Fenomena Brainrot di Era Digital dan Strategi Untuk Mengatasinya
Thomas Febrian Wijanarko
Kamis, 04 Desember 2025 |
3215 kali
Dengan Kemajuan teknologi
digital, banyak hal yang telah menjadi lebih mudah dalam kehidupan sehari-hari,
termasuk dalam pekerjaan pemerintahan. Namun, kemajuan ini menghasilkan sebuah
fenomena baru yang cukup signifikan yang disebut Brainrot. Brainrot
adalah istilah popular yang mengacu pada kencederungan seseorang untuk
terlalu banyak mengkonsumsi konten digital sehingga berdampak negatif pada
produktivitas kerja, kemampuan untuk fokus, dan berfikir kritis. Terlepas dari
fakta bahwa istilah ini yang berasal dari domain internet yang tidak formal dan
fenomena ini merupakan isu yang diperhatikan dalam bidang manajamen sumber daya
manusia.
Secara umum Brainrot
adalah ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mempertahankan perhatian dan
berpikir mendalam sebagai akibat dari paparan konten digital yang serba cepat,
singkat, dan instan. Sebuah konten hiburan, seperti video singkat, meme video,
atau cuplikan visual yang berstimulus tinggi membuat otak terbiasa dengan
informasi yang instan akibatnya, pekerjaan atau tugass yang membutuhkan
konsentrasi jangka panjang tampak lebih sulit, kurang menarik, atau mudah
terdistraksi.
Gejala yang sering muncul biasanya meliputi
Dampak Brainrot terhadap pekerjaan yang menuntut akurasi, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis dapat memberikan efek yang negatif dalam pekerjaan, seperti:
1.Penurunan Kualitas Analisis
Dengan banyaknya pekerjaan yang membutuhkan pengertian mendalam seperti membaca dokumen, menganalisis data, menyusun laporan, atau membuat keputusan. Brainrot membuat proses ini terganggu karena otak terbiasa dengan informasi yang cepat dan instan.
2. Menurunnya Produktivitas
Dalam kondisi pikiran yang terdistraksi digital, karyawan sering mengalami perubahan pikiran yaitu perpindahan fokus dari pekerjaan ke konten hiburan. Setiap perpindahan ini membutuhkan waktu untuk pemulihan fokus yang menyebabkan pekerjaan dapat memakan waktu lebih lama dan cenderung tidak selesai tepat waktu.
3. Meningkatnya Kesalahan dalam Pekerjaan
Menurunnya
konsentrasi seseorang dapat memicu terjadinya kesalahan administratif, salah
membaca informasi atau petunjuk, kesalahan dalam pengambilan keputusan, serta
kesalahan kecil lainnya yang dapat mengurangi kualitas pekerjaan serta
menyebabkan perbaikan yang lebih besar.
4. 4. Terganggunya
Komunikasi dan Koordinasi dalam pekerjaan
Dalam pekerjaan
pastinya membutuhkan komunikasi dan koordinasi untuk menciptakan lingkungan
kerja yang kolaboratif, fokus yang buruk dapat berakibat pada efektifitas
komunikasi antar pegawai serta dapat menyebabkan rapat menjadi tidak efektif,
miskomunikasi, dan kesulitan dalam menangkap arahan atau pesan dengan jelas di
tempat kerja.
5. 5. Dampak
Pada Kesehatan Mental
Mengkonsumsi
konten di media sosial yang serba cepat dan instan dapat membuat otak menjadi
mudah lelah, rasa gelisah, serta mengurangi ketenangan dalam mengatur alur
kerja sehari-hari.
Strategi yang dapat diterapkan
dalam lingkungan kerja sehari-hari untuk mengatasi Brainrot ini dengan
cara :
1. - Menerapkan
Eliminasi Distraksi
Dengan
mengalokasikan waktu bekerja selama 30-60 menit tanpa distraksi untuk pekerjaan
yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang tinggi dengan mematikan ponsel dan
menggunakan mode fokus dalam bekerja serta menyimpan ponsel di tempat yang
terpisah.
2. - Istirahatkan Otak
Dengan melakukan
istirahat singkat seperti membaca atau mendengarkan musik yang tenang untuk
memulihkan energi serta mencegah otak mencari hiburan yang instan.
3. - Menetapkan
Prioritas Kerja yang Jelas
Apabila dalam
kehidupan sehari-hari dimulai dengan menentukan skala prioritas pekerjaan,
dapat mengurangi kencenderungan untuk terdistraksi digital karena tahu harus
memulai dari mana.
4. - Mengelola
Lingkungan Kerja
Dengan menciptakan
ruang kerja yang minim gangguan, seperti ponsel atau interaksi yang tidak perlu
dapat membuat fokus bertahan lebih lama dan menetapkan waktu khusus untuk
mengakses konten hiburan, misalnya pada jam istirahat siang atau setelah jam
kerja.
Dengan menerapkan strategi diatas
dapat mengatasi brainrot serta tidak berarti meniadakan akses terhadap
hiburan digital tetapi mengaturnya agar tidak mengganggu pekerjaan.
Brainrot merupakan sebuah fenomena pengaruh kemajuan teknologi digital yang serba cepat sehingga dapat membuat produktifitas dan fokus seseorang ASN menjadi terhambat sehingga berdampak pada pekerjaan serta pelayanan publik, menurunkan produktifitas pekerjaan, serta kurangnya disiplin dalam bekerja. Bagi ASN, apabila mengelola distraksi digital yang baik dapat membuat pola kerja yang lebih sehat, produktif, dan profesional. Karena dengan mengelola distraksi digital tersebut dapat membuat fokus menjadi lebih lama dan dapat menunjang kualitas pekerjaan serta menjadi kunci seorang ASN agar dapat bekerja secara efektif, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik di era digital saat ini.
Penulis : Thomas Febrian Wijanarko
Referensi :
Oxford University Press (2024).
‘Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |