Membaca Arah Pasar Properti Indonesia: Analisis Komprehensif Dampak Bencana dan Dinamika Harga
M As'ad Firdaus
Selasa, 22 September 2026 |
143 kali
Adaptasi berdasrkan kajian
oleh M. As’ad Firdaus yang publish pada Jurnal Manajemen Aset dan Penilaian
(JMAP)
Indonesia dikenal sebagai negara
dengan lanskap alam yang memukau. Namun, di balik keindahan geografisnya,
tersimpan realitas geologis yang tak bisa dihindari: Indonesia adalah salah
satu wilayah dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia. Berada di
"Ring of Fire" dan titik temu empat lempeng tektonik utama, anomali
cuaca hingga gempa bumi menjadi bagian dari keseharian kita. Lalu, bagaimana
kondisi rentan ini berdampak pada salah satu instrumen investasi terbesar kita,
yaitu properti?
Mengintip Tren Bencana di Indonesia:
Angka yang Terus Naik
Menurut data Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), rentetan bencana alam di Indonesia tidak
menunjukkan tanda-tanda mereda. Sepanjang tahun 2020 saja, tercatat ada 4.650
kejadian bencana, dengan dominasi banjir (1.518 kejadian), angin puting
beliung (1.386 kejadian), dan tanah longsor. Bencana ini tidak hanya menelan
korban jiwa, tetapi juga menghancurkan puluhan ribu hunian dan ribuan fasilitas
umum. Perhatikan grafik lonjakan bencana di bawah ini: Keterangan Gambar:
Grafik di atas mengilustrasikan peningkatan drastis tren kejadian bencana alam
sejak 2010 (1.619 kejadian) hingga memuncak di tahun 2021 dengan 5.402
kejadian. Banjir mendominasi 33?ri total peristiwa.
Gambar. Jumlah Peristiwa Bencana Alam
Di Indonesia 2010 – 2021 (Sumber BNPB)


Sumber. BNPB
Kota-Kota Besar di Garis Depan
Risiko
Berdasarkan laporan Global
Facility for Disaster Risk Reduction (2021) bencana alam merupakan hal yang
berakibat buruk terhadap ekonomi, masyarakat dan lingkungan. Bencana alam
menyebabkan kerugian besar kepada manusia salah satunya terhadap aset properti.
Bin dan Kruse (2006) mengatakan keputusan dalam berinvestasi pada sektor
properti didasari atas analisis risiko yang dapat berdampak pada nilai suatu
properti. Salah satu risiko tersebut adalah risiko bencana alam, yang mana
dalam hasil penelitiannya menunjukan bahwa bencana banjir memiliki potensi
konsekuensi yang besar terhadap harga properti dan pasar properti dalam jangka
panjang.
Jika Anda berniat membeli
rumah atau membangun bisnis, mengetahui Indeks Risiko Bencana (IRBI) di kota
incaran adalah wajib. Pemetaan dari BNPB menunjukkan bahwa beberapa kota besar,
yang notabene adalah pusat perputaran ekonomi dan properti, justru memegang
angka risiko kerawanan yang sangat tinggi.
Gambar. Indeks Kerawanan Bencana Kota
Besar di Indonesia


Sumber. IRBI (Indeks Risiko
Bencana Indonesia)
beberapa kota-kota besar berada pada daerah dengan risko kerawanan bencana yang tinggi. Kota yang paling tinggi tingkat risiko bencananya adalah Kota Surabaya dengan indeks sebesar 150,34. Sementara itu kota lain yang tergolong dalam kategori kota dengan tingkat risiko bencana kategori tinggi adalah Kota Makassar (131,78) Kota Palembang (131,6), Kota Bandung (122,32), Kota Semarang (115,52), dan Kota Denpasar (108,17).
Analisis: Residensial vs
Komersial, Siapa yang Paling Terdampak?
Di dunia real estate, slogan
"Bebas Banjir" bukanlah sekadar pemanis iklan, melainkan faktor
determinan penentu harga. Secara teori, segala bentuk eksternalitas negatif,
termasuk risiko bencana, akan menurunkan nilai pasar suatu aset. Namun,
penelitian ini menemukan sebuah anomali yang sangat menarik antara sektor
perumahan (residensial) dan sektor bisnis (komersial).
1. Properti
Residensial (Hunian): Terpukul Mundur oleh Risiko Bencana
Hasil riset mengonfirmasi bahwa tingkat kerawanan
bencana memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Indeks Harga Properti
Residensial.
Analisis: Mengapa demikian? Hunian berhubungan langsung dengan rasa aman, kenyamanan hidup, dan keberlangsungan sebuah keluarga. Calon pembeli rumah akan berpikir dua kali dan menawar harga serendah mungkin (atau bahkan membatalkan pembelian) jika tahu daerah tersebut rawan longsor atau langganan banjir. Harga rumah di area "zona merah" bencana otomatis akan tertekan turun secara drastis.
2. Properti Komersial (Perkantoran & Hotel): Kebal Terhadap Bencana?
Uniknya, kondisi serupa tidak berlaku untuk
Indeks Harga Properti Komersial. Peningkatan risiko bencana alam di suatu
daerah tidak menunjukkan hubungan negatif yang signifikan terhadap harga sewa
atau jual properti perkantoran dan hotel.
Analisis: Mengapa properti komersial lebih "kebal"?
Faktor Makroekonomi Turut
Bermain Menentukan Dinamika Harga
Selain faktor alam, jangan lupakan hukum
ekonomi dasar. Indeks properti baik residensial maupun komersial juga
diombang-ambingkan oleh sentimen makroekonomi seperti:
●
Inflasi
dan Pertumbuhan Ekonomi: Mengatur daya beli masyarakat.
●
Kepadatan
Penduduk: Tingginya permintaan (demand) di kawasan padat akan selalu
mengerek harga properti, bahkan di area yang memiliki risiko bencana menengah,
karena masalah kelangkaan lahan (scarcity).
●
Indeks
Kemahalan Konstruksi: Berdampak langsung pada nilai penggantian bangunan baru.
Bagi masyarakat dan investor ritel,
label "Rawan Bencana" adalah red flag yang secara nyata
menurunkan nilai investasi rumah Anda. Pastikan untuk selalu mengecek rekam
jejak lingkungan sebelum membeli properti residensial.
Sementara itu, bagi pemain sektor
komersial, meski harga aset cenderung stabil menghadapi sentimen bencana, biaya
tak terlihat seperti premi asuransi dan maintenance akibat bencana
(seperti kerusakan fasad gedung) harus tetap masuk ke dalam kalkulasi Capital
Rate Anda.
Properti memang investasi yang
menjanjikan, namun di negara "Ring of Fire" ini, ketelitian Anda
dalam membaca lingkungan adalah kunci utama menyelamatkan aset dari bencana.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |