Bukan Sekadar Menilai, tetapi Membantu Berkembang: Pentingnya Umpan Balik Berkelanjutan
Wilih Izza An-nisa
Senin, 31 Agustus 2026 |
37 kali
“Bagaimana kinerja saya?”
Pertanyaan tersebut mungkin pernah muncul di benak setiap pegawai.
Apakah pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai harapan? Apa yang sudah baik? Apa
yang masih perlu diperbaiki? Dan yang tidak kalah penting, apa yang dapat
dilakukan agar kinerja ke depan menjadi lebih baik?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak seharusnya baru
diperoleh ketika periode penilaian kinerja berakhir. Di sinilah umpan balik
berkelanjutan memiliki peran penting dalam pengelolaan kinerja pegawai.
Umpan Balik Bukan Sekadar Kritik
Umpan balik berkelanjutan merupakan bagian dari pengelolaan kinerja yang
bertujuan untuk menyediakan informasi dari berbagai pihak yang dibutuhkan
pegawai, sehingga pegawai dapat mengetahui capaian, memahami hal-hal yang masih
perlu ditingkatkan, serta menentukan langkah pengembangan ke depan.
Dengan kata lain, umpan balik bukan sekadar mencari kekurangan.
Ketika seorang pegawai berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik,
umpan balik dapat diberikan dalam bentuk apresiasi. Sebaliknya, ketika terdapat
pekerjaan yang belum sesuai harapan, umpan balik dapat menjadi kesempatan untuk
memberikan arahan, mendiskusikan kendala, dan mencari solusi bersama. Dengan
pola tersebut, umpan balik menjadi bagian dari proses belajar dan berkembang,
bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Mekanisme Pemberian Umpan Balik Keberlanjutan
Umpan balik berkelanjutan dapat diberikan secara berkala/terjadwal
maupun insidental, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Umpan balik berkala/terjadwal dapat dilakukan melalui pertemuan atau
dialog yang telah dijadwalkan untuk membahas perkembangan pekerjaan. Sementara
itu, umpan balik insidental dapat diberikan kapan saja sesuai kebutuhan, bahkan
sesegera mungkin ketika suatu peristiwa terjadi.
Misalnya, ketika seorang pegawai menunjukkan inisiatif dalam
menyelesaikan pekerjaan, apresiasi dapat diberikan saat itu juga. Begitu pula
apabila terdapat hal yang perlu diperbaiki, masukan dapat disampaikan segera
agar pegawai dapat melakukan perbaikan tanpa harus menunggu akhir triwulan.
Dalam pengelolaan kinerja, Pejabat Penilai Kinerja memiliki peran utama
dalam memberikan umpan balik kepada pegawai atas hasil kerja dan perilaku
kerja. Pejabat Penilai Kinerja dapat meminta
rekomendasi dan umpan balik berkelanjutan dalam rangka evaluasi kinerja.
Untuk pegawai yang banyak berkoordinasi dengan unit kerja lain,
misalnya, umpan balik juga dapat diperoleh dari pegawai Kementerian Keuangan di
luar unit kerjanya. Sementara bagi pegawai yang sedang melaksanakan tugas
belajar, rekomendasi dan umpan balik berkelanjutan dapat berasal dari pimpinan
institusi, dosen, pembimbing, rekan perkuliahan, maupun pihak lain yang
berkaitan dengan pelaksanaan tugas belajar.
Begitu pula bagi pejabat fungsional, anggota squad team, atau tim kerja
penuh waktu, umpan balik berkelanjutan dapat diperoleh dari ketua tim maupun
anggota tim lainnya sesuai dengan peran masing-masing.
Hal ini menunjukkan bahwa kinerja seseorang tidak hanya dilihat dari
satu sudut pandang. Berbagai perspektif dapat membantu memberikan gambaran yang
lebih utuh mengenai kontribusi dan perilaku kerja seorang pegawai.
Umpan Balik yang Baik Harus Objektif dan Adil
Umpan balik yang efektif bukan sekadar mengatakan “pekerjaanmu kurang
baik” atau “kinerjamu sudah bagus”. Umpan balik perlu disampaikan
berdasarkan fakta, contoh konkret, dan kondisi pekerjaan yang sebenarnya.
Karena itu, dalam memberikan umpan balik, Pejabat Penilai Kinerja dapat
mempertimbangkan realisasi progres maupun realisasi akhir pekerjaan beserta
data dukung yang relevan. Umpan balik yang telah diterima pegawai juga dapat
menjadi bahan dalam dialog kinerja.
Yang tidak kalah penting, pemberian umpan balik harus mengedepankan
prinsip sistem merit, dengan mempertimbangkan kualifikasi, kompetensi,
potensi, kinerja, integritas, dan moralitas secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit,
agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau disabilitas.
Dengan demikian, umpan balik diberikan karena apa yang dikerjakan dan
bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan, bukan karena latar belakang pribadi
seseorang.
Lalu, Setelah Pemberian Umpan Balik Apa?
Umpan balik akan kehilangan makna apabila berhenti pada percakapan.
Karena itu, setiap umpan balik perlu diarahkan pada tindak lanjut.
Bagi pegawai yang menunjukkan kemajuan, umpan balik berkelanjutan dapat
menjadi dasar untuk memberikan apresiasi, penghargaan, kesempatan pengembangan,
maupun pembinaan kinerja atas inisiatif sendiri.
Sementara bagi pegawai yang belum menunjukkan kemajuan kinerja, Pejabat
Penilai Kinerja dapat melakukan atau mengusulkan pembinaan kinerja dan/atau
menyesuaikan dukungan sumber daya yang diperlukan.
Artinya, ketika terdapat kendala dalam pekerjaan, pertanyaan yang perlu
dikedepankan bukan hanya “Apa yang salah?”, tetapi juga “Apa yang
dapat kita lakukan agar ke depan menjadi lebih baik?”
Pendekatan inilah yang menjadikan umpan balik berkelanjutan sebagai alat pengembangan, bukan sekadar evaluasi.
Penulis: Subbagian Tata Usaha
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |