Dari Kampung ke Kampus Dunia: Menapaki Perjalanan PhD di London
Justicio Yohannes Valentino Engko
Senin, 15 September 2025 |
153 kali
Mimpi yang Ditanam di Tengah Sawah
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa anak kampung yang menimba ilmu di sekolah dasar sederhana di tengah sawah, suatu hari akan duduk di ruang kelas salah satu kampus ternama di London. Saya lahir dari keluarga pendidik, dan sejak kecil telah diajarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter, kedisiplinan, serta pola pikir yang kritis.
Bertumbuh di desa kecil di Kabupaten Bogor, saya terbiasa dengan segala keterbatasan, mulai dari fasilitas pendidikan hingga akses informasi. Namun keterbatasan inilah yang justru menjadi pendorong utama untuk terus bermimpi dan berjuang. Salah satu tantangan terbesar di masa itu adalah keterbatasan dalam mengakses pembelajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Meski demikian, saya tidak berhenti berharap dan bekerja keras untuk suatu hari bisa menuntut ilmu di luar negeri.
Karier Sebagai ASN: Pondasi yang Menguatkan
Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah menetapkan tujuan untuk masuk Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN). Selain karena terinspirasi oleh banyaknya anggota keluarga yang berprofesi sebagai ASN, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan rasional dalam memilih pendidikan tinggi yang berkualitas dan terjangkau.
Setelah lulus dari Program Diploma III Akuntansi PKN STAN pada 2010, saya mengabdi di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kementerian Keuangan. Lingkungan kerja yang dinamis dan penuh tantangan memberikan banyak pelajaran berharga, mulai dari integritas, etos kerja, hingga pentingnya pembelajaran berkelanjutan. Penempatan terakhir saya di KPKNL Sorong menjadi pengalaman yang memperkaya wawasan sekaligus mempertegas keinginan saya untuk terus berkembang.
Menjejak Dunia Akademik Internasional
Perjalanan akademik saya berlanjut ke jenjang Diploma IV, dan pada tahun 2015 saya berhasil memperoleh beasiswa FETA untuk mengikuti program S2 double degree di Universitas Gadjah Mada dan Queen Mary University of London. Program ini saya selesaikan pada 2020, dan empat tahun kemudian saya kembali ke almamater di London untuk memulai program PhD in Finance, kali ini dengan beasiswa dari LPDP.
Menurut saya, tantangan terbesar dalam meraih beasiswa sering kali datang dari dalam diri sendiri—keraguan, rasa takut gagal, dan kecenderungan meremehkan potensi pribadi. Dalam hal ini, dukungan keluarga, atasan, dan rekan kerja memiliki peran penting dalam memperkuat mental dan semangat juang.
Menjalani Kehidupan Sebagai Mahasiswa PhD di London
Studi PhD di Inggris memberikan pengalaman belajar yang sangat berbeda. Fasilitas riset sangat lengkap, mulai dari akses ke jurnal ilmiah bereputasi, data riset yang luas, hingga perangkat lunak penunjang. Kampus menyediakan berbagai dukungan, seperti laptop, dana untuk menghadiri konferensi internasional, hingga bantuan publikasi jurnal.
Hubungan antara mahasiswa dan dosen pembimbing (supervisor) di sini cukup informal namun produktif. Saya masih ingat, pertemuan pertama dengan supervisor dilakukan di sebuah kafe kampus—santai, tetapi tetap serius membahas arah riset. Teman-teman dari berbagai negara turut memperkaya perspektif saya. Kami saling mendukung, tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
London sebagai kota tempat tinggal juga memberikan banyak kesan positif. Ukurannya dua kali lebih besar dari Jakarta, dengan sistem transportasi publik yang sangat terintegrasi dan efisien. Selain itu, ruang terbuka hijau tersedia di banyak titik kota, memberikan keseimbangan di tengah kesibukan studi.
Sebagai kota global, London sangat multikultural. Ragam kuliner, seni jalanan, dan komunitas diaspora—termasuk komunitas Indonesia—memberikan nuansa yang akrab dan hangat. Saya aktif dalam kegiatan komunitas seperti Doctrine UK (komunitas pelajar doktoral Indonesia) dan rutin mengikuti pengajian bulanan di KBRI London bersama Kelompok Pengajian Masyarakat Indonesia.
Sebagai seorang muslim, saya merasa cukup nyaman dengan tersedianya makanan halal dan tempat ibadah. Komunitas Islam juga aktif, termasuk di lingkungan kampus. Namun, tentu ada tantangan, seperti cuaca ekstrem yang tidak menentu dan tingginya biaya hidup. Untuk mengatasi rindu kampung halaman, saya rutin berkomunikasi dengan keluarga dan memasak makanan Indonesia. Saya juga tetap menjaga koneksi dengan rekan-rekan di Kementerian Keuangan dan berusaha tetap relevan dengan isu-isu terkini.
Pesan untuk ASN Muda
Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak semua orang, tidak terbatas pada latar belakang atau lokasi tempat tinggal. Jangan ragu untuk bermimpi besar, karena saat ini banyak peluang beasiswa tersedia untuk jenjang S1 hingga S3, baik dari dalam maupun luar negeri.
Untuk rekan-rekan ASN muda, saya mengajak Anda semua untuk terus mengembangkan diri. Keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan agar kita bisa memberikan kontribusi yang lebih besar. Mari kita jadikan ilmu pengetahuan sebagai investasi jangka panjang, demi pribadi yang lebih tangguh dan instansi yang lebih maju.
Karena pada akhirnya, mimpi yang disiram dengan usaha dan doa, akan tumbuh—bahkan di tanah yang paling keras sekalipun.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel