Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Pekanbaru
Manajemen Risiko, Seni Mengelola Hidup

Manajemen Risiko, Seni Mengelola Hidup

Zulfa Asria Nafiati
Jum'at, 22 Agustus 2025 |   1359 kali

Pengantar

“Hidupku penuh dengan masalah”. Kata itu sering kita dengar dari mulut orang yang sedang curhat (curahan hati); mungkin terkait: ekonomi, keluarga, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, dll. Celakanya orang yang curhat itu merasa bahwa seakan-akan hanya dia saja yang menanggung segala masalah. Dia pikir orang-orang di sekelilingnya santai saja menjalani hidup. Padahal….

Masalah adalah risiko yang harus ditanggung oleh semua orang yang hidup normal: bernyawa dan berakal. Artinya, setiap manusia bernyawa pasti punya masalah, bahkan menghirup udara untuk bernafas itu saja sebenarnya adalah masalah. Dan artinya lagi, bahwa karena akal kita sehat berarti kita harus siap menyelesaikan masalah. Jadi ada dua hal yang bisa melenyapkan masalah dari kehidupan kita: hilangnya nyawa atau hilangnya akal.

Pada skala yang lebih besar, pada beberapa orang yang bekerja sama dalam suatu organisasi, juga pasti punya masalah. Ini adalah risiko karena organisasi tersebut, dalam istilah audit disebut sebagai “going concern”, masih hidup.  Ya… organisasi akan tetap hidup berkelanjutan dalam waktu yang lama kalau dia berhasil mengelola risiko-risikonya.

Definisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), risiko adalah akibat/kemungkinan akibat yang kurang menyenangkan, seperti merugikan atau membahayakan, dari suatu perbuatan atau tindakan. Secara umum, risiko dimaknai sebagai dampak negatif yang menggangu terhadap sasaran. Pada pembahasan lebih lanjut, risiko juga dimaknai sebagai hilangnya kesempatan untuk mencapai sasaran. Pada pengertian pertama disebut sebagai downside risk, dan pada pemaknaan kedua dikenal dengan upside risk.

Baik untuk skala pribadi maupun skala organisasi, risiko itu bisa dikategorikan pada beberapa tingkatan: risiko sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.  Risiko juga bisa dikelompokkan dari sisi jenisnya, misalnya: risiko keuangan, risiko sosial, risiko kepercayaan/reputasi, risiko operasianal, dll. Bahkan untuk risiko keuangan masih bisa dikelompokkan lagi pada jenis yang lebih spesifik, misalnya risiko piutang yang tak tertagih, atau risiko kesalahan pembukuan, dll. Artinya, semakin detail risiko yang teridentifikasi semakin fokus juga cara mengelolanya.

 

Pengaruh/Manfaat  

Dengan pengelolaan risiko yang baik, pribadi/organisasi dapat meningkatkan kesiapan menghadapi bencana; dapat mengidentifikasi dan mempersiapkan diri terhadap risiko yang mungkin terjadi, sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari bencana tak terduga.

Pengelolaan risiko juga bisa meningkatkan efisiensi. Baik untuk skala pribadi maupun organisasi, risiko yang terkelola dapat menghindari pemborosan sumber daya dan meningkatkan efisiensi operasional, memetakan masalah pada gradasi urgensitas serta mengesampingkan kesia-siaan.

Risiko yang dikelola dengan baik juga dapat menjaga kualitas pribadi, produk dan layanan dari organisasi serta menjaga tingkat kepatuhan pada regulasi, meningkatkan keselamatan dan kesehatan, menjaga kepercayaan dan ketahanan serta keberlanjutan hidup.

 

Cara Manajemen Risiko

Misalnya, anda mempunyai sasaran: berharta 5 milyar rupiah pada usia 50 tahun, maka langkah pertama yang perlu anda perhatikan terkait dengan manajemen risiko adalah mendiskripsikan kondisi atau penentuan konteks. Saat ini anda berumur 25 tahun, berarti masih ada waktu pencapaian sasaran selama 25 tahun lagi.

Kedua, identifikasi risiko. Misalnya, risiko: usaha seret.  Penyebab risikonya: kondisi ekonomi memburuk, atau sudah muncul produk substitusi, dll. Atau risiko: pengeluaran banyak, penyebab risikonya: tarif listrik naik, uang sewa toko naik, gaji karyawan naik, dll. Artinya, identifikasi risiko tidak hanya sebatas kenyataan tentang risiko itu namun juga tentang faktor penyebab dari risiko itu terjadi.

Ketiga, analisis terhadap risiko-risiko yang mungkin menyebabkan sasaran menjadi milyader pada usia 50 tahun tadi terkendala. Risiko ditinjau dari segi kemungkinan terjadinya, dibagi menjadi: hampir pasti terjadi, sering terjadi, jarang terjadi, jarang terjadi dan hampir tidak terjadi. Risiko juga bisa ditinjau dari sisi dampaknya, menjadi: sangat signifikan, signifikan, moderat, kurang signifikan/minor dan tidak signifikan.

Keempat, evaluasi risiko; yaitu mengurutkan prioritas risiko-risiko dari yang harus ditangani segera/sangat segera. Prioritas risiko diurutkan berdasarkan pemetaan risiko yaitu penentuan besaran risiko berdasarkan level risiko yang meliputi sangat tinggi (5), tinggi (4), sedang (3), rendah (2), atau sangat rendah (1).

 Kelima, mitigasi risiko yaitu tindakan yang bertujuan untuk menurunkan dan/atau menjaga besaran dan/atau level risiko hingga mencapai risiko yang diharapkan. Opsi mitigasi risiko dapat berupa: 1) mengurangi kemungkinan terjadinya, 2) mengurangi dampak, 3) membagi (sharing) risiko dengan memindahkan sebagian atau seluruh risiko, kepada orang/entitas/unit lain, serta 4) menghindari risiko yaitu mitigasi risiko dengan tidak melakukan atau menghentikan kegiatan yang akan menimbulkan risiko.

Keenam, pemantauan risiko. Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa implementasi manajemen risiko berjalan secara efektif sesuai dengan rencana dan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan proses manajemen risiko. Pemantauan risiko dilaksanakan terhadap seluruh tahapan proses manajemen.

 

Budaya Sadar Risiko

Setiap individu harus sadar bahwa setiap sikap, ucap, dan perbuatan kita pasti ada risikonya, baik positif maupun negatif. Dalam Al-Quran diceritakan seorang bijak bernama Lukmanul Hakim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu (sikap, ucap, dan perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui” (QS. Luqman: 16).

Dalam organisanipun harus dikembangkan budaya sadar risiko, sebab organisasi pada hakekatnya adalah bentuk kumpulan orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Kesadaran akan risiko ini penting demi tercapainya sasaran organsasi yang telah ditetapkan.

Pengembangan budaya sadar risiko dalam organisasi dapat diwujudkan dalam bentuk:

a. komitmen pimpinan untuk mempertimbangkan risiko dalam setiap pengambilan keputusan;

b. komunikasi yang berkelanjutan kepada seluruh jajaran organisasi mengenai pentingnya manajemen risiko baik bersifat top-down maupun bottom-up;

c. penghargaan terhadap organisasi dan/atau pegawai yang dapat mengelola risiko dengan baik; dan

d. pengintegrasian manajemen risiko dalam proses bisnis organisasi.

Kementerian keuangan sebagai sebuah organisasi besar juga sudah menetapkan pengelolaan manajemen risiko itu dalam suatu Keputusan Menteri Keuangan nomor KMK 577/KMK.01/2019 tentang Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian Keuangan. Dengan ketentuan ini, arah dan langkah pengelolaan risiko menjadi semakin jelas.

 

Penutup

Secara etimologi, menurut Oey Liang Lee, manajemen bermakna ilmu atau seni dalam perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengendalian terhadap sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Setiap orang pasti melakukan kegiatan manajemen, apalagi organisasi.

Karena seni itu lingkupnya tentang keindahan, maka manajemen risiko tidak bisa dinilai sebagai benar atau salah. Manajemen risiko seharusnya dilihat dari sisi sesuai atau tidak sesuai, sehingga pendekatan bisa bermacam-macam tapi tujuannya tetap satu yaitu tercapainya sasaran.

Di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, salah satu organisasi yang berada di bawah Kementerian Keuangan, juga telah diterapkan ketentuan Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian Keuangan. Masih menjadi tugas besar kita semua untuk mencari pendekatan dalam manajemen risiko agar pelaksanaanya tidak terkesan formalitas belaka. 

Ditulis oleh:
Eko Heru Cahyono,
Kepala Seksi Kepatuhan Internal

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon