Lakukan Hal Ini Agar Feedback-mu Dapat Diterima Dengan Baik
Yusuf Eko Susilo
Rabu, 20 Desember 2023 |
1172 kali
Dalam menjalani hidup baik dalam dunia
kerja profesional maupun pergaulan sehari-hari, manusia membutuhkan bantuan dan
kerja sama dengan manusia lainnya. Interaksi sosial melibatkan hubungan antara
dua pihak dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda. Apalagi di masyarakat
Indonesia yang terdiri dari beragam kultur, budaya, latar belakang, tingkat pendidikan,
maupun kondisi ekonomi.
Dalam interaksi
tersebut akan ditemui hal-hal yang dirasa salah atau kurang pas sehingga perlu
untuk diberikan tanggapan mengenai bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan.
Tanggapan tersebut dilakukan dengan cara memberikan umpan balik yang dapat
berupa kritik, saran, maupun masukan. Kadang kala umpan balik disampaikan
kurang tepat sehingga pesan yang disampaikan tidak efektif dan bahkan
menyinggung penerima.
Dalam memberikan umpan
balik kepada orang lain tidaklah sekedar menunjukkan mana yang salah atau kurang
pas. Semestinya umpan balik yang diberikan dapat diterima dengan baik dan
memberikan nilai tambah bagi penerimanya, baik berupa kesadaran, pemahaman,
maupun peningkatan kualitas. Perbaikan tidak hanya terjadi pada hal utama yang
dibahas tetapi juga terjadi pada diri penerima umpan balik. Umpan balik dapat
diterima dengan baik dan membuat hubungan sosial menjadi semakin baik.
Dalam ilmu
komunikasi dikenal suatu metode dalam memberikan umpan balik yang dinamakan sandwich
theory. Sebagaimana kita tahu, sandwich adalah roti lapis ala budaya
barat yang terdiri dari lapisan roti di sisi atas dan sisi bawah dengan isian
yang dapat berupa sayur, daging, keju, atau makanan lain. Mengambil perumpamaan
tersebut, sandwich theory dapat diartikan sebagai metode memberikan umpan
balik dengan membalut pesan inti dengan apresiasi dan saran. Biasanya, urutan
dalam memberikan umpan balik dengan metode ini adalah sebagai berikut:
·
Apresiasi. Menyampaikan hal positif atas
tindakan atau hasil kerja yang dilakukan.
·
Inti. Berisi inti pesan umpan
balik yang ingin disampaikan. Biasanya memuat umpan balik yang keras atau
pahit.
·
Saran. Penutup yang berisi
afirmasi positif berupa alternative solusi dan perbaikan yang dapat dilakukan
di kesempatan selanjutnya.
Sebagai contoh,
ketika ingin memberikan umpan balik atas hasil tulisan yang salah dalam
mengambil referensi. Alih-alih langsung memberikan komentar, “Referensinya
salah, nih! Dasarnya aja uda ga bener, apalagi hasilnya nanti?”
Bisa diganti dengan komentar sebagai
berikut:
“Tulisannya cukup bagus dan mudah dimengerti
(apresiasi).
Namun dasar rujukannya kurang tepat.
Apakah sesuai dengan pokok bahasan? (inti)
Lain kali, diperiksa kembali kesesuaian
antara dasar rujukan dengan pokok bahasan agar relevan. (saran).”
Contoh lain, misalnya ketika ingin
memberikan umpan balik atas bahan paparan yang tidak rapi. Alih-alih langsung
memberikan komentar, “Paparannya berantakan banget nih. Ga layak tayang.
Kayak bikinan anak SD.”
Bisa diganti dengan komentar sebagai
berikut:
“pemilihan warna cerah sekali ya.
(apresiasi).
Penempatan poin-poinnya perlu dirapikan.
Distribusi pembahasan antarslidenya perlu diperbaiki. Jangan sampai ada typo errors. Infografisnya
diperbaiki lagi
(inti)
Coba lihat paparan-paparan milik senior
sebagai referensi. Banyak ruang untuk perbaikan. (saran).”
Pada dasarnya sandwich
theory membuat umpan balik yang keras atau negatif menjadi lebih lunak atau
positif. Sehingga dapat diterima orang lain dengan baik. Hal ini penting
terutama bagi orang yang khawatir umpan balik yang diberikannya dapat menyinggung
penerima.
Dengan memberikan
umpan balik menggunakan sandwich theory, kita akan terbiasa untuk
memberikan apresiasi positif terlebih dahulu sebelum memberikan masukan atau
komentar. Hal ini sejalan dengan upaya membangun budaya kritik yang konstruktif.
Apresiasi tidak hanya diberikan kepada mereka yang sudah berhasil, tetapi juga
kepada mereka yang masih berproses. Sedikit progres tetaplah sebuah progres.
Sedikit capaian tetaplah sebuah capaian. Tak perlu khawatir kehabisan ide untuk
mengapresiasi orang lain. Karena selalu ada hal yang bisa diapresiasi dari
seseorang.
Jabat erat!
(Narasi: Yusuf Eko)
Referensi:
The Feedback
Sandwich: Should You Use It? (Pros and Cons). https://fellow.app//blog/feedback/the-feedback-sandwich-should-you-use-it-pros-and-cons/
Should you use
the feedback sandwich? 7 pros and cons. https://www.betterup.com/blog/feedback-sandwich/
The “Sandwich
Approach” Undermines Your Feedback. https://hbr.org/2013/04/the-sandwich-approach-undermin
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |