Siaran Pers: RAPBN Tahun Anggaran 2026: Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi Menuju “Indonesia Tangguh, Mandiri, dan Sejahtera”
Haninditya Okta Dinar Prasetyohadi
Rabu, 20 Agustus 2025 |
798 kali
Jakarta, 15 Agustus 2025 – Di tengah ketidakpastian
global akibat konflik geopolitik dan disrupsi perdagangan internasional, peran
sentral APBN menjadi sangat strategis guna meredam tekanan eksternal sekaligus
tetap mendorong agenda pembangunan nasional. Pada tahun 2026, ketidakpastian
global diperkirakan masih terus berlanjut dan semakin kompleks. Risiko eskalasi
ketegangan geopolitik seperti konflik dan ancaman siber (cyber) dan perang di
berbagai kawasan semakin mengikis tatanan internasional yang dilandaskan pada
aturan dan kesepahaman untuk kepentingan bersama. Meskipun demikian, tensi
ketidakpastian global diharapkan mereda sehingga akan berdampak positif
terhadap kinerja perekonomian global. Berdasarkan kondisi tersebut,
International Monetary Fund (World Economic Outlook, Juli 2025) memproyeksikan
ekonomi global pada tahun 2026 tumbuh 3,1 persen (yoy). Pertumbuhan ekonomi
global 2026 sedikit membaik jika dibandingkan outlook 2025 sebesar 3,0 persen,
namun masih lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2024 yang sebesar
3,3 persen.
Laju inflasi tetap terkendali yang mencerminkan terjaganya daya beli
masayarakat. Kinerja neraca perdagangan mencatatkan surplus 62 bulan
berturut-turut di tengah perekonomian dunia yang relatif stagnan
sementara cadangan devisa pada Maret 2025 menyentuh level tertinggi sepanjang
sejarah. Selain itu, dalam 10 (sepuluh) bulan pertama Kabinet Merah Putih,
berbagai program prioritas strategis menunjukkan capaian sebagai modal penting
menyongsong agenda pembangunan ke depan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah
menjangkau siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ibu
hamil/menyusui, serta balita dan anak prasekolah di berbagai daerah. Sementara
Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah melayani masyarakat melalui Puskesmas dan
sekolah/madrasah. Di bidang pendidikan,159 Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi
pada tahun 2025 dan pembangunan SMA Unggul Garuda dimulai di Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Tengah. Melanjutkan program
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk pencapaian target 3 Juta
Rumah, serta penguatan ekonomi rakyat dilakukan melalui pembentukan lebih dari
80 ribu Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih.
Di sektor pangan, optimasi 500 ribu hektar sawah dan 225 ribu hektar cetak
sawah baru terus dilakukan untuk menjaga swasembada pangan. Modernisasi
Alutsista dan intelijen dilanjutkan untuk memperkuat pertahanan semesta dan
menjaga kedaulatan nasional. Berbagai capaian tersebut akan diakselerasi untuk
memenuhi target tahun 2025 serta dilanjutkan dan dioptimalkan dalam agenda
pembangunan tahun 2026. Selanjutnya, menghadapi dinamika global tahun 2026,
Pemerintah Indonesia berfokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan
melindungi dunia usaha serta kelompok rentan. Strategi ekonomi dan fiskal akan
diselaraskan dengan pelaksanaan agenda prioritas pembangunan nasional tahun
2026. Upaya dalam menjaga daya beli akan dilakukan melalui pengendalian inflasi
serta optimalisasi program perlindungan sosial dan program unggulan seperti
Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Sekolah Unggul Garuda, dan Koperasi
Desa/Kelurahan Merah Putih. Upaya meningkatkan investasi akan difokuskan pada
sektor strategis bernilai tambah, sedangkan penguatan ekspor didorong melalui
hilirisasi dan diversifikasi pasar. Sementara itu, dari sisi suplai, Pemerintah
mendorong penguatan rantai pasok pertanian, hilirisasi industri, dan proyek
strategis nasional (PSN).
Berpijak atas proyeksi perekonomian global tahun 2026, stabilitas ekonomi
domestik, capaian pembangunan nasional tahun berjalan, serta strategi ekonomi
dan fiskal tahun 2026, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026
ditargetkan akan mencapai 5,4 persen. Akselerasi pertumbuhan ekonomi terus
diarahkan supaya lebih inklusif melalui pencapaian sasaran dan target indikator
pembangunan. Pemerintah berupaya menurunkan tingkat kemiskinan mencapai rentang
6,5-7,5 persen. Rasio gini diupayakan menurun hingga rentang 0,377-0,380.
Sementara itu, tingkat kemiskinan ekstrem ditargetkan mendekati 0 (nol) persen.
Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan menurun ke kisaran 4,44-4,96 persen.
Sementara itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) terus ditingkatkan dalam
mewujudkan Indonesia yang maju, sehingga Indeks Modal Manusia (IMM) ditargetkan
membaik mencapai 0,57. Selain itu, sasaran pembangunan nasional juga diupayakan
semakin meningkat melalui indeks kesejahteraan petani yang ditargetkan mencapai
0,7731 dan proporsi penciptaan lapangan pekerjaan formal mencapai 37,95 persen.
Dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional, Pemerintah menyusun
RAPBN tahun 2026 sebagai instrumen untuk melaksanakan 8 (delapan) agenda
pembangunan (Asta Cita). Program Asta Cita mencakup penguatan ideologi
Pancasila dan demokrasi, pemantapan sistem pertahanan keamanan serta mendorong
kemandirian melalui swasembada pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja
berkualitas, pembangunan SDM unggul, hilirisasi dan industrialisasi,
pembangunan dari desa, reformasi birokrasi dan hukum, serta harmonisasi
kehidupan sosial dan lingkungan. APBN memainkan peran penting sebagai instrumen
negara dalam mencapai tujuan tersebut, dengan mengedepankan prinsip alokasi
adil, distribusi merata, serta stabilisasi ekonomi. Di tengah gejolak global
yang dinamis dan tantangan struktural domestik, kebijakan fiskal 2026
difokuskan untuk mewujudkan “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi” menuju
Indonesia tangguh, mandiri, dan sejahtera. Strategi jangka pendek diarahkan
untuk: pertama, memperkuat daya tahan ekonomi dan fiskal dalam
meredam gejolak dengan menjaga stabilisasi ekonomi melalui diplomasi ekonomi
terkait perdagangan dan investasi dengan negosiasi, deregulasi, dan perluasan
pasar ekspor. Upaya tersebut termasuk memperkuat strategi kebijakan fiskal,
moneter, dan sektor keuangan. Kedua, melindungi dunia usaha dan
daya beli masyarakat melalui pemberian insentif fiskal dan berbagai program
perlindungan sosial. Ketiga, menjaga APBN tetap sehat dan kredibel
dengan mengendalikan defisit serta melakukan pembiayaan inovatif dan
berkelanjutan (sustainable), efisiensi, dan fokus belanja untuk agenda
prioritas, optimalisasi pendapatan negara, serta mengoptimalkan fiscal
buffer dan fleksibilitas. Sementara itu, strategi jangka menengah
diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan sosial. Strategi jangka
menengah membutuhkan konsistensi kebijakan untuk mendukung transformasi ekonomi
dan sosial dengan ditopang pengelolaan fiskal yang sehat dan berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, maka strategi jangka menengah difokuskan melalui 8
(delapan) strategi, yaitu (1) ketahanan pangan; (2) ketahanan energi; (3) Makan
Bergizi Gratis (MBG); (4) program pendidikan bermutu; (5) program kesehatan
berkualitas; (6) pembangunan desa, koperasi, dan UMKM; (7) penguatan pertahanan
semesta; serta (8) akselerasi investasi dan perdagangan global. Selanjutnya,
berbagai bauran strategi tersebut dibingkai dalam kebijakan fiskal yang
tercantum dalam RAPBN tahun 2026 yang akan dijaga tetap sehat, kredibel, dan
produktif. Langkah-langkah kebijakan akan ditempuh di bidang Pendapatan Negara,
Belanja Negara, serta Pembiayaan Anggaran.
Untuk itu, Pemerintah hari ini kembali mengajukan RUU APBN Tahun Anggaran 2026
berserta Nota Keuangan kepada DPR RI yang selanjutnya akan dibahas bersama
mengenai pokok-pokok kebijakan sebagai berikut:
Perekonomian global diproyeksikan masih
bergejolak dengan tingkat ketidakpastian tinggi. Eskalasi perang tarif dan
meluasnya konflik geopolitik menimbulkan ketidakstabilan yang berpotensi
menghambat prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Meningkatnya ketegangan,
fragmentasi, serta kecenderungan proteksionisme akan mendorong ekonomi biaya
tinggi, mengganggu kelancaran rantai pasok global, dan memperlambat kinerja
perdagangan internasional, khususnya ekspor dan impor. Di tengah ketidakpastian
global, perekonomian Indonesia masih terjaga sepanjang periode 2022-2024.
Pertumbuhan ekonomi stabil di level 5 persen dengan inflasi terkendali pada
periode tersebut. Tahun 2025, di tengah ketidakpastian global yang semakin
meningkat, pertumbuhan ekonomi pada semester I dapat dijaga sebesar 4,99
persen (yoy), salah satu tertinggi di antara negara-negara G20.
Inflasi pada bulan Juli 2025 relatif terkendali sebesar 2,37 persen (yoy),
sehingga menjaga tingkat konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor
signifikan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Pemerintah juga berhasil dalam
menurunkan tingkat kemiskinan dari 10,14 persen tahun 2021 menjadi 8,47 persen
tahun 2025, bahkan kemiskinan ekstrim dapat di turunkan dari 2,14 persen
menjadi 0,85 persen dalam periode yang sama. Tingkat ketimpangan juga berkurang
dari 0,384 pada tahun 2021 menjadi 0,375 pada tahun 2025. Pemerintah juga terus
memperbaiki upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan
indikator yang lebih mencerminkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam tahun 2025, Pemerintah menggunakan Indeks Modal Manusia sebagai target
dalam mengukur secara komprehensif kemampuan dan kualitas daya saing SDM
Indonesia dengan target sebesar 0,56. Sebagai instrumen kebijakan fiskal, APBN
memiliki peran strategis dalam memengaruhi perekonomian. Besaran APBN dapat
berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap sektor riil
(permintaan agregat), sektor moneter, dan sektor eksternal (neraca pembayaran).
Dalam RAPBN 2026, dampak APBN terhadap sektor-sektor ekonomi di evaluasi dalam
tiga tahun terakhir untuk mendapat gambaran bagaimana APBN memberi manfaat dan
dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Evaluasi terhadap dampak tersebut juga
dapat memberi gambaran berapa potensi pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai di
tahun 2026 yang memengaruhi penyusunan target asumsi dasar ekonomi makro yang
menjadi acuan dalam RAPBN 2026.
Prospek ekonomi global untuk tahun 2025 diproyeksikan membaik dibandingkan
proyeksi sebelumnya, namun masih dibayangi risiko. IMF dalam WEO Juli 2025
memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0 persen, meningkat 0,1 poin
persentase dari proyeksi sebelumnya. Perbaikan prospek ekonomi global didorong oleh
kondisi sektor keuangan yang lebih longgar termasuk pelemahan dolar AS,
tercapainya kesepakatan dagang beberapa negara dengan AS, ekspansi fiskal di
beberapa negara yang meningkatkan permintaan, percepatan aktivitas ekonomi di
awal periode (front-loading), serta penurunan inflasi global yang
memperkuat daya beli dan stabilitas ekonomi. Sementara itu, risiko pelemahan
tetap perlu diwaspadai, terutama yang didorong oleh meningkatnya hambatan
perdagangan, tingginya ketidakpastian, volatilitas keuangan yang membesar,
serta melemahnya kepercayaan pelaku usaha. Mengawali 2025, ekonomi Indonesia
tumbuh resilien sebesar 4,87 persen (yoy) pada triwulan I di
tengah peningkatan tekanan global. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama
dengan pertumbuhan mendekati 5 persen, didukung stimulus fiskal seperti THR,
diskon listrik dan tol, serta stabilisasi harga pangan. Investasi tumbuh moderat,
sementara konsumsi Pemerintah terkontraksi akibat efek basis tinggi
pasca-Pemilu. Ekspor tumbuh stabil 6,46 persen (yoy), ditopang
ekspor komoditas sawit dan besi baja yang tumbuh masing-masing 36,0 persen dan
6,6 persen (yoy). Dari sisi produksi, sektor pertanian tumbuh
impresif di atas 10 persen berkat perbaikan distribusi pupuk yang mendorong
optimalisasi panen raya. Industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan solid,
memperkuat fondasi transformasi ekonomi berbasis hilirisasi. Perekonomian
Indonesia kembali tumbuh positif pada triwulan II sebesar 5,12 persen (yoy) ditopang
oleh kuatnya permintaan domestik dan juga kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga
tumbuh sebesar 4,97 persen (yoy), mencerminkan daya beli masyarakat
yang tetap terjaga. Hal ini didukung oleh berbagai insentif Pemerintah, seperti
pemberian gaji ke-13, diskon tarif transportasi dan tol, penebalan bantuan
sosial dan pangan, serta bantuan subsidi upah. Peningkatan mobilitas masyarakat
pada periode libur Lebaran, hari besar keagamaan, dan liburan sekolah juga
turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat selama periode tersebut. Di
sisi lain, konsumsi Pemerintah pada triwulan II masih sedikit terkontraksi
sebesar 0,33 persen (yoy), seiring dengan pertumbuhan belanja
barang yang masih tumbuh negatif 9,7 persen (yoy). Berbagai
kebijakan stimulus untuk menjaga daya beli dan stabilisasi ekonomi pada
triwulan II diarahkan untuk menjaga pengeluaran masyarakat pada kebutuhan
pokok. Belanja negara penopang kinerja konsumsi Pemerintah seperti belanja
pegawai, belanja modal, dan belanja bantuan sosial pada triwulan II terserap
lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III dan IV 2025,
diperkirakan serapan belanja barang akan terakselerasi seiring dengan
pelaksanaan program nasional seperti MBG, perumahan, koperasi, dan sekolah
rakyat.
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 2025 – 2026

Pemerintah mendesain RAPBN tahun
anggaran 2026 untuk mewujudkan delapan agenda pembangunan (Asta Cita) melalui
berbagai kebijakan fiskal menuju Indonesia tangguh, mandiri, dan sejahtera.
Dengan mengusung tema “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi”, strategi
kebijakan dalam RAPBN tahun anggaran 2026 ditempuh melalui berbagai bidang
prioritas pembangunan, yaitu:
Pendapatan negara pada RAPBN tahun 2026
ditargetkan sebesar Rp3.147,7 triliun,
yang terdiri dari:
Pembiayaan anggaran tahun 2026
direncanakan sebesar Rp638,8 triliun (2,48 persen dari PDB). Dalam rangka
menjaga stabilitas ekonomi melalui counter cyclical yang
efektif, melindungi dunia usaha dan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan
fiskal, arah kebijakan pembiayaan anggaran tahun 2026 tetap dijaga secara
pruden, inovatif dan sustainable, untuk mendorong peningkatan
produktivitas perekonomian, yang ditempuh dengan: (1) mengendalikan defisit dan
pembiayaan dalam batas aman, (2) memberdayakan Special Mission
Vehicle (SMV), dan Badan Layanan Umum (BLU) serta sinergi dengan
Danantara; (3) memanfaatkan SAL untuk mengantisipasi ketidakpastian; (4)
meningkatkan ketahanan fiskal melalui penyediaan fiscal buffer yang handal dan
efisien; (5) meningkatkan akses pembiayaan bagi MBR, UMKM, dan UMi.

***
Deni Surjantoro
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi
Kementerian Keuangan