Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Ambon
Fenomena Brainrot di Era Digital dan Strategi Untuk Mengatasinya

Fenomena Brainrot di Era Digital dan Strategi Untuk Mengatasinya

Thomas Febrian Wijanarko
Kamis, 04 Desember 2025 |   3215 kali

Dengan Kemajuan teknologi digital, banyak hal yang telah menjadi lebih mudah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan pemerintahan. Namun, kemajuan ini menghasilkan sebuah fenomena baru yang cukup signifikan yang disebut Brainrot. Brainrot adalah istilah popular yang mengacu pada kencederungan seseorang untuk terlalu banyak mengkonsumsi konten digital sehingga berdampak negatif pada produktivitas kerja, kemampuan untuk fokus, dan berfikir kritis. Terlepas dari fakta bahwa istilah ini yang berasal dari domain internet yang tidak formal dan fenomena ini merupakan isu yang diperhatikan dalam bidang manajamen sumber daya manusia.

Secara umum Brainrot adalah ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mempertahankan perhatian dan berpikir mendalam sebagai akibat dari paparan konten digital yang serba cepat, singkat, dan instan. Sebuah konten hiburan, seperti video singkat, meme video, atau cuplikan visual yang berstimulus tinggi membuat otak terbiasa dengan informasi yang instan akibatnya, pekerjaan atau tugass yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang tampak lebih sulit, kurang menarik, atau mudah terdistraksi.

Gejala yang sering muncul biasanya meliputi

  • Konsentrasi yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lama;
  • Kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan;
  • Pekerjaan yang tertunda karena terdistraksi;
  • Masalah kelelahan mental meskipun pekerjaan tidak terlalu berat.

Dampak Brainrot terhadap pekerjaan yang menuntut akurasi, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis dapat memberikan efek yang negatif dalam pekerjaan, seperti:

1.Penurunan Kualitas Analisis

Dengan banyaknya pekerjaan yang membutuhkan pengertian mendalam seperti membaca dokumen, menganalisis data, menyusun laporan, atau membuat keputusan. Brainrot membuat proses ini terganggu karena otak terbiasa dengan informasi yang cepat dan instan.

2. Menurunnya Produktivitas

Dalam kondisi pikiran yang terdistraksi digital, karyawan sering mengalami perubahan pikiran yaitu perpindahan fokus dari pekerjaan ke konten hiburan. Setiap perpindahan ini membutuhkan waktu untuk pemulihan fokus yang menyebabkan pekerjaan dapat memakan waktu lebih lama dan cenderung tidak selesai tepat waktu.

3. Meningkatnya Kesalahan dalam Pekerjaan

Menurunnya konsentrasi seseorang dapat memicu terjadinya kesalahan administratif, salah membaca informasi atau petunjuk, kesalahan dalam pengambilan keputusan, serta kesalahan kecil lainnya yang dapat mengurangi kualitas pekerjaan serta menyebabkan perbaikan yang lebih besar.

4.     4. Terganggunya Komunikasi dan Koordinasi dalam pekerjaan

Dalam pekerjaan pastinya membutuhkan komunikasi dan koordinasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, fokus yang buruk dapat berakibat pada efektifitas komunikasi antar pegawai serta dapat menyebabkan rapat menjadi tidak efektif, miskomunikasi, dan kesulitan dalam menangkap arahan atau pesan dengan jelas di tempat kerja.

5.      5. Dampak Pada Kesehatan Mental

Mengkonsumsi konten di media sosial yang serba cepat dan instan dapat membuat otak menjadi mudah lelah, rasa gelisah, serta mengurangi ketenangan dalam mengatur alur kerja sehari-hari.

Strategi yang dapat diterapkan dalam lingkungan kerja sehari-hari untuk mengatasi Brainrot ini dengan cara :

1.     - Menerapkan Eliminasi Distraksi

Dengan mengalokasikan waktu bekerja selama 30-60 menit tanpa distraksi untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang tinggi dengan mematikan ponsel dan menggunakan mode fokus dalam bekerja serta menyimpan ponsel di tempat yang terpisah.

2.     - Istirahatkan Otak

Dengan melakukan istirahat singkat seperti membaca atau mendengarkan musik yang tenang untuk memulihkan energi serta mencegah otak mencari hiburan yang instan.

3.     - Menetapkan Prioritas Kerja yang Jelas

Apabila dalam kehidupan sehari-hari dimulai dengan menentukan skala prioritas pekerjaan, dapat mengurangi kencenderungan untuk terdistraksi digital karena tahu harus memulai dari mana.

4.     - Mengelola Lingkungan Kerja

Dengan menciptakan ruang kerja yang minim gangguan, seperti ponsel atau interaksi yang tidak perlu dapat membuat fokus bertahan lebih lama dan menetapkan waktu khusus untuk mengakses konten hiburan, misalnya pada jam istirahat siang atau setelah jam kerja.

Dengan menerapkan strategi diatas dapat mengatasi brainrot serta tidak berarti meniadakan akses terhadap hiburan digital tetapi mengaturnya agar tidak mengganggu pekerjaan.

Brainrot merupakan sebuah fenomena pengaruh kemajuan teknologi digital yang serba cepat sehingga dapat membuat produktifitas dan fokus seseorang ASN menjadi terhambat sehingga berdampak pada pekerjaan serta pelayanan publik, menurunkan produktifitas pekerjaan, serta kurangnya disiplin dalam bekerja. Bagi ASN, apabila mengelola distraksi digital yang baik dapat membuat pola kerja yang lebih sehat, produktif, dan profesional. Karena dengan mengelola distraksi digital tersebut dapat membuat fokus menjadi lebih lama dan dapat menunjang kualitas pekerjaan serta menjadi kunci seorang ASN agar dapat bekerja secara efektif, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik di era digital saat ini.

Penulis : Thomas Febrian Wijanarko


Referensi :

Oxford University Press (2024). ‘Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon