Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Palembang
Perilaku Sedentari dan Cara Mengatasinya

Perilaku Sedentari dan Cara Mengatasinya

Noah Sidik Darendra
Kamis, 29 Januari 2026 |   389 kali

Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan teknologi semakin menjadi hal yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia. Dalam pekerjaan kantor, perkembangan teknologi memberikan dampak yang cukup besar.  Platform konferensi video memampukan manusia untuk dapat melaksanakan rapat secara jarak jauh. Teknologi seperti ekosistem digital berbasis cloud memungkinkan suatu tim untuk bekerja bersamaan secara real-time kapan pun dan dimana pun. Bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) mulai diintegrasikan dalam pekerjaan kantor untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi kesalahan.

Namun demikian, kemudahan yang diberikan teknologi tak jarang malah menimbulkan suatu kebiasaan buruk bagi para penggunanya. Kebiasaan buruk ini dapat berpengaruh pada aspek kehidupan pengguna teknologi, baik itu dari sisi kesehatan, sosial, dan sebagainya. Salah satu kebiasaan buruk yang muncul yaitu perilaku sedentari (sedentary behavior).

Menurut Kemenkes RI tahun 2013, sedentary behavior adalah perilaku duduk, berbaring sehari-hari tetapi tidak termasuk waktu tidur, baik di tempat kerja, di rumah atau di perjalanan/transportasi. Dengan kata lain, sedentary behavior merupakan perilaku tidak sehat ketika seseorang cenderung malas untuk menggerakkan tubuhnya atau melakukan aktivitas fisik. Contoh kegiatan sehari-hari yang digolongkan sebagai sedentary behavior seperti berbaring atau duduk sambil bermain handphone dalam waktu lama, duduk sambil menggunakan komputer dalam waktu yang lama, dan penggunaan kendaraan untuk menempuh jarak tempuh yang tidak seberapa.

Salah satu jenis ukuran yang banyak digunakan dalam studi-studi tekait sedentary behavior adalah Metabolic Equivalent of Task(s) atau METs. METS singkatnya mengukur seberapa besar energi yang dikeluarkan pada suatu aktivitas fisik. Para ahli sepakat bahwa kegiatan atau aktivitas fisik yang dilakukan di luar waktu tidur dan hanya mengeluarkan energi kurang dari 1,5 METs dikategorikan sebagai perilaku sedentari. Tabel berikut memberikan gambaran mengenai jumlah METs yang dikeluarkan dalam suatu aktivitas sehari-hari.


Perilaku sedentari dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan, seperti:

  1.  Penyakit kardiovaskular. Risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke dapat meningkat karena perilaku sedentari.
  2. Obesitas. Hal ini terjadi karena minimnya aktifitas fisik yang menyebabkan pembakaran kalori dalam tubuh berkurang, sehingga terjadi penambahan berat badan.
  3. Masalah kesehatan mental. Individu dengan perilaku sedentari cenderung membatasi komunikasi langsung dan menurunkan intensitas interaksi sosial, sehingga risiko masalah mental seperti depresi dan kecemasan dapat meningkat.
  4. Penyakit otot dan sendi. Penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan aktivitas fisik selama lebih dari 10 jam dapat mengakibatkan risiko nyeri lutut kronis.

Organisasi Kesehatan Dunia/ World Health Organization (WHO) telah merilis panduan yang dapat diikuti untuk meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi perilaku sedentari. Secara umum, WHO menyarankan agar orang dewasa melakukan aktivitas fisik antara 150 sampai dengan 300 menit setiap minggunya. Bagi pekerja kantoran yang memiliki waktu terbatas, langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan seperti:

  1. Berolahraga sedang minimal 2,5 jam tiap minggu;
  2. Tidak duduk terlalu lama ketika sedang bekerja, lakukan kegiatan berdiri atau bergerak ditengah-tengah pekerjaan; dan
  3. Berjalan kaki atau bersepeda apabila jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh.

Perilaku sedentari bukanlah suatu hal yang dapat diabaikan. Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa perilaku sedentari dapat meningkatkan risiko penyakit-penyakit yang beberapa diantaranya merupakan fatal bagi tubuh kita. Anjuran untuk melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang telah disebutkan sebelumnya merupakan cara praktis yang dapat kita lakukan untuk terhindar dari risiko-risiko tersebut.

Penulis: Noah Sidik Darendra – Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi

Referensi:

Aryasa, Tjahya. (2023). Apa itu Skors METS? https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2330/apa-itu-skors-mets.

Ferdiana, Ririn Dwi. (2023). Sedentary Behavior Vs Aktifitas Fisik. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2663/sedentary-behavior-vs-aktifitas-fisik.

Park, J.H. et al. (2020). Sedentary Lifestyle: Overview of Updated Evidence of Potential Health Risks. Korean Journal of Family Medicine, 41(6), pp. 365–373. doi:10.4082/kjfm.20.0165.

Sedentary Behaviour Research Network. (2020). SBRN Terminology Consensus Project: 2017-2020. https://www. sedentarybehaviour.org/sbrn-terminology-consensus-project/.

World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128.


Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon