Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Riau, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau
Pacu Jalur: Dari Tradisi Sungai Menjadi Identitas Budak Kuantan

Pacu Jalur: Dari Tradisi Sungai Menjadi Identitas Budak Kuantan

Junaedi Seto Saputro
Kamis, 28 Agustus 2025 |   538 kali

Di awal abad ke-17, jalur merupakan alat trasnportasi utama masyrakat Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang  Sungai batang Kuantan, saat itu  memang belum berkembang trasnportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi masyrakat Rantau Kuantan, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu serta berfungsi mengangku sekitar 40-50 orang.

Kemduian muncul jualur-jalur  yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala buaya , ular dan naga baik di bagian lambung maupun selembayung nya , ditambah lagi dengan perlengkapan paying, tali-temali, selendang, tiang Tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.

Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antarjalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur. Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung- kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam.

Saat itu, karena berangkat dari kemeriahan antarkampung yang sangat sederhana, maka untuk para juara lomba tidak ada hadiah yang diperebutkan, yang ada adalah acara makan bersama warga sekampung dengan menu makanan tradisional setempat, seperti konji, godok, lopek, paniaran, lida kambiang, dan buah golek. Tetapi, di beberapa kampung ada juga yang menyediakan hadiah berupa marewa (bendera kain berwarna-warni berbentuk segi tiga dengan renda di bagian tepinya).

Kegiatan-kegiatannya dalam Upacara Pacu Jalur antara lain adalah :

1.        Membuat Jalur (membuat perahu / sampan)

Pekerjaan membuat jalur tentulah tidak dapat dilakukan satu atau dua orang, melainkan memerlukan beberapa orang yang ahli dengan bantuan masyarakat, karena jalur yang dibuat adalah dalam ukuran besar, panjangnya 25-30 meter yang akan didayung oleh 50-60 orang. Pekerjaan yang pertama sekali dilakukan adalah mencari bahan, yakni pohon kayu besar sekitar empat pemeluk (antara 45 meter lingkaran batangnya) diatur oleh seorang Paktuo dan Dukun Kayu. Setelah kayu didapat, pekerjaan berikutnya adalah upacara menobang (menebang) kayu yang diawali dengan malembe, yakni membaca doa dan mantra supaya pekerjaan itu berjalan lancar. Selesai itu barulah kayu mulai dicatuk, mulai dilukai. Catukan (kepingan kayu) diambil dan disimpan yang akan dipergunakan sebagai obat jika ada diantara pekerja pembuat jalur sakit. Setelah kayu ditebang dan dibersihkan, barulah pekerjaan membuat jalur dimulai dengan dipimpin oleh seorang Tukang Tuo, dibantu oleh Tukang Pengapik sebanyak dua atau tiga orang serta anggota masyarakat lainnya yang mau membantu dan pandai bertukang.

 

2.       Menarik Jalur

Jalur baru siap separuhnya itu ditarik ke kampung dengan upacara khusus yang disebut menarik jalur. Jalur ditarik dengan mempergunakan rotan manau. Pekerjaan menarik (menghelo) jalur ini dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan wanitanya menyediakan makanan. Pada waktu itulah para pemuda dan pemudi dapat berdampingan bersenda gurau sambil ajuk mengajuk hati masing-masing. Bahkan, tidak jarang para pemuda turut pula menarik/menghelo jalur berdekatan dengan sang pemudi impiannya. Menarik jalur dari rimba ke kampung adalah pekerjaan yang tidak ringan, bukan saja karena jalur itu sangat berat tetapi jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni lebih kurang sepuluh (10) kilometer.

 

3.       Mendiang Jalur (memanggang Jalur)

Setelah jalur selesai dua pertiga, maka jalur itu perlu pula didiang (dipanaskan dengan api). Pekerjaan itupun dilakukan dengan upacara khusus pula dan dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian masyarakatnya seperti : tari-tarian, bekayat nandong, gondang berogung dan lain sebagainya.

 

4.       Menurunkan Jalur

Dalam menghadapi acara Pacu Jalur, Paktuo lah yang mengatur dan mempersiapkan segala kelengkapannya termasuk menentukan orang-orang yang turut berpacu di dalam jalur itu. Setelah semuanya siap, ditentukanlah ketika yang baik untuk menurunkan jalur itu ke sungai Kuantan. Pada hari dan ketika yang baik menurut dukun, jalurpun diturunkan beramai-ramai, kemudian diceburkan ke air.

 

5.       Pacu Jalur

Pacu Jalur dipusatkan di Taluk Kuantan. Sebelum pembukaan di Taluk Kuantan, terlebih dahulu diadakan pula di Kecamatan Basrah acara Pacu Jalur Lokal, yang hanya diikuti oleh peserta dari Kecamatan Kuantan Hilir. Kebiasaan ini mulai timbul sejak tahun 1970, dan berlangsung sebelum tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Sedangkan Pacu Jalur dilakukan sesudah tanggal 17 Agustus tepatnya minggu ketiga atau keempat yang tersedia sambil menunggu giliran untuk berpacu. Dalam berpacu jalur, panduan rute yang harus dilalui oleh peserta pacuan, di tengah sungai diberi tanda berupa pancang sebagai pemisah lajur jalur panduan rute yang harus dilalui oleh peserta pacuan, di tengah sungai diberi tanda berupa pancang sebagai pemisah lajur jalur.

Pancang jumlah ada 4 (empat) buah yang memberi petunjuk :

- Pancang Mudiak (hulu tempat start)

- Pancang Tongah

- Pancang Ulak yang disebut juga pancang akhir (hilir) tempat jalur kembali ke finishnya. Setelah berpacu, jalur-jalur itu dirapatkan ke tebing tempat hakim pacu menunggu. Pengumuman hakim siapa pemenangnya akan disambut tepuk sorak penonton.

Pada tahun 2025 ini festival pacu jalur menjadi sorotan dunia ketika  para konten creator berhasil memviralkan buda pacu jalur tersebut, jalur andalan Kuansing, Bintang Emas Cahaya Intan, berhasil merebut gelar juara pertama pada Festival Pacu Jalur Karisma Event Nusantara di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kemenangan ini bukan sekadar piala, tapi sejarah manis bagi Desa Tanjung, Hulu Kuantan. Sejak pertama kali memiliki jalur, inilah kali pertama desa tersebut berhasil tampil sebagai jawara di arena pacu jalur bergengsi itu.

Di babak final, Bintang Emas Cahaya Intan tampil meyakinkan di lintasan kiri. Sejak bendera merah dilepas, haluannya langsung menyodok ke depan dan terus memimpin jalannya pertandingan. Jalur ini sukses mendominasi perlawanan dari pendatang baru asal Petalongan, Inhu, Tuah Datuak Keramat Imbang Dialam

Penulis: Abul Hasan Annadawi

 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon