Torang Pe APBN Maret 2026 : Kinerja APBN Regional Maluku Utara hingga Februari 2026 Tetap Terjaga dan Tumbuh Positif
Rully Setyabudi
Kamis, 26 Maret 2026 |
35 kali
Ternate – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Regional
Maluku Utara hingga 28 Februari 2026 menunjukkan perkembangan yang positif dan
tetap terjaga. Hal ini tercermin dari pertumbuhan signifikan pada sisi
pendapatan negara serta akselerasi belanja pemerintah dalam mendukung aktivitas
perekonomian daerah.
Realisasi pendapatan APBN tercatat sebesar
Rp682,40 miliar atau tumbuh 61,44 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan penerimaan perpajakan, terutama
dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM),
serta Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas yang menunjukkan aktivitas ekonomi
domestik yang tetap kuat.
Sementara itu, realisasi belanja negara
mencapai Rp2.071,79 miliar atau tumbuh 5,47 persen (yoy). Belanja Pemerintah
Pusat mengalami pertumbuhan sebesar 23,37 persen, khususnya pada belanja barang
dan belanja modal. Adapun penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) tumbuh sebesar
1,39 persen (yoy), dengan peningkatan pada komponen Dana Alokasi Umum (DAU) dan
Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik.
Dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) konsolidasi, pendapatan daerah hingga Februari 2026 mencapai
Rp1.841,74 miliar atau tumbuh 5,58 persen (yoy). Struktur pendapatan daerah
masih didominasi oleh dana transfer dari pemerintah pusat dengan kontribusi
sebesar 88,07 persen. Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp811,41 miliar atau
tumbuh 8,46 persen (yoy), sehingga mencatatkan surplus sebesar Rp1.030,33
miliar.
Kondisi perekonomian regional Maluku Utara
tetap menunjukkan kinerja yang baik. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 29,81
persen (yoy), didukung oleh kinerja sektor eksternal yang positif dengan nilai
ekspor mencapai USD1.047,79 juta dan impor sebesar USD727,02 juta. Selain itu,
indikator sosial seperti tingkat kemiskinan sebesar 5,59 persen, tingkat
pengangguran terbuka sebesar 4,44 persen, serta Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) sebesar 72,52 berada pada kategori yang relatif baik. Namun demikian,
tekanan inflasi sebesar 5,85 persen (yoy) tetap perlu diwaspadai.
Dalam pelaksanaannya, terdapat deviasi antara
proyeksi dan realisasi APBN. Penerimaan negara diproyeksikan mengalami
underestimate sebesar Rp130,36 miliar, sementara belanja negara diproyeksikan
mengalami overestimate sebesar Rp226,61 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika
realisasi penerimaan perpajakan, bea dan cukai, serta percepatan belanja
kementerian/lembaga dan penyaluran TKD.
Selain itu, implementasi Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) di Maluku Utara hingga saat ini telah menjangkau sekitar 188 ribu
penerima manfaat atau 52 persen dari target. Program ini masih menghadapi
sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur di wilayah
tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), koordinasi antar lembaga yang perlu
ditingkatkan, serta keterbatasan tenaga ahli gizi.
Sebagai langkah tindak lanjut, diperlukan upaya percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan keuangan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program pemerintah sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Ke depan, sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang inklusif dan berkelanjutan.
Foto Terkait Berita