Bendungan Ameroro: Kehadiran BMN Untuk Menopang Harapan Petani Konawe Menuju Swasembada Pangan
Yulia Yusmita
Jum'at, 25 September 2026 |
72 kali
Kabupaten Konawe merupakan salah satu
kabupaten tertua yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Posisi geografis
Kabupaten Konawe yang diapit oleh dataran rendah yang luas menjadikannya
sebagai salah satu daerah dengan lahan pertanian terbesar khususnya persawahan yang
mencapai 35.360 hektare. Hal ini juga yang membuat Kabupaten Konawe menjadi
lumbung padi utama di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Selama bertahun-tahun, para petani di beberapa desa dan
kecamatan di Kabupaten Konawe menggantungkan nasib pada kondisi cuaca dan musim
hujan karena menggarap sawah dengan pola sawah “tadah hujan”. Pola tadah hujan
seperti ini membuat petani umumnya hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun.
Dari Proyek Strategis Menjadi Sumber Kehidupan.
Bendungan Ameroro adalah Barang Milik Negara yang tercatat
pada satuan kerja Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV, Kementerian Pekerjaan Umum.
Terletak di Desa Tamesandi, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi
Tenggara, Bendungan Ameroro dibangun menggunakan APBN sebesar Rp1,57 Triliun
dengan masa pembangunannya dimulai dari Desember 2020 hingga Desember 2023 dan
diresmikan pada 14 Mei 2024.
Dibangun di atas lahan seluas 546.000 meter persegi, Bendungan
Ameroro dapat menampung 88 juta meter kubik air dengan luas genangan mencapai 376
hektare yang dapat mendukung daerah irigasi seluas 3.363 hektare di 3 (tiga) kecamatan
yaitu Kecamatan Uepai, Kecamatan Lambuya dan Kecamatan Puriala.
Irigasi yang Lebih Luas dan Intensitas Tanam yang Meningkat
Manfaat utama Bendungan Ameroro bagi pertanian di Kabupaten
Konawe terletak pada layanan irigasinya. Bendungan ini menyediakan layanan
irigasi seluas 3.363 hektare yang diproyeksi bisa mencapai 3.604 hektare dan
mendorong intensitas pertanaman hingga 300 persen dengan kata lain, ribuan
hektare sawah kini memiliki jaminan pasokan air yang dapat mendorong
peningkatan intensitas pertanaman. Peningkatan intensitas tanam berarti petani
yang sebelumnya hanya panen sekali setahun berpeluang menanam dua hingga tiga
kali dalam satu tahun. Suplai air dari bendungan diharapkan membantu petani
menanam lebih sering dibandingkan sistem tadah hujan yang hanya memungkinkan
satu kali tanam per tahun.
Dampak dari pembangunan Bendungan Ameroro ini mulai
dirasakan tak lama setelah beroperasi. Pada tahun 2024 tercatat total produksi
padi gabah kering giling (GKG) di Kabupaten Konawe sebesar 216.341 ton dan
terus meningkat pada tahun 2025 sebesar 241.320 ton yang beberapa tahun
sebelumnya nilainya berada di bawah 160.000 ton. Hal ini tentu saja menggembirakan
karena kehadiran Bendungan Ameroro sangat berpengaruh besar terhadap
peningkatan hasil panen dalam rangka mendukung swasembada pangan.

Grafik 1: Produksi Padi Kabupaten Konawe (Ribuan Ton)
2022–2025
(sumber BPS Provinsi Sulawesi Tenggara)
Selain irigasi, Bendungan Ameroro juga
memberi manfaat tidak langsung bagi pertanian. Kemampuannya mereduksi banjir
hingga 443 meter kubik per detik membantu melindungi areal persawahan dari
genangan yang dapat merusak tanaman menjelang panen. Bendungan ini juga mampu menyediakan
air baku sebesar 511 liter per detik bagi Kabupaten Konawe.
Potensi di Masa Depan
Bendungan Ameroro adalah contoh bagaimana Barang Milik
Negara dapat menjadi fondasi bagi kemajuan pertanian. Dari sawah tadah hujan
yang hanya panen sekali setahun, petani di Kabupaten Konawe kini memiliki
peluang untuk menanam lebih sering dengan hasil yang lebih baik. Jika dikelola
dengan baik dan didukung kebijakan pertanian yang konsisten, bendungan ini
berpotensi menjadikan Kabupaten Konawe bukan hanya lumbung padi di Provinsi Sulawesi
Tenggara, tetapi juga salah satu penopang ketahanan pangan di kawasan timur
Indonesia.
Sumber Data: BWS Sulawesi IV Sulawesi Tenggara, BPS Prov.
Sulawesi Tenggara.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |