprehensif bagi upaya
perbaikan/penyempurnaan SOP di bidang
pengelolaan kekayaan Negara, penilaian dan lelang. Kedua memperbaiki reputasi
organisasi KPKNL dalam memberikan pelayanan kepada K/L terkait pelayanan
penjualan BMN melalui lelang.
D. Batasan Masalah dan Lokasi
Penelitian
Penulisan ini diberikan pembatasan
masalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan
lelang BMN yang diteliti hanya jika surat persetujuan penjualan BMN tersebut merupakan kewenangan dari
KPKNL;
2. Prosedur
dan norma waktu Pelayanan penilaian tidak diteliti karena sudah termasuk dalam
paket pengajuan permohonan persetujuan penjualan BMN;
3. BMN
berupa selain tanah dan bangunan.
Lokasi penelitian di KPKNL Jakarta
II yang dilakukan pada tanggal 11 April
2018. Sample penelitian sebanyak 26
minuta Risalah Lelang yang dibuat oleh
Pejabat Lelang KPKNL Jakarta II periode tahun 2017, dari total 99 minuta
risalah lelang BMN yang merupakan kewenangan KPKNL Jakarta II (atas nama
Menteri Keuangan) dalam memberikan persetujuan penjualan BMN. Selain meneliti minuta Risalah Lelang, penelitian ini juga meneliti berkas
permohonan persetujuan penjualan di seksi Pengelolaan Kekayaan Negara. Untuk
memperkuat argumen dilengkapi dengan wawancara.
E. Landasan Teori dan Tinjauan Pustaka
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, yang dimaksud lelang
adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara
tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai
harga tertinggi, yang didahului dengan Pengumuman Lelang. Objek yang dijual
dalam lelang meliputi setiap benda atau hak yang dapat dijual secara lelang.
Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014 tentang
Pengelolaan BMN/D, mendefiniskan Barang Milik Negara (BMN) adalah semua
barangyang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan
lain yang sah. Perolehan lain yang sah meliputi hibah/sumbangan, pelaksanaan
perjanjian/kontrak, berdasarkan peraturan perundang-undangan dan berdasarkan
putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 4/PMK.06/2015 tentang Pendelegasian Kewenangan dan Tanggung Jawab
Tertentu dari Pengelola Barang Kepada Pengguna Barang, menetapkan bahwa Pengguna
Barang berwenang memberi persetujuan pemindahtanganan BMN berupa penjualan
terhadap: pertama, BMN selain tanah/bangunan yang tidak mempunyai dokumen
kepemilikan dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah), kedua bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi dan
restorasi).
Untuk dapat dilaksanakan lelang, K/L harus mengajukan
surat permohonan lelang dengan dilampiri surat dokumen persyaratan lelang.
Berdasarkan Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan Dirjen Kekayaan Negara Nomor
2/KN/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang, dokumen persyaratan
lelang meliputi syarat umum dan syarat khusus. Namun dari keseluruhan syarat
yang wajib dilengkapi, ada satu syarat yang menentukan legalitas objek lelang
BMN, yaitu surat persetujuan penjualan BMN dari Pengelola/Pengguna BMN.
Pelayanan publik
merupakan pemberian pelayanan oleh aparatur pemerintah melalui para pegawainya.
Menurut Savas (1987), pada sektor publik pelayanan pemerintah merupakan the delivery of a services by a government agency using its own
employees. Usaha peningkatan kualitas pelayanan sangat penting karena
negara dan sistem pemerintahan merupakan tumpuan pelayanan bagi warga negara
dalam memperoleh jaminan atas hak-haknya. Organisasi pelayan publik juga harus
memiliki ciri public accountability,
yaitu bahwa setiap warga negara berhak untuk mengevaluasi kualitas pelayanan
yang mereka terima. Karena memang sulit untuk menilai kualitas pelayanan tanpa
mempertimbangkan peran masyarakat sebagai penerima pelayanan. Sehingga evaluasi
yang berasal dari pengguna pelayanan merupakan elemen utama dalam analisis
kualitas pelayanan publik. Sedangkan elemen yang kedua adalah kemudahan suatu
pelayanan yang dapat diidentifikasi sebelum proses pelayanan tersebut atau
setelah pelayanan diberikan.
Hakekat pelayanan publik bukan merupakan persoalan
administratif saja, seperti pemberian ijin dan pengesahannya, atau pemenuhan
kebutuhan fisik, namun mencakup persoalan yang lebih mendasar, yaitu pemenuhan
keinginan pelanggan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam setiap
organisasi, pemenuhan dan pemberian pelayanan kepada pelanggan merupakan suatu
tuntutan. Kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan sangat diutamakan karena kedua hal tersebut sangat
berpengaruh terhadap keberlangsungan dan perkembangan misi organisasi.
Walaupun kepuasan pelanggan memiliki sifat yang sangat
relatif, namun ditambahkan oleh Batinggi (1999) bahwa ada ada semacam ukuran
yang umum, yaitu apabila pelanggan dapat menerima perlakuan dan hasil berupa hak
dengan kegembiraan dan keikhlasan maka hal tersebut menunjukkan bahwa pelanggan
telah mendapatkan kepuasan pelayanan.
Untuk mengetahui apakah pelayanan publik sudah
dilakukan dengan baik maka perlu dilihat apakah pelayanan tersebut sudah
dilakukan sesuai SOP yang ditetapkan. SOP merupakan dokumen yang berkaitan
dengan prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan yang bertujuan untuk memperoleh hasil yang kerja yang paling efektif
dari para pekerja dengan biaya serendah-rendahnya. Berdasarkan Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/21/M-PAN/11/2008, SOP
bermanfaat untuk:
1. sebagai
standarisasi cara yang dilakukan pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan khusus,
mengurangi kesalahan dan kelalaian;
2. membantu
staf lebih mandiri dan tidak tergantung pada intervensi manajemen, sehingga
akan mengurangi keterlibatan pimpinan dalam pelaksanaan proses sehari-hari;
3. meningkatkan
akuntabilitas dengan mendokumentasikan tanggungjawab;
4. menciptakan
ukuran standar kinerja yang akan memberikan pegawai cara konkret untuk
memperbaiki kinerja;
5. menciptakan
bahan-bahan training yang dapat membantu pegawai baru untuk cepat melakukan
tugasnya;
6. menunjukkan
bahwa organisasi efisien dan dikelola dengan baik;
7. menghitung
tumpang tindih pelaksanaan tugas pelayanan;
8. membantu
penelusuran terhadap kesalahan-kesalahan prosedural.
F. Gambaran Objek Penelitian
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan Negara
Nomor 379/KN/2017 tentang Perubahan atas Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan
Negara Nomor 145/KN/2013
tentang Standar Prosedur Operasi KPKNL, telah ditetapkan beberapa SOP,
diantaranya yang terkait dengan tulisan ini adalah:
a. Pelaksanaan Penjualan Barang Milik
Negara Berupa Selain Tanah dan/atau Bangunan Pada Pengguna Barang (Tingkat KPKNL).
b. Verifikasi Permohonan Penilaian
BMN untuk Permohonan Penilaian dari Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara; dan
c. Penetapan Jadwal Lelang
Pelaksanaan
ketiga SOP tersebut secara umum telah dilaksanakan dengan baik oleh KPKNL
Jakarta II. Salah satu indikatornya adalah peningkatan capaian kinerja lelang
KPKNL Jakarta II tahun 2016-2017 sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1
Capaian
Kinerja Lelang BMN pada KPKNL Jakarta II Tahun 2016-2017
|
Uraian |
Tahun 2016 |
Tahun 2017 |
|
Pokok Lelang |
58.862.928.020 |
59.826.078.319 |
|
Bea Lelang |
1.236.960.225 |
1.156.661.534 |
|
Frekuensi |
251 |
310 |
Sumber: Dropbox Direktorat Lelang 2017
Jika dibandingkan dengan capaian
lelang BMN secara Nasional, kinerja KPKNL Jakarta II cukup baik. Adapun capaian kinerja lelang BMN secara nasional untuk tahun 2016-207 sebagaimana
ditampilkan dalam Tabel 2 berikut ini:
Tabel 2
Capaian
Kinerja Lelang BMN Nasional Tahun 2016-2017
|
Uraian |
Tahun 2016 |
Tahun 2017 |
|
Pokok Lelang |
283.508.821.104 |
245.627.147.145 |
|
Bea Lelang |
5.661.015.512 |
5.226.830.635 |
|
Frekuensi |
3.226 |
4.022 |
Sumber: Dropbox Direktorat Lelang 2017
Dari data lelang BMN nasional
diperoleh kesimpulan awal bahwa pada tahun 2017 terdapat permohonan lelang sebanyak 4.022 kali. Kita asumsikan bahwa permohonan tersebut
dilakukan oleh masing-masing Satuan Kerja K/L. Dengan jumlah Satker aktif di
seluruh K/L tahun 2017 sebanyak 18.909 maka pemohon lelang BMN hanya 21 persen
saja. Tentu hal ini patut mendapat perhatian.
Dalam
penulisan ini telah dilakukan penelitian terhadap 26 (dua puluh enam) minuta
Risalah Lelang BMN tahun 2017 yang
dibuat oleh Pejabat lelang KPKNL Jakarta II. Jumlah minuta tersebut merupakan
26 persen dari total populasi objek penelitian sebanyak 99 (sembilan puluh
sembilan). Sesuai pembatasan masalah, hanya pelaksanaan lelang yang surat persetujuan penjualan BMN merupakan kewenangan KPKNL Jakarta II yang dilakukan penelitian. Penelitian minuta Risalah Lelang ini
bertujuan untuk mendapatkan gambaran norma waktu pelaksanaan SOP. Hasil
penelitian sebagaimana Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3
Pengukuran Jangka Waktu Pelaksanaan SOP Terkait Penjualan BMN Melalui
Lelang
|
No |
No RL |
Tanggal Surat
Diterima |
Tanggal Persetujuan
Penjualan KPKNL |
tanggal surat
permohonan lelang |
tanggal surat
penetapan lelang |
Jangka Waktu Surat Permohonan Penjualan Diterima s/d Surat Penetapan Lelang |
Jangka Waktu
Persetujuan Penjualan s/d Surat Permohonan lelang |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
|
1 |
025/2017 |
17/11/2016 |
18/11/2016 |
29/12/2016 |
30/12/2016 |
43 |
41 |
|
2 |
029/2017 |
04/08/2016 |
20/12/2016 |
11/01/2017 |
16/01/2017 |
165 |
22 |
|
3 |
034/2017 |
21/10/2016 |
28/12/2016 |
11/01/2017 |
17/01/2017 |
88 |
14 |
|
4 |
011/2017 |
06/09/2016 |
01/12/2016 |
19/12/2016 |
30/12/2016 |
115 |
18 |
|
5 |
012/2017 |
06/12/2016 |
06/12/2016 |
03/01/2017 |
09/01/2017 |
34 |
28 |
|
6 |
016/2017 |
30/10/2016 |
05/12/2016 |
16/12/2016 |
22/12/2016 |
53 |
11 |
|
7 |
018/2017 |
30/10/2016 |
01/12/2016 |
29/12/2016 |
30/12/2016 |
61 |
28 |
|
8 |
032/2017 |
05/12/2016 |
05/12/2016 |
10/01/2017 |
13/01/2017 |
39 |
36 |
|
9 |
049/2017 |
29/12/2016 |
03/01/2017 |
18/01/2017 |
24/01/2017 |
26 |
15 |
|
10 |
051/2017 |
29/12/2016 |
03/01/2017 |
18/01/2017 |
24/01/2017 |
26 |
15 |
|
11 |
050/2017 |
29/12/2016 |
03/01/2017 |
18/01/2017 |
24/01/2017 |
26 |
15 |
|
12 |
043/2017 |
04/08/2016 |
20/12/2016 |
16/01/2017 |
20/01/2017 |
169 |
27 |
|
13 |
045/2017 |
14/09/2016 |
15/12/2016 |
16/01/2017 |
02/02/2017 |
141 |
32 |
|
14 |
040/2017 |
25/11/2016 |
06/01/2017 |
30/01/2017 |
02/02/2017 |
69 |
24 |
|
15 |
039/2017 |
06/12/2016 |
04/04/2016 |
25/01/2017 |
02/02/2017 |
393 |
296 |
|
16 |
194/2017 |
06/12/2016 |
03/05/2017 |
17/06/2017 |
09/06/2017 |
185 |
45 |
|
17 |
195/2017 |
04/01/2017 |
03/05/2017 |
08/06/2017 |
13/06/2017 |
160 |
36 |
|
18 |
191/2017 |
26/01/2017 |
03/04/2017 |
31/05/2017 |
07/06/2017 |
132 |
58 |
|
19 |
198/2017 |
18/10/2016 |
21/10/2016 |
19/05/2017 |
31/05/2017 |
225 |
210 |
|
20 |
234/2017 |
13/03/2017 |
23/03/2017 |
20/07/2017 |
31/07/2017 |
140 |
119 |
|
21 |
235/2017 |
14/06/2017 |
16/06/2017 |
18/07/2017 |
24/07/2017 |
40 |
32 |
|
22 |
392/2017 |
23/03/2017 |
18/05/2017 |
26/10/2017 |
03/11/2017 |
225 |
161 |
|
23 |
394/2017 |
05/10/2017 |
05/10/2017 |
30/10/2017 |
17/11/2017 |
43 |
25 |
|
24 |
174/2017 |
04/01/2017 |
20/03/2017 |
27/04/2017 |
22/05/2017 |
138 |
38 |
|
25 |
373/2017 |
20/11/2017 |
24/11/2017 |
27/11/2017 |
28/11/2017 |
8 |
3 |
|
26 |
425/2017 |
05/06/2017 |
02/08/2017 |
25/08/2017 |
27/11/2017 |
175 |
23 |
|
|
|
|
|
TOTAL |
2919 |
1372 |
|
|
|
|
|
|
RATA-RATA |
112,2692308 |
52,769 |
Sumber: data primer diolah.
G. Analisis dan
Pembahasan
Sesuai ketentuan yang
berlaku, Satker K/L yang akan menghapuskan BMN selain tanah/bangunan harus
melalui beberapa kegiatan administrasi yang dapat dirangkum sebagai berikut:
Berdasarkan rangkuman proses administrasi tersebut dapat
disimpulkan bahwa alur administrasi penghapusan BMN selain tanah/bangunan cukup
panjang. Tabel 3 mempotret jangka waktu yang diperlukan pada sebagian alur
administrasi. Tabel 3 kolom 7 mempotret
“Jangka Waktu Surat Permohonan Penjualan diterima KPKNL s.d Surat Penetapan Jadwal Lelang oleh KPKNL.” Sebagai contoh
sesuai data pada Risalah Lelang 025/2017 dan pencatatan di
Seksi PKN Jakarta II, Satker K/L membutuhkan waktu 43 (empat puluh tiga) hari
untuk memperoleh pelayanan sampai dengan penetapan jadwal lelang.
Berdasarkan penghitungan jangka waktu pada
kolom 7 pelayanan paling cepat adalah 8 hari dan pelayanan paling lama 393
hari, dengan rata-rata jangka waktu pelayanan di KPKNL Jakarta II adalah
112,26923 hari (pembulatan 112 hari). Dengan catatan jangka waktu 112 hari
tersebut belum dihitung waktu pengumuman lelang, pelaksanaan lelang dan penerbitan
salinan risalah lelang.
Dari
wawancara dengan staf Seksi PKN dan Seksi Lelang KPKNL Jakarta II, diperoleh
informasi bahwa lamanya jangka waktu tersebut disebabkan karena:
Namun dari Tabel 3 kolom 8 diperoleh kesimpulan menarik.
Kolom 8 menampilkan jangka waktu “Persetujuan Penjualan s.d
Surat Permohonan Lelang.” Sebagai ilustrasi, sesuai contoh pada Risalah Lelang 025/2017 dan pencatatan di Seksi PKN Jakarta II, Satker K/L
membutuhkan waktu 41 (empat puluh satu) hari untuk mengajukan permohonan jadwal
lelang, padahal surat persetujuan penjualan sudah diterbitkan oleh KPKNL. Ini
menunjukkan dari 43 hari (kolom 7) yang diperlukan Satker K/L sampai dengan
memperoleh surat penetapan jadwal lelang, 41 hari (kolom 8) diantaranya merupakan
waktu yang dihabiskan Satker K/L untuk menunggu diterimanya surat persetujuan
penjualan dan mempersiapkan permohonan lelang. Jangka waktu 41 hari (kolom 8) tersebut
bagi Peneliti merupakan waktu yang sia-sia (useless
time) karena sesungguhnya bisa dihilangkan jika diberlakukan SOP
Integratif. Secara rata-rata (dari 26 sample penelitian) useless time di KPKNL Jakarta II tersebut sebanyak 53 (lima puluh
tiga) hari.
Dari
analisa Risalah Lelang 025/2017 didapat kesimpulan
lain yang menarik, yaitu bahwa proses administrasi di KPKNL untuk Risalah
Lelang tersebut (persetujuan penjualan dan penetapan jadwal lelang) hanya
memerlukan waktu 2 (dua) hari saja (kolom 8 dikurangi kolom 7), ini yang
Peneliti sebut sebagai waktu efektif di KPKNL. Untuk mengetahui waktu efektif di
KPKNL per Risalah Lelang dan waktu sia-sia dapat dilihat sesuai Tabel 4
berikut.
Tabel 4
Pengukuran Waktu Efektif di KPKNL Jakarta II dan Waktu Sia-sia
Pada Penjualan BMN Melalui Lelang
|
No |
No RL |
Jangka Waktu Surat Permohonan Penjualan Diterima s/d Surat Penetapan Lelang |
Jangka Waktu
Persetujuan Penjualan s/d Surat Permohonan lelang |
Waktu Efektif di KPKNL |
Waktu Sia-Sia (useless time) |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
|
1 |
025/2017 |
43 |
41 |
2 |
41 |
|
2 |
029/2017 |
165 |
22 |
143 |
22 |
|
3 |
034/2017 |
88 |
14 |
74 |
14 |
|
4 |
011/2017 |
115 |
18 |
97 |
18 |
|
5 |
012/2017 |
34 |
28 |
6 |
28 |
|
6 |
016/2017 |
53 |
11 |
42 |
11 |
|
7 |
018/2017 |
61 |
28 |
33 |
28 |
|
8 |
032/2017 |
39 |
36 |
3 |
36 |
|
9 |
049/2017 |
26 |
15 |
11 |
15 |
|
10 |
051/2017 |
26 |
15 |
11 |
15 |
|
11 |
050/2017 |
26 |
15 |
11 |
15 |
|
12 |
043/2017 |
169 |
27 |
142 |
27 |
|
13 |
045/2017 |
141 |
32 |
109 |
32 |
|
14 |
040/2017 |
69 |
24 |
45 |
24 |
|
15 |
039/2017 |
393 |
296 |
97 |
296 |
|
16 |
194/2017 |
185 |
45 |
140 |
45 |
|
17 |
195/2017 |
160 |
36 |
124 |
36 |
|
18 |
191/2017 |
132 |
58 |
74 |
58 |
|
19 |
198/2017 |
225 |
210 |
15 |
210 |
|
20 |
234/2017 |
140 |
119 |
21 |
119 |
|
21 |
235/2017 |
40 |
32 |
8 |
32 |
|
22 |
392/2017 |
225 |
161 |
64 |
161 |
|
23 |
394/2017 |
43 |
25 |
18 |
25 |
|
24 |
174/2017 |
138 |
38 |
100 |
38 |
|
25 |
373/2017 |
8 |
3 |
5 |
3 |
|
26 |
425/2017 |
175 |
23 |
152 |
23 |
|
|
2919 |
1372 |
1457 |
1372 |
|
|
|
112,269 |
53 |
59 |
53 |
Sumber: data primer diolah.
Sesuai
data pada Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa rata-rata Satker K/L membutuhkan
waktu 112 hari pelayanan, dengan perincian 59 hari efektif di KPKNL Jakarta II dan
53 hari waktu sia-sia. Tentu akan sangat masuk akal jika waktu sia-sia tersebut
bisa dihilangkan.
Yang menjadi pertanyaan, jika di KPKNL
Jakarta II saja membutuhkan waktu 112 hari pelayanan (termasuk 53 hari waktu
sia-sia/useless time), berapa jangka
waktu di KPKNL lain yang wilayah kerjanya lebih luas dengan sarana transportasi
kurang memadai? Butuh penelitian lanjutan. Walau kesimpulan awal dapat
diprediksi yaitu tentu akan lebih panjang. Hal ini menjadi salah satu penyebab
mengapa hanya 21 persen saja Satker K/L yang mengajukan permohonan lelang tahun
2017 secara nasional.
Sebagaimana
di awal tulisan, partisi organisasi dan segregasi pelayanan menjadi biang
keladi dari masih panjangnya waktu pelayanan. Seksi PKN, Seksi Pelayanan
Penilaian dan Seksi Pelayanan Lelang selama ini bekerja sesuai rezim hukum dan
SOP masing-masing. Hal ini mengakibatkan Satker K/L harus mengajukan lebih dari
satu permohonan kepada KPKNL yang sama, untuk jenis pelayanan yang sesungguhnya
berkesinambungan dengan persyaratan administrasi yang relatif sama. Disamping tidak efektif, hal ini berpengaruh
besar terhadap reputasi DJKN sebagai manager aset.
Bagaimana
prinsip dasar SOP Integratif? Pertama DJKN harus mengacu pada hakekat pelayanan publik yang bukan merupakan persoalan administratif saja, seperti
pemberian ijin dan pengesahannya, atau pemenuhan kebutuhan fisik, namun
mencakup persoalan yang lebih mendasar, yaitu pemenuhan keinginan pelanggan. DJKN/KPKNL dapat memberikan alasan bahwa aturan BMN, Penilaian dan Lelang
berbeda-beda dengan SOP yang berbeda pula. Tetapi Satker K/L sebenarnya tidak
mau tahu, karena mereka berhubungan dengan KPKNL yang sama.
Untuk menyusun SOP
Intergratif pertama-tama harus diidentifikasikan persyaratan administrasi utama
yang selama ini harus dilengkapi oleh Satker K/L, yang dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Persyaratan persetujuan penjualan BMN selain tanah/bangunan:
a.
Data
administratif meliputi identitas barang, keputusan penetapan status penggunaan, dan nilai perolehan
dan/atau nilai buku;
b.
Nilai
limit penjualan;
c.
Surat
pernyataan atas kebenaran formil dan materiil objek dan besaran nilai yang diusulkan;
2. Persyaratan Verifikasi Permohonan Penilaian BMN untuk Permohonan
Penilaian dari Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara:
a. Deskripsi objek Penilaian,
meliputi lokasi, jumlah, dan spesifikasi;
b.
Dokumen
kepemilikan:
dalam hal objek Penilaian berupa
kendaraan bermotor, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan fotokopi
dokumen kepemilikan atau surat keterangan dari instansi yang berwenang;
dalam hal objek Penilaian berupa
limbah padat (scrap), permohonan
penilaian dilengkapi dengan deskripsi objek penilaian yang sekurang-kurangnya
memuat keterangan berat objek Penilaian;
dalam hal objek Penilaian berupa
limbah cair, permohonan penilaian dilengkapi dengan deskripsi objek penilaian yang
sekurang-kurangnya memuat keterangan volume objek Penilaian.
3. Persyaratan Penetapan Jadwal Lelang
a.
Surat Tugas Pejabat Penjual
b.
Informasi tertulis berupa kode Satker dan MAP untuk
penyetoran hasil bersih lelang
c.
daftar
barang yang akan dilelang
d.
Surat Keputusan Panitia Penjualan
e.
Surat Persetujuan Penjualan BMN selain tanah dan bangunan;
f.
Surat Pernyataan/Penetapan Nilai Limit
g.
Dokumen kepemilikan barang dalam hal ada dokumen;
h.
Foto objek lelang dalam hal lelang melalui internet.
Dari rincian persyaratan administrasi tersebut dapat disimpulkan
bahwa hampir semua persyaratan Penetapan Jadwal Lelang dapat dipenuhi oleh
Satker K/L pada saat Satker K/L baru akan mengajukan permohonan persetujuan
Penjualan BMN (yang diproses di Seksi PKN), kecuali Surat Persetujuan Penjualan BMN selain tanah/bangunan dan
Penetapan Nilai Limit (dalam hal Seksi PKN berpendapat perlu adanya revisi
nilai limit). Dengan demikian dokumen utama yang dibutuhkan untuk proses yang
berkesinambungan ini sesungguhnya hanya Surat Persetujuan Penjualan BMN selain
tanah/bangunan.
Dalam
praktek, setelah Satker K/L mendapatkan Surat Persetujuan Penjualan BMN selain
tanah/bangunan dari KPKNL, maka Satker masih harus mengajukan surat permohonan
lanjutan berupa permohonan Penetapan Jadwal Lelang. Dalam penelitian ini, isu
utama SOP integratif adalah Satker K/L hanya perlu mengajukan satu surat
permohonan tetapi sudah mendapat pelayanan yang berkesinambungan, seperti
proses bisnis di SAMSAT, meliputi:
Menjadi kewajiban KPKNL untuk mengintegrasikan ketiga
seksi, sehingga Satker K/L tidak bolak-balik. Dengan SOP Integratif useless time akan bisa dihilangkan
bahkan diharapkan dapat memangkas waktu efektif di KPKNL. Komunikasi antar
seksi dapat dilakukan dengan nota dinas, misalnya jika proses bisnis di seksi
PKN sudah selesai segera diteruskan ke Seksi Pelayanan Lelang untuk ditetapkan
jadwal lelangnya. Untuk menjamin legalitas permohonan, terlebih dahulu harus
dilakukan koordinasi dengan Satker K/L agar dalam pengajuan surat permohonan
sudah berisi beberapa layanan sekaligus, termasuk pelayanan jadwal lelang,
berikut persyaratan lelang yang dapat dipenuhi di awal, misalnya Surat Tugas
Pejabat Penjual, Informasi tertulis berupa kode Satker/MAP, Surat Keputusan Panitia
Penjualan, foto objek lelang dan sebagainya. Dalam Risalah Lelang tetap menunjuk pada surat permohonan dari Satker K/L
sebagai dasar pelaksanaan lelang.
H.
Simpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Achmad KM, Mansyur. 2010. Teori-Teori Mutakhir Administrasi Publik. Yogyakarta:
Rangkang
Education.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pelayanan Prima. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.
Dwiyanto, Agus. 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Peduli,
Inklusif, dan Kolaboratif.
Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Reformasi Pelayanan Publik. 2010.
Averroes Press.
Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2006. Manajemen Pelayanan. Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK.06/2016 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang.
Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor
2/KN/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
4/PMK.06/2015 tentang Pendelegasian Kewenangan dan Tanggung Jawab Tertentu dari
Pengelola Barang Kepada Pengguna Barang.
Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor
379/KN/2017 tentang Perubahan atas Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan Negara
Nomor 145/KN/2013
tentang Standar Prosedur Operasi (standart
operating procedure) Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang.
*) Naskah
ini merupakan edisi ringkas dari Karya Tulis Kelompok 3 Pelatihan Pejabat
Lelang Bagi Pejabat Struktural DJKN Tahun 2018 di KNPK. Penyusun/Penulis : Margono
Dwi Susilo (ketua); Asim (anggota);
Lucyanna Chaterin Sinaga (Anggota); Muhammad
Nur Huseng (anggota);Yusuf Supriyadi (anggota). Dengan Dewan Penguji: Kurnia Ratna Cahyanti,
Rachmatunnisya dan Yaser Arafat Usman.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |