Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Jakarta II
Media Sosial sebagai Panggung Hiperrealitas

Media Sosial sebagai Panggung Hiperrealitas

Diro Jaya Agave Sitanggang
Kamis, 18 Desember 2025 |   357 kali

Pernahkah Anda bertanya-tanya apakah informasi yang Anda lihat di media sosial benar-benar nyata? Sering kali kita menemui unggahan yang tampak autentiknamun sebenarnya telah dimanipulasiContohnya adalah foto seseorang bersama tokoh idola yang telah disuntingtampilan fisik yang terlihat proporsional secara tidak alamihingga video tokoh publik yang seolah menyampaikan pernyataan kontroversialFenomena ini dimungkinkan oleh kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). 

Kehadiran AI menyebabkan batasan antara kenyataan dan rekayasa menjadi semakin kabur. Jean Baudrillard mendefinisikan kondisi ini sebagai hiperrealitasyaitu suatu keadaan di mana individu memanipulasi realitas secara terang-teranganFenomena ini tecermin dalam perilaku pengguna media sosial yang membagikan gambar, video, atau narasi yang bersifat semusimulasimaupun manipulasi. 

Penggunaan filter pada aplikasi Instagram atau TikTok merupakan contoh paling dasar dalam kehidupan sehari-hariMelalui teknologi iniwajah seseorang dapat terlihat lebih muluscerah, dan menarik dibandingkan kenyataannyaDampaknyacitra hasil filter tersebut sering kali lebih dipercaya oleh khalayak daripada wajah asli sang penggunaBahkanbanyak individu yang merasa lebih percaya diri dengan identitas maya yang dibentuk oleh filter daripada dengan dirinya sendiri. 

Terdapat fenomena yang lebih ekstrem yang dihasilkan oleh AI, yaitu deepfakeTeknologi ini memungkinkan manipulasi rekaman video sehingga seseorang tampak berbicara atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dalam konteks hiburandeepfake mungkin dianggap sebagai karya kreatif yang jenakaNamunteknologi ini menjadi sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan politik atau penyebaran disinformasi. Hanya dalam hitungan detikteknologi ini dapat menipu publikmemengaruhi opini massaserta merusak reputasi seseorang. 

Selain itu, AI mampu menciptakan konten viral yang mendominasi media sosialKonten-konten tersebut sering kali tidak memiliki pijakan dalam kenyataannamun diterima sebagai fakta dan tersebar secara masif. Hal ini menunjukkan bagaimana AI menciptakan realitas baru yang independenalih-alih sekadar meniru realitas yang ada. 

Fenomena ini berdampak signifikan pada kehidupan sosial. Masyarakat kini semakin sulit membedakan antara fakta dan rekayasaInformasi yang seharusnya membantu manusia memahami dunia justru menjadi membingungkan akibat percampuran antara realitas dan simulasiKondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih skeptis dan berhati-hati terhadap setiap informasi yang beredar di internet. 

Kendati demikian, AI tidak selalu memberikan dampak negatifTeknologi ini mampu meningkatkan akurasi analisis data di berbagai sektor serta mengoptimalkan produktivitas melalui otomatisasi tugas-tugas repetitif. Di bidang keamanan siber, AI berperan penting dalam mengidentifikasi ancaman secara lebih cepatsementara asisten virtual membantu meningkatkan layanan personal bagi pengguna. 

Namundilema moral tetap menuntut kewaspadaan kitaStandar kecantikan yang dihasilkan AI berpotensi mengikis kepercayaan diriterutama di kalangan remajaKetegangan politik dan sosial juga dapat memburuk seiring dengan maraknya hoaks visual. Sementara itukrisis autentisitas dalam karya seni menimbulkan pertanyaan besar mengenai nilai dari sebuah orisinalitas. 

Hiperrealitas yang dihasilkan AI menunjukkan bahwa kita hidup dalam simulasi yang memengaruhi pola pikiremosi, dan perilaku. Dunia maya tidak lagi sekadar representasi dari kenyataanmelainkan telah bertransformasi menjadi realitas baru yang dampaknya sering kali lebih terasa daripada kehidupan nyata. 

Oleh karena itusikap bijak dalam menghadapi perkembangan AI sangatlah krusialTeknologi ini tidak dapat kita hindarinamun kita memiliki kendali untuk menggunakannya secara sehatLakukan verifikasi sumber informasi sebelum membagikannyabersikap kritis saat mengonsumsi konten media sosial, dan jangan mudah percaya pada hal-hal yang tampak sempurnaDengan penggunaan yang bijakkita dapat meraih manfaat AI tanpa harus terjebak dalam realitas buatan. 


Penulis: Nurul Adawiyah 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon