Apakah Indikator Kinerja yang Berkualitas menjamin Tercapainya Tujuan?
Andar Ristabet Hesda
Rabu, 20 September 2017 pukul 13:56:32 |
95386 kali
Penulis: Andar
Ristabet Hesda
If we can’t measure it, we can’t manage it (Kaplan dan Norton, 1996). Ungkapan yang
dinyatakan oleh Robert Kaplan dan David Norton dalam papernya yang berjudul “Translating
Strategy into Action” tersebut menyaratkan pesan bahwa pengukuran itu
memang penting agar kita bisa mengelola pencapaian tujuan yang kita harapkan di
masa depan (secure the future). Oleh karena itu, banyak organisasi
yang mengukur kualitas keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi
melalui penetapan indikator-indikator kinerja.
Bagi organisasi, indikator-indikator tersebut mutlak
diperlukan. Bahkan dalam tataran individu pun, seringkali kita juga menetapkan
indikator-indikator yang harus kita capai, agar kita tetap berada di level yang
kita inginkan. Misalnya, ketika kita berupaya menjaga ketepatan waktu berangkat
kerja. Indikator secara tidak sadar memang sudah menjadi bagian dari rutinitas
kehidupan manusia. Namun walaupun demikian, seringkali kita masih tidak
konsisten dengan indikator yang telah ditetapkan. Seketat apapun target, tetap
saja kadang kita masih terlambat ke kantor. Mengapa demikian? Apakah
indikatornya salah? Jika yang kita inginkan adalah tidak terlambat ke kantor,
maka tingkat ketepatan waktu adalah indikator yang sudah tepat. Namun mengapa
kita masih tetap terlambat? Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya
kesadaran diri (awareness) bahwa ketepatan waktu itu penting dan
bermakna bagi kita. Indikator yang sudah baik tidak akan ada artinya jika
ternyata dalam implementasinya tidak diikuti dengan kesadaran diri untuk
mengerti bahwa kinerja harus kita capai karena hal itu memang penting dan baik
untuk kita, organisasi, serta seluruh pemangku kepentingan.
Pada tahun 1999, Fortune Magazine mengungkapkan
bahwa 70% strategi gagal dikarenakan proses eksekusi yang buruk. Kemudian tahun
2003, Fortune Magazine kembali menyatakan bahwa kurang dari
10% strategi dieksekusi dengan efektif. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan
indikator yang berkualitas saja tidak cukup, butuh kesadaran diri dalam
mengawal eksekusinya.
Oleh karena itu, ada dua kunci utama yang dapat
digunakan untuk mengakselerasi tercapainya tujuan, pertama, bagaimana kita
menetapkan indikator yang berkualitas, kedua bagaimana kita mencapainya dengan
disertai kesadaran diri. Kunci pertama kita sebut dengan istilah manajemen
kinerja, yaitu suatu mekanisme yang dilakukan untuk menyusun ukuran/indikator
kinerja sebagai alat untuk mengetahui tercapai/tidaknya tujuan organisasi.
Kunci kedua kita sebut dengan istilah manajemen budaya, yaitu suatu mekanisme
untuk menanamkan kesadaran mengenai apa saja yang penting/tidak penting
sehingga pada akhirnya kesadaran tersebut mampu menjiwai setiap perilaku dalam
berorganisasi. Disinilah kita akan mengenal istilah budaya organisasi.
Kunci Pertama: Indikator Kinerja yang
Berkualitas
Penetapan indikator kinerja yang berkualitas
adalah standard minimum yang harus dilakukan oleh organisasi dalam pencapaian
tujuannya. Jika indikator yang kita pilih ternyata salah, maka akibatnya alarm
yang kita gunakan pun juga salah. Indikator kinerja harus benar-benar mampu
mengukur apa yang menjadi tujuan organisasi. Tidak sampai pada tujuan adalah
berbahaya bagi organisasi, tapi yang lebih berbahaya adalah kita merasa sudah
sampai, padahal sebenarnya masih berjalan. Indikator yang salah akan
berimplikasi pada persepsi dan tindak lanjut yang salah. Lalu bagaimana
kriteria indikator kinerja yang berkualitas? Stacey Barr, seorang Performance
Measurement Specialist dari Australia, menyatakan bahwa berkualitas
tidaknya indikator dapat dinilai dengan menjawab beberapa pertanyaan sebagai
berikut:
Are those indicators or measures focusing you on
the things that really do need your attention, the important things? (Apakah indikator yang dirumuskan mendorong kita
untuk lebih fokus pada hal-hal yang penting bagi organisasi?)
Are those measures helping you stay on a path
toward excellence, are they giving you the kind of feedback to make the right
decisions to continue towards performance excellence? (Apakah indikator yang dirumuskan membuat kita
tetap berada pada jalur keberhasilan, dan apakah mampu memberikan feed
back yang positif untuk peningkatan kinerja?)
Are those measures showing you the impact of the
improvement initiatives you’re putting into place, are they showing you that
you’re getting a return on the investment you’re spending on performance
improvement and strategy execution? (Apakah indikator yang diumuskan mampu menunjukkan dampak atas
perbaikan inisiatif yang kita lakukan, dan apakah indikator tersebut mampu
menunjukkan hasil atas perbaikan kinerja dan eksekusi strategi?)
Sesuai dengan pertanyaan di atas, paling tidak
ada tiga kriteria yang menunjukkan berkualitas tidaknya indikator kinerja,
yaitu 1) fokus pada hal-hal yang penting bagi organisasi, 2) mampu menjaga
organisasi untuk tetap berada pada track serta
memberikan feed back yang positif, dan 3) mampu mengukur
dampak/hasil atas apa yang kita lakukan. Kriteria pertama, fokus pada apa yang
penting salah satunya ditunjukan melalui rumusan indikator yang mampu
mencerminkan apa yang menjadi tujuan, visi, dan misi organisasi. Kriteria
kedua, indikator tersebut harus mampu mendorong continuous improvement dari
peride ke periode. Hal ini bisa ditunjukan dengan tumbuhnya trajectory target
serta upaya tindak lanjut atas feed back. Kriteria ketiga,
indikator tersebut sedapat mungkin mampu mengukur dampak/hasil atas aktivitas
yang dilakukan bukan hanya terbatas pada penyelesaian aktivitas-aktivitas saja.
Kunci Kedua: Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah sesuatu yang seringkali
diremehkan. Secara umum, pada beberapa unit, budaya organisasi juga tidak
diformalkan, walaupun secara tidak sadar mungkin sebenarnya sudah mengilhami
pekerjaan sehari-hari, seperti bekerja sama, saling menghormati, dan lainnya.
Hal ini mungkin akan efektif pada organisasi dengan skala kecil, namun untuk
organisasi dengan skala besar dan kompleks, budaya organisasi harus dirumuskan
dan dikomunikasikan kepada seluruh elemen organisasi, terutama bagi pegawai-pegawai
baru. Budaya organisasi yang ditanamkan dengan serius akan meningkatkan
kebermaknaan atas pencapaian tujuan organisasi dan akan membuat organisasi
lebih sustainable dalam menghadapi apapun. Keberhasilan
implementasinya memang tidak bisa langsung diukur dalam jangka pendek, namun
dalam jangka panjang akan mampu mempengaruhi peningkatan kinerja organisasi.
Lebih dari 60 penelitian pada tahun 1990 s.d. 2007 pada lebih dari 7600 unit
organisasi telah membuktikan bahwa implementasi budaya (termasuk di dalamnya
nilai organisasi) akan mempengaruhi peningkatan kinerja secara signifikan.
(Shahzad, et. al., 2012).
Herb Kelleher, CEO dari Southwest Airlines,
ketika ditanya hal apa yang membuatnya tidak bisa tidur, maka dia menjawab ‘‘My
biggest concern is that somehow, through maladroitness, through inattention,
through misunderstanding, we lose the esprit de corps, the culture, the spirit.
If we ever do lose that, we will have lost our most valuable competitive asset.’’
(Perhatian terbesar saya adalah entah bagaimana, karena kekurangbijaksanaan,
kurangnya perhatian, dan salah pengertian, kita kehilangan semangat corps dan
budaya organisasi. Jika kita benar-benar kehilangannya, maka kita akan
kehilangan aset yang paling berharga). Budaya merupakan kumpulan dari prinsip,
pola berpikir, dan nilai yang memandu setiap perilaku elemen organisasi. Jika
budaya benar-benar ditanamkan, maka ini akan membuat organisasi menjadi lebih
tahan banting, karena ketika organisasi mendapat ancaman dari luar, semua orang
akan berpikir bagaimana mempertahankannya.
Implementasi budaya harus dimulai,
dikomunikasikan, dan dilakukan oleh pimpinan tertinggi. Scott McNealy, CEO Sun
Microsystems, menekankan pentingnya komunikasi, ‘‘Communication is a core
competency of any business. It starts with the CEO.’’ (Komunikasi adalah
kompetensi dasar di segala bidang, dan hal itu dimulai dari CEO/pimpinan).
Keteladanan adalan metode yang paling efektif untuk menanamkan budaya pada
seluruh elemen organisasi.
Melalui implementasi budaya yang baik, tidak
tercapainya target-target kinerja juga akan dikelola secara serius, bukan
sebagai personal jugdement (vonis) tapi lebih kepada feed
back apa yang harus ditindaklanjuti agar pencapaian kinerja kembali
sesuai dengan track-nya. Capaian merah tidak lagi menjadi momok
selama memang indikator dan target tersebut mencerminkan apa yang menjadi
tujuan organisasi. Capaian merah sesuanggunya adalah alarm yang berbunyi,
sehingga harus kita cek, apa yang sudah kita lakukan, mengapa demikian, dan
kemudian apa yang harus segara kita lakukan. Tanpa budaya yang baik, capaian
merah akan menjadi momok dan personal jugdement dari atasan ke
bawahan. Dampaknya, semua orang akan berlomba-lomba mencapai target dengan
cara-cara yang tidak baik, seperti merendahkan target, pengakuan kinerja yang
tidak riil, dan lainnya.
Implementasi budaya pada setiap organisasi tentu
memiliki model/gaya yang berbeda-beda. Perumusan budaya perlu dilakukan
dengan engagement yang baik dari seluruh stakeholder, customer,
dan internal organisasi. Berikut ini contoh budaya sekaligus nilai pada Google
Incorporation yang secara nyata telah diimplementasikan oleh seluruh elemen
organisasi.
Ten Things Google Has Found to Be True:
Focus on the user and all else will follow.
It’s best to do one thing really, really well.
Fast is better than slow.
Democracy on the web works.
You don’t need to be at your desk to need an
answer.
You can make money without doing evil.
There’s always more information out there.
The need for information crosses all borders.
You can be serious without a suit.
Great just isn’t good enough.
Mungkin pernyataan-pernyataan di atas terlihat
sederhana, tapi ternyata justru nilai-nilai tersebutlah yang sampai saat ini
menjadikan Google sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Berdasarkan hasil survei Millward Brown, perusahaan teknologi informasi milik
Larry Page itu memiliki nilai US $ 158,84 miliar.
Kesimpulan
Indikator kinerja adalah kendaraan dalam
mencapai tujuan. Oleh karena itu, tentu kita memerlukan kendaraan dengan
performa yang baik dan berkualitas. Melalui kendaraan tersebut, kita bisa
mengetahui sudah sampai dimana kita, apakah sudah dekat atau masih jauh dengan
tujuan yang akan dicapai. Namun, agar kendaraan tersebut berjalan dengan baik,
tentu kita juga harus memiliki pengemudi yang profesional. Pengemudi yang
profesional adalah pengemudi yang berbudaya, dia akan dapat mengakselerasi
kendaraan, namun tetap menjaga attitude sehingga tidak
melanggar peraturan. Indikator kinerja yang berkualitas dan implementasi budaya
adalah komponen yang akan saling melengkapi dalam mempercepat pencapaian tujuan
organisasi.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |