Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku
Relevansi Kisah Perjalanan ke Barat terhadap Etos Kerja

Relevansi Kisah Perjalanan ke Barat terhadap Etos Kerja

Taufik Iqbal Pratama
Kamis, 13 Agustus 2026 |   70 kali

Kisah Perjalanan ke Barat (Journey to the West) merupakan salah satu karya klasik dalam sastra Tiongkok yang cukup memiliki pengaruh terhadap kebudayaan Asia. Karya yang secara tradisional dikaitkan dengan tokoh penyair Wu Cheng'en ini menceritakan perjalanan biksu Xuanzang menuju India untuk memperoleh kitab suci Buddha. Perjalanan Xuanzang ditemani oleh tiga muridnya, yaitu Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Anthony C. Yu menjelaskan bahwa Journey to the West bukan sekadar cerita petualangan, tetapi merupakan karya yang memiliki dimensi alegoris, satir, keagamaan, dan fantasi. Kompleksitas tersebut menjadikan kisah ini menarik untuk dikaji dari berbagai perspektif, termasuk perspektif kehidupan manusia dan dunia kerja. Apabila perjalanan menuju Barat dipandang sebagai metafora perjalanan manusia dalam mencapai tujuan, maka berbagai karakter dan peristiwa di dalamnya dapat dikaitkan dengan nilai-nilai yang diperlukan dalam membangun etos kerja. Ketekunan, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian menghadapi tantangan, pengendalian diri, serta integritas merupakan beberapa nilai yang dapat direfleksikan dari kisah tersebut.

Xuanzang dan para muridnya tidak dapat memperoleh apa yang mereka cari secara instan. Mereka harus menempuh perjalanan panjang dengan menghadapi berbagai rintangan. Kondisi tersebut memiliki kesamaan dengan kehidupan profesional. Dalam dunia kerja, keberhasilan umumnya tidak diperoleh dalam waktu singkat. Peningkatan kompetensi, pencapaian target, keberhasilan suatu program, maupun pembangunan reputasi profesional membutuhkan proses yang konsisten. Perjalanan yang panjang mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga harus menghargai proses. Etos kerja yang baik tercermin dari kemampuan seseorang untuk tetap menjalankan tanggung jawab meskipun hasil yang diharapkan belum dapat dirasakan secara langsung. Dengan demikian tujuan yang besar membutuhkan ketekunan dalam menjalani proses yang panjang.

Ketekunan merupakan salah satu nilai paling relevan untuk dikaitkan dengan etos kerja. Dalam kisah Perjalanan ke Barat, berbagai rintangan yang menghadang tidak membuat perjalanan itu terhentikan. Dalam konteks pekerjaan, seseorang sering kali menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Target yang sulit dicapai, pekerjaan dapat mengalami hambatan, kebijakan dapat berubah, dan berbagai permasalahan dapat muncul secara tidak terduga. Kondisi tersebut membutuhkan konsistensi. Etos kerja bukan hanya tentang kemampuan bekerja keras ketika motivasi sedang tinggi, tetapi juga kemampuan untuk tetap menjalankan tugas secara profesional ketika menghadapi tekanan dan kejenuhan. Oleh karena itu, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk memulai, tetapi juga oleh kemampuannya untuk bertahan dan menyelesaikan perjalanan.

Sun Wukong dengan kemampuan problem solving

Tokoh Sun Wukong merupakan salah satu karakter paling menonjol dalam Perjalanan ke Barat. Ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan, keberanian, kecerdikan, dan kemampuan menghadapi berbagai ancaman. Dalam dunia kerja, karakter tersebut dapat dikaitkan dengan kemampuan problem solving. Seorang pekerja tidak cukup hanya mampu menjalankan tugas berdasarkan prosedur, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan cara biasa. Perubahan lingkungan kerja menuntut seseorang untuk mampu berpikir kreatif dan adaptif.  Namun, karakter Sun Wukong juga menunjukkan bahwa kemampuan besar harus disertai dengan pengendalian diri. Keberanian tanpa disiplin dapat berubah menjadi tindakan yang tidak terkendali. Oleh karena itu, etos kerja membutuhkan keseimbangan antara inisiatif, keberanian, kompetensi, dan disiplin.

Zhu Bajie dan Pengendalian Diri

Zhu Bajie memiliki karakter yang berbeda dari Sun Wukong. Ia sering digambarkan memiliki kecenderungan terhadap kesenangan duniawi. Dari perspektif etos kerja, karakter Zhu Bajie dapat menjadi refleksi bahwa setiap manusia memiliki kelemahan. Dalam lingkungan profesional, seseorang mungkin memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan, menghindari tanggung jawab, mencari kenyamanan, atau mudah kehilangan fokus. Hal tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian diri. Etos kerja yang baik tidak berarti seseorang tidak memiliki kelemahan, tetapi menunjukkan kemampuan untuk menyadari kelemahan tersebut dan berusaha mengendalikannya. Dengan demikian, kisah Zhu Bajie memberikan pelajaran bahwa kesadaran terhadap kelemahan diri merupakan bagian penting dari proses pengembangan profesional

Sha Wujing, Konsistensi dan Tanggung Jawab

Sha Wujing lebih dikenal sebagai sosok yang tenang dan konsisten dalam melalui perjalanan. Banyak pekerjaan penting justru dilakukan oleh individu yang bekerja secara konsisten dan tidak selalu berada di pusat perhatian. Hal tersebut relevan dengan etos kerja profesional. Seorang pegawai yang dapat dipercaya adalah seseorang yang mampu menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten, menjaga kualitas pekerjaan, dan tetap memberikan kontribusi. Dari karakter Sha Wujing dapat ditarik pelajaran bahwa loyalitas, konsistensi, dan tanggung jawab merupakan bagian penting dari keberhasilan organisasi.

Xuanzhang sebagai simbol Manajerial

Perjalanan menuju Barat tidak dilakukan oleh satu orang. Xuanzang membutuhkan bantuan para muridnya, sementara setiap murid memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pencapaian tujuan besar membutuhkan kerja sama. Dalam organisasi modern, perbedaan kompetensi seharusnya tidak dipandang sebagai hambatan, tetapi sebagai kekuatan yang dapat saling melengkapi. Sun Wukong memiliki keberanian dan kemampuan menghadapi ancaman. Zhu Bajie memiliki kekuatan dan karakter yang berbeda, sedangkan Sha Wujing memberikan dukungan dan stabilitas. Dalam lingkungan kerja, kerja sama berarti kemampuan untuk menghargai kompetensi orang lain, berkomunikasi dengan baik, membantu rekan kerja, serta mengutamakan tujuan organisasi daripada kepentingan pribadi. Dengan demikian, etos kerja individual akan menjadi lebih kuat apabila didukung oleh budaya kerja sama dan solidaritas tim.

Kesimpulan

Nilai-nilai dalam kisah Perjalanan ke Barat tetap terasa relevan meskipun kisah tersebut berasal dimensi sejarah dan budaya yang berbeda dengan kekinian. Hal tersebut karena persoalan fundamental manusia tidak banyak berubah: manusia tetap membutuhkan tujuan, disiplin, kemampuan menghadapi hambatan, kerja sama, kepemimpinan, dan pengendalian diri. Dalam lingkungan kerja modern yang semakin dinamis, pekerja dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi, tuntutan organisasi, serta perubahan kebutuhan masyarakat. Ada tujuan yang harus dicapai, terdapat rintangan yang harus dihadapi, terdapat anggota tim dengan karakter yang berbeda, dan terdapat berbagai godaan yang dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama. Keberhasilan organisasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi oleh kemampuan seluruh anggota untuk menyatukan kompetensi, menjaga integritas, dan mempertahankan komitmen terhadap tujuan bersama.

 

Daftar Pustaka

Columbia University, Weatherhead East Asian Institute. (n.d.). The Journey to the West: World Literature teaching materials and resources. Columbia University.

Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the West: Revised Edition, Volume 1. Chicago: University of Chicago Press.

Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the West: Revised Edition, Volume 2. Chicago: University of Chicago Press.

Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the West: Revised Edition, Volume 3. Chicago: University of Chicago Press.

Yu, A. C. (Trans. & Ed.). (2012). The Journey to the West: Revised Edition, Volume 4. Chicago: University of Chicago Press.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon