Upaya Optimalisasi BMN melalui Evaluasi Kinerja BMN
Rio Kurniawan
Jum'at, 07 Maret 2025 |
682 kali
Reformasi di bidang Keuangan Negara dangan
diterbitkannya Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang
Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara menjadi salah satu latar belakang adanya pergeseran pola pikir tentang
pengelolaan BMN. Apabila sebelumnya Barang Milik Negara (BMN) dianggap sebagai
suatu beban (cost centre), maka dengan terbitnya tiga aturan tersebut,
BMN didorong untuk menjadi salah satu sumber pendapatan negara (revenue
generator).
Salah satu upaya untuk mendorong BMN agar dapat
menjadi revenue generator yaitu dengan adanya kegiatan evaluasi secara
periodik. Tujuan utama dari evaluasi
terhadap BMN dilakukan untuk mengukur sejauh mana kinerja/performa BMN.
Nantinya dari hasil evaluasi ini dapat ditentukan Langkah-langkah strategis
dalam rangka efisiensi, efektifitas, dan optimalisasi pengelolaan BMN.
Evaluasi kinerja BMN dilakukan terhadap seluruh aset pemerintah
pusat. Namun demikian, berkaitan dengan banyaknya aset tersebut, kegiatan ini
difokuskan pada BMN yang mempunyai nilai signifikan yaitu aset berupa tanah dan
bangunan yang berada di pengelola barang dan pengguna barang.
Dalam evaluasi kinerja BMN, terdapat 6 indikator
pengukuran yang digunakan, yaitu:
1. Indikator kepentingan umum. Indikator ini
mengukur kepentingan orang banyak atau tujuan yang luas atas BMN yang dievaluasi.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, definisi dari kepentingan umum adalah kepentingan
bangsa, negara, dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan
digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Di samping itu, aspek-aspek
lain yang menjadi pembatasan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
termasuk kepentingan umum, antara lain: rahasia negara, alat utama sistem
senjata, dan kawasan hutan.
2. Indikator Manfaat sosial. indikator ini
melihat seberapa besar manfaat sosial yang dirasakan atas BMN yang dievaluasi
khususnya bagi masyarakat di sekitar lokasi tempat BMN berada. Indeks yang
dapat digunakan untuk mengukur diantaranya adalah indeks kesejahteraan hidup
penduduk melalui pengukuran indeks mutu hidup (IMH) dan indeks pembangunan
manusia (IPM). Selain itu tingkat kesejahteraan juga dapat digunakan untuk
mengukur indikator manfaat sosial. tingkat kesejahteraan ini meliputi tiga
indikator yaitu: jumlah dan pemerataan pendapatan, pendidikan yang sekain mudah
dijangkau, dan kualitas kesehatan yang semakin meningkat dan merata.
3. Indikator tingkat kepuasan stakeholder. Secara umum
tingkat kepuasan ini dapat dilihat dari lima dimensi yaitu: kehandalan (reliability),
daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan
penampakan fisik (tangibles). Kepuasan ini dapat diidentifikasi dari persepsi
stakeholder terhadap harapan yang telah terpenuhi atau terlampaui. Kepuasan ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: fungsionalitas, fitur-fitur, keindahan
desain, daya tahan, kemudahan mendapatkan layanan, kesesuaian, dan kualitas
layanan.
4.
Indikator potensi masa depan. Setiap aset
khususnya gedung dan bangunan harus diklasifikasikan berdasarkan peran
operasional dan tingkat kekritisannya. Hal ini berguna untuk menetapkan
prioritas alokasi sumber daya. Penilaian kekritisan ini mempertimbangankan dua
hal, yaitu penting tidaknya aset untuk pemberian layanan inti kepada publik,
dan konsekuensi dalam hal risiko terhadap kegagalan pemberian layanan dan
kemudahan penggantian aset.
5.
Indikator kelayanan finansial/ekonomi. Beberapa
indikator pengukuran yang dapat dilakukan untuk aset yang bersifat profitable
yaitu melalui penghitungan: Gross rent multiplier (GRM), Cash on cash
return (CoCR), Profitability Index (PI), Internal Rate Return
(IRR), Debt Coverage ratio (DCR), Break even ratio (BER), Loan
to value ratio (LoVR), tingkat kapitalisasi, net cash flow (arus kas
bersih). Sedangkan untuk aset yang tidak ditujukan untuk menghasilkan
pendapatan, maka kinerja finansialnya dihitung dengan menghitung perbandingan
total biaya perolehan baru, biaya operasional (listrik dan air), biaya
pemeliharaan, dan besaran biaya penyusutan aset.
6. Indikator kondisi teknis. Kondisi teknis
aset mencerminkan keadaan fisik aset. Umumnya hal ini dapat diukur dari sisi
keandalan, ketersediaan, kapasitas, serta tuntutan dan kebutuhan pelanggan.
Umumnya indikator ini diukur dengan melihat kondisi aset berdasarkan kondisinya
(baik, rusak ringan, atau rusak berat).
Hasil akhir dari evaluasi kinerja BMN adalah
nilai/skor dari masing-masing indikator pengukuran. Dimensi dari setiap
indikaor dapat dihitung dengan menggunakan metode dimensi rendah atau metode
rata-rata. Hal ini tergantung dari kondisi dan objek BMN yang dievaluasi.
Dari 6 indikator yang telah dijelaskan, indikator
kepentingan umum adalah indikator yang mempunyai karakter khusus. Dalam hal BMN
yang dievaluasi menunjukkan nilai/skor yang tinggi pada indikator kepentingan
umum, maka nilai indikator yang lain tidak akan terlalu berpengaruh terhadap
strategi yang akan diambil atas BMN yang dievaluasi. Sedangkan apabila
indikator kepentingan umum memiliki skor rendah, maka barulah indikator lain
dapat mempengaruhi strategi yang akan dilakukan terhadap BMN yang dievaluasi.
Pada akhirnya hasil akhir dari kegiatan evaluasi
kinerja BMN dapat digunakan sebagai bahan untuk pertimbangan pengelolaan BMN, dalam
hal ini apakah BMN tersebut tetap dipelihara, dimanfaatkan,
dipindahtanganankan, atau justru dihapuskan. Hal ini dikarenakan melalui
kegiatan evaluasi kinerja BMN, akan dapat diketahui kinerja BMN tersebut apakah
sudah sesuai dengan tujuan awal pengadaan/pembangunan.
Penulis: Muhammad Mukti Abadi (Staf Seksi Pengelolaan Kekayaan Negara)
Sumber:
KMK 349/KM.6/2018 tentang Tata Tata Cara Pelakasanaan
Evaluasi Kinerja Barang Milik Negara Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |