A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXX(/var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022/portaldjkn_2022toqkultq2ntna00fhp9309o41q7jt0tg): failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 176

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXXXXXXXXXX(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 143

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

Website DJKN
  Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku
Jaga Aset Negara: Jembatan Merah Holtekamp, Sang Merah Nan Megah, Penghubung Akses Jayapura - Skouw

Jaga Aset Negara: Jembatan Merah Holtekamp, Sang Merah Nan Megah, Penghubung Akses Jayapura - Skouw

Dimas Aditya Saputra
Sabtu, 20 Juli 2019 |   4450 kali

JAYAPURA - (17/07/2019), Jembatan Holtekamp adalah jembatan di Jayapura yang menghubungkan daerah Hamadi dengan Holtekamp, yang dulunya merupakan dua pulau yang terpisah. Membentang diatas teluk Youtefa sepanjang kurang lebih 1,8 kilometer dan lebar 18 meter, menjadikan jembatan ini sebagai jembatan terlebar pertama di Indonesia timur yang memiliki dua jalur untuk empat lajur.

 

Jempatan Holtekamp atau yang biasa disebut Jembatan Merah oleh masyarakat sekitar merupakan salah satu ikon baru yang akan menjadi landmark di kota Jayapura. Jembatan ini cukup menarik perhatian masyarakat karena warnanya yang mencolok yaitu merah terang dan ukurannya yang terbilang besar dan megah. Proyek pembangunan jembatan yang memiliki desain unik melengkung ini pertama kali dimulai pada tahun 2015. Rangka jembatan seberat 2.000 ton dirakit di Surabaya dan dibawa ke Jayapura dengan kapal tongkang.

 

Dalam rangka kampanye “Jaga Aset Negara”, Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan MalukuPapabaruku telah mengirimkan tim untuk mengambil gambar serta data terbaru Jembatan merah Holtekamp. Namun karena jembatan masih belum diresmikan dan dijaga oleh TNI, maka tim menyewa perahu untuk dapat mendekati jembatan lewat teluk Youtefa. Perjalanan dari Entrop ke Hamadi ditempuh dalam waktu yang cukup singkat yaitu sekitar 20 menit. Sesampainya di Hamadi tim melanjutkan perjalanan dengan menyewa speedboat untuk mengarungi teluk Youtefa.

 

Jembatan yang mana struktur bentang tengahnya dibangun oleh PT. PAL (Persero) ini rencananya akan diresmikan pada bulan Juli tahun ini. Nantinya setelah diresmikan dan beroperasi, Pemerintah berharap jembatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali potensi perekonomian di Papua khususnya Jayapura. Selain itu, Kementerian PUPR juga telah membangun jalan sepanjang 9 (sembilan) kilometer menuju pantai Holtekamp. Jalan ini merupakan jalan tembusan baru yang akan menghubungkan Hamadi langsung ke jalan utama menuju Koya.

 

Pembangunan sarana dan infrastruktur jembatan penghubung ini memiliki potensi yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat di Jayapura dan sekitarnya. Tidak hanya menjadi ikon kota Jayapura dalam menyambut PON 2020, jembatan ini juga berperan penting dalam mempersingkat akses darat dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw.

 

PLBN Skouw diketahui sebagai tempat transaksi perdagangan yang strategis antara masyarakat Papua dengan warga Papua Nugini. Dengan dibangunnya jembatan Holtekamp ini perjalanan darat menuju PLBN Skouw yang biasa di tempuh dalam waktu sekitar dua jam dapat dipangkas menjadi hanya satu jam saja.

 

Diluar dari semua kemegahan dan potensi besar yang ada, keberadaan jembatan senilai +/- Rp1,8 Triliun ini tentunya juga tak lepas dari permasalahan seperti masalah biaya ganti rugi tanah adat kepada kepala suku dan terkait penamaan jembatan. Pada saat kunjungan, tim DJKN Kanwil Papabaruku bertemu dengan tokoh masyarakat sekitar yang kebetulan juga merupakan kepala suku Merauje yaitu Organus Merauje. Dalam wawancara singkat, Organus mengharapkan agar Pemerintah nantinya memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar jembatan, “Masyarakat yang tinggal di sekitaran jembatan ini harus mendapat keuntungan ekonomi dari dibangunnya jembatan merah ini, jangan sampai dengan adanya jembatan ini masyarakat malah miskin dan tersingkirkan”, pungkasnya. (video wawancara dapat diakses di channel Youtube DJKN Papabaruku)

  

Jembatan Merah Holtekamp ini adalah aset negara yang dibangun dengan uang rakyat. Sudah semestinya kita sebagai warga negara Indonesia harus mau untuk menjaga dan merawat agar fungsi dan potensinya tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya.

 

~Link video: https://youtu.be/_XUPHRBAi2Q 

 

~(Tim KIHI Papabaruku)

Foto Terkait Berita

Floating Icon