Relevansi Kisah Perjalanan ke Barat terhadap Etos Kerja
Taufik Iqbal Pratama
Kamis, 13 Agustus 2026 |
70 kali
Kisah Perjalanan ke Barat (Journey
to the West) merupakan salah satu karya klasik dalam sastra Tiongkok yang cukup memiliki pengaruh terhadap kebudayaan Asia. Karya yang secara tradisional
dikaitkan dengan tokoh penyair Wu Cheng'en ini menceritakan perjalanan biksu Xuanzang menuju
India untuk memperoleh kitab suci Buddha. Perjalanan Xuanzang
ditemani oleh tiga muridnya, yaitu Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Anthony
C. Yu menjelaskan bahwa Journey to the West bukan sekadar cerita
petualangan, tetapi merupakan karya yang memiliki dimensi alegoris, satir,
keagamaan, dan fantasi. Kompleksitas tersebut menjadikan kisah ini menarik
untuk dikaji dari berbagai perspektif, termasuk perspektif kehidupan manusia
dan dunia kerja. Apabila perjalanan menuju Barat dipandang sebagai metafora
perjalanan manusia dalam mencapai tujuan, maka berbagai karakter dan peristiwa
di dalamnya dapat dikaitkan dengan nilai-nilai yang diperlukan dalam membangun
etos kerja. Ketekunan, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian
menghadapi tantangan, pengendalian diri, serta integritas merupakan beberapa
nilai yang dapat direfleksikan dari kisah tersebut.
Xuanzang dan para muridnya tidak
dapat memperoleh apa yang mereka cari secara instan. Mereka harus menempuh
perjalanan panjang dengan menghadapi berbagai rintangan. Kondisi tersebut
memiliki kesamaan dengan kehidupan profesional. Dalam dunia kerja, keberhasilan
umumnya tidak diperoleh dalam waktu singkat. Peningkatan kompetensi, pencapaian
target, keberhasilan suatu program, maupun pembangunan reputasi profesional membutuhkan
proses yang konsisten. Perjalanan yang panjang mengajarkan bahwa seseorang
tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga harus menghargai
proses. Etos kerja yang baik tercermin dari kemampuan seseorang untuk tetap
menjalankan tanggung jawab meskipun hasil yang diharapkan belum dapat dirasakan
secara langsung. Dengan demikian tujuan yang besar membutuhkan ketekunan
dalam menjalani proses yang panjang.
Ketekunan merupakan salah satu
nilai paling relevan untuk dikaitkan dengan etos kerja. Dalam kisah Perjalanan
ke Barat, berbagai rintangan yang menghadang tidak membuat perjalanan itu terhentikan.
Dalam konteks pekerjaan, seseorang sering kali menghadapi kondisi yang tidak
sesuai dengan harapan. Target yang sulit dicapai, pekerjaan dapat mengalami
hambatan, kebijakan dapat berubah, dan berbagai permasalahan dapat muncul
secara tidak terduga. Kondisi tersebut membutuhkan konsistensi. Etos kerja
bukan hanya tentang kemampuan bekerja keras ketika motivasi sedang tinggi,
tetapi juga kemampuan untuk tetap menjalankan tugas secara profesional ketika
menghadapi tekanan dan kejenuhan. Oleh karena itu, keberhasilan tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk memulai, tetapi juga oleh
kemampuannya untuk bertahan dan menyelesaikan perjalanan.
Sun Wukong dengan kemampuan problem
solving
Tokoh Sun Wukong merupakan salah satu karakter paling menonjol dalam Perjalanan ke Barat. Ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan, keberanian, kecerdikan, dan kemampuan menghadapi berbagai ancaman. Dalam dunia kerja, karakter tersebut dapat dikaitkan dengan kemampuan problem solving. Seorang pekerja tidak cukup hanya mampu menjalankan tugas berdasarkan prosedur, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan cara biasa. Perubahan lingkungan kerja menuntut seseorang untuk mampu berpikir kreatif dan adaptif. Namun, karakter Sun Wukong juga menunjukkan bahwa kemampuan besar harus disertai dengan pengendalian diri. Keberanian tanpa disiplin dapat berubah menjadi tindakan yang tidak terkendali. Oleh karena itu, etos kerja membutuhkan keseimbangan antara inisiatif, keberanian, kompetensi, dan disiplin.
Zhu Bajie dan Pengendalian
Diri
Zhu Bajie memiliki karakter yang berbeda dari Sun Wukong. Ia sering digambarkan memiliki kecenderungan terhadap kesenangan duniawi. Dari perspektif etos kerja, karakter Zhu Bajie dapat menjadi refleksi bahwa setiap manusia memiliki kelemahan. Dalam lingkungan profesional, seseorang mungkin memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan, menghindari tanggung jawab, mencari kenyamanan, atau mudah kehilangan fokus. Hal tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian diri. Etos kerja yang baik tidak berarti seseorang tidak memiliki kelemahan, tetapi menunjukkan kemampuan untuk menyadari kelemahan tersebut dan berusaha mengendalikannya. Dengan demikian, kisah Zhu Bajie memberikan pelajaran bahwa kesadaran terhadap kelemahan diri merupakan bagian penting dari proses pengembangan profesional.
Sha Wujing, Konsistensi dan
Tanggung Jawab
Sha Wujing lebih dikenal sebagai sosok yang tenang dan konsisten dalam melalui perjalanan. Banyak pekerjaan penting justru dilakukan oleh individu yang bekerja secara konsisten dan tidak selalu berada di pusat perhatian. Hal tersebut relevan dengan etos kerja profesional. Seorang pegawai yang dapat dipercaya adalah seseorang yang mampu menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten, menjaga kualitas pekerjaan, dan tetap memberikan kontribusi. Dari karakter Sha Wujing dapat ditarik pelajaran bahwa loyalitas, konsistensi, dan tanggung jawab merupakan bagian penting dari keberhasilan organisasi.
Xuanzhang sebagai simbol Manajerial
Perjalanan menuju Barat tidak dilakukan oleh satu orang. Xuanzang membutuhkan bantuan para muridnya, sementara setiap murid memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pencapaian tujuan besar membutuhkan kerja sama. Dalam organisasi modern, perbedaan kompetensi seharusnya tidak dipandang sebagai hambatan, tetapi sebagai kekuatan yang dapat saling melengkapi. Sun Wukong memiliki keberanian dan kemampuan menghadapi ancaman. Zhu Bajie memiliki kekuatan dan karakter yang berbeda, sedangkan Sha Wujing memberikan dukungan dan stabilitas. Dalam lingkungan kerja, kerja sama berarti kemampuan untuk menghargai kompetensi orang lain, berkomunikasi dengan baik, membantu rekan kerja, serta mengutamakan tujuan organisasi daripada kepentingan pribadi. Dengan demikian, etos kerja individual akan menjadi lebih kuat apabila didukung oleh budaya kerja sama dan solidaritas tim.
Kesimpulan
Nilai-nilai dalam kisah Perjalanan ke
Barat tetap terasa relevan meskipun kisah tersebut berasal dimensi sejarah dan
budaya yang berbeda dengan kekinian. Hal tersebut karena persoalan
fundamental manusia tidak banyak berubah: manusia tetap membutuhkan tujuan,
disiplin, kemampuan menghadapi hambatan, kerja sama, kepemimpinan, dan
pengendalian diri. Dalam lingkungan kerja modern yang semakin dinamis, pekerja
dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi, tuntutan
organisasi, serta perubahan kebutuhan masyarakat. Ada tujuan yang harus
dicapai, terdapat rintangan yang harus dihadapi, terdapat anggota tim dengan
karakter yang berbeda, dan terdapat berbagai godaan yang dapat mengalihkan
perhatian dari tujuan utama. Keberhasilan organisasi pada akhirnya tidak hanya
ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi oleh kemampuan seluruh anggota
untuk menyatukan kompetensi, menjaga integritas, dan mempertahankan komitmen
terhadap tujuan bersama.
Daftar Pustaka
Columbia University, Weatherhead East Asian Institute.
(n.d.). The Journey to the West: World Literature teaching materials and
resources. Columbia University.
Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the
West: Revised Edition, Volume 1. Chicago: University of Chicago Press.
Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the
West: Revised Edition, Volume 2. Chicago: University of Chicago Press.
Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the
West: Revised Edition, Volume 3. Chicago: University of Chicago Press.
Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the West: Revised Edition, Volume 4. Chicago: University of Chicago Press.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |