Membangun Knowledge Management di DJKN
N/A
Kamis, 11 Januari 2018 pukul 14:32:20 |
8775 kali
Ditulis Oleh:
Neil EfryanoPrayoga
Kepala Subbagian Pengembangan Pegawai dan Kepemimpinan
“Knowledge is the new capital, but it’s worthless unless it’s accessible, communicated, and enhanced”
-- (Hamilton Beazley, Strategic Leadership Group)
Pendahuluan
Sebagaimana quote diatas, pengetahuan (knowledge) adalah modal jenis baru.
Tetapi, pengetahuan itu sendiri tidak akan bernilai kecuali jika bisa di akses,
dikomunikasikan, dan dioptimalkan. Oleh karena itu, pengetahuan dalam suatu
organisasi harus dikelola dengan baik sehingga bisa menjadi modal baru untuk
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi. Bagi DJKN, sebagai sebuah
organisasi yang terus berkembang sesuai tantangan dan perkembangan yang ada (learning organization) sudah saatnya
kita memiliki sebuah knowledge management
(KM) yang komprehensif. Tulisan ini mencoba memaparkan upaya membangun KM di
lingkungan DJKN. Sebelumnya, akan dipaparkan terlebih dahulu konsep-konsep dasar
dalam KM.
Tentang KM (what is it?)
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengetahui lebih mendalam tentang apa itu KM. Dari istilah KM, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian: (1) apakah yang dimaksud knowledge dan (2) apakah yang dimaksud KM itu sendiri. Untuk memahami knowledge, harus dipahami juga “data” dan “informasi” karena ketiganya sangat terkait seperti digambarkan dalam ilustrasi dibawah ini.


The systematic management of an organization's knowledge
assets for the purpose of creating value and meeting tactical & strategic
requirements; it consists of the initiatives, processes, strategies, and
systems that sustain and enhance the storage, assessment, sharing, refinement,
and creation of knowledge (Alan Frost 2010).
A collection of systematic approaches to help
information and knowledge flow to and between the right people at the right
time (in the right format at the right cost) so they can act more efficiently
and effectively to create value for the organization (APQC).
The
transformational discipline that optimizes human engagement in work and
organizational performance to create ultra, high-performing ‘Learning Organizations’
in the Knowledge Age (KMI).
Dari ketiga
definisi tersebut dapat disarikan bahwa KM merupakan suatu proses sistematik
dalam mengelola knowledge untuk
meningkatkan kinerja pegawai dan organisasi.
Latar
Belakang Perlunya KM (why KM is
important?)
Setidaknya ada
5 (lima) alasan mengapa KM menjadi penting dalam sebuah organisasi. Pertama, potensi
hilangnya pengetahuan dari organisasi. MIsalnya karena ada pegawai pindah ke
unit lain atau pensiun/meninggal dunia. Apabila pengetahuan yang mereka miliki
tidak dikelola dengan baik, akan hilang/dibawa oleh pegawai tersebut. Kedua, semakin
rumitnya permasalahan yang dihadapi. Hal ini menuntut kemampuan untuk mengatasi
semua permasalahan yang ada. Ketiga, ketidakpastian masa depan. Adanya KM yang
baik adalah sebagai tindakan preventif untuk mengatasi ketidakpastian masa depan. Keempat, masyarakat yang semakin
kritis. Dengan bertambah kritis-nya masyarakat, tuntutan akan pelayanan yang semakin
baik menjadi semakin besar. Kelima, revolusi teknologi digital. Efek kemajuan
teknologi saat ini tidak hanya dapat membantu manusia. Disisi lainnya, banyak
pekerjaan-pekerjaan manusia yang sekarang bisa digantikan oleh mesin/teknologi
sehingga menuntut manusia bekerja lebih efektif dan efisien.
Dari
penjelasan di atas, dapat disimpulkan manfaat KM bagi pegawai adalah:
meningkatkan engagement pegawai
dengan organisasi; meningkatkan kinerja pegawai; meningkatkan kepuasan kerja;
dan mewujudkan work-life balance.
Sedangkan manfaat KM bagi organisasi adalah: membantu proses pembuatan
keputusan; meningkatkan kinerja organisasi; dan meningkatkan efisiensi
birokrasi. Jadi, inti dari KM adalah
membuat organisasi/pegawai dapat bekerja dengan: lebih baik (better), lebih cerdas (smarter), dan lebih cepat (faster).
Bagaimana membangun KM (how
is to create KM?)
Untuk dapat membangun suatu KM, perlu dipahami terlebih dahulu proses dasar dalam KM. Ilustrasi berikut ini menggambarkan basic knowledge processes.

Dari ilustrasi diatas, dapat disarikan bahwa proses dasar dalam sebuah
KM adalah:
1. Acquire Information/Knowledge.
Proses untuk
mendapatkan informasi/pengetahuan, yaitu melalui proses search, gather, find, capture, and validate. Misalnya dengan
mengikuti pelatihan, melakukan penelitian, dan melakukan pencarian melalui
internet.
2. Produce/Create Knowledge.
Proses untuk
menghasilkan/menciptakan pengetahuan, yaitu melalui proses collaborative, refine, create, and validate. Misalnya dengan
melakukan studi banding, berbagi pengetahuan (knowledge sharing), dan bercerita (storytelling).
3. Integrate/Use Knowledge.
Proses untuk
mengintegrasikan/menggunakan pengetahuan.
Membangun KM di DJKN
Tahapan-tahapan berikut ini dapat dilakukan untuk membangun KM di
DJKN:
1.
Planning.
Yaitu merumuskan roadmap/framework
KM. Di awal, framework tidak harus
sempurna, yang terpenting adalah mulai dilaksanakan. Untuk DJKN, framework KM dapat terdiri dari:
a.
Pembuatan portal E-Learning
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan
kapasitas pegawai saat ini sudah menjadi suatu keharusan, walaupun teknologi
bukan satu-satunya alat bantu dalam KM. Salah satu tool KM yang sangat bermanfaat adalah E-Learning. Di DJKN, sudah
ada upaya untuk membangun sistem e-learning
yang digagas oleh Direktorat
Penilaian melalui E-Learning for DJKN’s
Valuers (ELOVA). Yang diperlukan saat ini adalah sebuah portal khusus DJKN
E-Learning yang terintegrasi dengan portal DJKN dan konten-nya menyeluruh
terkait semua tusi baik teknis maupun supporting.
Untuk memudahkan pembuatan portal tersebut, tampilan dan konten-nya dapat
mengambil inspirasi dari unit Eselon I lain seperti: Kemenkeu Learning Centre
(KLC-Kemenkeu), Comet (BPPK), Kompatriot (DJP), dan E-Learning DJPB (DJPB).
b.
Penyelenggaraan Knowledge Sharing (KS)
Knowledge Sharing merupakan tool
KM yang sudah berjalan di DJKN. Sekretariat DJKN dalam hal ini telah
memfasilitasi kegiatan-kegiatan KS bagi pegawai selesai studi sebagai bagian
dari re-entry program. Tujuan dari
kegiatan tersebut selain men-share
knowledge yang diperoleh semasa studi juga untuk memberikan motivasi kepada
pegawai lain. Selain itu, KS juga dilakukan oleh pegawai selesai mengikuti
training/workshop baik di dalam maupun di luar negeri. Harapan nya,
ilmu/pengetahuan yang diperoleh dapat ditularkan kepada pegawai yang tidak
berkesempatan untuk mengikuti training/workshop tersebut. Ke depan,
kegiatan-kegiatan KS akan terus ditingkatkan tidak hanya melibatkan pegawai
DJKN sebagai narasumber tetapi juga mengundang pembicara dari luar DJKN.
c.
Penyelenggaraan Knowledge Cafés (KC)
Salah satu tool KM yang paling
interaktif sebagai teknik membangun hubungan adalah KC. Keutamaan dari KC
adalah meningkatkan metode pembangunan hubungan dan sarana belajar dari sesama
pegawai (peer-to-peer learning). KC
juga dapat berperan sebagai strategi untuk membangun citra organisasi. Intinya,
KC adalah tentang membangun hubungan, bersenang-senang dan belajar bersama. Bentuk
kongkrit dari KC misalnya adalah menyelenggarakan “brown bag meeting”. Yaitu pertemuan yang dilakukan pada saat jam
makan siang dimana para peserta membawa makan siang (brown bag) sendiri-sendiri. Kegiatan dalam pertemuan tersebut dapat
berupa transfer pengetahuan, pemecahan masalah, penjaringan masukan dan ide-ide
serta membangun kepercayaan antar peserta. Hal ini dapat dilakukan di DJKN
untuk membahas isu-isu terkini dan strategis terkait tusi DJKN.
d.
Pembentukan Communities of Practice (CoP)
Tool lainnya dari KM adalah CoP, yang dibentuk oleh orang-orang yang
terikat dalam sebuah proses belajar kelompok dalam suatu domain usaha bersama
sebagai contoh: sebuah suku belajar untuk bertahan hidup, sebuah kelompok band
mencari tren musik baru, sekelompok insinyur bekerja dalam masalah yang sama.
Intinya, CoP adalah sekelompok orang yang membagi perasaan dan semangat untuk
suatu hal yang mereka kerjakan dan belajar untuk bekerja lebih baik lagi
seiring interaksi yang mereka lakukan sehari-hari. Sebagai sebuah “learning
organization” sangat tepat jika dibentuk CoP-CoP di lingkungan DJKN mengingat
tusi DJKN yang sangat beragam dengan permasalahan yang semakin komplek. Bentuk
CoP juga ada yang formal (dibentuk secara khusus oleh organisasi) maupun non
formal (terbentuk secara alami). Saat ini di DJKN sudah terbentuk banyak
komunitas non formal yang berkomunikasi menggunakan media sosial seperti Grup Telegram
dan Grup WA yang hampir mirip fungsinya dengan CoP. Misalnya Grup Telegram
Pegawai Eselon III dan Eselon IV serta Grup WA Lelang DJKN dan Grup WA
Kepegawaian DJKN. Ke depan, komunitas ini dapat lebih dioptimalkan sebagai CoP
melalui penguatan konsep-konsep CoP misalnya melalui diskusi dan meeting secara
reguler serta open dialog ke dalam dan juga ke luar grup.
2.
Interview.
Yaitu mendiskusikan knowledge yang paling dibutuhkan oleh pimpinan. Peran
leader dalam KM adalah sangat
penting. Pimpinan adalah sponsor utama KM untuk men-support pelaksanaan KM. Mengingat
KM adalah suatu proses transformational,
peran pimpinan sebagai “role model” dan “change manager” juga sangat menentukan
keberhasilan KM.
3. Inspection.
Yaitu melakukan analisis terhadap kondisi
terkini (current state)
dari sistem,
proses bisnis, serta budaya. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui dari mana kita akan memulai membangun KM
(sebagai titik awal).
4. Analysis
Yaitu melaksanakan analisis terhadap gap
antara current state dengan kondisi yang diinginkan. Hasil dari analisis
inilah yang akan menjadi fokus utama dari KM sebagai kondisi yang perlu untuk
ditingkatkan.
5. Reporting.
Yaitu mempromosikan KM (selling
the value of KM).
Menjadikan KM menjadi suatu budaya, sehingga campaign dan strategi public
outreach/change management merupakan suatu hal yang utama. KM harus menjadi
everyone’s job, sehingga harus dimasukkan dalam job description dan/atau KPI masing-masing pegawai. Misalnya: kewajiban untuk
membuat satu kajian/analisis (white paper) dalam satu tahun.
Penutup
Sebagai
kesimpulan, membangun KM yang komprehensif di lingkungan DJKN sudah sangat urgent dan harus menjadi perhatian kita
bersama. Mari kita mulai dari proses yang sederhana misalnya setiap knowledge yang kita miliki/dapatkan kita
share dengan pegawai lain. Selain
itu, sinergi dari semua unit DJKN baik di lingkup pusat (Sekretariat dan
Direktorat Teknis) maupun unit vertikal (Kanwil dan KPKNL) sangat diperlukan. Peran
Sekretariat DJKN disini adalah sebagai knowledge
manager yang mengkoordinasikan pelaksanaan KM. Sedangkan peran Direktorat
Teknis, Kanwil dan KPKNL adalah sebagai knowledge
worker yang meng-create, men-share dan me-utilize knowledge. (Neil E. Prayoga - Kasubbag Pengembangan Pegawai
dan Kepemimpinan Sekretariat DJKN).
Referensi
Etienne
& Beverly Wenger 2015, “Introduction to Communities of Practice”.
FGD
Knowledge Management di Lingkungan DJKN, 12 Oktober 2017.
KMI 2017, “Certified Knowledge Manager Workshop - Program Workbook”.
Sharing
CKM Workshop Itjen, 4 Oktober 2017.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |