Kendala dan Kendali
Wijang Banu Hapsari
Kamis, 02 April 2026 |
9 kali
Kendala, semua kita pernah mengalaminya.
Bahkan hidup itu bisa jadi terasa penuh dengan kendala seperti antrian tanpa ujung.
Satu masalah selesai, belum sempat menarik napas, sudah datang perihal baru. Bukan karena kita kurang bersyukur. Tapi memang begitulah hidup bekerja.
Bergerak dari satu urusan ke urusan berikutnya.
Mari tinggalkan sejenak kendala itu dan masuk ke cerita berikut ini…
Suatu hari, bayangkan kamu sedang dalam perjalanan, tanpa kendaraan, dan tiba-tiba hujan turun tanpa pemberitahuan. Kamu tidak bisa menghentikan hujan itu turun.Tapi kamu bisa memilih: mau berlari tanpa arah, atau mau berteriak marah-marah, atau diam dan membuka payung agar tidak basah.
Dari kondisi tersebut, kita mendapatkan sebuah framework kehidupan. Imajinasikan tentang tiga lingkaran seperti target panahan: lingkaran pertama kecil, lingkaran kedua lebih besar, lingkaran ketiga paling besar.
Isinya kecil, tapi sangat menentukan.
Di sana ada dirimu: cara berpikir, cara merespons, cara menata emosi.
Hujan boleh deras, tapi memilih membuka payung atau tidak—itu urusanmu.
Banyak orang merasa lelah bukan karena besarnya masalah, tapi karena ia ingin mengendalikan hal-hal yang memang bukan masuk ranah. Urusan yang ada di luar lingkar kendali.
Lebih luas, tapi tak sepenuhnya patuh.
Di sini ada pasangan, keluarga, teman, tim, audiens, bahkan orang-orang yang hanya mengenal kita dari layar.
Kita bisa memberi nasihat, teladan, dorongan, dan manfaat. Namun hasil akhirnya bukan di tangan kita.
Seperti menanam benih: kita bisa menyiram, tapi tidak bisa memaksa ia tumbuh hari ini juga.
Paling besar, paling bising, dan sering paling menjadi urusan yang melelahkan.
Isu negara, bisnis orang lain, watak manusia, komentar netizen.
Kita bisa melihatnya, mendengarnya, tapi seringkali terlalu jauh untuk disentuh, diberi pengaruh, apalagi dikendalikan.
Masalahnya, banyak orang menghabiskan energi terbesar justru di lingkar ini.
…
Itu framework kehidupan kita: tiga lingkaran.
Lalu bagaimana cara menggunakannya?
Berlatih meletakkan urusan di posisi yang tepat.
Setiap kali sebuah isu datang, berhenti sejenak dan bertanya, “Ini masuk lingkar yang mana: kendali, pengaruh, atau sekadar perhatian?”
Jawaban itu akan menentukan sikap.
Kalau bisa dikendalikan, bertindaklah.
Kalau bisa dipengaruhi, berikhtiarlah tanpa memaksa.
Kalau hanya sebatas perhatian, bersikap yang bijak untuk tidak tenggelam di dalamnya.
Lalu bagaimana jika ada masalah yang ingin kita selesaikan, tapi jelas-jelas di luar kendali?
Di situlah kita belajar satu hal penting: yang di luar kendali, itulah kendala :)
Tapi, jangan khawatir, kendala tidak selalu buruk.
Justru kendala sering menjadi guru terbaik.
Dari kendala, kita belajar memperluas kendali: scale up ilmu, mengasah skill, atau—yang paling sunyi tapi paling mahal—meng-upgrade kesabaran. Hmm…
Hidup bukan tentang menghilangkan semua kendala, tapi tentang mengenali mana ranah kita.
Lalu bertumbuh sedikit demi sedikit, hingga yang dulu terasa mustahil, pelan-pelan masuk ke dalam kendali dan tidak jadi kendala.
Menempatkan sesuatu dengan tepat, kemudian menyikapi masalah dengan bijak.
Menjadikan kendali tambah kuat, kemudian melebarkan sayap untuk terus mengepak.
Semoga menjadi perenungan yang bermanfaat.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |