Lelang konvensional dan lelang internet, manakah yang terbaik?
Suherman
Selasa, 06 Februari 2018 pukul 11:47:17 |
9061 kali
Oleh: Suherman
Pegawai pada Sekretariat DJKN
I. Pendahuluan
Misi lelang yang tercantum dalam dokumen Renstra
DJKN Tahun 2015-2019 yaitu mewujudkan lelang yang efisien, transparan,
akuntabel, adil, dan kompetitif sebagai instrumen jual beli yang mampu
mengakomodasi kepentingan masyarakat. Untuk mewujudkan misi tersebut saat ini
terdapat dua strategi penawaran lelang yaitu penawaran lelang dengan kehadiran
peserta lelang (lelang konvensional) dan penawaran lelang tanpa kehadiran
peserta lelang (salah satunya dilakukan melalui lelang internet).
Implementasi pelaksanaan lelang internet mulai
efektif dilaksanakan pada tahun 2014, hal ini ditandai dengan penetapan target
implementasi pelaksanaan lelang internet dalam kontrak kinerja sebesar 2% dari
total pelaksanaan lelang, selanjutnya targetnya mengalami kenaikan setiap tahun,
tahun 2015 targetnya sebesar 20%, tahun 2016 sebesar 50%, dan tahun 2017
sebesar 70%. Dari dua metode penawaran lelang tersebut, manakah metode
penawaran lelang yang kinerjanya lebih baik?
II. Pengukuran
Kinerja
Terdapat berbagai metode untuk mengukur kinerja
organisasi seperti balanced scorecard, Integrated Performance Measurement
System (IPMS), Performance Prism dan value for money. Pada tulisan ini metode
pengukuran kinerja yang digunakan adalah value for money yang mengukur kinerja
dilihat dari tiga unsur yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektifitas. Tiga unsur
dalam value for money menurut Bastian (2006) sebagai berikut:
1.
Efisiensi adalah
hubungan antara input dan output, dimana barang dan jasa yang dibeli oleh organisasi
digunakan untuk mencapai output tertentu.
2.
Efektivitas adalah
hubungan antara output dan tujuan, dimana efektivitas diukur berdasarkan
seberapa jauh tingkat output, kebijakan, dan prosedur organisasi mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
3.
Ekonomis adalah hubungan
antara pasar dan input dimana barang dan jasa dibeli pada kualitas yang
diinginkan dan pada harga terbaik yang dimungkinkan.
Pendapat serupa mengenai value for money
dinyatakankan oleh Mardiasmo (2009) yang menyatakan bahwa value for money merupakan
konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen
utama, yaitu: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Adapun penjelasan ketiga
unsur value for money menurut Mardiasmo (2009) sebagai berikut:
1.
Ekonomi merupakan
pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga
yang terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang
dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi
sektor publik dapat meminimalisir input resources yang digunakan yaitu dengan
menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif.
2.
Efisiensi merupakan
pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input
yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan
output atau input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah
ditetapkan.
3.
Efektivitas merupakan
tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara
sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan
bahwa value for money memiliki tiga unsur penilaian yaitu ekonomis, efisiensi,
dan efektivitas. Penilaian ekonomis melalui penggunaan biaya yang paling
menguntungkan untuk menghasilkan barang/jasa terbaik, penilaian efisiensi
dengan membandingkan barang/jasa yang dihasilkan dari pelaksaanaan kegiatan
dengan biaya yang digunakan, sedangkan penilaian efektivitas dengan menilai
tujuan atau target yang dicapai dari barang/jasa yang dihasilkan.
Pendekatan value for money dapat digunakan untuk
mengukur perbandingan kinerja antara lelang konvensional dengan lelang
internet dengan pengukuran sebagai berikut:
1. Ekonomi
Ekonomi adalah penggunaan anggaran kegiatan
pelaksanaan lelang secara optimal sesuai dengan pagu anggaran yang telah
ditetapkan. Pengukuran ekonomi dilakukan dengan mengidentifikasi
komponen-komponen biaya yang diperlukan dari masing-masing metode pelaksanaan
lelang. Pelaksanaan lelang dikategorikan lebih ekonomis apabila komponen
biaya yang digunakan dalam suatu metode pelaksanaan lelang lebih kecil dari
metode pelaksanaan lelang lainnya.
2. Efisiensi
Efisiensi adalah hubungan antara output
yang dihasilkan dengan input yang digunakan dalam pelaksanaan lelang. Output
dari pelaksanaan lelang meliputi hasil bersih lelang, bea lelang, uang
jaminan pembeli wanprestasi, serta PPh pasal 25, sedangkan input lelang
adalah komponen belanja yang diperlukan dalam pelaksanaan
lelang. Pelaksanaan lelang dapat dikatakan efisien bila mampu menghasilkan
output yang lebih besar dari input yang digunakan, atau dengan input yang
sama mampu menghasilkan output yang lebih besar. Selisih antara output yang
dihasilkan dari pelaksanaan lelang dengan input yang digunakan dalam
pelaksanaan lelang merupakan nilai efisiensi dari pelaksanaan lelang.
3. Efektivitas
Efektivitas dalam pelaksanaan
lelang adalah ukuran keberhasilan pelaksanaan lelang sesuai dengan
target atau tujuan yang telah ditetapkan. Pengukuran efektivitas dengan
mengukur berhasil atau tidaknya mencapai tujuan. Pelaksanaan
lelang dikatakan efektif apabila dapat mencapai target
atau tujuan yang telah ditetapkan sebagai ukuran
keberhasilan misi lelang. Pengukuran efektivitas dilakukan dengan
mengukur tingkat kompetitif pelaksanaan lelang. Pengukuran dilakukan dengan
menganalisis persaingan yang terjadi diantara para peserta lelang dalam
melakukan penawaran harga lelang. Kompetitif diukur dari tingkat kenaikan harga
yang terbentuk dalam pelaksanaan lelang dibandingkan dengan harga dasar (harga
limit) barang yang dilelang.
III. Hasil
Perbandingan Kinerja
Pengukuran perbandingan kinerja antara lelang
konvensional dengan lelang internet dilakukan dengan menggunakan data hasil
pelaksanaan lelang pada salah satu KPKNL di luar Pulau Jawa tahun 2015-2016
dengan hasil sebagai berikut:
1. Ekonomi
Pengukuran ekonomi dilakukan dengan mengukur
biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan lelang. Pengukuran dilakukan dengan
melakukan identifikasi biaya dan penghitungan biaya. Identifikasi biaya
dilakukan untuk mengetahui komponen biaya beserta faktor-faktor yang memicu terjadinya
biaya. Dari hasil identifikasi diketahui terdapat tiga komponen biaya lelang
yaitu biaya pencetakan dokumen, biaya pencetakan laporan lelang; dan biaya
perjalanan dinas. Penghitungan biaya dilakukan dengan mengalikan
antara pemicu biaya dengan harga per satuan. Dari hasil pengukuran ekonomi
diperoleh perbandingan biaya sebagaimana Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan
biaya lelang konvensional dan lelang internet
|
No |
Uraian |
Harga Satuan (Rp) |
Lelang Konvensional |
Lelang Internet |
|||
|
Volume |
Jumlah (Rp) |
Volume |
Jumlah (Rp) |
||||
|
1 |
Biaya pencetakan
dokumen lelang: |
|
|
58.141,60 |
|
55.277,20 |
|
|
a. Pra lelang |
477,40 |
23 lembar |
10.980,20 |
23 lembar |
10.980,20 |
||
|
b. Pelaksanaan lelang |
477,40 |
15 lembar |
7.161,00 |
9 lembar |
4.296,60 |
||
|
c. Pasca lelang |
484,00 |
35 lembar |
16.900,40 |
35 lembar |
16.900,40 |
||
|
d. Sampul RL |
5.775,00 |
4 buah |
23.100,00 |
4 buah |
23.100,00 |
||
|
2 |
Biaya pencetakan
laporan lelang |
477,40 |
75 lembar |
35.805,00 |
75 lembar |
35.805,00 |
|
|
3 |
Biaya perjalanan dinas
lelang dalam kota |
110.000,00 |
2 OH |
220.00,00 |
2 OH |
220.000,00 |
|
|
4 |
Biaya perjalanan dinas
lelang luar kota |
|
|
|
|||
|
Uang harian |
300.000,00 |
4 OH |
1.200.000,00 |
4 OH |
1.200.000,00 |
||
|
Penginapan |
460.000,00 |
2 OH |
920.000,00 |
2 OH |
920.000,00 |
||
|
Transportasi |
150.000,00 |
2 OH |
300.000,00 |
2 OH |
300.000,00 |
||
|
Jumlah |
|
2.420.000,00 |
2.420.000,00 |
||||
Dilihat dari aspek ekonomi dengan membandingkan
komponen biaya lelang yang dikeluarkan oleh KPKNL dapat disimpulkan bahwa biaya
untuk pelaksanaan lelang konvensional dan lelang internet hampir sama namun
lelang internet sedikit lebih ekonomis dari lelang konvensional. Dari Tabel 1
terlihat bahwa perbedaan biaya hanya terdapat pada biaya pencetakan dokumen
lelang sedangkan komponen biaya yang lainnya sama. Faktor yang
menyebabkan lelang internet lebih ekonomis dari lelang konvensional karena
jumlah lembar dokumen yang digunakan pada lelang internet lebih sedikit dari
lelang konvensional. Perbedaan jumlah lembar dokumen terjadi karena (i) tidak
perlu mencetak kepala risalah lelang karena kepala risalah lelang sudah
ditampilkan di dalam aplikasi pada lelang internet, (ii) tidak diperlukan lagi
formulir surat penawaran lelang karena penawaran dilakukan melalui online,
(iii) tidak diperlukan lagi formulir daftar penyetoran dan pengembalian uang
jaminan lelang karena penyetoran dan pengembalian uang jaminan menggunakan
virtual account yang bekerjasama dengan pihak bank.
Apabila dilihat dari biaya yang dikeluarkan oleh
peserta lelang, biaya untuk mengikuti lelang internet lebih murah dibandingkan
dengan biaya untuk mengikuti lelang konvensional. Lebih murahnya biaya lelang
internet karena peserta lelang internet tidak perlu hadir ke tempat pelaksanaan
lelang sedangkan untuk lelang konvensional peserta lelang harus hadir ke tempat
lelang. Dengan mengikuti lelang internet peserta lelang akan lebih menghemat
biaya perjalanan dan waktu karena peserta lelang dapat mengikuti lelang
dimanapun dan kapanpun berada.
2. Efisiensi
Dilihat dari aspek efisiensi dengan
membandingkan antara penerimaan lelang dengan biaya yang dikeluarkan untuk
pelaksanaan lelang diperoleh hasil pengukuran tingkat efisiensi pelaksanaan
lelang konvensional dan lelang internet sebagaimana Tabel 2 sampai dengan
Tabel 3.
Tabel 2. Efisiensi pelaksanaan lelang konvensional tahun 2015-2016
|
No |
Uraian |
2015 |
2016 |
|
1 |
Penerimaan |
21.822.722.037,00 |
24.560.034.966,00 |
|
2 |
Biaya |
200.176.213,60 |
260.657.276,00 |
|
3 |
Jumlah Risalah Lelang
(RL) |
696 |
760 |
|
4 |
Penerimaan per RL (1 :
3) |
31.354.485,69 |
32.315.835,48 |
|
5 |
Pengeluaran per RL (2
: 3) |
287.609,50 |
342.970,10 |
|
6 |
Efisiensi (4 : 5) |
109,02 |
94,22 |
Tabel 3. Efisiensi pelaksanaan lelang internet tahun 2015-2016
|
No |
Uraian |
2015 |
2016 |
|
1 |
Penerimaan |
1.575.857.706,00 |
2.248.893.795,00 |
|
2 |
Biaya |
17.834.053,60 |
54.198.201,20 |
|
3 |
Jumlah Risalah Lelang
(RL) |
88 |
121 |
|
4 |
Penerimaan per RL (1 :
3) |
17.907.473,93 |
18.585.899,13 |
|
5 |
Pengeluaran per RL (2
: 3) |
202.659,70 |
447.919,02 |
|
6 |
Efisiensi (4 : 5) |
88,36 |
41,49 |
Berdasarkan hasil penghitungan diketahui nilai
efisiensi pelaksanaan lelang konvensional tahun 2015 sebesar Rp109,02 dan tahun
2016 sebesar Rp94,22, hal ini berarti bahwa setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan
dalam pelaksanaan lelang konvensional akan menghasilkan penerimaan sebesar
Rp109,02 pada tahun 2015 dan sebesar Rp94,22 pada tahun 2016. Nilai efisiensi
pelaksanaan lelang internet tahun 2015 sebesar Rp88,36 dan tahun 2016 sebesar
Rp41,49, hal ini berarti bahwa setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan dalam pelaksanaan
lelang internet akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp88,36 pada tahun 2015
dan sebesar Rp41,49 pada tahun 2016.
Dilihat dari aspek efisiensi dengan
membandingkan antara penerimaan dengan biaya lelang dapat disimpulkan bahwa
lelang konvensional lebih efisien dari lelang internet karena setiap 1 rupiah
biaya yang digunakan pada pelaksanaan lelang konvensional akan menghasilkan
penerimaan yang lebih besar. Faktor yang menyebabkan lelang konvensional lebih
efisien yaitu rata-rata penerimaan per 1 (satu) risalah lelang dari pelaksanaan
lelang konvensional lebih besar dibandingkan dengan penerimaan dari lelang
internet sedangkan dari faktor rata-rata pengeluaran per 1 (satu) risalah
lelang antara lelang konvensional dengan lelang internet tidak jauh berbeda.
Pelaksanaan lelang konvensional pada tahun 2015 menghasilkan rata-rata
penerimaan per 1 (satu) risalah lelang sebesar Rp31.354.485,69 dan pada tahun
2016 sebesar Rp32.315.835,48. Penerimaan lelang konvensional tersebut jauh
melebihi penerimaan lelang internet yang hanya menghasilkan rata-rata
penerimaan per 1 (satu) risalah lelang sebesar Rp17.907.473,93 pada tahun 2015
dan sebesar Rp18.585.899,13 pada tahun 2016. Dari faktor biaya pengeluaran,
rata-rata pengeluaran per 1 (satu) risalah lelang pada lelang konvensional
sebesar Rp287.609,50 pada tahun 2015 dan sebesar Rp342.970,10 pada tahun 2016,
sedangkan rata-rata pengeluaran per 1 (satu) risalah lelang pada lelang
internet sebesar Rp202.659,70 pada tahun 2015 dan sebesar 447.919,02 pada tahun
2016.
Kondisi tersebut disebabkan karena metode
penawaran lelang secara konvensional masih menjadi pilihan utama dalam
pelaksanaan lelang. Pada tahun 2015 dari 784 frekuensi lelang sebanyak
696 frekuensi lelang atau 88,76% menggunakan metode penawaran lelang konvensional.
Selanjutnya pada tahun 2016 dari 881 frekuensi lelang sebanyak 760
frekuensi lelang atau 86,27% menggunakan metode penawaran lelang konvensional.
Dengan dominannya penggunaan metode pelaksanaan lelang konvensional menyebabkan
peluang untuk memperoleh penerimaan dari lelang konvensional akan lebih besar
dari lelang internet yang akan menyebabkan nilai efisiensi lelang konvensional
lebih tinggi dari lelang internet.
3. Efektivitas
Dilihat dari aspek efektivitas dengan mengukur
tingkat kenaikan harga lelang diketahui bahwa dari 696 frekuensi lelang
konvensional sebanyak 171 risalah lelang berkategori “laku/terjual”
dengan rata-rata kenaikan sebesar 20,22%, selanjutnya pada tahun
2016, dari 760 frekuensi lelang konvensional sebanyak 191
risalah lelang berkategori “laku/terjual” dengan rata-rata kenaikan
sebesar 20,92%. Tingkat kompetitif pelaksanaan lelang internet tahun
2015 diketahui bahwa dari 88 frekuensi lelang terdapat 31 risalah lelang
berkategori “laku/terjual” dengan rata-rata kenaikan sebesar 113,96%,
selanjutnya pada tahun 2016, dari 121 frekuensi lelang terdapat 20 risalah
lelang berkategori “laku/terjual” dengan rata-rata kenaikan
sebesar 78,11%.
Dari pengukuran aspek efektivitas tersebut dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan lelang internet lebih kompetitif dari lelang
konvensional. Hal ini terlihat dari rata-rata persentase kenaikan harga
pada lelang internet lebih tinggi dari lelang konvensional. Faktor-faktor yang
menyebabkan lelang internet lebih kompetitif dari lelang konvensional adalah:
·
masing-masing peserta
lelang tidak mengetahui berapa jumlah peserta lelang, antar peserta lelang
tidak saling kenal, dan masing-masing peserta lelang memiliki kesempatan yang
sama untuk melakukan penawaran harga lelang. Kondisi ini mengakibatkan pelaksanaan
lelang internet bebas dari intimidasi lelang antar peserta lelang sehingga
terbentuk suasana kompetitif dalam penawaran harga lelang.
·
jumlah peserta lelang
internet tidak dibatasi oleh jarak dan waktu karena peserta lelang tidak perlu
hadir pada saat lelang. Penawaran lelang cukup dilakukan melalui aplikasi
lelang. Semakin banyaknya peserta lelang akan semakin meningkatkan suasana kompetitif.
IV. Kesimpulan
dan Saran
Berdasarkan perbandingan kinerja dari
masing-masing aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa lelang konvensional unggul
pada aspek efisiensi sedangkan lelang internet unggul pada aspek ekonomi dan
aspek efektivitas. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan lelang pada
periode selanjutnya disarankan:
Referensi:
Bastian, Indra. 2006.
Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Mardiasmo. 2009.
Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. Penerbit ANDI.
Rincian Kertas Kerja
Anggaran KPKNL Tahun 2015 dan Tahun 2016.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |