Torang Pe APBN Edisi Januari 2025: Maluku Utara Kuat, Siap Hadapi 2025
Dimas Aulia Tanaya
Jum'at, 31 Januari 2025 |
1036 kali
Pada Jumat 24 Januari 2025, bertempat di
Aula Gamalama, Kantor Wilayah DJPb Provinsi Maluku Utara, diadakan agenda media
briefing Torang Pe APBN Edisi Januari 2025 yang diikuti oleh perwakilan
Kementerian Keuangan provinsi Maluku Utara dan juga beberapa orang dari media
massa setempat.
Acara dibuka dan dilanjutkan dengan paparan
oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Maluku
Utara, Tunas Agung Jiwa Brata. Pada pemaparannya, Tunas Agung menjelaskan
kondisi perekonomian global dan nasional yang tentu saja mempengaruhi kondisi
perkonomian lokal di Provinsi Maluku Utara. Memperhatikan laju inflasi di
Provinsi Maluku Utara tercatat per Desember 2024, inflasi berada di angka 1,50%
(yoy), angka tersebut masih lebih rendah daripada tingkat inflasi nasional dan
bisa dikatakan bahwa tingkat inflasi Provinsi Maluku Utara masih terkendali. Meskipun
demikian, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai, terutama potensi lonjakan
harga bahan pokok. Dari angka tersebut, Provinsi Maluku Utara berada di urutan
ke-7 dengan tingkat inflasi tertinggi di kawasan Sulawesi Ambon dan Papua.
Provinsi Maluku Utara secara fiskal menunjukkan
kinerja yang positif, hal ini bisa dilhat dari Realisasi Pendapatan APBN yang
mencapai Rp7.059,24 miliar atau 105,20?ri pagu, dan mengalami pertumbuhan
sebesar 38,40% (yoy). Realisasi belanja APBN Provinsi Maluku utara mencapai
96,62?ri total pagu. Kendati demikian, terdapat kendala pada penyaluran Dana
Alokasi Khusus (DAK) Fisik Tahap III di beberapa pemerintah daerah.
Dari segi penerimaan peningkatan yang
signifikan dapat dilihat dari penerimaan PPh Non-Migas yang mencapai Rp4.337,42
miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 53,49% (yoy). Secara agregat, seluruh
sektor utama tumbuh positif sampai dengan Desember 2024. Sektor industri pengolahan
dan pertambangan masih menjadi kontributor terbesar penerimaan pajak
(menyumbang 35,05?n 22,38%, konsisten sepanjang tahun 2024. Penyumbang pertumbuhan
berasal dari indusri pembuatan logam dasar bukan besi. Sedangkan sektor
transportasi dan pergudangan masih menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi
yang disebabkan peningkatan aktivitas pelayanan kepelabuhan laut akibat
tingginya permintaan transportasi laut. Hal ini menjadi pemicu adanya
penambhaan armada kapal dari perusahaan swasta. Selain itu aktivitas angkutan
laut untuk barang umum juga mengalami peningkatan. Untuk dari Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) ada dari penerimaan Bea Cukai sebesar Rp441,42 Miliar,
meningkat sebesar 29,51% yoy. Sedangkan untuk PNBP lainnya dan Pendapatan BLU
sebesar Rp548.60 miliar, mengalami penurunan sebesar 6,37% yoy.
Beralih ke Analisis Fiskal APBD, Tunas
Agung mengatakan bahwa pendapatan APBD s.d. Desember 2024 mencapai Rp13.122,97
miliar atau 88,85?ri pagu yang didominasi oleh komponen dana transfer.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terealisasi sebesar 50,86?ri pagu, mengalami
kontraksi sebesar 1,56% (yoy). Hanya komponen Pajak Daerah yang menunjukkan
peningkatan. Dari total realisasi Belanja Daerah sebesar Rp10.703,73 miliar,
telah digunakan untuk pembayaran Gaji dan Tunjangan ASN, Belanja Barang,
Belanja Bantuan Keuangan, Belanja Jasa, Belanja Modal Jalan dan Jembatan dan
Belanja Perjalanan Dinas.
Neraca perdaganan di Maluku Utara pada Desember
2024 mengalami surplus sebesar USD 723,32 juta. Ekspor bulan Desember 2024
tercatat sebesar USD 1.102,66 juta yang didominasi oleh komoditas ferronickel
di Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan. Selain ferronickel, ekspor Maluku
Utara berasal dari oksida nikel, nikel matte, bijih besi, hasil
perikanan, serta hasil perkebunan Komoditas penyumbang devisa ekspor (kumulatif)
terbesar adalah ferronickel dengan total USD6.650,19 juta. Impor
bulan Desember 2024 tercatat sebesar USD 379,34 juta yang sebagian besar
berasal dari bijih nikel, mesin-mesin untuk pengolah nikel, serta bahan baku
mineral pembangkit listrik tenaga panas bumi. Komoditas impor penymbang devisa
terbesar adalah bijih nikel dan konsentratnya dengan nilai total USD 181,22
juta.
Dari isu strages di regional Maluku Utara, realisasi
penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) s.d. Desember 2024 sebesar Rp574,49
miliar dengan 9.261 debitur yang didominasi dari debitur sektor perdagangan
besar dan eceran. Adapun realisasi penyaluran dana KUR mengalami kontraksi
sebesar 8,57% (yoy). Realisasi terbesar KUR ada di wilayah Kab. Halmahera Utara
sebesar Rp132,89 miliar dengan 1964 debitur, realisasi terbesar kedua berasal
dari Kota Ternate sebesar Rp99,19 miliar dengan 1434 debitur.
Sedangkan untuk perkembangan penyaluran
Usaha Mikro (UMi) sampa dengan bulan desember realisasi berada di angka Rp3.713,48
juta dengan 729 debitur, apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
realisasi UMi tumbuh sebesar 11,12%. Realisasi terbesar berasal dari Kota
ternate dengan Rp3.274,10 juta dengan 672 debitur dan di posisi kedua dengan
realisasi sebesar Rp160,31 juta dengan 13 debitur, berasal dari Kab. Halmahera
Utara.
Terdapat potensi peningkatan produksi rumput
laut dan produk olahannya di Provinsi Maluku Utara tepatnya di Pulau Taliabu.
Pada awal tahun 2024, Kabupaten Pulau Taliabu melakukan ekspor hasil bibit
rumput laut jenis Sargassum Polycytum ke Wakatbi, Provinsi Sulawesi
Tenggara sebanyak 30 ton. Dan pada tahun-tahun sebelumnya, Pulau Taliabu pernah
juga mendistribusikan bibit rumput laut ke Kabupaten Pulau Morotai di angka 15
tan, dan 15 ton ke Kabupaten Halmahera Barat. Hal ini bisa menjadi potensi yang
cukup bagus untuk dikembangkan kedepannya.
Beralih ke isu lokal yang ada di Provinsi
Maluku Utara, seperti yang disampaikan oleh Tunas Agung sebelumnya, terdapat
kegagalan penyaluran DAK Fisik Tahap III 2024 wilayah Provinsi Maluku Utara. Hal
ini disebabkan karena Dokumen penyaluran belum disampaikan ke KPPN, capaian
output pada poyek tidak memenuhi syarta salur, dan juga dokumen disampaikan
melewati batas waktu. Dampak yang dirasakan oleh Pemerintah Daerah dengan adanya
hal ini adalah, dari Pemerintah Daerah Halamahera Tengah, Kepulauan Sula dan
Halmahera Utara, proyek dapat dilanjutkan namun dengan sumber dana dari APBD,
sedangkan dampak yang dirasakan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Halmahera Barat adalah, proses kontraktual dimulai kembali dari awal sehingga memperpanjang
waktu penyelesaian proyek. Selain itu, proyek dijalankan dengan sumber dana
dari APBD. Tak hanya Pemerintah Daerah saja yang merasakan dampak dari kejadian
ini, masyarakat juga merasakan dampaknya. Beberapa hal yang dirasakan dan
berdampak pada masyarakat diantaranya adalah terhambatnya program pembangunan
daerah dan penyediaan layanan masyarakat, terhambatnya perputaran ekonomi
akibat tertundanya pembangunan infrastruktur, meningkatnya biaya pembangunan
dimasa depan akibat inflasi atau kerusakan yang semakin parah pada fasilitas
yang tidak diperbaiki, dan juga penurunan kualitas akibat kurangnya pembangunan
atau perbaikan fasilitas pelayanan publik.
Kesimpulan dari media briefing kali
ini menutup kegiatan media briefing Torang Pe APBN kali ini, menurut Tugas
Agung secara umum, kinerja perkonomian Provinsi Maluku Utara masih tumbuh dan
kuat sampai dengan Desember 2024. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya
penerimaan dan juga neraca perdaganan yang mengalami surplus, meskipun ada hal
yang tidak diinginkan seperti kegagalan penyaluran DAK Fisik Tahap III 2024 di
wilayah Provinsi Maluku Utara hal ini diharapkan tidak terlalu berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara untuk kedepannya.
Foto Terkait Berita