Work-Life Balance atau Malas? Fenomena Quiet Quitting dalam Perspektif Milenial dan Gen Z
Bram Novista Dionisius Tampubolon
Selasa, 16 Juni 2026 |
1449 kali
Oleh: Bram Novista
Dionisius Tampubolon
Istilah quiet
quitting semakin sering menjadi perbincangan dalam dunia karier, khususnya
di kalangan pekerja generasi muda. Dalam budaya kerja saat ini yang terus
berkembang, konsep tersebut mendorong kita memikirkan kembali batas kerja yang
sehat.
Apa Itu Quiet
Quitting?
Secara umum, quiet
quitting menggambarkan sikap pegawai yang tetap menjalankan tugasnya dengan
baik, tetapi tidak lagi memberikan usaha ekstra di luar tugas dan fungsi yang
telah ditetapkan. Istilah ini populer dibahas di berbagai platform
seperti X (formerly Twitter) dan TikTok, kemudian menjadi bagian dari
diskursus kerja modern. Bukan berarti malas, konsep ini justru fokus pada
bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang sehat..
Bagaimana Milenial dan
Gen Z Memandang Quiet Quitting?
Fenomena quiet
quitting terjadi pada berbagai kalangan usia, termasuk Gen Y (Milenial) dan
Gen Z yang kini mendominasi tenaga kerja muda. Pemicu
utama quiet quitting antara lain kurangnya tujuan kerja yang jelas,
minimnya apresiasi yang adil, serta keinginan untuk menjaga keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadi (work–life balance).
Milenial tumbuh di masa
awal perkembangan internet dan mulai berkarier dalam lingkungan kerja yang
relatif lebih konvensional. Banyak dari mereka tetap menempatkan stabilitas dan
jenjang karier sebagai hal penting. Sebagian Milenial melihat istirahat tenang
sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan,
tanpa harus meninggalkan tujuan karier jangka panjang.
Sementara itu, Gen Z
tumbuh di era digital yang serba cepat dan terbuka, sehingga sebagian besar
dari mereka lebih sadar akan pentingnya menjaga batas kerja dan kesehatan
mental. Bagi Gen Z, quiet quitting dipahami sebagai respons terhadap
beban kerja yang dirasa berlebihan atau kurangnya apresiasi di lingkungan
kerja. Sekitar 40% Gen Z menyatakan keinginan untuk meninggalkan pekerjaannya
dalam waktu dekat dan memiliki tingkat turnover tertinggi dibanding
generasi lain. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap
pekerjaan, termasuk meningkatnya perhatian pada keseimbangan hidup.
Meski begitu, kondisi
tersebut bukan berarti menggambarkan bahwa Gen Z kurang ambisi. Sebagian dari
mereka justru memiliki pekerjaan sampingan (side hustle), yang
menunjukkan bahwa mereka tetap aktif dan produktif, meskipun dengan pola kerja
yang berbeda.
Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Kecenderungan Quiet Quitting
Beberapa penelitian
mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi kecenderungan quiet
quitting di kedua generasi:
- Beban
kerja dan budaya organisasi: Lingkungan kerja yang positif, sehat, dan
apresiatif telah terbukti mampu menekan kecenderungan untuk quiet quitting.
Namun, beban kerja yang berlebihan tanpa sistem pendukung yang baik justru
dapat mendorong munculnya quiet quitting.
-
Keterlibatan
pegawai (employee engagement): Penelitian menunjukkan bahwa quiet
quitting sering berkaitan dengan penurunan tingkat keterlibatan di tempat
kerja.
-
Tekanan
kerja dan burnout: Burnout merupakan salah satu faktor utama yang
mendorong pegawai untuk membatasi diri pada tugas pokok demi menjaga kesehatan
mental.
-
Keseimbangan
kehidupan kerja (work-life balance): Banyak pegawai menempatkan
keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sebagai prioritas utama.
Implikasi Positif dari Quiet
Quitting
Fenomena quiet
quitting sering diasosiasikan dengan tren negatif, tetapi ada sisi positif
yang justru lebih penting untuk dipahami, di antaranya:
1.
Menegaskan
Batasan yang Jelas
Karyawan semakin menyadari pentingnya
membedakan waktu kerja dan kehidupan pribadi. Kesadaran ini membantu
menciptakan keseimbangan yang lebih sehat tanpa harus mengorbankan
produktivitas.
2.
Menjaga
Kesehatan Mental
Bekerja sesuai dengan tugas utama dapat menjadi
strategi untuk mencegah kelelahan kerja (burnout) dan stres berlebihan.
Sikap ini tidak selalu menunjukkan kurangnya komitmen, melainkan bentuk
pengelolaan diri untuk menjaga kesehatan psikologis.
3.
Pendorong
Perubahan Organisasi
Fenomena ini mendorong organisasi untuk
mengevaluasi sistem kerja, tingkat keterlibatan karyawan, pola kepemimpinan,
serta bentuk apresiasi yang diberikan. Dengan demikian, organisasi berpeluang
membangun lingkungan kerja yang lebih suportif dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Baik Generasi Milenial
maupun Generasi Z dapat menunjukkan kecenderungan quiet quitting ketika
mereka merasa beban kerja, kurangnya apresiasi, dan tekanan yang diterima tidak
sebanding dengan penghargaan serta kualitas hidup yang diharapkan. Namun,
orientasi generasi muda yang menekankan keseimbangan hidup dan kerja tidak
dapat dimaknai sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya ambisi.
Fenomena ini
mengingatkan organisasi akan pentingnya kesejahteraan kerja dan lingkungan yang
mendukung produktivitas. Oleh karena itu, quiet quitting bukan sekadar
tren, melainkan indikasi bahwa dunia kerja sedang mengalami transformasi menuju
hubungan yang lebih sehat antara pegawai dan pekerjaannya. (bndt)
Referensi:
Siradjudin, D. (2025). Membaca
ulang fenomena “quiet quitting” pada Gen Z. RMOL Network. https://rmol.id/publika/read/2025/12/08/689477/membaca-ulang-fenomena-quiet-quitting-pada-gen-z.
Lesmana, A. A. B. D.,
& Yunita, P. I. (2025). Exploring the root cause of quiet quitting
phenomena among Gen-Z: A systematic literature review of contributing factors. Syntax
Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 10(12), 10110–10125. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v10i12.62504.
Putri, Z. Q. F., &
Marwansyah. (2025). Pengaruh beban kerja dan budaya organisasi terhadap quiet
quitting pada karyawan Generasi Z di industri fashion Kota Bandung. Jurnal
Disrupsi Bisnis, 8(3), 302–311. DOI: 10.32493/drb.v8i3.48984.
Surianto. (2025). Quiet
quitting: Fenomena baru dan implikasinya terhadap keterlibatan karyawan di era
pascapandemi. Jurnal Economic Resource, 9(1), 80–91. https://doi.org/10.57178/jer.v9i1.1982.
Taufik, N., Rosyadi,
A., & Aliyuddin, M. (2024). Why millennials and Gen Z are silently leaving
their jobs? Unraveling the “quiet quitting” trend. Asian Management and
Business Review, 4(2), 276–292. https://dx.doi.org/10.20885/AMBR.vol4.iss2.art7.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |