Torang Pe APBN Februari 2026: Penerimaan Menguat, Belanja Tertekan Dinamika TKD
Rully Setyabudi
Sabtu, 28 Februari 2026 |
111 kali
Perekonomian Maluku Utara Awal 2026 Tetap Solid,
Penerimaan APBN Tumbuh Signifikan
Kinerja
perekonomian nasional pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan stabilitas yang
terjaga di tengah dinamika global. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat
dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dan emas dunia, namun kondisi
makroekonomi Indonesia tetap resilien dengan pertumbuhan ekonomi 5,11 persen
dan inflasi terkendali di level 3,55 persen.
Sejalan
dengan kondisi nasional, perekonomian regional Maluku Utara juga mencatatkan
perkembangan yang positif. Pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, tingkat kemiskinan
dan pengangguran menurun, serta neraca perdagangan daerah mempertahankan
surplus secara konsisten.
Penerimaan APBN Regional Tumbuh 17,40 Persen
Realisasi
APBN Regional Maluku Utara hingga Januari 2026 menunjukkan kinerja yang cukup
baik pada sisi penerimaan. Pendapatan negara tercatat sebesar Rp268,36 miliar
atau tumbuh 17,40 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan
tersebut terutama ditopang oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM yang
terealisasi Rp196,67 miliar atau melonjak 193,41 persen (yoy). Struktur penerimaan
yang didominasi pajak domestik mengindikasikan aktivitas ekonomi dalam negeri
masih terjaga dengan baik. Sektor transportasi dan pergudangan menjadi
kontributor terbesar penerimaan pajak dalam negeri.
Di sisi
lain, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) lainnya juga tumbuh 21,79 persen
menjadi Rp41,70 miliar. Sebagian PNBP tersebut berasal dari layanan pengelolaan
aset dan lelang yang dilaksanakan oleh KPKNL Ternate.
Sementara
itu, realisasi pajak perdagangan internasional turut mencatatkan capaian positif,
dengan komoditas ekspor utama berupa ferronickel dan komoditas impor terbesar
berupa belerang.
Belanja Negara Terpengaruh Penurunan Transfer ke
Daerah
Pada sisi
belanja, realisasi Belanja Negara mencapai Rp1,324 triliun atau mengalami
kontraksi 1,34 persen (yoy). Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya
komponen Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 4,46 persen (yoy), khususnya pada
Dana Bagi Hasil (DBH) serta belum terealisasinya DAK Fisik dan Dana Desa hingga
akhir Januari.
Namun
demikian, Belanja Pemerintah Pusat (BPP) justru tumbuh signifikan sebesar 25,69
persen (yoy), terutama didorong oleh kenaikan belanja barang dan belanja modal
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Transfer
ke Daerah sendiri telah tersalurkan sebesar 13,15 persen dari total pagu Rp8,74
triliun kepada 11 pemerintah daerah di Maluku Utara. Meski demikian, terdapat
sejumlah kendala administratif yang berdampak pada keterlambatan penyaluran
sebagian dana.
APBD Konsolidasi: Pendapatan Turun, Belanja Naik
Kinerja
APBD Konsolidasi Maluku Utara hingga Januari 2026 menunjukkan dinamika berbeda.
Pendapatan daerah terealisasi sebesar Rp1,27 triliun atau terkontraksi 2,08
persen (yoy). Struktur pendapatan masih sangat bergantung pada transfer pusat
dengan kontribusi mencapai 90,55 persen, sedangkan kontribusi Pendapatan Asli
Daerah (PAD) baru sekitar 9,45 persen.
Sebaliknya,
belanja daerah tumbuh 27,31 persen (yoy) menjadi Rp311,42 miliar, terutama
didorong oleh peningkatan belanja operasi, khususnya belanja gaji dan tunjangan
ASN. Sementara itu, belanja modal masih relatif kecil sehingga dinilai belum
optimal dalam mendorong efek pengganda ekonomi daerah.
Revitalisasi Sekolah Hadapi Tantangan Geografis
Program
Revitalisasi Sekolah sebagai bagian dari agenda prioritas nasional (Asta Cita)
telah menjangkau 270 satuan pendidikan di Maluku Utara hingga akhir 2025 dengan
total realisasi anggaran Rp341,8 miliar.
Pelaksanaan
program ini menghadapi tantangan karakteristik wilayah kepulauan, tingginya
biaya logistik, serta perlunya peningkatan kepatuhan perpajakan dan validitas
data pemetaan sekolah. Rekomendasi yang disampaikan antara lain penguatan
infrastruktur transportasi antar pulau, penyesuaian standar biaya wilayah
kepulauan, peningkatan koordinasi lintas instansi, serta optimalisasi
digitalisasi dalam pemetaan dan pengawasan.
Penyaluran KUR dan UMi Tumbuh, Namun Belum Merata
Penyaluran
Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Januari 2026 mencapai Rp49,72 miliar kepada
707 debitur atau tumbuh 34,38 persen (yoy). Penyaluran terbesar berada di Kota
Ternate dan Kabupaten Halmahera Utara, dengan sektor perdagangan besar dan
eceran tetap mendominasi.
Meski
tumbuh positif, penyaluran KUR masih menghadapi tantangan pemerataan wilayah,
pemenuhan persyaratan administrasi debitur, serta pemanfaatan Sistem Informasi
Kredit Program (SIKP) yang belum optimal.
Sementara
itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) terealisasi sebesar Rp182,7 juta kepada 26
debitur atau meningkat 238,33 persen (yoy). Namun, keterbatasan lembaga
penyalur serta preferensi debitur terhadap KUR—yang menawarkan plafon lebih
besar dan bunga lebih rendah—menjadi tantangan tersendiri dalam ekspansi UMi.
Kesimpulan
Secara
umum, indikator perekonomian Maluku Utara pada awal tahun 2026 menunjukkan
kondisi yang tetap kuat. Penerimaan APBN tumbuh signifikan, meskipun belanja
mengalami tekanan akibat dinamika penyaluran Transfer ke Daerah. Pada tingkat
daerah, ketergantungan terhadap dana transfer pusat masih sangat dominan dan
perlu diimbangi dengan penguatan PAD serta peningkatan kualitas belanja,
khususnya belanja modal.
Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, serta optimalisasi program strategis seperti revitalisasi sekolah dan pembiayaan UMKM, diharapkan kinerja fiskal dan ekonomi Maluku Utara semakin inklusif dan berkelanjutan.
Foto Terkait Berita