Peran Atasan Langsung dalam Menjaga Arah Kinerja Pegawai
Hariz Muftie Hidayat
Rabu, 24 Desember 2025 |
258 kali
Dalam sistem manajemen kinerja
modern, atasan langsung memegang peran yang sangat strategis. Atasan bukan
hanya pihak yang memberikan penilaian kinerja di akhir tahun, tetapi juga
menjadi pengarah, pembina, dan pendamping pegawai dalam mencapai target
kinerja. Hal ini sejalan dengan semangat KMK 300 Tahun 2022 yang menempatkan
manajemen kinerja sebagai proses berkelanjutan, bukan sekadar aktivitas
administratif.
Peran pertama atasan langsung
terlihat sejak tahap perencanaan kinerja. Atasan bertanggung jawab
memastikan bahwa Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) atau Indikator Kinerja Utama
(IKU) yang disusun selaras dengan target unit kerja dan organisasi. Melalui
diskusi dan kesepakatan bersama, atasan membantu pegawai memahami apa yang
harus dicapai, mengapa target tersebut penting, dan bagaimana kontribusinya
terhadap kinerja organisasi. Tanpa peran ini, pegawai berisiko bekerja keras
tetapi tidak tepat sasaran.
Selain memastikan keselarasan,
atasan juga berperan menjaga agar target kinerja tetap realistis dan menantang.
Atasan yang memahami kapasitas timnya akan mampu menetapkan target yang dapat
dicapai, namun tetap mendorong peningkatan kinerja. Proses ini menjadi bagian
penting agar kinerja tidak berhenti pada rutinitas, tetapi terus berkembang
dari waktu ke waktu.
Peran atasan semakin krusial pada
tahap monitoring kinerja. Dalam KMK 300/2022, monitoring tidak dimaknai
sebagai pengawasan semata, melainkan sebagai bentuk pembinaan. Atasan diharapkan
memantau progres pekerjaan secara berkala dan memberikan umpan balik yang
konstruktif. Monitoring yang baik membantu pegawai mengetahui apakah
pekerjaannya sudah berada di jalur yang benar atau perlu penyesuaian sejak
dini.
Di sinilah pentingnya dialog
kinerja. Atasan berperan menciptakan ruang komunikasi dua arah yang terbuka
dan aman. Dalam dialog kinerja, pegawai dapat menyampaikan kendala yang
dihadapi, sementara atasan memberikan arahan dan solusi yang relevan. Dialog
ini juga menjadi sarana untuk menyelaraskan kembali ekspektasi apabila terjadi
perubahan kebijakan, prioritas, atau kondisi kerja.
Sebagai contoh, ketika target
kinerja menghadapi hambatan akibat perubahan regulasi atau beban kerja yang
meningkat, atasan dapat mengajak pegawai berdiskusi untuk menyesuaikan strategi
pelaksanaan atau bahkan merevisi target secara proporsional. Dengan pendekatan
ini, kinerja tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas maupun motivasi pegawai.
Pada tahap penilaian kinerja,
peran atasan tidak hanya sekedar memberikan nilai. Atasan juga berperan memberikan
umpan balik yang bersifat membangun sebagai bahan refleksi dan pembelajaran
pegawai dalam rangka perbaikan kinerja dan karakter. Penilaian kinerja yang
disampaikan dengan baik akan mendorong pegawai memahami kekuatan dan area yang
perlu ditingkatkan.
Yang tidak kalah penting, atasan
langsung memiliki peran besar dalam membangun budaya kinerja. Melalui
keteladanan, konsistensi, dan komunikasi yang terbuka, atasan dapat menanamkan
nilai-nilai kerja positif dalam tim. Budaya kinerja yang sehat akan membuat
pegawai lebih proaktif, bertanggung jawab, dan berorientasi hasil.
Pada akhirnya, keberhasilan
manajemen kinerja sangat bergantung pada kualitas peran atasan langsung. Dengan
peran yang aktif dan konsisten, atasan tidak hanya menjaga arah kinerja
pegawai, tetapi juga membantu pegawai tumbuh dan berkembang bersama organisasi.
Penulis : Subbagian Umum
Sumber : KMK 300/KMK.01/2022 tentang Manajemen Kinerja di Lingkungan
Kementerian Keuangan
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |