Pacu Jalur: Dari Tradisi Sungai Menjadi Identitas Budak Kuantan
Junaedi Seto Saputro
Kamis, 28 Agustus 2025 |
538 kali
Di awal abad ke-17, jalur merupakan alat
trasnportasi utama masyrakat Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai batang Kuantan, saat itu memang belum berkembang trasnportasi darat.
Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi
masyrakat Rantau Kuantan, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi,
seperti pisang dan tebu serta berfungsi mengangku sekitar 40-50 orang.
Kemduian muncul jualur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala
buaya , ular dan naga baik di bagian lambung maupun selembayung nya , ditambah
lagi dengan perlengkapan paying, tali-temali, selendang, tiang Tengah
(gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan
tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar
alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa
wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.
Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat
sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni
dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antarjalur yang hingga saat ini
dikenal dengan nama Pacu Jalur. Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di
kampung- kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar
Islam.
Saat itu, karena berangkat dari kemeriahan
antarkampung yang sangat sederhana, maka untuk para juara lomba tidak ada
hadiah yang diperebutkan, yang ada adalah acara makan bersama warga sekampung
dengan menu makanan tradisional setempat, seperti konji, godok, lopek,
paniaran, lida kambiang, dan buah golek. Tetapi, di beberapa kampung ada juga
yang menyediakan hadiah berupa marewa (bendera kain berwarna-warni berbentuk
segi tiga dengan renda di bagian tepinya).
Kegiatan-kegiatannya dalam Upacara Pacu Jalur
antara lain adalah :
1. Membuat Jalur (membuat perahu / sampan)
Pekerjaan
membuat jalur tentulah tidak dapat dilakukan satu atau dua orang, melainkan
memerlukan beberapa orang yang ahli dengan bantuan masyarakat, karena jalur
yang dibuat adalah dalam ukuran besar, panjangnya 25-30 meter yang akan
didayung oleh 50-60 orang. Pekerjaan yang pertama sekali dilakukan adalah
mencari bahan, yakni pohon kayu besar sekitar empat pemeluk (antara 45 meter
lingkaran batangnya) diatur oleh seorang Paktuo dan Dukun Kayu. Setelah kayu
didapat, pekerjaan berikutnya adalah upacara menobang (menebang) kayu yang
diawali dengan malembe, yakni membaca doa dan mantra supaya pekerjaan itu
berjalan lancar. Selesai itu barulah kayu mulai dicatuk, mulai dilukai. Catukan
(kepingan kayu) diambil dan disimpan yang akan dipergunakan sebagai obat jika
ada diantara pekerja pembuat jalur sakit. Setelah kayu ditebang dan
dibersihkan, barulah pekerjaan membuat jalur dimulai dengan dipimpin oleh
seorang Tukang Tuo, dibantu oleh Tukang Pengapik sebanyak dua atau tiga orang
serta anggota masyarakat lainnya yang mau membantu dan pandai bertukang.
2. Menarik Jalur
Jalur
baru siap separuhnya itu ditarik ke kampung dengan upacara khusus yang disebut
menarik jalur. Jalur ditarik dengan mempergunakan rotan manau. Pekerjaan
menarik (menghelo) jalur ini dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan wanitanya
menyediakan makanan. Pada waktu itulah para pemuda dan pemudi dapat
berdampingan bersenda gurau sambil ajuk mengajuk hati masing-masing. Bahkan,
tidak jarang para pemuda turut pula menarik/menghelo jalur berdekatan dengan
sang pemudi impiannya. Menarik jalur dari rimba ke kampung adalah pekerjaan
yang tidak ringan, bukan saja karena jalur itu sangat berat tetapi jarak yang ditempuh
cukup jauh, yakni lebih kurang sepuluh (10) kilometer.
3. Mendiang Jalur (memanggang Jalur)
Setelah
jalur selesai dua pertiga, maka jalur itu perlu pula didiang (dipanaskan dengan
api). Pekerjaan itupun dilakukan dengan upacara khusus pula dan dimeriahkan
dengan berbagai atraksi kesenian masyarakatnya seperti : tari-tarian, bekayat
nandong, gondang berogung dan lain sebagainya.
4. Menurunkan Jalur
Dalam
menghadapi acara Pacu Jalur, Paktuo lah yang mengatur dan mempersiapkan segala
kelengkapannya termasuk menentukan orang-orang yang turut berpacu di dalam
jalur itu. Setelah semuanya siap, ditentukanlah ketika yang baik untuk
menurunkan jalur itu ke sungai Kuantan. Pada hari dan ketika yang baik menurut
dukun, jalurpun diturunkan beramai-ramai, kemudian diceburkan ke air.
5. Pacu Jalur
Pacu
Jalur dipusatkan di Taluk Kuantan. Sebelum pembukaan di Taluk Kuantan, terlebih
dahulu diadakan pula di Kecamatan Basrah acara Pacu Jalur Lokal, yang hanya
diikuti oleh peserta dari Kecamatan Kuantan Hilir. Kebiasaan ini mulai timbul
sejak tahun 1970, dan berlangsung sebelum tanggal 17 Agustus setiap tahunnya.
Sedangkan Pacu Jalur dilakukan sesudah tanggal 17 Agustus tepatnya minggu
ketiga atau keempat yang tersedia sambil menunggu giliran untuk berpacu. Dalam
berpacu jalur, panduan rute yang harus dilalui oleh peserta pacuan, di tengah
sungai diberi tanda berupa pancang sebagai pemisah lajur jalur panduan rute
yang harus dilalui oleh peserta pacuan, di tengah sungai diberi tanda berupa
pancang sebagai pemisah lajur jalur.
Pancang
jumlah ada 4 (empat) buah yang memberi petunjuk :
-
Pancang Mudiak (hulu tempat start)
-
Pancang Tongah
-
Pancang Ulak yang disebut juga pancang akhir (hilir) tempat jalur kembali ke
finishnya. Setelah berpacu, jalur-jalur itu dirapatkan ke tebing tempat hakim
pacu menunggu. Pengumuman hakim siapa pemenangnya akan disambut tepuk sorak
penonton.
Pada
tahun 2025 ini festival pacu jalur menjadi sorotan dunia ketika para konten creator berhasil memviralkan buda
pacu jalur tersebut, jalur andalan Kuansing, Bintang Emas Cahaya Intan,
berhasil merebut gelar juara pertama pada Festival Pacu Jalur Karisma Event
Nusantara di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kemenangan ini bukan sekadar piala, tapi sejarah manis bagi Desa
Tanjung, Hulu Kuantan. Sejak pertama kali memiliki jalur, inilah kali pertama
desa tersebut berhasil tampil sebagai jawara di arena pacu jalur bergengsi itu.
Di babak final, Bintang Emas Cahaya Intan tampil
meyakinkan di lintasan kiri. Sejak bendera merah dilepas, haluannya langsung
menyodok ke depan dan terus memimpin jalannya pertandingan. Jalur ini sukses
mendominasi perlawanan dari pendatang baru asal Petalongan, Inhu, Tuah Datuak
Keramat Imbang Dialam
Penulis: Abul Hasan Annadawi
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel